Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.20-Tour Guide Handsome


__ADS_3

📚.20-Tour Guide Handsome


Typo masih bertebaran!!



“Mencintai bukan dengan menemukan seseorang yang sempurna, tapi dengan melihat seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna,” – Bacharuddin Jusuf Habibie.


****


"Kamu mau jalan jalan?"


Gadis cantik yang mengenakan terusan putih dengan aksen daun panjang berwarna hijau lumut itu menoleh sejenak.


"Kemana?"


"Tour keliling rumah ini?" Tawar Arsyad.


Sepulang sekolah tadi,ia memang tidak kemana-mana lagi selain menemani Kara. Dia tahu jika gadis itu akan bosan jika seharian ini hanya menghabiskan waktunya didalam kamarnya. Oleh karena itu ia menawarkan tour keliling Mansion Radityan yang cukup luas untuk dijelajahi sisa hari ini.


"Memangnya boleh?" Tanya gadis itu boleh.


Arsyad mengangguk,lalu beranjak dari duduknya. "Kamu harus mulai beradabtasi dengan lingkungan sekitarmu yang baru."


"Termasuk keluargaku." Imbuh Van'ar.


"Tapi-"


"Percayalah,bunda dan semua anggota keluargaku tidak akan menyakitimu." Gadis cantik itu menatap kearah Arsyad intens,seolah-olah mencari sebuah kebenaran.


"Um,baik. Asalkan Arsyad tidak bohong." Cicitnya.


Arsyad mengangguk,wajah pemuda tampan yang flat itu berangsur-angsur berubah lebih bersahabat.


"Ayo,kita mulai tournya."


"Iya."


Mansion Radityan memanglah bangunan megah yang dibagun diatas tanah berhektar-hektar luasnya. Walaupun ya,bangunan ini tak lebih besar dari kediaman Tyoga. Walaupun begitu,kenyamaan juga kehangatan para penghuninya yang membuat tempat tersebut istimewa.


"Kenapa dirumah ini banyak sekali pintu?" Tanya Kara,saat mereka menjelajahi area keluarga.


"Karena banyak ruangan yang memiliki fungsi berbeda didalamnya." Jawab Arsyad.


"Dulu cuma ada 10 kamar tidur disini. Setelah direnovasi,semuanya total menjadi 25 ruangan."


"Banyak." Komentar Kara.


Arsyad mengangguk,karena pada dasarnya memang begitu. Jumlah segitu saja akan kurang jika seluruh keluarga besar datang bertandang. Maka mansion ini akan padat oleh para kerabat Radityan.


"Oi bang,mau kemana?" Tanya Davian yang muncul dari balik pintu.


"Eh,kakak ipar?" Sapanya girang.


"Eh?" Bingung Kara.


Arsyad berdehem kecil,lalu meraih tangan Kara untuk dibawa bersamanya.


"Dia namanya Davìan. Sepupu aku,putranya tante Lunar-adik Ayah." Kara mengangguk lalu menatap pemuda dihadapanya seksama.


"Hallo kapar or kakak ipar. Salam kenal,gue Davian yang paling suka dipanggil Dadav." Sapa Davian sambil menyodorkan tanganya.


"H-allo" Jawab Kara kecil sambil menerima uluran tangan Davian.


"Duh,tanganya alus banget kek habis diampelas." Komentar Davian yang langsung membuat Arsyad mendelik.

__ADS_1


"Sudah." Ujarnya sambil melepaskan jabatan tangan keduanya.


"Eh,kok pelit amat bang?"


Arsyad tak ambil pusing,dia sudah terlebih dahulu membawa Kara menuju ruangan lain. Melanjutkan tour mereka yang belum usai.


"Kamu suka bunga?" Tanya Arsyad saat mereka sudah berada diluar Mansion.


"Iya. Memangnya disini ada taman bunga? Dimana?" Tanya Kara sambil celingukan.


"Ayo,akan aku tunjukan." Ajak Arsyad sambil mengandeng tangan Kara.


Jika ingin melihat bunga,bagian belakang mansionlah jawabanya. Disana ada kebun bunga yang dihiasi oleh berbagai jenis bunga yang ditanam dan dirawat dengan baik. Taman tersebut dulu didedikasikan untuk Silvia-nenek Arsyad. Ditempat tersebut,berbagai jenis bunga dari berbagai dunia hidup dan berkembang biak dengan baik.


"Wah,cantiknya." Ujar Kara terpukau.


Hamparan bunga bunga berwarna-warni berhasil mengambil seluruh perhatianya. Lahan yang cukup luas tersebut dihiasi berbagai bunga yang bisa bertahan hidup dinegara beriklim tropis seperti Indonesia. Saat mereka bertandang,bunga bunga tengah bermekaran dengan cantiknya.



Senyum gadis itu merekah indah,saat melihat hamparan bunga indah dihadapanya. Selain itu,Arsyad juga ikut lega saat Kara bisa terlihat begitu senang.


"Kamu suka bunga matahari?" Yang ditanya mengangguk,matanya masih fokus pada hamparan bunga bunga cantik dihadapanya.


"Iya. Kara suka bercocok tanam di Surabaya. Papih punya ladang bunga matahari yang luas di Surabaya." Ungkapnya.


"Mau menanamnya?" Kara menoleh cepat.


"Memangnya boleh?"


"Tentu." Jawab Arsyad sambil menarik tangan gadis tersebut lembut.


"Besok kita beli benihnya. Kamu bisa menanamnya disana." Tunjuk Arsyad sambil menunjuk sebuah lahan kosong.


"Kamu gak bohongkan?" Tanyà Kara menyakinkan pendengaranya.


"Buat apa aku bohong?"


Kara tersenyum senang,lalu mengucapkan terimakasih banyak. Detik berikutnya,mereka kembali melanjutkan tour. Disekeliling pekarangan keluarga Radityan yang cukup luas.


"Tunggu!"


"Kenapa?" Bingung Kara sambil menatap Arsyad.


Lelaki tampan itu berlutut,lalu membenarkan simpul sepatu slip on bertali yang digunakan oleh gadisnya.


"Kalau keinjek nanti jatuh,kamu bisa terluka."


Kara menunduk,lalu melihat sendiri tali sepatunya yang lepas dikedua sisi.


Tepat diantara rimbunya pepohonan pinus yang tengah menari ketika disapa sang angin. Arsyad masih sibuk berlutut,membenarkan ikatan tali sepatu sang gadis. Tanpa ia sadari,dulu tempat tersebutlah tempat dimana momentum sakral antara Ayahnya dan ibunya terjadi. Van'ar dulu berlutut ditempat yang sama,mengikat tali alas kaki yang digunakan Aurra sebelum mengutarakan niatanya untuk mengkhitbah sang pujaan hati.


"Kara?"


"Hm" Gadis itu kembali menatap kearah Arsyad.


Dimana lelaki tampan itu juga masih berlutut dihadapanya.


"Apapun yang terjadi,aku harap kamu bisa tetap bertahan disisiku." Ujar Arsyad mengutarakan.


Wajah tampanya yang masih datar datar saja,nyatanya berbanding terbalik dengan kacaunya kinerja otak dan jantungnya. Keduanya bekerja tak seiras,jika memikirkan kemungkinan kemungkinan yang tidak pasti.


"Bagiku,menikah cuma satu kali. Dan aku harap,kedepanya kamu tidak menyesal telah menikah denganku."


Setetes air mata jatuh mengenai punggung tanganya,membuat matamya langsung beralih.

__ADS_1


"Kenapa menangis hm?" Risaunya,sambil kembali berdiri.


"Kenapa,ada yang sama dengan ucapanku Kara?"


"Jika kamu keberatan dengan pernikahan ini,kita bisa membatalka-"


"Ish,Arsyad bilang apa sih?" Ketus gadis itu menyela.


Arsyad menyerngit bingung. "Bukanya kamu menangis karena gak suka kita menikah?"


"Bukan!"


"Lantas?"


"Kara cuma gak tahu harus gimana. Arsyad tiba tiba tadi bilang begitu sambil berlutut. Gak tahu kenapa,Kara jadi pengen nangis."


Arsyad tersenyum tipis,lalu meraih lawan bicaranya untuk direngkuhnya. Tubuhnya bergerak secara alamiah. Refleks ingin memeluk juga menenangkanya saat menangis begini.


"Kamu gak perlu bingung. Tenang saja,kita bisa jalani semua ini pelan pelan." Ujarnya sambil mengusap punggung mungil gadisnya.


"I-iya." Cicit Kara sambil membalas pelukan sang suami.


"Kamu gak perlu khawatir,kita akan jalani semua ini bersama sama."


"Arsyad janji?" Tanya Kara memastikan.


"Iya. Aku janji Kara." Ujar Arsyad sambil mengeratkan pelukanya.


Kali ini,Arsyad memang sudah mantap dalam projeknya. Mènambahkan nama Kara didalam list katalog masa depanya. Satu satunya perempuan yang tentu akan menjadi pengisi hari harinya hingga menua kelak.


Semua itu tak luput dari pandangan sepasang manik teduh yang tengah berdiri agak jauh. Senyumnya terpatri dibalik penutup hijabnya,saat melihat dua sosok anak Adam itu berpelukan disana. Ada rasa bangga tersendiri yang tinbul dihatinya sebagai seorang ibu. Putranya telah dewasa dan bisa sedewasa ini diusia yang relatif muda. Sosok mungil yang dulu bergantung hidup dan mendiami rahimnya sudah menjelma menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab.


"Putra kita sudah dewasa mas." Lirihnya berderai air mata,sambil menatap kesamping.


Menatap sosok rupawan yang juga menemaninya menonton sejak tadi.


Cup


Satu kecupan mampir dipucuk kepalanya. Dibarengi sepasang tangan kekar yang melungkupi pinggang rampingnya.


"Alhamdulillah. Putra kita insaallah sudah bisa memelihara jalan menuju jannahnya sendiri bersama mahromnya." Ujarnya sambil merengkuh tubuh wanita yang dicintainya.


Aurra tersenyum tipis dibalik penutup wajahnya. Apa yang diucapkan suaminya memang benar. Mulai sekarang,putranya itu memamg sudah benar benar bisa memelihara jalan menuju jannah lewat tindakanya yang telah menyempurnakan agamanya lewat pernikahanya. Aurra cuma berharap yang terbaik bagi keduanya,agar selalu menjadi pasangan yang sakinah mawadah warohmah. Hingga kejannahnya Allah kelak.


****


TBC


Holla,Bang Arsyad Update yo😊


Gimana nih buat part ini??


Komentarnya menurut readers gimana?


Terkadang kedewasaan muncul bukan karena patokan usia saja ya,disini aku mau memperlihatkanya lewat Arsyad. Arsyad sama Kara itu bedanya 2 Tahun. Akhir tahunya dalam cerita,Kara tepat 17 tahun. Kalau Arsyad thn berikutnya 19 Tahun.


Nih,best couple disini⤵



Tapi,perjalanan cinta mereka belum benar benar terasa karena konfliknya belum tiba. Readers pasti bakal terkedjut sama konfliknya nanti🤓


Ok,makanya readers stay terusss di BCT ya:)


Maaf juga kalau updatenya tak beraturan🙏

__ADS_1


Sukabumi 31 Okt 2020


__ADS_2