Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
.46-Amukan Masa


__ADS_3

📚.46-Amukan Masa



"Lo pikir aja sendiri, apa yang buat mereka begitu percaya sama bang Asyad? Lo itu gak ada seinci pun, punya kelebihan buat saingan sama dìa."-Davino Aroon Dee Prameswari


****


BRAK


Bunyi gebrakan keras yang menghantam meja, hingga memggetarkan semùa benda yang ada diatasnya itu kian mewakili aura mencekam ditempat tersebut. Seminggu yang lalu, ruangan tersebut juga dibuat mencekam pada kitaran waktu yang sama. Dan hari ini, di pagi yang cukup cerah ini kembali terjadi sebuah keributan. Menimbulkan keributan dimana-mana, yang tentu membuat suasana semakin tidak kondusif.


"Saya tidak terima?!" Bentak wanita bergincu merah menyala tersebut.


Sepuluh menit yang lalu, wanita baya tersebut datang dengan penuh wibawa. Sepuluh menit berikutnya, wanita berpakaian berkelas itu mulai tersulut emosi saat mendengarkan penjelasan dari pihak kesiswaan. Sepuluh menit kemudian, tanduk merah yang samar muncul dibarengi dengan uap panas dari lubang hidung dan telinganya. Wanita yang juga seorang ibu itu marah, siap mengamuk kapan saja bak banteng yang tersulut emosi.


"Mana bisa putra saya dipecat dari sekolah?!" Tolaknya tidak terima.


"Apa bantuan dari suami saya selama ini tidak ada apa-apanya? Dengan seenaknya saja pihak sekolah memecat putra saya?!" Tak terima wanita tersebut, khas logat ibu-ibu emosi namun masih kental akan aroma peperangan.


"Begini bu, ini semua sudah merupakan konsekuensi dari pihak sekolah. Karena putra ibu kedapatan--"


"Kedapatan clubbing gitu? Alah basi. Namanya juga anak muda, nakal sedikit ya wajar." Sela ibu dari siswa yang tengah menunduk disamping wakasek kesiswaan tersebut.


"Bukan begitu bu, tapi-"


"Tapi apa? Namanya juga remaja. Kenakalan seperti itu masih wajar pak." Sanggah wanita tersebut.


Pria berkacamata yang menjabat sebagai juru bicara SMA Dandelion itu sesekali menyantuk kacamata minus yang digunakannya. Sungguh, sulit berbicara dengan emak-emak yang tidak mau mengalah begini. Dua pihak kepolisian yang sudah hadir disana saja, dibuat pening oleh penolakan istri salah satu politikus negeri ini.


"Ibu, begini. Galang-putra ibu kedapatan melanggar beberapa point kedisiplinan yang diterapkan oleh pihak sekolah. Selain itu, atas nama sekolah saya sampaikan kekecewaan kami atas ulah Galang ini. Adanya video yang tersebar dimedia sosial saat ini, bukan saja membawa nama putra ibu. Melainkan membawa nama baik sekolah, yang mana mulai dipertanyakan halayak umum." Tutur pria berkacamata tersebut, sedetail mungkin.


"Putra saya yang kedapatan clubbing saja bisa sampai dipecat dari sekolah. Gimana kabarnya dengan siswa yang seminggu lalu kedapatan sudah menikah itu? Siapa namanya? Dia juga tidak dipecat dari sekolah kan?" Ujar wanita tersebut, menyingnggung persoalan seminggu lalu.


"Soal masalah itu lain jalurnya ibu. Insiden seminggu yang lalu sudah dipastikan jika beritanya hoax. Maka--"


"Berita itu gak hoax?!" Lelaki yang satu satunya berseragam putih abu diruangan tersebut, angkat bicara.


"Saya lihat sendiri kalau mereka sudah-"


"Menikah?" Sela suara bariton tegas, yang berasal dari ambang pintu.


"Semua bukti tidak valid. Dari pihak urusan agama pun, belum ada data yang valid. Pihak yang bersangkutan juga sudah diintrogasi. Video yang tersebar bisa saja dimanipulasi. Selama tidak ada bukti dan saksi, rumor itu bisa dikatakan hoax. Benar begitu?" Tanya pria gagah bersetelan jas dongker tersebut.


Opininya tentu mematahkan argumen Galang. Siapa pula yang bisa melawan pemilik sekolah ini yang terkenal kelewat jenius ini?


"Soal masalah seminggu yang lalu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Tolong kerjasamanya, Sekar." Ujar pria tersebut, sambil berjalan mendekat.


Wanita yang dipanggil itu menolehkan wajahnya cepat.


"Tyo, kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku? Papahnya Galang juga gak akan senang kalau putranya dipecat begini. Sebentar lagi Galang ujian 'kan?"


Pria bersetelan jas formal itu tentu tahu maksud dari penolakan wanita satu ini. Maksud dari dipecat sekolah adalah di Drop out secara tidak terhormat. Biasanya sekolah akan memberikan list hitam pada siswa atau siswi yang di Drop out secara tidak terhormat. Bahkan fatalnya, sekolah-sekolah lain pun banyak yang akan menolak mereka menjadi siswa siswinya.


"Galang di keluarkan karena kesalahannya sendiri. Dia kedapatan menikmati obat-obatan terlarang, itu sudah sangat mencoreng point yang diterapkan oleh pihak sekolah. Sekarang, biarkan pihak yang bersangkutan membawa Galang untuk di periksa. Pihak sekolah akan segera melegalkan SK drop out Galang secara sah. Keputusan ini sudah disetujui oleh dewan komite sekolah."


"Gak! Kamu gak bisa seenaknya pecat anakku?!"


"Maaf, tapi ini intansi yang memiliki peraturan dan undang-undang. Putramu sekolah diintansi ini, sudah seharusnya ia menaati peraturan dan undang-undang yang berlaku. Jika melanggar, maka konsekuensinya harus ia tanggung. Itu berlaku untuk semua siswa maupun siswi, termasuk putramu, Sekar." Ujar Setyo menegaskan.


"Enggak!! Putraku gak boleh dipecat sekolah?!"


"Pak, silahkan bawa dia. Pihak sekolah sudah tidak memiliki urusan lagi." Ujar Setyo yang langsung diangguki oleh dua polisi tersebut.


"Eh, apa-apaan nih?!" Ronta Galang, saat kedua tangannya diborgol tiba-tiba.


"Mah? Mamah, Galang gak mau dipenjara. Mah?" Panggilnya, sambil terus meronta.


"Cepat jalan!" Tegas salah satu polisi tersebut.


"Gak! Gue gak mau dipenjara?! Anj*ng lepasin tangan gue?!" Murka Galang, saat dia digelandang paksa oleh dua polisi berbadan kekar tersebut.


"Gak, lepasin anak saya. Lepas?!" Tahan Sekar--mamah Galang.


Galang tetap digelandang keluar dari ruang kepala sekolah. Sekar--ibu Galang tetap mengejar dan meneriakan nama sang putra, meronta-ronta agar putranya bisa dilepaskan. Semua peristiwa tersebut tak luput dari semua mata yang mana mereka masih bergerombol diluar ruang kepala sekolah.


"Lepasin anak saya pak?" Pinta Sekar, sambil meronta, menarik tangan polisi polisi tersebut yang terus menggelandang putra kesayangannya.

__ADS_1


"Mah, Galang gak mau dipenjara?! Mah, lepasin Galang mah." Pinta Galang, kalang kabut karena ia terus diseret menuju luar area sekolah.


"Pak, lepasin tangan anak saya. Anak saya kesakitan?!" Pinta Sekar tak mau melihat putranya diseret-seret.


"Anj*ng. Lo sekarang seneng lihat gue kayak gini kan? Ngaku lo set*n?!" Bentak Galang, kala ia tak sengaja menatap sosok rupawan beralmamater lengkap yang berdiri dengan datar didepan pintu kelas XII IPA I.


"Lo seneng 'kan bisa lihat gue gini? Ini pasti ulah licik lo kan?! Ngaku lo Anj*ng?!" Emosinya, sambil meronta ingin menghampiri lelaki yang ia maksud, namun tertahan oleh dua polisi yang menjegalnya.


PLAK


"Kamu senang kan lihat Galang begini?" Bentak wanita baya tersebut murka, setelah menampar keras wajah tampan berekspresi datar itu, menggunakan tangannya yang bernial art tersebut.


"Kamu puaskan lihat Galang dipenjara?!" Murkanya, sambil menarik kerah baju lelaki tampan yang kini sudut bibirnya berdarah.


Si empunya tidak berijar sedikitpun. Walaupun rasa sakit akibat tamparan keras yang membekas itu, masih bisa ia rasakan dengan seksama. Tapi ia tidak mau melawan, karena yang ia hadapi saat ini adalah seorang wanita juga seorang ibu. Pantang baginya melawan seorang wanita, apalagi seorang ibu.


"Kamu saja yang nikah karena MBA gak dipecat dari sekolah, kenapa Galang harus dipecat sekolah?!" Murka Sarah.


"Eh, lepasin bu. Ibu gak boleh anarkis begini, bang Arsyad gak salah." Titah sang kembaran dari pria tersebut, sambil menarik tangan Sekar dari kerah baju sang kembaran.


"Lepasin baju abang saya! Ibu gak boleh bertindak begini, abang saya gak ada sangkut pautnya disini."


"Oh, jadi ini abangmu?" Serah mencibir, jijik.


"Jangan sok sokan alim kamu. Kamu sendiri tahukan kelakuan kakakmu ini? Pasti gak ada bedanya sama Galang."


Arrabella--gadis itu meradang kala sang kembara disama-samakan dengan Galang. Arsyad dengan Galang tentu berbeda. Mereka itu bukan lagi seperti Langit dan bumi, melainkan seperti Malaikat dan iblis menurut Arra.


"Abang saya gak gitu ya bu. Jangan seenaknya nuduh, dosa."


"Dosa? Kamu nasihatin saya hah?" Murka Sekar, sambil mengambil ancang-ancang. Detik berikutnya, tindakan anarkis dari wanita yang dandananya seperti ibu-ibu sosialita itu mengundang pekikan banyak orang.


"ARRA?!"


Terutama 5 pandawa yang entah berantah muncul dari mana. Kelimanya langsung menghampiri gadis berkerudung putih yang sudah terduduk dilantai dengan baju dan kerudung yang letaknya tak beraturan karena tindakan anarkis banteng betina murka tersebut.


"Siapa ibu berani nyentuh saudari kami?" Davian mengambil ancang-ancang terdepan, siap melayangkan perlawanannya.


"Bisa bisanya ibu berbuat kasar sama sesama perempuan?" Aroon ikut meradili.


"Abang?" Lirih Arra yang baru saja menerima kebrutalan banteng betina ngamuk tersebut.


"Hm." Lelaki tampan itu tetap bersikap tenang, sambil melepaskan almamater yang dikenakannya.


Mengenakan jas almamaternya, untuk melindungi tubuh sang kembaran.


"Arra gak papa?" Arsen berucap khawatir, sambil menyentuh bekas tamparan dipipi kanan gadis tersebut.


"Arra...."


"Bawa Arra ke UKS. Gue, minta tolong." Ujar Arsyad, yang langsung diangguki oleh Arsen.


Detik berikutnya, lelaki tersebut langsung membawa tubuh mungil Arra ala bridal style. Meninggalkan kerumunan yang tengah menahan banteng betina ngamuk tersebut.


"Ibu ini gak punya hati ya? Anak ibu yang bej*t itu ngapain dibelain? Biarin aja dia membusuk dipenjara?!" Cibir Davian.


"Iya. Mat* sekalian disana. Dia udah terlalu banyak nyusahin orang." Dukung Davin.


"Kalian...?!" Murka Sekar, sambil mengambil ancang-ancang untuk melawan tiga lelaki kembar tersebut.


Berani beraninya, mereka melawan dirinya. Setidaknya, untuk saat ini Sekar benar benar murka.


"Saya gak ada urusan sama kalian. Saya cuma ada urusan sama dia." Tunjuknya pada Arsyad.


"Jadi, kalian gak usah ikut campur."


"Harus." Jawab Aroon.


"Karena kita saudaranya dia." Jawab si kembar tiga itu bersamaan.


Jika masalah sokidaritas, mereka tak punya batasnya. Ada yang berani menyentuh orang orang terdekat juga tersayangnya, si kembar tiga ini tak akan segan-segan. Maaf, maaf saja, mereka tak akan memberi toleransi bagi seseorang yang mengusik orang orang terdekat mereka.


"Oh, jadi kalian saudaranya? Berarti kalian juga tahu kebejat*n saudara kalian 'kan?"


"Siapa yang bej*t ya?" Tanya Davin.


"Boleh saya koreksi? Seantero SMA Dandelion saja tahu siapa yang paling bej*t disini." Jawab Aroon.

__ADS_1


"Bolak balik masuk kesiswaan, langganan bolos pas ***, sering merokok diarea sekolah, clubbing, melakukan tindak pelecehan seksual kepada beberapa siswi, tawuran, dan serentetan catatan kriminal lainnya. Mau saya rincikan satu persatu, bu?" Imbuh Arsen menuturkan.


"Jangan mengada-ngada kamu! Galang itu anaknya rajin."


"Rajin dari hongkong?!" Sela si kembar tiga bersamaan.


"Kalian....?!" Geram Sekar.


"Asal ibu tahu, saya mantan ketua OSIS dan ini mantan ketua MPK. Kita tiga tahun ini, yang selalu menggelandang anak ibu menuju ruang kesiswaan." Imbuh Arsen yang langsung membuat sekar pucat pasi.


Kegiatannya yang sering kali wara-wiri keluar negri dan arisan sosialita disana-sini, agaknya membuat dia kurang update soal kelakuan putranya itu. Yang Sekar tahu, putranya itu baik dan tidak pernah bermasalah disekolah. Jika soal dunia malam kesukaan putranya, ia memang sudah tahu sejak lama.


"Makanya bu, jangan kebanyakan arisan berlian dan dollar sana-sini. Anak sendiri gak tahu kelakuaannya 'kan?" Cibir Davian.


"Kalian...?!" Sekar murka, siap melayangkan tangannya kembali. Sebelum panggilan membuatnya urung melakukan hal tersebut.


"Sekar?!"


"M-as?"


"Sedang apa kamu disini?" Tanya pria berjas hitam tersebut.


"Mas, mereka--"


"Anak emasmu itu masuk penjara, dan kamu malah buat anarkis disini? Dimana otakmu Sekar?!"


"Itu, tapi mereka--"


"Ayo. Ikut, kita pergi kekantor polisi." Seret pria berkacamata tersebut, membawa sang istri paksa.


"Asuu banget. Emak emak ngamuk kek banteng liar, ganas bet njirrr." Komentar Davian, sepeninggalan orang tua Galang.


"Bang, lo gak papa?" Cemas Aroon.


"Iya bang? Itu pipi mulus jadi cap lima jari gitu. Gak papa bang?" Tanya Davin, bergiliran.


"Gak papa." Jawab Arsyad datar, sambil menatap sekeliling mereka.


Mereka masih menjadi pusat perhatiaan saat ini. Apalagi dengan cap lima jari dipipinya, banyak siswi yang menatapnya harap-harap cemas.


"Mau kemana bang?" Tanya Aroon, saat lelaki itu berbalik tanpa kata.


"UKS."


"Ikut!" Ujar Aroon, sambil menyusul langkah Arsyad.


"Sumpeh, amukan emak emak liar banget." Komentar Davin, sambil menepuk bahu Davian.


"Ho'oh. Udah kayak amukan masa aja. Padahal cuma satu emak emak, gimana ceritanya kalau se-RT coba?"


"Mamp*s palingan." Kekeh Dabin sambil berlalu.


"Mau kemana lo?"


"UKS."


"UKS?"


"Unit Kasih Sayang. Kita gak boleh biarin si Arsen Pdkt-an sama tetèh tercinta."


"Whoah, ho'oh tuh. Ide bagus." Kikik Davin, sambil berlalu menyusul sang kembaran.


****


TBC


Selamat Pagi readers semua👐


Bang Arsyad dan antek-anteknya update yo. Kali ini masih soal Galang, si anak mamih yang punya ibu jelmaan banteng betina. Hayooo, ada yang mau komentar pesan buat Galang? yanda? Asen? Arrra? atau si triple?


Klu sedikit, buat part berikutnya full Arsen yang diintrogasi ortu Arra ya. Mau tahu?? sabar yooo👐


Jangan lupa, like, vote, komentarrr, share, dan follow. Tencu yang udah lakuin semua itu setiap kali up, yang sudah follow juga tencu❤


Ok, jumpa lagi nanti yo All readers👐


Sukabumi 10 Januari 2020

__ADS_1


__ADS_2