
📚.42-LDR
"Apakah ini jalan yang terbaik atau bukan? Namun yang pasti, hati kan terus tersiksa jika hanya berdiam diri."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
Bugh
Bugh
Bugh
Bunyi gesekan kepalan tangan kosong yang mengenai samsak tersebut, agaknya memggema dengan kerasnya hingga menarik banyak perhatian. Akan tetapi, lelaki yang mengenakan kaos abu itu tak peduli. Fokusnya kini berpusat pada samsak yang menjadi pusat fokusnya.
"Kak Arsyad?" Panggil seorang gadis berpakaian olahraga full navy, mencoba mengalihkan perhatian si pemilik nama.
Bugh
Bugh
Bugh
Akan tetapi, lelaki tampan itu tak sama sekali mengindahkan panggilan dari suara lembut tersebut.
"Berhenti!" Titah suara lain, yang ajaibnya langsung membuatnya berhenti.
"Ada apa sensei?" Tanyanya, sambil mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan.
"Kamu bukan berlatih, tapi melampiaskan emosi. Tidak akan ada gunanya apa yang kamu pelajari selama ini, jika kamu dikendalikan oleh emosi."
Lelaki tampan yang sedari tadi berlatih kickboxing itu menatap pria berumur yang dipanggilnya Sensei dengan seksama.
"Mei memanggilmu, dan kamu tidak menyadari itu. Itu berarti, kamu terlalu fokus terhadap emosimu."
"Maaf sensei, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Hm."
Pria itu berdehem kecil, lantas melirik sang putri yang berdiri dibalik tubuhnya.
"Istirahatlah dulu. Baru lanjutkan latihanmu, jika kamu sudah cukup tenang dan bisa menguasai emosimu."
"Baik sensei."
Pria itu berlalu, meninggalkan keduanya yang masih dilingkupi keheningan.
"Tadi Mei panggil panggil, tapi kakak gak denger ya?"
"Hm. Mungkin tadi aku terlalu fokus." Jawab lelaki tampan tersebut, sambil berjalan menuju peralatan olahraganya berada.
Mengambil sebuah handuk putih dari dalam tasnya, guna mengelap peluh yang membanjiri wajah hingga kulit lehernya. Gadis berambut panjang yang tergelung itu tersenyum tipis, memuja setiap gerakan yang dapat ia lihat. Setiap gerak gerik lelaki tampan tersebut tentu tak luput dari perhatiannya.
"Ini, buat kakak." Ujarnya, sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik.
"Untukku?"
"Iya." Ujarnya sambil mengangguk antusias.
"Katanya, minuman ini bagus untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang setelah berolahraga."
"Hm."
Arsyad, lelaki tampan itu tak mengubris lagi. Ia hanya sekedar bertanya, tanpa menerima pemberian gadis yang menurutnya berpakaian terlalu terbuka tersebut. Bra sport berwarna navy yang dipadukan celana sport yang melekat erat, membentuk lekuk tubuhnya. Bahkan, mengekspose beberapa bagian tubuhnya, seperti perut dan pinggang.
"Simpan saja." Ujar Arsyad datar, sambil menenggak air mineral yang ia dapatkan dari tasnya sendiri.
"Hm, jadi kabar kakak gimana?"
"Baik."
"Kakak udah gak papa 'kan?"
Arsyad beralih, sambil menyerngitkan alisnya. "Memangnya kenapa?"
"Itu, pemberitaan empat hari yang lalu 'kan sudah dikonfirmasi. Katanya berita itu hoax, jadi sekarang kakak bisa lega 'kan?"
Soal berita tentang status Arsyad yang menguap keudara, memang sudah diatasi. Buktinya, empat hari kemudian semuanya telah usai dan semua pemberitaan itu telah ditarik dari berbagai media. Jika ditanya lega atau tidak? Tentu Arsyad lega. Akan tetapi, masih ada PR yang harus dikerjakannya.
"Hm, kalau Mei boleh tahu. Cewek itu siapanya kakak sih?" Tanya gadis yang baru duduk di kelas XI SMU itu, penasaran.
__ADS_1
Arsyad tak menjawab, lelaki itu lebih memilih menyibukkan diri sambil menyeka peluh ditubuhnya.
"Hm, kalau Mei-"
"Syad, lo mau pulang sekarang?" Sela suara seseorang, yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Hm."
"Bareng. Gue juga mau kebengkel." Ujar Arsen--pemilik suara yang baru saja menyela tadi.
"Eh, ada dek Mei juga. Ngapain?"
"I-ini, lagi ngobrol aja."
"Oh, kirain ngapain." Ujar Arsen, sambil menghampiri ketiganya.
"Yok, pulang. Aroon sama yang lain juga udah standby di bengkel."
"Hm." Arsyad menjawab, sambil mencangklong tas miliknya.
"Mei, kita duluan." Pamit Arsyad.
"I-iya."
"Ya udah, yuk balik. Sensei juga udah ngizinin."
"Hm."
Arsen memang memiliki tempat latihan beladiri yang sama dengan Arsyad. Keduanya juga sering latihan bersama. Namun, sesekali untuk nge-gym biasa mereka bisa melakukannya di ARR gym. Tempat kebugaran tersebut terletak disamping bengkel milik Arsyad dan para saudaranya.
"Jadi, ceritanya lo LDR-an sekarang?" Tanya Arsen, ketika mereka berdua telah berada diparkiran.
"Hm."
"Gak ada kabar sama sekali ya?"
"Hm."
"Si Mei, kayaknya suka sama lo ya?"
"Gue udah punya istri." Jawab Arsyad datar.
Arsyad tak menjawab. Toh, memang benar apa yang dikatakan Arsen. Selama 4 hari ini pula, ia dan sang istri menjalani Long Distance Relationship atau LDR-an. Sang istri kini entah berantah berada dimana. Tyoga memang hanya menuturkan jika keadaan sang istri baik baik saja, tanpa memberitahukan lokasi tepatnya dimana sang istri berada.
Tahu, bagaimana rasanya menikah baru menginjak usia dua bulan kurang beberapa hari tapi sudah LDR-an lebih dari satu kali?
Fix, LDR-an memanglah bukan hal biasa lagi dihubungan Arsyad dan juga Kara. Mengingat posisi Kara yang amat sangat dijaga keamanan dan keselamatannya.
Puk
"Sabar. Gue tau, LDR-an itu gak enak. Tapi ya, mau gimana lagi. Ini juga demi kebaikan lo berdua." Ujar Arsen, sambil menepuk bahu Arsyad.
"Hm."
"Ya udah, gue duluan." Ujar Arsen sambil menghidupkan mesin motornya.
Empat hari sudah berlalu, dan selama itu pula Arsyad dan Kara berpisah. Selama itu pula, kabar tentang berita yang tersebar luas tentang statusnya telah dikonfirmasi. Walaupun status itu memang benar adanya, tetapi sebisa mungkin Tyoga dan Setyo berupaya untuk menutup semua akses agar peristiwa ini tak terulang kembali hingga waktu yang ditentukan. Walaupun opini publik mulai bertanya-tanya, tetapi dengan segala daya dan upaya yang dilakukan oleh pihak Tyoga. Setidaknya untuk saat ini, status Arsyad aman hingga lulus nanti.
Ketika ada uang dan koneksi, masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan ketelitian tingkat dewa. Davian yang turut serta ikut turun tangan, telah berhasil menyeret nama sebuah intansi persiaran yang langsung dibawa ke meja hijau. Hingga kini, laporan yang di jatuhkan dengan perkara pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong bisa saja dilayangkan. Akan tetapi, baru baru ini Tyoga menarik tuntutannya. Ia memiliki jalan lain untuk membuat pihak tersebut merasakan jera.
Arsyad menyerngit bingung, saat melihat beberapa sosok asing yang kini memenuhi area depan bengkel. Terlihat ada Davin dan Davian yang tengah menghalau gerombolan tersebut.
"Ada apa ini?" Tanyanya, kebingungan.
"Kak Arsyad?!"
"Kak, kita mau minta maaf. Kita udah sempat ngeraguin status kakak."
"Kita nyesel, sebagai fans udah berpikir yang enggak-enggak."
"Iya. Tolong terima maaf kami kak?!"
Arsyad menatap gerombolan yang terdiri dari cewek cewek berkaos hitam dengan tulisan samblonan 'We Are Syadlovers' yang ditulis dengan cat berwarna merah jambu. Jadi, meraka ini Arsyad lovers?
"Gila, fans Arsyad gitu banget?"
"He'em. Kirain, fans BTS nyasar kemari." Timpal Aroon sambil terkekeh geli.
"Gue malah mikir mereka fans gue. Gue 'kan ganteng, makanya mereka ngefans." Bangga Davian.
"Cih, sok kegantengan." Cibir Davin yang sudah mengenakan seragam montir.
__ADS_1
"Yeh, gue 'kan cuma beŕandai-andai. Tapi pada kenyataanya, memang bang Syad yang banyak fansnya." Kekeh Davian, sambil menatap geli kearah Arsyad.
Lelaki minim ekspresi tersebut terlihat kewalahan menghalau para fans-fansnya. Sedangkan si kembar tiga dan Arsen, hanya menadi penonton setia. Jadi orang ganteng mah gitu, punya fans ya pasti peka kalau punya salah. Asalkan jadi fans jangan fanatik saja.
📚📚📚
"Assalamualaikum, abang pulang." Uluk salam lelaki tampan tersebut, sambil menjatuhkan tubuhnya keatas sofa.
"Waalaikumsalam. Abang sudah pulang?" Arsyad menegakkan tubuhnya kembali, sembari meraih tangan sang ibu untuk disalaminya.
"Tadi, habis sekolah langsung les atau latihan?"
"Latihan bun. Lesnya diundur jadi besok."
Aurra--wanita berpenutup wajah itu mengangguk. Lantas, maniknya teralihkan kearah objek yang lain.
"Itu apa bang?" Tanyanya.
"Coklat, boneka, fhoto, sama gak tahu apa lagi."
"Coklat, boneka, fhoto, dari siapa?" Tanya Aurra, sambil membuka paperbag besar berwarna merah jambu tersebut.
"Subhanallah. Ini, dari fans abang?"
"Gak tahu." Arsyad mengedipkan bahunya acuh.
"Ini, ada tulisan We Are Syadlovers. Berati fans bang Arsyad 'kan?"
"Abang mana ngerti."
Aurra tersenyum tipis, sambil mengusap lembut surai hitam sang putra sambil tersenyum dibalik penutup hijabnya. Ia juga baru tahu, jika putranya sepopuler itu disekolahnya. Walaupun ini bukan kali pertama putranya itu pulang membawa berbagai makanan, juga barang barang lain. Aurra memang tak pernah tahu, jika putranya seoran mostwanted sepopuler itu.
"Tapi ini kenapa, kok mukanya ditekut begini?" Tanya Aurra, sambil menatap sang putra.
"Kangen sama istri ya?" Tebak wanita tersebut.
Arsyad terhenyak kecil, namun detik berikutnya ia mengangguk samar. Untuk apa berbohong, toh ia memang merindukan sang istri. Gadis mungil yang selalu berlalu-lalang didalam kamarnya. Istrinya yang suka menggabar didekat jendela balkon, sambil sesekali membaca disudut ruang belajar. Arsyad rindu sekali, sungguh. Ia merindukan sosok yang sering kali menghiasi hari-harinya beberapa minggu kebelakang.
"Jadi benar, abang rindu?"
"Hm."
Aurra tersenyum tipis, masih dengan mengusap surai sang putra.
"Sabar ya bang. Buat saat ini, jalani dulu. Ini semua demi kebaikan abang dan Kara."
"Iya, bunda."
"Ya sudah, sekarang naik keatas terus mandi, janga lupa salat. Nanti turun, bunda siapin makan buat abañg."
"Hm. Kalau gitu, abang naik dulu bunda."
"Iya."
Selepas pamit, Arsyad beranjak menuju kamarnya. Membawa serta barang barang pemberian para fansnya. Dia memang tidak pernah menolak pemberian para fansnya. Toh, ia juga tak enak hati jika harus menolak. Biasanya, baik makanan atau barang akan disortir oleh Davian atau Davin, jika Arsyad menitahkan untuk dibagi kepada saudara saudarinya yang lain.
"Sepi." Ujarnya, sambil menyimpan barang bawaanya diatas tempat tidur.
Hening dan juga sepi, melingkupi ruangan luas tersebut. Beberapa benda bernuansa gerly juga nampak tak hidup jika si empunya tak lagi tinggal tinggal ditempat ini. Buku gambar yang biasanya terisi gurat gurat cantik dari hasil ketelitiannya, kini teronggok begitu saja diatas meja belajar Arsyad. Keheningan juga nampak mengisi beberapa sudut ruangan. Kepergiannya memang telah membawa sebagian nyawa ditempat ini. Hampir dua bulan menikah, setidaknya sudah membuat Arsyad biasa dengan kehadirannya.
Kembali merasakan yang namanya LDR-an itu tak mudah. Sungguh, dalam diamnya Arsyad bukan berarti ia menerima keadaan ini. Namun mau bagaimana lagi, Arsyad hanya bisa menerima dengan lapang dada untuk saat ini.
"Kapan kamu pulang, Kara?"
Kapan pulang? Kapan LDR ini usai? Kapan hubungan ini bisa leluasa berjalan dengan semestinya? Semua itu, hanya waktu yang kelak akan menjawabnya.
****
TBC
HELLO, HAPPY NEW YEAR ALL READERS👐
Maaf nih, telat ngucapin. Tapi ya, aku juga gak punya niatan buat gantungin cerita BCT. Tapi aku kemarin fokus kenikahan GG disebelah. Jadi pas ada waktu, aku baru nulis Yanda lagi. Aku akan usahakan buat rajin up selama libur panjang ini. Jangan khawatir, support dari readers selalu bisa buat mood nulisku maju kok😊😊
Yanda lagi galau readers, LDR-an sama istri. LDR-an itu kan gak enak? pesan readers buat yanda apa dong? dia lagi galau ini?
Jangan lupa tulis pesannya dikolòm komentar yo✌ Like, vote, follow dan share juga jika berkenan 💕 Jumpa lagi dipart berikutnya 🤗
Sukabumi 02 Januari 2021
__ADS_1