
📚.56-Kemajuan
"Aku senang bisa melihatmu melawan ketakutan juga segala kekelaman yang selama ini menjeratmu."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi
****
Duka masih menyelimuti kediaman keluarga besar Radityan. Para anggota keluarga nampak sibuk membenahi sisa-sisa prosesi penghormatan terakhir untuk mendiang. Selepas pengajian dilaksanakan di malam hari, kediaman duka masih dipenuhi para kerabat yang datang dari luar kota. Namun, bagi seorang lelaki tampan satu ini objek maniķnya tetap terpaku pada satu sosok.
Lelaki tampan berkoko putih dengan bawahan sarung berwarna biru tersebut, nampak tengah membawa sisa al-Qur'ar yang tadi sempat digunakan. Namùn, iris matanya sedari tadi menatap lekat kearah seorang gadis berterus putih panjang dengan selendang putih menutupi kepalanya. Dia terlihat manis saat duduk diantara wanita-wanita lain yang berpakaian tertutup. Dan ajaibnya lagi, dia tidak terganggu atau merasa risi. Dia juga sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan pakaian yangluman panjang.
"Lihatin aja teroos, sampe puas." Sindir suara di sampingnya.
"Apa?" Tanyanya balik datar.
"Itu, ada cinta di matamu." Ujar si lawan bicara, jenaka.
Arsyad menggeleng kecil, tak mau memperpanjang argumen.
"Siapa? Boleh aku kenalan gak?" Tanya lawan bicara Arsyad, yang langsung membuat Arsyad berbalik.
"Istriku. Mau apa kenalan?" Tanyanya to the point.
"Santai aja bang, cuma nanya." Kekeh lelaki tersebut. "Soalnya, dari tadi ceweknya abang menarik perhatian semua orang." Imbuhnya.
"Itu istri abang mending di simpen di kamar, dikunci, dikekepin, biar gak dicuri." Kekehnya jenaka, sebelum berlalu.
"Dasar." Lirih Arsyad, ketika menatap punggung sepupunya yang mulai menjauh tersebut.
Sosok istrinya itu memang mencuri banyak perhatian. Keluarga besar Arsyad memang belum semuanya mengetahu pasal statusnya. Akan tetapi, kehadiran banyak kerabat dari luar kota, agaknya membuat istrinya menjadi bahan perbincangan. Gadis cantik yang nampak berkilau diantara gadis seusianya itu, tentu menjadi bahan perbincangan.
"Bang, tadi ada yang nanyain nomer istri abang. Kasih gak nih?" Tanya Davian, yang datang dari arah ruang tengah.
"Jangan."
"Whatsapp doang bang?"
"Tidak."
"ID Line? IG? FB?"
"Tidak ya tidak. Dia istriku, bukan gadis lajang." Ultimatum Arsyad, yang langsung membuat Davian bungkam.
"Iya, iya, bang. Canda doang barusan." Kekehnya jenaka.
"Tidak lucu." Ujar Arsyad, sambil berlalu meninggalkan Davian.
"Ar,"
Mendengar namanya dipanggil, ia kembali menoleh. "Iya, ada apa om?"
"Itu, putrinya Crazy Rich Surabaya kan? Ngapain ada disini, dia temannya Arra?" Tanya Aksara--saudara Arkan. Pria tersebut baru datang pagi tadi dari Ohio, bersama keluarganya.
"Istri om."
"Istri om?" Aksara tersenyum tipis. "Istri om kan tante kamu. Tuh, yang duduk dekat ibumu."
__ADS_1
"Maksud Arsyad, dia istri Arsyad, om."
"Uhuk, uhuk, apa kamu bilang?" Aksara tiba-tiba tersedak salivanya sendiri.
"Ceritanya panjang om, jika diringkas maka intinya saya menikah muda sama dia."
Aksara terbengong-bengong mendengar penuturan gamblang pemuda tampan satu ini. "Nikah mùda? Jangan-jangan..."
"Kita menikah karena salah paham om." Pungkas Arsyad. "Tidak seperti yang om pikirkan."
Aksara tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuknya. Sungguh, ia malu karena ke-geep berpikir yang tidak-tidak.
'Putra Keevan'ar sekali.' Batinya memuji kelihaian putra Biglear tersebut.
"Kapan-kapan om mau dengan cerita lengkap dari kamu." Ujar Aksara, sambil menepuk bahu Arsyad.
"Untuk saat ini, om mau menemui ayahmu dahulu."
"Iya om."
"Dan ya, selamat atas pernikahanmu." Ujar Arkan menambahkan. "Tidak ada takdir tuhan yang salah, begitupun dengan pernikahan. Om tahu ini tidak mudah bagimu, di usiamu yang masih terbilang muda. Tapi, om yakin kamu bisa menjaga ikatan yang tercipta tanpa rencana ini."
Arsyad menatap lawan bicaranya dengan seksama. Menurut info yang pernah ia dapat tanpa sengaja, dulu om-nya ini pernah memendam rasa untuk bundanya. Pun dengan bundanya, jauh sebulum mengenal suaminya, ia pernah mengagumi pria ini.
"Om yakin, kalian bisa longlast hingga maut memisahkan." Arsyad mengangguk sebagai jawaban.
"Om duluan."
"Hm."
Sepeninggalan Aksara, Arayad kembali beranjak. Membawa Al-Quran Al-Quran ditangannya, untuk di simpan di tempat yang seharusnya. Ketika malam sudah semakin larut, ia baru kembali ke kamarnya setelah membantu membenahi beberapa keperluan.
"Yanda?" Panggil sang istri, dari dalam walk in closet.
Gadis cantik itu nampak segar dengan balutan pejama panjang berwarna abu-abu motif salur. Rambut hitam sepunggungnya nampak terurai bebas. Senyum manisnya nampak cantik terpatri.
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Kara nunggin yanda." Jawabnya polos.
Arayad tersenyum tipis sambil mendekati sang istri.
"Yanda mau mandi? Kara siapin air panas ya, yanda pasti lelah seharian ini. Piama yanda juga sudah Kara siapin." Ujarnya antusias, sambil menunjukkan sesetel pejama yang ia bawa.
Cup
"Terimakasih." Ujar Arsyad, sambil menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.
"Aku sudah mandi. Tapi gerah, mau ganti baju dulu."
Kara mengangguk samar, sambil menyodorkan piaya yang dibawanya. "K-ara tunggu di luar."
"Tunggu dulu." Arsyad menahan pergelangan tangan sang istri.
"Kenapa?" Ucap keduanya bersamaan.
Arsyad dan Kara bertatapan, sebelum keduanya sama sama saling melempar senyuman.
__ADS_1
"Kamu senang hari ini?" Tanya Arsyad, sambil menyentuh pucuk kepala sang istri. Mengusapnya lembut, betah dengan kegiatannya di atas rambut lembut tersebut.
"Iya. Bunda kasih terusan cantik tadi pagi. Hari ini banyak orang, awalnya Kara takut. Tapi, Kara ingat kata-kata yanda. Lawan ketakutan Kara, supaya Kara bisa sembuh." Tuturnya.
Arsyad tersenyum tipis. "Ada kemajuan ya."
"Iya, berkat yanda."
"Kenapa aku?"
"Karena yanda yang mampu menguatkan Kara selain papih."
Arsyad bergerak, merengkuh tubuh mungil istrinya. Dihirupnya dalam-dalam aroma kha gadisnya. Gadis yang nyatanya mampu memporak-porandakan hatinya kurang dari 24/7 semenjak mereka sah dimata agama dan hukum. Gadis yang sudah genap memposisikan dirinya di hati Arsyad.
"Bagus."
"Apanya yang bagus yanda?"
"Kemajuan." Tutur Arsyad.
"Aku senang bisa melihatmu melawan ketakutan juga segala kekelaman yang selama ini menjeratmu."
Kara tersenyum tipis di balik pelukan mereka. Ia juga membalas pelukan Arsyad tak kalah erat. Memang benar, semua sisi positif yang hadir berkat kemajuan dari dorongan Arsyad. Seseorang yang kini menopang Kara untuk keluar dari lingkar masalalu, selain ayahnya. Karena Arsyad, ada kemajuan yang bisa Kara dapatkan untuk melawan traumanya.
"Yanda?"
"Hm."
"Jangan pernah tinggalin Kara."
"....?"
"Jangan pernah sekalipun berniat pergi dari Kara.
"...."
"Karena selain papih, Kara muĺai terbiasa bergantung pada yanda."
Arsyad tak banyak berkomentar, namun gestur tubuhnya menunjukkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Ia mengeratkan pelukannya, tanpa menyakiti istrinya. Menjatuhkan kecupan ringan di pucuk hijab sag istri, sambil berucap lirih.
"Selama aku bisa, selama aku mampu, dan
selama tuhan mengizinkan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
****
TBC
Met Malam Semua👐
Maaf, Yanda baru update lagi🙏 Aku banyak tugas daring & mencatat. Beberapa hari belakangan harus lembur juga buat nugas. Maaf kalau readers nunggu lama. Insaallah aku akan sering update jika sempat.
Buat part ini segini dulu, maaf pendek
Jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow jika berkenan👐
ILYSM❤
__ADS_1
Sukabumi 02 Feb 2021