
📚.30-Kala Kini dan Nanti
"Ada saatnya kau harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, tetapi demi menjaga hati kita sendiri agar agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama dan orang yang sama"- Boy Chandra
****
Tangisan pilu nampak menggema keras, menyaingi deru mesin mobil limousin yang tengah ditumpanginya. Sambil menyetir, pak Tan yang menyupir saja sampai cemas dibuatnya saat melihat dan mendengar tangisan menyayat hati tuan putri dari keluarga besar tempatnya mengabdi. Dua bodyguard yang ikut mengawal hingga didalam mobil mewah tersebut juga ikut cemas dibuatnya. Namun, ketika hendak memberi kabar kepada sang tuan ada yang memohon kepada mereka.
"Ini cuma masalah kecil, perdebatan antara sepasang kekasih biasa. Tuan pasti mengerti." Katanya, membujuk agar keduanya mau berkompromi barang sekali saja.
Dua bodyguard yang asli orang Indonesia itu akhirnya mau menurut. Membiarkan berita ini tak sampai ketangan tuanya, walaupun mereka juga cemas jika tuanya tahu putrinya menangis tersedu sedu begini dan akan marah besar jika tidak diberitahu.
Tapi apa boleh buat, kali ini saja mereka membiarkan sepasang muda mudi ini menyelesaikan masalahnya.
"Kara?"
"Hiks, hiks..... "
"Kara?" Panggilnya lagi, sambil mengelus surai gadisnya sayang.
Si empunya nama masih tak menyahut. Dia tetap menangis hidmat sambil mengubuh wajah cantiknya didada bidang sang suami dalam dalam.
"Kara, dengar. Apa aku berbuat salah, sampai sampai kamu menangis begini?"
"Hiks, hiks, s-sakit Yanda...." Rintih si empunya nama.
"Apanya yang sakit?? Apa kita perlu kedokter? Atau mau beli obat pereda rasa sakit hm?" Tanya Arsyad bertubi-tubi.
Pemuda tampan itu sudah risau, mendapati sang istri menangis tersedu-sedu setelah bertanya soal brosur juga tiket ke New york tadi. Hingga kini, gadisnya itu masih tak mau angkat bicara untuk menjelaskan apa penyebab dari tangisnya tersebut.
"Yanda, sakit hiks."
"Iya. Mana yang sakit?" Tanya Arsyad lirih.
Kata bundanya, ketika seorang wanita menangis itu ada ibu pertiwi yang ikut menangis. Apalagi ketika seorang istri menangis, ada seorang suami yang harus siap hati menjadi penenangnya.
"Yanda..."
"Iya. Mana yañg sakit hm?"
Gadis cantik dalam pelukanya itu mendongrak, menatap sang suami lekat.
"Yanda mau ninggalin Kara, hiks."
"Eh," Arsyad terpekur untuk sejenak.
Entah mengapa, melihat iris hazelnut itu berderai air mata, rongga dadanya menjadi sesak seperti ditimpa beban berat. Hatinya terasa ikut teriris, saat melihat istri kecilnya itu menangis. Apa ini yang namanya keajaiban dari sebuah ikatan suci pernikahan?
"Yanda mau ninggalin Kara kan?"
Harusnya, untuk ukran seseorang yang baru mengenal beberapa minggu, Arsyad bisa dengan tegas dan lantang berkata 'ya'. Tapi tidak dengan gadis ini, rasanya ada ikatan kuat yang mengikat mereka sejak lama. Rasanya ada ikatan kuat antara aku ia dan Kara.
"Yanda mau pergi kan? Ninggalin kara hiķs." Tangis gadis cantik itu kembali pecah.
Untuk ukuran seseorang yang baru dikenalnya beberapa minggu kebelakang, entah kenapa posisi Arsyad bisa se-berarti itu untuk Kara. Bahkan Kara tak pernah setakut ini ditinggal oleh seseorang, kecuali oleh sang Papih. Rasanya gadis cantik ini tak bisa jauh jauh dari Arsyad-nya, baik kini maupun nanti.
"Kara?"
"Lihat kesini sebentar." Gadis yang tengah menunduk itu kembali mendongrak, manatap sang suami.
"Ada kalanya, seseorang yang kita sayangi akan pergi. Itu namanya kehendak dan ketentuan Allah, Qada dan Qadar-Nya." Tutur Arsyad.
"Kepergian itu tak selamanya membawa perpisahan saja, ada kalanya kepergian adalah awal baru bagi sebuah perjalanan hidup baru."
"Apa Kara tahu, kenapa ada benda benda itu ditasku?" Gadis itu menggeleng.
"Setelah lulus nanti, aku harus melanjutkan pendidikanku. Begitupun dengan Kara bukan?" Anggukan kecil diberikan Kara sebagai sebuah jawaban.
__ADS_1
"Ketika tiba waktunya untuk pergi, semua itu aku lakukan untuk kebaikan kita kedepanya."
"Tapi Yanda tetàp ninggalin Kara hiks?" Arayad menggeleng kecil.
"Itu semua aku lakukan demi Kara." Lirih Arsyad.
Karena mimpinya menjadi sang abdi negara telah sirna, Arsyad harus mencoba peruntungan lain. Selain itu, ia juga memiliki tanggung jawab untuk membuktikan jika dirinya mampu kepada dunia. Semua itu demi Kara, istrinya, juga masa depanya. Kelak ketika jatuh temponya, Arsyad tentu harus memikul beban beban berat juga tanggung jawab yang dari saat ini menanti.
"Tapi kenapa Yanda harus ninggalin Kara?"
"Itu masih planning, yang akan direalisasikan sesui kebutuhan." Arsyad membelai lembut surai sang istri.
"Kalaupun aku pergi, ini demi Kara dan masa depan kita."
"Masa depan kita tidak perlu Yanda khawatirkan. Papih punya banyak rumah, kita bisa tinggal disalah satunya. Papih juga punya beberapa teman dosen dan rektor yang bisa rekomendasikan Arsyad buat kuliah disana. Papih punya perusahaan, Arsyad bisa kerja disana."
Justru karena itu, karena Tyoga yang selalu perfectionis dan mampu melakukan segala sesuatu disegala bidang. Maka Arsyad harus bisa membuktikan dirinya jika ia juga mampu menjadi menantu dari seorang Týoga. Arsyad harus berjuang sendiri agar bisa membuktikan kemampuanya.
"Apa karena Yanda gak bisa jadi tentara, jadi yanda pergi?"
Deg
Arsyad terkejut dengan apa yang dilontarkan oleh sang istri. Sejauh ini, sang istri ini pendebat yang handal. Dia juga pinta mencari opini lain, ketika banyak keraguan timbul diotak cantiknya. Putri Tyoga sekali!
"Apa karena pernikahan ini, Yanda jadi terbebani?"
"Yanda benci Kara yang udah renggut masa depan yanda?"
"Apa yanda-"
Arsyad tak mau lagi mendengar lontaran pertanyaan pertanyaan berujung kecurigaan tersebut. Akhirnya, pria tampan itu memilih mengeratkan pelukanya kembali. Membuat sang istri terbenam sempurna didada bidangnya yang terbalut T-shir hitam, dengan luaran mantel hitam pula.
"Tidak ada yang terbebani disini. Aku menikahimu karena real sebagai bukti tanggung jawab Kara. Adapun soal perasaanku, aku tak menampik jika itu belum sepenuhnya terbentuk. Tapi bukan mustahil jika kelak perasaan itu juga tumbuh seiring dengan berjalanya waktu."
"Dan soal masa depan, disini akulah yang seharusnya bersalah karena telah mengikatmu dalam sebuah pernikahan." Arsyad menundukan kepalanya, membiarkan hidungnya menghirup aroma shampo sang istri yang harumnya khas.
"Ini sudah takdir. Aku dan kamu, dipertemukan dalam ikatan suci ini lebih cepat dari perkiraan." Lanjutnya.
"Sudah, jangan menangis ya. Aku tidak akan pergi kemana-mana."
"Yanda janji?"
"Janji." Kara tersenyum tipis, lantas ia kembali meleluk Arsyad lekat. Takut takut hilang jika tidak erat dipeluknya.
Arsyad memang sudah memiliki planning untuk kedepanya. Terlepas dari terealisasikan atau tidaknya, itu nanti ada masa dimana dia mendapatkan jawabanya.
"Sudah, jangan menangis ya."
"Hm. Tapi perut Kara sakit yanda."
"Sakit?! Apa kita perlu kerumah sakit?"
Dua bodyguard yang mendengar kata rumah sakit itu langsung waswas. Takut takut jika tuan putri mereka kenapa-kenapa.
"Ada apa, apa nona muda sakit?"
"Perlu kita pergi kerumah sakit?" Tanya keduanya bergantian.
Kara yang merasa dirongrong keduanya malah kian menyembunyikan dirinya. Mendusel-dusel dada bidang Arsyad yang peluk-able tersebut, hasil dari latihan rutinya dengan para sahabat tentara sang ayah.
"Suruh mereka keluar dulu Yanda." Cicitnya kecil.
"Hm, tidak perlu pak. Bapak bisa pergi keluar terlebih dahulu. Nanti kami menyusul."
"Apa nona muda baik-baik saja?"
"Iya."
"Baik. Kalau begitu kami tunggu diluar." Dua bodyguard itu berlalu setelah berkata demikian.
Pak Tan juga sudah berada diluar mobil. Mereka sudah ada di pelataran kediaman keluarga Kim sekarang.
__ADS_1
"Mana yang sakit?? Apa perlu kedokter?" Kara menggeleng dalam pelukan Arsyad.
"Lalu, apa yang Kara keluhkan sakit?"
"Perut."
"Sakit melilit?" Gadis itu mengangguk samar.
"Mungkin karena jajanan pedas tadi?" Gadis cantik itu menggeleng.
"Lalu, kenapa hm?" Tanya Arsyad lembut.
Gadis cantik itu mendongrak, mata bulat dengan iris hazelnutnya sudah berkaca-kaca dan siap menangis kembali.
"Kenapa hm?" Lirih Arsyad sambil membeĺai pipi sang istri, sayang.
"Kara.... Kara...." Kikuk gadis cantik itu terbata-bata.
"Kenapa, bicaralah. Jangan takut." Ujar Arsyad memberi support.
"Kara.... Kàra datang bulan Yanda, hiks." Tangis Kara kembali pecah.
Lagi, ia memilih menyembunyikan wajah cantiknya didada bidang Arsyad.
"Datang bulan?" Ulang Arsyad.
"Perut Kara sakit hiks, mantel kara ada noda merahnya juga. Kara malu, hiks." Cerita Kara lirih, masih dengan posisi membenamkan wajahnya.
Agaknya gadis cantik itu sudah menemukan tempat ternyaman baginya berlindung. Arsyad tahu sekarang, ternyata istrinya ini kesakitan karena datang bulan juga merasa malu.
"Kenapa harus malu?" Tanya Arsyad.
Ia juga sering melihat kembarangnya meringis kesakitan saat datang bulan dihari pertama. Ketika datang bulan disekolah dan noda darahnya mengenai rok abu abunya, Arra yang masih duduk di kelas XII SMA saja sempat menangis karena malu. Untung saja Arsyad meminjamkan jas MPK kebanggaanya, untuk menutupi rok sang kembaran yang terkena noda darahnya sendiri. Kata kembaranya sendiri sih, sakitnya datang bulan pertama itu bukan main. Bahkan pada beberapa kasus, sempat ada yang pingsan karena tak kuasa menahan nyerinya.
"Pakai mantelku, biar Kara aku gendong sampai dalam." Ujar Arsyad membeli solusi.
"Yanda gak jijik sama Kara?"
Arsyad menggeleng sambil tersenyum tipis. "Enggak. Kara istri Yanda bukan?"
Senyum senang gadis cañtik itu terbit. Mood perempuan yang sedang datang bulan memang naik turun seperti lintasan roller coaster. Maka dari itu, harus ada seseorang yang peka dan ekstra sabar mendampingi.
"Aýo, biar yanda gendong." Kara mengangguk kecil.
Lagi, dan lagi pemuda tampan ini memperlihatkan sikapnya yang gentle sebagai seorang pria. Setelah melingkarkan mantel yang digunakanya disekitar pinggang sang istri, Arsyad langsung membawa tubuh mungil istrinya ala bridal style. Perempuan itu mahluk yang rumit, apalagi ketika tamu bulananya datang. Kerumitanya akan berubah 2x lipat lebih banyak. Oleh karena itu, sudah sepatutnya sang pasangan peka dan mengerti.
Walaupun awalnya Arsyad cemas akan respon Kara mengenai wacananya, hingga gadis itu menangis tersedu sedu. Tapi kini, ia setidaknya bisa bernafas lega karena istrinya itu menangis bukan hanya karena wacana tersebut, namun karena sakit perut yang dialaminya karena datang bulan. Kali ini, Arsyad harus kembali memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki.
Saat sang istri tersayang mengeluh sakit perut, ia juga harus rela bergrilya di minimarket untuk mencari pembalut, catat itu P*mbalut. Mungkin semuanya akan terasa mudah jika di Indonesia, ini di Korea loh. Dimana ia akan merasa amat canggung jika bertanya kepada di penjaga minimarket. Dan jangan lupakan pesan sang istri tersayang, yang kian membuatnya pening tujuh keliling.
"Yang ada sayapnya, yanda jangan lupa. Ukuranya juga, yanda jangan asal ambil."
Yang ada sayapnya, merknya, isinya, tanggal kadaluarsanya, juga ukuranya, apanya?
Jangankan Arsyad, pak Tan-supir pribadi keluarga Kim yang menemani Arsyad saja sampai kebingungan dibuatnya. Tak ada pilihan lagi, walaupun harus menumpas ego juga rasa malunya, kedua pria beda usia itu akhirnya mengalah. Bertanya kepada si penjaga minimarket untuk dicarikan barang pesanan sang tuan putri.
****
TBC
Halllooo, Bang Syad update lagi yo👐
Acieee, yang jiwa jiwa jomblonya meronta ronta cungg?? Ada yang mau suami kek bang Arsyad?? bungkus gak nih??
Hayoo komentarnya, aku aja sampe emeshh nulisnya❤
Like, dan votenya juga jangan lupa yo💋
Salam suyungg dari Yanda dan istri 💋💋
__ADS_1
Sukabumi 22 Nove 2020