Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
121. Davian & Cerita Opa


__ADS_3

121. Davian & Cerita Opa


“Kenapa? Perut kamu terasa tidak nyaman?”


Laki-laki rupawan yang baru saja kembali dari toilet itu bertanya kala sang istri tampak bergerak-gerak tidak nyaman. Wanita yang tengah hamil muda itu baru pertama kali pergi ke Timur Tengah, apalagi dalam kondisi hamil empat bulan. Perjalanan kali ini memang bertujuan untuk memenuhi undangan dari kerabat keluarga Radityan, sekaligus memperkenalkan menantu pertama di generasi ketiga Radityan. Mereka juga tidak pergi hanya berdua, namun ditemani opa, sepupu, serta asisten yang multifungsi.


“Eh, nggak kok. Kara cuma membenarkan posisi duduk,” jawab sang istri.


Arsyad mengangguk. Laki-laki tampan itu kemudian kembali duduk, lantas membawa telak tangan kanannya supaya bermukim di atas permukaan perut buncit sang istri. “Jangan rewel, ya. Kita akan berkunjung ke tempat yang sangat indah dan sarat akan sejarah perkembangan agama islam,” pesannya pada jabang bayi yang ada di dalam perut sang istri.


“Mau tidur?” tanyanya kemudian. Mereka memang menggunakan penerbangan komersial, namun mengambil First Class. Kurang lebih dua belas jam lebih lima menit akan mereka habiskan di atas udara, selama penerbangan dari Jakarta (JKT) menuju Istanbul (IST) berlangsung.


Sengaja mereka memilih First Class karena ingin lebih mengutamakan privasi, kenyamanan, dan lebih efesien waktu. Sebenarnya ada banyak kelas penerbangan yang dapat dipilih sesuai keinginan dan kantong, mulai dari ekonomi, ekonomi premium, bisnis, first class dan quiet Zone. Untuk penerbangan Low Cost Carrier (LCC) biasanya hanya menyediakan kelas ekonomi. Sedangkan untuk penerbangan Full Service Airline (FSA), menyediakan berbagai jenis kelas yang dapat dipilih. Karena mereka memilih First Class, mereka akan mendapatkan fasilitas yang paling mewah. Mulai dari didampingi asisten yang dapat mangurus semua hal, membawa bagasi, membantu proses imigrasi, sampai mengantar ke pesawat.


Para penumpang first class juga tidak perlu mengantri saat masuk pesawat karena ada jalur khusus untuk penumpang first class. Fasilitas lain yang akan didapatkan adalah kursi duduk empuk dengan pembatas di sekeliling tiap penumpang, layar LCD dengan headphone untuk menonton macam-macam hiburan selama perjalanan. Untuk menu makanan sendiri, mengkombinasikan keragaman menu favorit, mulai dari kuliner khas Indonesia, Japanese Kaiseki dan sajian modern European. Semua makanan disiapkan oleh Chief-on-board yang berasal dari restoran terbaik dunia. Sebelum terbang penumpang juga dapat memilih beberapa macam minuman, seperti jus, air mineral, atau champagne yang akan disajikan dengan kacang macadamia.


“Iya.”


“Hm. Kalau begitu tidurlah. Perjalanan kita masih memakan waktuyang cukup panjang.”


“Bacain surat Al-Waqiah dulu, boleh?”


Arsyad tersenyum seraya membawa kepala sang istri agar bersandar pada bahunya dengan lembut. “Tentu saja boleh.”


“Ditambah surat Yusuf ayat 4 boleh?” kata Kara kemudian, seraya menatap sang suami lekat.


“Boleh,” jawab Arsyad tanpa berat hari.


Dengan senyum lebar, Kara segera mencari posisi tidur yang nyaman seraya memejamkan mata. Tak berselang lama, suara lembut milik sang suami terdengar melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang ia pinta. Suara yang menjadi bunyi-bunyian favorit guna mengantar menuju alam bawah sadar.


“Audzubillahiminasyaitonirrojim…..” Arsyad mengawali bacaannya dengan taawudz yang terdengar lembut dan mendayu-dayu. Satu tangannya yang bebas juga tak berhenti mengelus perut buncit sang istri. Tempat di mana sang buah hati tengah tumbuh dan berkembang.


“Bismillahirrahmanirrahim. Idzaa waqa’atil waaqi’at(u). Laisa liwaq’atihaa kaadzibatun. Khaafidhatun raafi’atun….”


Tanpa mereka berdua ketahui, interksi manis yang terjadi dalam durasi singkat itu disaksikan oleh sepasang mata milik Radityan yang sudah berusia senja. Melihat cucunya sangat memperlakukan cucu menantunya dengan baik dan penuh kasih sayang, ia merasa ada lega yang mendera. Setidaknya pernikahan Arsyad yang dulu terjadi karena kesalahpahaman tidak berujung pada pernikahan toxic yang malah berujung saling menyakiti.

__ADS_1


Ia—Keevano Radityan Khutbi—opa Arsyad, Arra, Alea, Arion serta Triple D jadi ingat masa-masa di mana ia sangat tidak mensyukuri pemberian Tuhan.


Hendak mengunjungi tanah yang sempat menjadi saksi bisu kebeja—tannya di masa muda, sedikit banyak telah mempengaruhi pikiran Vano. Ia memang korban perjodohan. Ah, tidak dapat sepenuhnya dibilang korban pula, karena waktu itu Vano sepenuhnya sadar dan masih punya peluang untuk menolak. Ia malah masa bodoh, dan akhirnya pernikahan itu terjadi. Pernikahan yang membuat banyak kebohongan, luka, derai air mata, perpisahan, hingga perjuangan berulang kali dipertanyakan.


“Opa kenapa menangis? Apa opa sakit?”


Vano buru-buru menyeka sudut mata yang entah sejak kapan mengeluarkan air mata. “Kamu salah lihat, Dav. Mata opa berair karena mata tua.”


Laki-laki muda dengan style santai itu tampak memincingkan mata tak percaya. “Begitu?”


“Iya. Kamu juga pasti pernah mengalaminya, apalagi jika sudah tua seperti opa,” sangkal Vano seraya menoleh pada sang cucu. “Sejak tadi kamu main handphone terus. Apa itu tidak menganggu penerbangan?”


“Davian tidak menggunakan internet, opa. Lagipula handphone Davian juga berada dalam mode pesawat.”


“Begitu rupanya.”


“Iya opa. Lagian ini aku sedang cek beberapa file dokumen, jadi tidak akan bermasalah untuk penerbangan.”


“Kamu masih kerja di saat seperti ini?”


“Bukan opa,” jawab Davian seraya tersenyum tipis. “Ini juga udah selesai kok cek dokumennya,” tambanya setelah menyimpan handphone di dalam saku. “Opa mau ngobrol susuatu nggak sama Davian? Opa, kan, jarang bisa ketemu sama cucu opa yang kiyowo ini.”


“Davian sekarang sudah besar, opa. Jadi harus main di luar kandang, jangan di dalam kandang terus. Nanti jadinya jago kandang.”


“Begitu, ya?”


Davian mengangguk seraya tersenyum jumawa.


“Opa mau cerita. Kamu mau mendengarkan.”


“Mau.”


“Dulu, opa ini laki-laki yang tidak tahu diuntung,” kata Vano, membuka cerita. “Opa mencintai satu wanita, tetapi egois ingin mempertahankan wanita yang lain. Tanpa opa sadari, opa malah menyakiti mereka berdua. Padahal waktu itu, status salah satu wanita yang opa sakiti adalah istri opa.”


“Oma?” tebak Davian.

__ADS_1


Vano mengangguk seraya tersenyum tipis. “Opa pernah mempermainkan perasaan wanita, dan pada akhirnya opa mendapatkan ganjaran atas apa yang telah opa perbuat. Oma memilih pergi meninggalkan opa, pergi jauh sekali.”


“Ke Turki?”


“Betul sekali,” ujar Vano seraya menoleh pada sang cucu. “Oma pergi ke sana dan melahirkan putra pertama kami, tanpa sepengetahuan opa. Opa baru mengetahui kelahiran om kamu setelah lima tahun kemudian. Di sana, lebih tepatnya di Ankara, banyak kenangan yang tertinggal. Kenangan yang selalu menimbulkan perasaan yang campur aduk.


Opa dulu memang sebrengs*k itu. Oleh karena itu, opa selalu berdo’a supaya sifat buruk opa itu tidak menurun ke anak atau cucu opa.”


Davian terdiam mendengarnya. Mungkin terdengar brings*k jika seorang laki-laki berani mempermainkan perasaan dua wanita sekaligus. Namun, semua kembali lagi pada suratan yang telah Tuhan tuliskan. Manusia hanya bisa membuat rencana, soal hasil yang didapatkan nantinya, manusia tidak dapat berharap lebih.


“Mendengar cerita opa, Davian jadi ingat kata-kata penulis bernama Puthut EA dalam bukunya yang berjudul ‘Cinta bisa menepis dan rasa sayang bisa habis’ punya teh Arra. Sebuah kota menjadi kenangan atau tidak, tergantung dengan siapa kamu melewatinya.”


Davian melemparkan tatapan pada langit-langit kabin pesawat. Ia menengadahkan kepalanya sekarang. “Perihal sifat yang opa miliki, menurun atau tidak bukan sesuatu yang bisa kita haling-halangi. Soalnya darah lebih kental, ketimbang air. Jadi, jika kemungkinan ada salah satu anak atau cucu opa yang mengulang sejarah tersebut, campur tangan takdir berarti lebih dominan.”


“Hm. Ucapan kamu ada benarnya juga,” sahut Vano seraya menepuk-nepuk bahu sang cucu.


Vano dulu mungkin brings*k. Sifat itu kemudian tanpa sadar menurun dan diadopsi oleh anak pertamanya—Keevanzar—yang juga sempat membuat kacau satu generasi Radityan. Karena ulah si sulung, si bungsu jadi harus menjadi mempelai pengganti. Kabar baiknya, ternyata skenario Tuhan memang lebih indah dari perkiraan manusia. Setelah masalah itu selesai, hadir pada generasi ke tiga. Sejauh ini, generasi ketiga aman-aman saja menurut Vano.


InsyaAllah tidak akan ada lagi Keevano atau Keevanzar kedua di kemudian hari. Namun, ada Arsyad yang menorehkan sejarah baru. Menikah muda dan merelakan mimpinya guna menjadi Abdi Negara karena kesalahan satu malam.


“Tapi, opa bersyukur karena di generasi ketiga tidak ada yang seperti opa atau….”


“Ada kok.” Davian memotong dengan suara kecil.


“Maksud kamu?”


“Opa jangan kaget, ya.” Davian tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk. “Sebenarnya, salah satu alasan Davian mengikuti jejak om Galaksi dan om Gemintang karena ingin meninggalkan tanah air, pasca Davian tanpa sadar menghancurkan hidup seorang gadis.”


“Astagfirullah, Dav. Apa maksud kamu bicara begitu?” tanya Vano dengan nada bicara yang mulai terpancing emosi. “Katakan sama opa, apa yang telah kamu perbuat?”


“Opa tenang dulu, Davian bakal cerita pelan-pelan,” kata Davian sembari meringis kecil. “Opa jangan kaget ya, kalau sudah selesai mendengar cerita soal track record cucu opa yang kiyowo satu ini.”


“Sudah, jangan terlalu banyak bicara-basi. Langsung ke intinya saja, sebelum kamu opa keluarkan dari garis keturunan Radityan.”


**

__ADS_1


TBC


Sukabumi 29-07-22


__ADS_2