Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
. 73. Pulang tanpa Pamit


__ADS_3

📚. 73. Pulang tanpa Pamit



"Beda bukan berarti tak sama, karena yang sama rupa saja pasti memiliki perbedaan."-Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi


****


Harum aroma teh olong kualitas terbaik, akan kian menyengat ketika diseduh dengan tata cara yang baik dan benar. Semua bahan berkualitas, akan menghasilkan makanan bermutu tinggi jika di olah dengà benar. Orang Jepang biasanya sangat memperhatikan olahan masakan yang akan dihidangkan untuk semua anggota keluarga.


Dalam tradisinya, seorang kepala keluarga akan selalu diberi keistimewaan lebih. Hal itu juga masih di jungjung tinggi dalam adat-istiadat keluarga Wataya. Seorang kepala keluarga akan duduk di kursi makan utama, menggunakan pelatan keramik terbaik dengan alat makan yang biasanya dibuat dengan ciri khas tertentu.


Setiap olahan yang masuk ke dapur utama juga amat di perhatikan. Tanggung jawab dapur di berikan kepada seorang wanita bernama Masayuta Kirae-atau biasa dipanggil nanny Masayu oleh Kara.


Wanita paruh baya tersebut deparcaya untuk memegang kendali soal kebutuhan dapur dan seluk-beluknya oleh Hatake Wataya. Wanita tersebut juga sudah mengabdi pada keluarga Wataya dari para leluhurnya. Keluarganya memang keluarga yang sudah turun-temurun menjadi abdi setia di kediaman Wataya.


Nanny Masayu, dulunya juga merupakan pengasuh ibu Kara-Theresia Kim. Oleh sebab itu, Kara cukup hafal dan dekat dengan ñanny Masayu.


Saat ini, wanita tua yang mengenakan pakaian tradisional jepang berwarna gelap tersebut, nampak tengah menatap dua sejoli di hadapannya. Manik tuanya nampak meneliti dan menilai kelayakañ diantara mereka. Dia memang sudah mengetahui fakta soal cucu satu-satunya Hatake Wataya yang telah menikah muda.


Oleh karena itu, saat bisa melihatnya secara langsung, dia mencoba menilai kecocokan kesuanya. Dua sejoli tersebut nampak tengah asik menikmati sarapan paginya. Lebih tepatnya, sang nona mudalah yang lebih menikmati sarapan paginya.


Gadis cantik berdress dibawah lutut berwarna hijau kalem itu, nampak begitu menikmati makanannya. Walaupun ia beberapa kali kesulitan menikmati lauk di piringnya. Maka dengan telaten, sang suami yang duduk di sampingnya, membantu dia menyisihkan duri dari ikan yang tengah dinikmati olehnya. Lelaki rupawan itu juga telaten mengupas udang bakar yang masih tersisa ekornya.


"Sudah kenyang?"


"Iya. Yanda mau makan lagi?" Lelaki rupawan itu menggeleng, lantas menyimpan sumpit yang ia gunakan di atas mangkuk bekas nasi.


"Nanny, kita sudah selesai makan." Ujar Kara memberi tahu.


"Ah, tentu nona muda." Wanita tua itu tersenyum ramah.


"Silahkan dinikmati kudapan manisnya. Kudapan tersebut merupkan kudapan kesukaan nenek nona muda."


Kara manut-manut, saat seorang pelayan mengganti menu diatas meja bunda tempatnya makan. Kue-kue mungil yang imut, kini menghiasi meja bundar tersebut. Ada potongan buah segar juga dalam sebuah mangkuk keramik.


"Kara mau buah saja. Yanda juga mau?"


"Hm, boleh."


Gadis cantik itu menyodorkan sendok tusukan bambu yang digunakan untuk menusuk potongan buah-buahan segar. Terutama potongan buah berwarna merah yang membuat manik hazelnya tergugah untuk mencobanya.


"Apa ini?" Tanya Kara.


"Itu, semangka Densuke." Ujar Nanny Msayu. "Rasanya manis. Nona bisa mencobanya."


Kara mengangguk, lantas mencoba potongan buah merah yang ternyata buah semangka Densuke tersebut. Semangka Densuke adalah salah satu jenis buah bernilai fantastis yang jarang bisa dinikmati oleh kalangan biasa.



Semangka Densuke dianggap semangka paling mahal di dunia dan harganya rata-rata minimal US$ 250 hingga US$ 6.000 (setara Rp85-juta). Mahalnya harga mencerminkan bagaimana petani mengalokasikan jumlah waktu untuk merawat selama proses budidayanya yang khusus.


Semangka Jepang ini hanya tumbuh di pulau utara Hokkaido. Cita rasanya tidak tertandingi, dengan tingkat kemanisan yang sangat berbeda dan jauh lebih tinggi yaitu 180 brix, ditandai dengan warna yang sangat merah dan renyah dengan sangat sedikit biji.


"Yanda?"


"Hm. Ada apa?" Tanya Arsyad.


Mereka baru saja selesai menikmati sarapan pagi plus dengan potongan buah sebagai pencuci mulut. Hari ini adalah hari ketiga mereka di negeri Sakura. Walaupun baru tiga hari, Kara pribadi sudah tidak betah inhin segera pulang ke Indonesia.


"Yanda, Kara mau pulang."


"Iya. Tenang, kita tunggu kakekmu memberi izin."


"Kenapa harus nunggu? Kakek gak akan kasih Kara izin pulang." Gusar gadis cantik tersebut.


"Setidaknya, kita pamit. Kita datang baik-baik, pulang pun harus dengan cara yang sama."


"Iya. Itu berlaku buat orang baik. Kakek Kara bukan orang baik. Beliau orang jahat. Mana boleh Kara pulang."


Arsyad terkekeh kecil melihat ekpresi sang istri. Istrinya itu memang sudah merengek ingin pulang. Tapi, mereka belum bisa pulang tanpa seizin Hatake Wataya. Tempat ini dijaga ketat. Bagaimana mereka bisa lolos tanpa izin?


"Papih pasti marah." Lirih Kara. "Kara gak tahu ginama cemasnya papih sekarang. Papih selalu berusaha keras nyembunyiin Kara dari kakek."


Arsyad menatap sang istri lekat. Kedua tangannya tidak tinggal diam. Dia meraih kedua telapak tangan sang istri, untuk dibawa kedalam genggamannya.


"Tenang. Soal papihmu, biar aku yang urus. Okay?"


Kara mengangguk. Detik berikutnya, tubuh mungil gadis tersebut menghambur kedalam pelukan Arsyad. "Kara pengen pulang yanda.... hiks...."


Arsyad dengan sigap menahan beban tubuhnya dan sang istri, agar tidak terjatuh. Istri cantiknya itu memeluknya erat, sambil terisak kecil.


"Ssstt... jangan menangis. Kita pulang sekarang."


"Yanda gak bohong kan?" Tanya Kara memastikan.


"Kamu bisa hukum ini, jika aku berbohong. Sepuasmu." Tunjuk Arsyad pada bibirnya sendiri. "Bagaimana?"


Kara tidak menjawab. Gadis cantik itu malah semakin menenggelamkan dirinya kedalam dada bidang sang suami. Mencari posisi ternyaman disana.


"Awas aja kalau yanda bohong. Kara hukum pokoknya."


Arsyad tersenyum tipis mendengarnya. "Dengan senang hati."

__ADS_1


"Kalau begitu, sekarang bersiaplah. Kita akan segera pulang." Ujar Arsyad sambil melonggarkan pelukan mereka.


"Sudah selesai semuanya. Kita tinggal pulang."


"Baik. Kalau begitu, sekarang kita pamit." Ujar Arsyad, sambil menggandeng sang istri.


Keduanya berjalan bersama menyusuri jalanan berlantaikan kayu yang mengkilat, untuk menuju tempat dimana Hatake Wataya berada.


"Maaf nona, anda dilarang masuk." Hadang seorang kobun, yang berjaga di depan pintu.


"Minggir, Kara mau ketemu kakek."


"Maaf, nona. Tuan sedang menerima tamu kehormatan."


Gadis cantik bermanik hazel itu berdecak tidak suka. "Ya sudah, Kara titip salam saja buat kakek. Kara sama suami mau pulang." Putusnya.


"Ada apa?" Tanya Arsyad.


"Gak diizinin masuk. Katanya kakek ada tamu. Ya sudah, Kara titip salam sama bilang mau pulang." Ujar gadis cantik itu jujur.


"Yuk, yanda. Kita pulang." Ajak Kara, sambil menggandeng lengan sang suami.


"Tapi, kita bukannya harus-"


"Gak perlu. Kita pulang aja. Ayo." Ajak Kara, sambil menggiring sang suami untuk menjauhi tempat tersebut.


Keduanya benar-benar pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Alhasil, ketika tiba di gerbang utama mereka di hadang langsung oleh Enzo.


"Nona muda mau kemana?" Tanya Enzo, lewat celah kaca pintu mobil yang di buka sedikit.


"Pulang." Jawab Kara singkat.


"Sudah izin?"


"Sudah."


"Apa tuan mengizinkan?"


"Iya dong. Kalau enggak, mana boleh Kara pergi."


Arsyad yang mendengar istrinya berbohong, memirik sang istri lewat ekor matanya. Kara yang sadar akan hal tersebut, hanya bisa tersenyum tipis sebagai tanda untuk siap menerima konsekuensinya nanti.


"Buka gerbangnya. Kara mau pulang."


"Tapi nona-"


"Buka gak? Kara mau pulang nih!" Ketus gadis cantik tersebut.


"Baik. Kalau memang tuan sudah mengizinkan."


Kara memang menghubungi mantan supir pribadi sang ibu yang berdomisili di Osaka. Jadi dia tidak terlalu heran saat keluar tadi, sudah ada sebuah mobil merah berwarna hitam yang terparkir dengan manis menunggu mereka.


"Jalan pak." Ujar Kara.


Si supir mengangguk, lantas kembali memajukan kendaraan beroda empat tersebut saat gerbang mulai di buka. Ketika baru saja hendak melewati gerbang, sekelompok kobun bersamurai datang mengejar mobil yang mereka tumpangi.


"Ngebut pak. Kita langsung ke bandara." Titah Kara.


"Baik." Jawab pria di balik kursi kemudi tersebut.


"Ada apa?"


"Kita diikuti. Kayaknya kakek baru sadar kalau kita beneran pergi." Ujar Kara, mulai gelisah.


Arsyad melirik sang istri, lantas membawa tubuh mungil tersebut kedalam pelukannya. "Tenang. Kita pasti bisa pulang dengan selamat."


"Semoga saja." Doa Kara.


Semua tindakan Arsyad dan Kara tentu tidak luput dari pantauan pria dibalik kursi kemudi. Sambil memacu kendaraan beroda empat tersebut cepat, ia sesekali melirik situasi di luar. Benar saja, ada dua mobil sedan yang sedang mengikuti mereka.


"Pegangan." Titahnya.


"Apa?" Bingung Kara.


"Pegangan!" Titah si supir tersebut.


Belum sempat Kara kembali bertanya, kecepatan kendaraan yang mereka naiki telah bertambah. Untung saja Arsyad dengan cekatan berpegangan, sambil menahan tubuh sang istri agar tidak terkantup kap mobil atau body mobil lain. Mereka sekarang tengah di kejar oleh anak buah kakek Kara.


"Yanda.... Kara takut...." cicit Kara ketakutan.


"Tenang. Disini ada aku. Kamu harus tetap tenang." Ujar Arsyad menenangkan.


"K-ara takut....."


"Tenang, ada aku. Kamu harus bisa lawan ketakutan kamu." Ujar Arsyad tidak ada henti-hentinya.


Mobil yang mereka tumpangi melesat kian cepat. Menyelinap sana-sini, sesekali membuat manuver yang membuat jantung berdebar tidak karuan. Keduanya hanya bisa berdo'a.


"Kita sampai."


Kara terlonjak kaget sambil membuka matanya reflek. "A-pa? Kita sudah sampai?"


"Ya." Jawab si pengemudi. "Apa kalian aman?" Tanyanya lagi, sambil menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Om Gemintang?" Kaget Arsyad, saat melihat sosok familiar di balik kursi kemudi tersebut adalah Om-nya.


"Hello, anak muridku." Sapa pria berseragam formal supir tersebut.


"Om kok bisa ada disini?"


Pria rupawan itu terkekeh kecil. "Lagi patak umpet." Jawabnya enteng.


"Yuk keluar. Pesawat yang akan membawa kalian pulang, sudah menunggu." Ujar pria tersebut, sambil tersenyum tipis.


Ia tahu Arsyad shok akan kehadirannya. Pun dengan Kara yang mungkin penasaran dengan identitasnya sekarang. Dia hanya tersenyum tipis menanggapi semua itu.


"Nanti diceritain pas di pesawat." Imbuhnya.


Arsyad mengangguk, lantas keluar dari mobil. Ia mengelilingi mobil, guna membukakan pintu untuk sang istri.


"Yanda kenal sama supir tadi?"


"Itu om aku. Saudaranya Ayah." Kara mengangguk faham.


"Ayo." Ajak Gemintang.


Yap, supir tadi adalah Gemintang Reynando Pradipta alias G2, jika dalam dunia intelegen. Meskipun sudah pensiun dini, Gemintang tetap intelegen lepas yang sewaktu-waktu kinerjanya bisa di butuhkan.


"Mereka sudah menunggu." Ujar Gemintang, sambil jalan terlebih dahulu.


"Mereka?" Bingung Arsyad.


"Papih?!" Pekik Kara. "Itu papih kan?" Tunjuk Kara.


Saat ini keduanya telah tiba di bandara Internasional yang ada di Osaka, Bandara Internasional Itami. Lebih tepatnya, mereka ada di hanggar khusus pesawat non komersil. Dalam artian, hanggan ini di khususkan untuk para pesawat privat mangkal saat transit atau memang sedang landing.


"Papih?" Panggil Kara antusias.


Pria tinggi tegap yang bergelar crazy rich surabayan itu nampak berjalan lurus, mengarah kepada Arsyad. Raut wajahnya tidak dapat terbaca. Kemeja putih yang di kenakannya sudah di gulung sampai siku, mengekspose lengan kekar miliknya hasil workout yang rutin dilakoninya.


"Papih, Kara kangen-"


BUGH!


"Yanda?!" Kaget Kara.


BUGH!


"Bangs*t?!" Umpat Tyoga.


"Y-anda." Shok Kara, saat untuk kedua kalinya ia melihat sang suami di pukul mentah-mentah oleh sang ayah.


Tubuh suaminya sampai terpental beberapa meter, saking tidak siapnya menerima pukulan tersebut.


"Berani-beraninya kau membahayakan nyawa putriku!" Tyoga menarik kerah baju Arsyad.


Wajah pria paruh baya tersebut nampak kentara menahan amarah. Kara yang terkejut tentu langsung melerai, selepas sadar dari keterkejutannya. Namun sayang, ayahnya seperti menulikan diri. Sedangkan Gemintang, pria itu hanya berdiri sambil bersidakep dada. Menonton ujian pertama untuk calon murid resminya tersebut. Dia tidak memiliki hak untul ikut campur.


"Uhuk.... uhuk...."


"Pih, udah lepasih. Kasihan yanda...." pinta Kara sambil terisak kecil.


"Dasar bocah. Otak jeniusmu dipakai untuk berpikir secara logis, jangan gegabah. Aku percayakan putriku, bukan untuk kamu bawa kedalam jurang yang membahayakan nyawanya." Ujar Tyoga murka, sambil melepaskan cengkramannya kasar.


"Punya mantu kok gak bisa diandelin." Dengus Tyoga.


"Uhuk.... uhuk... pak..." lirih Arsyad, lelaki itu mencoba berdiri dengan bantuan Kara.


"Gak usah banyak bicara. Saya masih murka setiap kali lihat wajahmu. Untuk saja putriku baik-baik saja." Sergah Tyoga.


"Ayo Kara."


"E-nggak pih, Kara mau sama yanda... hiks..."


"Kara, ayo!" Titah Tyoga mutlak.


"Enggak pih. Kara-"


"Atmariani Karamina Adriani?!" Bentak Tyoga, sambil menarik sang putri. Membawa tubuh mungil sang putri secara paksa dalam pelukannya, menjauhi Arsyad.


"Uhuk... uhuk... Kara...."


"Yanda... hiks.... yanda tolong...."


"Kara..." lirih Arsyad, walaupun dia tidak bisa meraih sang istri yang sudah dibawa masuk kedalam sebuah pesawat oleh Tyoga.


"Haduh. Mertuamu itu ganas bener, Syad." Lirih Gemintang, sambil membatu sang keponakan berdiri.


"Pukulannya kuat. Mungkin karena dia rajin workout. Denger-denger, mertuamu itu mantan petinju MMA (Mixed Martial Arts)." Ujar Gemintang memberitahu, sambil memapah Arsyad untuk memasuki pesawat yang sama dengan Kara masuki tadi.


Arsyad tidak terlalu fokus mendengarkan ucapan Gemintang. Benaknya malah tegah berkelana, berpikir keras agar dapat menemukan jalan keluat yang paling tepat untuk menangani kemurkaan sang mertua.


****


TBC


Sumber : Kumparan

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, follow Author dan komentarrrrrrr ya😀


Sukabumi 20 Apr 2021


__ADS_2