Bukan Cinta Terencana (R3)

Bukan Cinta Terencana (R3)
113. Sama-sama Belajar


__ADS_3

113. Sama-sama Belajar


Kepulangan rombongan yang terdiri dari pasangan suami-istri, Arsyad-Kara, tak ketinggalan Aroon, sekretaris Aroon dan sekretaris Arsyad, disambut kembira oleh penghuni mansion Radityan. Keberhasilan yang telah mereka dapatkan, tak pelak membawa banyak kebahagiaan. Hal itu juga diapresiasi secara langsung oleh Tyoga—papih Kara—yang kebetulan ada di kediaman Radityan.


Sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan yang mereka dapatkan, acara syukuran besar-besaran akan diadakan. Berbagai kalangan diundang untuk menghadiri serangkai acara pengajian yang utamanya dilangsungkan sebagai bentuk rasa syukur. Sekaligus sebagai rasa syukur atas hadirnya calon anggota keluarga Radityan yang baru. Anak-anak yatim-piatu, kaum dhuafa juga tak luput dari daftar undangan.


Karena cara syukuran tersebut, seluruh anggota keluarga Radityan jadi memiliki kesibukannya masing-masing. Mereka semua ikut ambil bagian, setidaknya membantu mengurus satu keperluan yang dibutuhkan. Namun, hanya satu yang tidak boleh diikutsertakan. Siapa lagi jika bukan menantu keluarga Radityan yang tengah mengandung. Karen alasan usia kehamilan yang masih muda—cenderung mudah mengundang resiko keguguran—membuatnya begitu diperhatikan. Malahan sebagian pihak over protectif memperhatikannya.


Walaupun begitu, dia tidak merasa keberatan. Toh, semua itu demi menjaga keselamatan calon buah hatinya.


Kini, wanita cantik itu berada di kamarnya dan sang suami. Duduk di depan meja rias, mematut pantulan wajahnya di cermin. Sebuah gamis berwarna broken white dengan model simple tampak melekat di tubuh mungilnya. Kedua tangannya tampak tengah sibuk memilih peniti, kemudian mengambil satu yang memiliki ujung paling tajam. Menggunakan benda tersebut guna menyemat dua bagian kain panjang berwarna senada dengan bajunya. Kain tersebut digunakan untuk menutup mahkotanya.


Tadi, Aurra—ibu sang suami—memberikan kain panjang berbahan super soft itu. Katanya untuk penutup kepala. Sepaket dengan gamis yang Kara gunakan. Namun, Aurra tak memaksa ataupun memerintahkan Kara untuk mengenakannya percis seperti apa yang wanita itu gunakan. Kara saja yang berinisiatif untuk menggunakannya untuk menutupi mahkotanya.


“Ini, cara pakainya gimana, ya?” monolognya pada diri sendiri, dirasa tidak yakin dengan cara menggunakan benda tersebut. “Atau Kara tanya bunda aja?” lanjutnya.


Tak lama kemudian, dia menggelengkan kepala. Agaknya ide tersebut kurang cocok untuk saat ini. Apalagi sang bunda—mertuanya—tengah sibuk membantu mengurusi jalannya acara syukuran di bawah sana. Begitu pula dengan Arra—kembaran sang suami—yang kebagian tugas mengawasi bagian konsumsi dan ketring.


“Ada apa, hm?”


Mendengar suara baritone familiar itu mengalun dari arah belakang, membuatnya kontan menoleh. Padahal dia tidak mendengar suara pintu terbuka, ataupun langkah kaki. Jadi, datang dari mana suami tampannya itu?


“Yanda…. Masuk dari mana?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, pria rupawan yang malam ini mengenakan koko berwarna broken white—senada dengan baju sang istri—dipadukan dengan bawahan kain sarung bermotif palaikat berwarna hitam dengan garis-garis warna putih.


“Dari pintu, istriku. Dari mana lagi?”


“Tapi, kok Kara enggak dengar suara apa-apa?” bingung Kara.


“Kamu terlalu fokus tadi,” ujar sang suami seraya mendekat.


“Masa?” ujar Kara tak yakin.


Pria rupawan yang mengenakan peci itu tersenyum tipis, seraya mengikis jarak yang terbentang. Ketika berhasil mengikis jarak yang ada, sang istri tampak menunduk malu. Sedangkan sebelah tangannya tampak menyentuh bagian kepala.


“Kenapa menunduk?”


“Malu,” cicit sang istri pelan, tetapi masih dapat didengar sang suami.


“Kenapa harus malu saat kamu melakukan sesuatu yang sesungguhnya sangat dianjurkan bagi seorang muslimah?” tanya suara baritone itu lembut. “Coba lihat sini, aku ingin melihat.”


Merasakan ada sebuah sapuan lembut pada sisian wajahnya, Kara menoleh. Kemudian mendongkrak, menatap ke arah sang suami. Mempertemukan manik hazelnut dengan manik jelaga yang sewarna dengan kegelapan malam.


“Masya Allah, cantiknya istriku.” Pujinya tulus.


Mendapati pujian atas peampilannya yang berbeda malam ini, wanita yang tengah hamil muda itu tersipu malu. Semburat merah berhasil menghiasi pipinya yang terasa memanas. Padahal masih ada setitik ragu yang membelenggu. Seolah-olah dia butuh seseorang untuk menuntun dan membantunya meyakinkan diri.


“Tapi, Kara masih belajar. Kara masih belum terbiasa,” ungkapnya.

__ADS_1


“Tidak apa. sekarang belajar dulu, nanti lama-lama juga biasa. Dan insyallah, bisa istiqomah pakai hijab seterusnya.”


Kara tersenyum tipis seraya meng-amini dengan suara kecil. “Omong-omong, yanda kenapa ke sini? Bukannya tadi lagi ngobrol sama ayah dan pak Ustadz?” tanya Kara tiba-tiba.


“Hm. Mau saja menemui kamu.”


“Bentar lagi Kara juga turun ke bawah, kok.”


“Ingin saja menyusul dan memastikan kalian baik-baik saja.”


Kara tersenyum manis mendengar ucapan sang suami. Dari sekian banyak orang yang sangat menjaganya, sang suami lah yang paling utama. Sebagai suami dan calon ayah yang siaga, Arsyad bahkan selalu terbangun di malam hari demi memastikan keadaan sang istri.


Apa wanita itu membutuhkan sesuatu?


Menginginkan sesuatu?


Atapun merasakan sakit atau sesuatu yang menganganggu.


Arsyad juga tidak pernah meninggalkan sang istri sendirian lebih dari 5 menit. Sebisa mungkin dia memposisikan dirinya di samping sang istri agar dapat mengawasinya secara langsung. Jikalau bisa, 24 jam non-stop Arsyad ingin selalu berada di samping sang istri. Namun, apalah daya, posisinya sebagai CEO dari beberapa perusahaan sekaligus, membuatnya memiliki pekerjaan yang menumpuk. Seolah-olah pekerjaan itu tak ada habisnya. Selesai satu pekerjaan, maka datang segunung pekerjaan lainnya.


Mungkin karena ini kehamilan pertama sang istri, jadi Arsyad begitu protectif menjaganya. Di sisi lain, Arsyad juga harus berjuang melewati masa-masa menyulitkan bagi seorang ibu hamil, karena Arsyad lah yang mengalami morning sickness. Alih-alih sang istri.


Perkembangan bayi dalam kandungan dimulai setelah pembuahan terjadi. Pembuahan sendiri umumnya baru terjadi dua minggu setelah tanggal menstruasi terakhir. Selain menjadi bagian dari kehamilan, tanggal menstruasi terakhir (Hari Pertama Haid Terakhir / HPHT) juga digunakan untuk memprediksi tanggal persalinan, yaitu dengan menambah 40 minggu dari tanggal tersebut.


Setibanya di Indonesia, Arsyad memang langsung berbicara kepada sang ibu—Aurra—untuk meminta rekomendasi dokter kandungan terbaik. Sebenarnya Arsyad ingin sang kembaran—Arra—untuk menjadi dokter pribadi sang istri. Namun, karena Arra masih harus menyelesaikan S2 nya di London, Inggris, maka hal itu tak dapat direalisasikan. Jadi, Aurra merekomendasikan Adnia. Dokter kandungan yang dulu menjadi dokter kandungannya. Selain itu, Aurra juga hafal betul kemampuannya, karena mereka juga berteman dekat.


Saat ini, kehamilan Kara sudah memasuki minggu keempat, jalam minggu kelima. Pada akhir minggu keempat, tabung jantung janin sudah ada dan dapat berdenyut hingga 65 kali dalam satu menit. Di akhir bulan pertama kehamilan, janin sudah berukuran sepanjang 0,6 cm, lebih kecil dari butiran nasi. Ibu hamil juga mulai mengalami gejala kehamilan, seperti mudah lelah dan payud*ra yang membesar. Peningkatan hormon kehamilan HCG juga menyebabkan menstruasi terhenti.


“Hm.”


Kemunculan Arsyad yang datang bersama sang istri, tampak berhasil mencuri perhatian. Apalagi satu gerombolan gadis muda yang kebetulan diundang dari ponpes—pondok pesantren—milik kerabat keluarga Radityan, sedari mereka tiba sudah mencuri-curi pandang ke arah Arsyad yang sedari tadi memang berkeliaran seorang diri. Ah, lebih tepatnya berkeliaran seorang diri tanpa sang istri. Jadi, para gadis-gadis muda yang tampak tidak bisa mengelak posana dari ketampanan kaum Adam satu itu, mengira jika Arsyad masih lajang.


Namun, sekarang Arsyad turun bersama seorang wanita cantik. Sebelah tangannya bahkan bertengger di pinggang sang wanita dengan posesif. Siapa yang tidak iri melihatnya, coba?


Terlihat sekali jika Arsyad amat menjaga wanita tersebut. Bak ratu yang harus diperhatikan dan selalu diutamakan kenyamanannya. Arsyad juga tampak memperlakukannya demikian.


“Ning, itu siapa, ya?” tanya salah seorang santriwati, pada seorang wanita berhijab syar’I yang lebih tua darinya.


“Sepertinya itu istrinya,” jawab wanita yang dipanggil Ning tersebut. “Bunda Aurra sudah pernah bilang jika putra sulungnya sudah menikah. Jadi, itu pasti istrinya.”


“Owh, begitu.” Santriwati itu tampak menunduk.


“Kenapa, dik Salwa?”


“Tidak apa-apa, ning.”


Wanita yang dipanggil Ning itu tersenyum tipis. Tangannya kemudian bergerak menyentuh pucuk kepala santriwati tersebut. “Mengagumi seseorang memang boleh. Yang tidak boleh itu, menginginkan milik seseorang, dik Salwa.”


Santriwati itu tertegun. Beberapa sekon kemudian, dia mendongkrak. Menatap lawan bicaranya. “Bukan begitu, Ning. Tapi, bukannya Ning Humaira menyukai….”

__ADS_1


“Menyukai bukan berarti harus memiliki. Ning Humaira pasti mengerti arti kalimat itu. Dik Salwa tidak perlu khawatir.”


Obrolan dua orang kaum Hawa itu terputus begitu saja, karena selanjutnya suara MC terdengar menyerukan panggilan untuk segera berkumpul, karena acara akan segera dimulai.


**


Acara syukuran dan pengajian selesai diadakan pada pukul 21.11 waktu setempat. Sekitar tiga puluh menit kemudian, barulah seluruh tamu undangan meninggalkan mansion Radityan. Menyisakkan anggota keluarga Radityan yang tampak kelelahan. Acara syukuran dan pengajian tersebut juga dihadiri oleh Davina dan Aarin—tunangan Davin & tuangan Aroon—yang sedari tadi tampak dibuat sibuk oleh Lunar. Kedua wanita cantik itu diperkenalkan pada kerabat-kerabat keluarga Radityan yang kebetulan hadir.


Kara juga tak kalah sibuk kala ikut bergabung dengan para wanita di keluarga Radityan. Karena bukan rahasia umum lagi jika keluarga Radityan memiliki banyak kerabat yang tersebat di seluruh penjuru negeri. Kara juga sempat dikenalkan pada adik ibu mertuanya—Kaisar Zega Redadgard Al-Haidan—yang datang bersama sang istri. Selain itu, beberapa kerabat juga tampak antusias ingin mengobrol dengan Kara yang notabene adalah putri Crazy Rich dan masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan Korea. Alhasil, wanita cantik itu tertahan cukup lama bersama mereka.


Ketika jarum jam menyentuh angka 22.00 malam, Kara baru bisa kembali ke kamar untuk beristirahat. Itupun karena sang suami yang datang menjemput.


“Kamu belum makan malam?” tanya sang suami, kala mereka tiba di kamar.


“Tadi enggak sempat makan malam,” jawab Kara jujur.


“Sekarang duduk, makan dulu.”


Kara mengangguk. Dengan patuh, wanita yang tengah hamil muda itu mendudukkan dirinya di sofa dekat pembatas balkon. Tidak lama kemudian, sang suami datang menyusul. Membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya.


“Sudah baca doa?” tanya Arsyad, kala tangannya sudah mengangkat sesendok nasi lengkap dengan lauk berupa tumis daging sapi dengan brokoli. Kara kemudian mengangguk sebagai jawaban.


“Ayo buka mulut, aku suapi.”


“Eh, enggak. Kara bisa makan sendiri, kok.” Tolak sang istri halus.


Mendengar penolakan sang istri, Arsyad menautkan keningnya. “Kenapa tidak mau menurut? Ini perintah suami. Kalau Kara menurut, Allah menganjarnya dengan pahala.”


Wanita cantik itu mengerjap polos. “Begitu, ya?”


Arsyad mengangguk seraya tersenyum tipis. “Ayo, buka mulut. Kamu harus makan, dia juga butuh makan,” ujar Arsyad seraya menunjuk perut sang istri dengan dagunya.


Kara mengangguk. Dengan patuh dia membuka mulut, menerima suapan pertama dari sang suami. Nasi dengan lauk tumis daging sapi dan brokoli terasa memanjakan lidah kala berhasil wanita itu kunyah.


“Makan yang banyak. Brokoli mengandung banyak nutrisi yang diperlukan selama kehamilan, seperti kalsium, asam folat, lutein, zeaxanthin, dan karatenoid yang baik untuk kesehatan mata. Sedangkan daging sapi, kaya kandungan protein. Terdapat pula kandungan zat besi sebagai mineral penting yang berguna dalam pembentukan sel darah merah. Sel darah merah berperan penting untuk mengantarkan oksigen ke semua sel dalam tubuh,” tutur Asyad cermat.


Di tengah kunyahannya, Kara mendengarkan dengan hidmat. Semenjak hamil, sang suami memang sering update soal apa saja yang baik dan tidak baik untuk ibu hamil. Arsyad juga terkadang menemani Kara menonton acara khusus untuk ibu hamil.


“Smart Daddy,” puji Kara. “Mommy like it,” imbuhnya.


Arsyad tersenyum mendengarnya. Raut bahagia senantiasa menaungi wajah rupawannya semenjak tahu jika sang istri tengah berbadan dua. Sebesar itu nilai positif yang hadir. Sehingga dia merasa hidupnya amat sempurna sebagai seorang pria. Selain itu, karena kondisi sang istri yang tengah berbadan dua pula, Arsyad harus menjadi suami siaga, calon ayah siaga, dan tentu saja calon ayah yang smart. Arsyad bahkan sudah membuat daftar nama-nama bayi laki-laki dan perempuan yang indah, diambil dari Al-Qur’an dan nama-nama para tokoh islam terkemuka. Ah, Arsyad sebenarnya benar-benar sudah tidak sabar menunggu. Dia ingin segera berjumpa dengan buah cintanya dengan sang istri.


Akan tetapi, terkadang apa yang sudah direncanakan dengan matang, ada saja yang menjadi penghalang.


**


TBC


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️

__ADS_1


NOTE : DIUSAHAKEUN UPDATE CEPAT 👍


Sukabumi 28/02/22


__ADS_2