Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
10. Dihibur, Menghibur?


__ADS_3

”Sejak kapan Pak Malik ada di sini?” tanya Hana merasa malu karena kepergok menangis di tangga darurat.


”Apa itu penting?” jawab Malik.


Ya, Malik pria itu memang mengikuti langkahnya dan menebak kemana arah Hana pergi yang tidak lain adalah di sini.


”Apa kau masih mencintainya?”


Hana terdiam. Cinta? tapi kenapa rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


”Saya tidak tahu Pak Malik mungkin lebih ke arah benci, karena apa yang dia lakukan padaku sudah melebihi batas. Jika hanya saya saja mungkin bisa dimaklumi tapi ini sudah menyangkut nama baik keluarga saya.”


”Harusnya kau bersyukur,” ucap Malik.


Hana mengangkat wajahnya menatap ke arah Malik sejenak lalu memalingkan wajahnya ke samping. ”Apa maksud Pak Malik?”


”Eric, dia mengakui jika telah mengkhianatimu sebelum hubungan kalian ke tahap yang serius ’kan? Jika saja itu terjadi setelah kalian menikah pasti rasanya akan lebih menyakitkan lagi,” tukas Malik.


”Benarkan yang saya katakan? Kamu itu masih muda dan lagi banyak prestasi kenapa bersedih dengan keadaan seperti ini banyak pria lajang yang lebih baik dari mantan kamu itu,” lanjut Malik.


”Pak Malik sedang menghibur saya?” ucap Hana.


”Terserah penilaian kamu saja, yang jelas saya hanya mencoba memberitahukan kebenarannya saja bukan sekedar perkataan manis belaka. Perlu digaris bawahi jika saya juga gak mau dirugikan karena karyawan saya mikirin cinta jadi tidak fokus dalam bekerja.”


”Begitu ya, baiklah saya akan bekerja dengan profesional,” ucap Hana.


Hana keluar dari tempat itu diikuti oleh Malik.


”Nanti sore jangan pulang dulu tunggu saya di lobi, kita pulang sama-sama.” Malik berlalu setelah mengucapkan kalimat tersebut.


”Ck! Bos mah bebas!” gerutu Hana.


”Ehem, lagi ngomongin siapa nih?”


”Eh, kau ngagetin aja. Kenapa semua orang hari ini penuh dengan kejutan,” ucap Hana.


”Kamu aja kali yang lagi baper jadi dikit-dikit mengena di hati,” sahut Indah.


”Iya juga, aku memang sedang dalam mood yang buruk hari ini. Kau gak pergi ke kantin?” tanya Hana melihat Indah masih santai di ruangannya.


”Gak, males nanti minta OB aja buat belikan makanan di kafe depan kamu mau nitip?” balas Indah.


”Gak pengen sih, nanti saja jika pengen aku beli sendiri.” Indah mengangguk lalu memilih keluar dari ruangan sahabatnya itu dia tahu jika Hana sedang butuh privasi.

__ADS_1


***


”Oma antarkan Emil ke kantornya papa sekarang!” teriak Emil membuat Maryam harus memperbanyak sabar karena cucunya sejak pagi merengek minta diantarkan ke kantornya Malik.


”Nanti sore ya Sayang, biar papa jemput kamu kesini,” ucap Maryam mencoba menenangkan cucunya.


”Emil maunya sekarang Oma, ayolah Emil mau ketemu sama mama cantik sudah dua hari Emil gak ketemu sama dia. Emil itu kangen Oma,” rengek Emil.


”Jangan begitu Sayang, tunggu papamu dulu nanti jika Oma mengantarkanmu ke kantor bukan hanya Oma saja yang disalahkan tapi juga tante, faham gak?” seru Sabrina.


”Tante gak tahu jadi dilarang komentar, ayo Tante kita berangkat sekarang!” Emil menarik lengan Sabrina keluar.


”Tunggu dulu, Tante mau telepon papamu dulu sebentar,” ucap Sabrina menggulir ponselnya dan mencari nama kakaknya Malik.


”Hallo, ada apa menghubungiku?”


”Hallo, putramu ini merengek terus minta diantarkan ke kantormu.”


”Sebentar lagi aku juga balik, nanti biar aku jemput dari kantor langsung.”


”Papa ... Emil ke kantor papa sekarang ya? Tante Sabrina yang akan mengantar Emil ke sana, boleh ya?”


”Emil dengarkan papa Sayang, papa sedang sibuk dan tidak bisa menemanimu di sini tolong mengerti ya, Emil tidak perlu datang kesini biar nanti papa yang jemput Emil ke rumah Oma.”


”Tapi Pa, Emil mau ketemu sama mama Hana. Papa tahu kan udah dua hari Emil di rumah Oma, sekarang Emil sudah sehat jadi tolong ijinkan Emil kesana ya, please!”


”Kau dengar sendiri kan Bang!”


”Jangan bawa dia ke sini Sabrina, di sini sedang banyak pekerjaan.”


”Baiklah aku akan membawanya jalan-jalan ke mall saja.”


Bip.


”Papamu tidak mengijinkannya jadi tetaplah di rumah atau kau ikut Tante ke mall, kita shoping?” tawar Sabrina.


”Tidak mau Tante, mendingan Emil tidur saja di kamar.” Bocah kecil itupun segera berlalu ke kamarnya.


”Kau lihat dia, mama khawatir dengan dia tapi kakakmu justru terlihat sangat santai dan seakan tidak peduli dengannya,” ucap Maryam.


Sabrina menggeleng pelan, ”Dia bukannya tidak peduli Ma, mungkin karena keadaannya seperti ini jadi dia terlihat mengabaikan putranya sendiri. Mama juga jangan menyalahkannya, Sabrina tahu kalau Bang Malik sebenarnya diam-diam juga memikirkan Emil.”


”Ya semoga saja begitu,” sahut Maryam.

__ADS_1


Suara klakson mobil terdengar membuat keduanya mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama.


”Flo,” ucap keduanya hampir bersamaan kemudian mereka saling pandang.


”Ada keperluan apa dia datang ke sini?” ucap Maryam.


”Semoga saja tidak ada sangkut-pautnya dengan Emil dan Malik,” jawab Sabrina.


”Hallo tante apa kabarnya?” sapa Flo memeluk Maryam.


”Alhamdulillah baik, bagaimana kau bisa tahu jika kita ada di sini?” tanya Maryam.


Flo tampak menghela nafasnya sejenak. ”Sebenarnya Flo juga datang ke rumah Tante yang di Paris tapi kata maid yang ada di sana Tante baru saja pergi ke sini beberapa bulan yang lalu jadi Flo memberanikan diri untuk datang.”


”Sabrina, apa kabarmu kau terlihat makin cantik dan terlihat dewasa.”


”Tentu saja karena pada dasarnya semua wanita itu cantik,” balas Sabrina mengurai senyum.


”By the way, di mana Emil, kenapa dia tidak terlihat? Aku sangat merindukannya,” seru Flo.


”Sungguh? Bukan rindu pada kakakku kan?” sindir Sabrina.


Flo tergelak mendengar perkataan Sabrina. ”Jika iya apakah kau akan memberikanku restu? Tak apa aku memulainya darimu jika kau mendukungku aku akan memberikan apapun untukmu Sabrina,” ucap Flo.


”Sayangnya aku tidak tertarik dan lebih suka dengan pilihan Bang Malik sendiri,” sahut Sabrina.


”Oh iya, jadi dia sudah memiliki pasangan maksudku calon ibu buat keponakanku Emil istri buatnya?” selidik Flo.


”Tidak bukan begitu, dia sendiri yang akan memilihnya jadi tolong jangan membuatnya kembali kesal seperti yang sudah-sudah,” ucap Maryam.


”Tidak akan Tante, Flo tahu diri kok lagipula selama ini Flo hanya dianggapnya sebagai mantan adik iparnya saja oleh Bang Malik jadi tidak mungkin jika Flo mengharapkan lebih darinya.”


”Baguslah jika kau tahu diri,” sela Sabrina.


Maryam membulatkan matanya mendengar perkataan putrinya. ”Sabrina tolong jangan memantik api, mama tidak suka terjadi pertengkaran di rumah mama sendiri.”


”Maafkan Sabrina Ma,” sesal Sabrina.


”Duduklah!” seru Maryam pada Flo.


”Aku hanya sebentar saja kok Tante, karena Emil sedang tidur ya sudah saya pamit saja.” Flo segera keluar dari rumah Maryam dengan perasaan kesal.


”Tidak sopan, sama sekali tidak berubah padahal sekolahnya di sekolah elit tapi bad attitude!”

__ADS_1


”Sabrina please!” lirih Maryam melirik ke arah pintu, Emil tengah berdiri di tengahnya.


”Astaghfirullah, sejak kapan bocah itu ada di sana? Bagaimana jika dia mendengar semuanya?” bisik Sabrina.


__ADS_2