
Berulang-ulang Malik menghubungi nomor Hana namun ponselnya mati, membuatnya semakin bingung kemana dia harus mencarinya tidak mungkin kan dia menghubungi mertuanya menanyakan keadaan Hana di sana sama saja dia bunuh diri karena kedua mertuanya akan menggantungnya jika ketahuan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Malik mencoba menghubungi Alvin berharap pria itu mau memberitahukan keadaan Hana tapi sama saja ponselnya tidak merespon panggilannya.
”Hallo Faris bisa bantu aku mencari Hana.”
”Loh memangnya Abang gak tahu kalau Mbak Hana ada di rumahnya mama sekarang, dia baru saja sampai mungkin dua puluh menit yang lalu.”
”Syukurlah jika demikian aku benar-benar khawatir soalnya, ya sudah makasih sekarang Abang jemput ke rumah.”
Bip.
”Bagaimana Den Malik?” Bik Surti ikut khawatir dengan keadaan nyonya besarnya itu.
”Tenang saja Bik Surti cukup mendoakan saja ya, nanti biar Malik coba bujuk Hana pulang ke rumah.”
”Memangnya sekarang dia dimana Den?”
”Rumah mama Maryam baru saja sampai karena Faris sendiri yang membukakan pintu untuknya. Malik ke sana sekarang ya Bik.”
Malik segera pergi menjemput bidadarinya pulang ke rumah dia takkan bisa tenang jika wanitanya tidak ada di rumahnya. Meskipun hujan sedang turun dengan derasnya itu tidak membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi.
Lima belas menit Malik menempuh perjalanan akhirnya sampai di rumah mamanya dengan cepat dia keluar dari mobil menggunakan payung yang tergeletak di jok belakang.
Dengan setengah berlari Malik masuk ke rumahnya setelah sebelumnya mengucapkan salam lebih dulu.
”Ma, mama dimana Ma?” seru Malik.
”Ada apa sih teriak-teriak ada anak-anak sedang tidur,” ucap Maryam memperhatikan Malik yang basah kuyup karena hujan.
”Kamu habis darimana kok bisa seperti ini?” tanya Maryam.
”Ma, Malik mau tanya sama mama. Dimana Hana?”
Maryam mengernyitkan alisnya membuat Malik jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara anak dan menantunya itu. ”Apa yang sedang terjadi, apa kalian bertengkar?”
”Ma, tolong katakan pada Malik kali ini saja nanti Malik bakal jelasin kalau sudah bertemu dengannya dan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.”
__ADS_1
”Dia ada di kamarmu sedang istirahat sama anak-anak lebih baik kamu tunda bicaranya biarkan dia berpikir lebih tenang,” saran Maryam.
”Tapi Ma, Malik juga mau minta maaf sama dia, gak baik loh istirahat memendam kekesalan.”
”Terserah kamu saja tapi ya itu saran mama sebaiknya menunggu besok saja lagian dia aman di sini daripada dia pulang ke rumah mertua mu yang ada kamu bakal diintrogasi habis-habisan sama mereka,” jelas Maryam.
”Baiklah kalau begitu ijinkan Malik tidur di sini Ma, Malik di kamar tamu saja.”
”Silakan saja, ada Faris dan Sabrina di rumah sebelah jika kamu mau bertemu dengan mereka.”
Malik mengangguk dan melangkah gontai masuk ke kamar tamu dan merebahkan dirinya di sana. Malik mencoba memejamkan kedua matanya namun urung karena perutnya berbunyi berteriak-teriak meminta jatah makan malam yang belum sempat dia lakukan.
”Astaghfirullah kenapa menjadi lapar sekali rasanya,” keluh Malik segera keluar menuju dapur mencari makanan yang bisa dimakan.
Langkahnya terhenti begitu mendengar suara seseorang berada di dapur. ”Hana,” lirih Malik.
Malik segera menghampirinya dan menghadang langkahnya ketika Hana akan. keluar dari dapur.
”Maafin Abang ya,” ucap Malik.
”Soal struk belanjaan yang tadi di kantor, Abang. akan menjelaskannya padamu tapi tolong kamu jangan marah ya. Abang gak mau kamu salah paham dan ngambek begini.”
Hana terdiam menelisik sosok Malik yang sedang berada di depannya sosok yang tidak pernah berbohong selama ini dan sekarang dia menjadi seorang pembohong menyembunyikan sesuatu darinya.
”Tolong mengertilah Abang gak pernah loh macam-macam di luar sana, bahkan hanya kamu satu-satunya wanita yang tiap malam sama Abang,” ucap Malik.
”Pembohong!” balas Hana.
”Astaga Abang harus apa biar kamu percaya,” bujuk Malik.
”Jelaskan semuanya jangan ada yang Abang tutup-tutupi mengerti!”
Malik mengangguk dan menceritakan semuanya pada Hana hal tersebut tidak serta-merta membuat wanita itu langsung percaya apalagi ada Lani mantan mertuanya.
Malik berharap ada keajaiban setelah dia bercerita pada istrinya, Hana mau memaafkan kesalahannya.
***
__ADS_1
Hujan masih turun dengan lebatnya dan hal ini membuat Alvin ketar ketir karena dia sudah berjanji akan datang ke rumah Untari malam ini untuk melamar gadis itu.
”Sudahlah besok pagi saja kita kesana toh hanya melamar saja kan?” ucap Pak Soleh mencoba menenangkan putranya yang sedang tidak tenang karena sesekali dia melongok ke luar mengecek situasi.
”Tapi Pa, Alvin pengin malam ini biar segera selesai dan Alvin bisa bernafas lega karena Alvin sendiri sudah janji sama Untari masa iya gak jadi kan malu-maluin Alvin Pa, dikira nanti Alvin gak bisa pegang ucapan lagi.”
Soleh memandang ke arah Rita meminta pendapatnya karena memang Alvin sendiri tidak bisa diajak kompromi, sejak tadi sore dia terus saja merengek layaknya anak kecil yang sedang meminta mainan baru pada orang tuanya. Hal itu tentu saja membuat risih keduanya.
”Sabar ya jika memang dia itu jodohmu gak akan lari kemana kok,” ujar Soleh dia kembali berusaha menenangkan putranya.
Hujan semakin deras dan hal itu membuat Soleh mengurungkan niat putranya karena tidak mungkin dia nekad pergi sedangkan kondisi Alvin dan juga istrinya Rita sedang tidak baik-baik saja.
Alvin meraih ponselnya dan terkejut melihat beberapa kali panggilan dari Abang iparnya ’Malik’ Alvin jadi curiga pasti ada sesuatu dengan mereka berdua terlebih tadi siang Untari sempat bilang jika Hana seakan sedang kesal dan keluar tanpa menyapanya waktu ketemu di koridor kantor.
”Ma, coba mama hubungi Kak Hana apa nomornya bisa dihubungi?” pinta Alvin.
Dengan sigap Rita pun melakukannya namun tak ada jawaban karena ponsel Hana mati.
”Memangnya apa yang terjadi Vin? Kamu bisa kasih tahu kami?” tanya Soleh begitu melihat ekspresi istrinya yang mengedikkan bahunya saat dia tak berhasil menghubungi putrinya.
”Alvin juga tidak tahu Pa, biar Alvin coba tanyain sama Bang Malik saja ya sekarang?” Alvin tidak mungkin tidak khawatir dengan keadaan kakaknya itu dengan segera dia menghubungi Malik meminta penjelasan.
”Hallo ada apa Vin?”
”Bang ada apa menghubungi Alvin sore tadi?”
”Abang hanya mau nanyain kerjaan itu saja.”
”Yakin Bang, tidak ada masalah lain?”
”Astaga ini anak ikutan kepo sama kayak kakaknya ini.”
”Bukannya begitu Bang, Alvin hanya mau memastikan jika keadaan Kak Hana baik-baik saja.”
”Iya kakakmu memang baik-baik saja kok sekarang apa kamu mau ngobrol dengannya? Bagaimana dengan lamaranmu?”
Astaga aku hampir saja melupakan hal itu, Alvin langsung mematikan ponselnya dan berlari ke depan berharap hujan telah reda dan dia bisa ke rumah Untari untuk melamarnya.
__ADS_1