Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
32. Kejadian di Kantor


__ADS_3

”Abang yakin mau adain acara keluarga di rumah?” tanya Hana.


”Iya, kita adain syukuran kecil-kecilan saja bagaimana kamu mau kan? Atau kamu mau besar-besaran di hotel sekalipun juga gak masalah,” balas Malik.


”Gak perlu Bang, sebenarnya gak perlu juga sih tapi jika tujuannya baik mendekatkan dua keluarga gak masalah.”


”Iya, aku juga gak undang banyak orang kok hanya keluarga terdekat saja gak apa-apa kan?” ucap Malik.


Hana hanya mengangguk, ”Tidak.”


”Makasih Sayang.”


Mereka pun kembali fokus ke jalanan menuju kantor.


”Kamu yakin udah gak sakit lagi?” tanya Malik menoleh sejenak ke arah istirnya.


”Gak kok, sudah seperti biasa, ini juga beneran dapet,” jawab Hana.


”Kalau memang gak kuat istirahat saja di rumah.”


”Ya nanti aku pikirkan lagi, soalnya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan segera.”


”Jangan dipaksakan, sebenarnya aku lebih suka kau tinggal di rumah saja biar aku yang bekerja, tapi jika memang kamu gak mau ya sudah,” ucap Malik menggenggam erat tangan Hana sesekali mengecup punggung tangannya.


”Aku tahu soal itu kok Bang, tunggu Hana siap dulu ya? Hana juga maunya gitu hanya ngurus keluarga saja,” balas Hana.


”Iya Abang bisa ngerti kok lagian kan Abang juga masih sanggup belanjakan kebutuhanmu. Abang hanya khawatir dikira Abang serakah sehingga memperkerjakan istri sendiri di perusahaan sendiri,” jelas Malik.


”Ya Bang, Hana faham.”


Mobil pun masuk ke dalam area perkantoran milik Malik, dia sengaja mengambil jalan depan dan turun di sana membuat seluruh mata yang melihatnya berbisik-bisik karena bukan hanya dia saja yang keluar dari mobilnya tapi juga Hana.


”Pagi Pak Malik,” sapa sekuriti.


”Pagi Pak Deddy, tolong parkirkan mobil saya ke basemen ya, ini kuncinya.” Malik menyerahkan kunci mobilnya pada Deddy.


”Baik Pak.”


”Bu Hana,” ucap Pak Deddy terkejut.


”Iya Pak.” Hana tersenyum pada sekuriti tersebut.


”Ayo Sayang, kita masuk! Jangan suka senyum pada semua orang!” bisik Malik meraih tangan Hana membuat Deddy kembali terkejut.


Sepanjang perjalanan menuju ke lantai atas semua pasang mata memperhatikan mereka berdua membuat Hana risih sekaligus malu.

__ADS_1


”Aku malu Bang,” ucap Hana.


”Kenapa harus malu dengan suami sendiri sudahlah Sayang, jangan dihiraukan ucapan orang lain yang hanya akan menambah beban pikiranmu fokus pada pekerjaan saja,” ucap Malik.


”Baiklah.”


”Aku ke ruanganku sekarang.”


”Nanti siang aku yang akan ke ruangan kamu ya, jadi jangan kemana-mana tunggu sampai aku datang,” ucap Malik sebelum tubuhnya menghilang masuk ke lift.


Baru saja mendaratkan bokongnya tiba-tiba Ayu masuk dan memaki-maki Hana.


”Hei Bu Hana, Anda benar-benar kelewatan ya!” teriak Ayu membuat semu orang mengarah pada ruangannya.


”Apa yang terjadi, kenapa Anda datang dan marah-marah di ruangan saya?” tanya Hana yang memang tidak tahu apa penyebab Ayu memarahinya.


”Kau ini memang tidak tahu malu, sudah tahu mantanmu itu kere masih saja kau kuras hartanya. Gara-gara kamu kita jadi kehilangan tempat tinggal dan sekarang harus hidup irit dan ngontrak!”


”Kenapa kamu tega Hana!” teriak Ayu.


”Aku justru tidak tahu masalah ini tiba-tiba kau datang marah-marah memangnya kau tidak pernah sekolah ya sehingga gak ada orang yang mengajarimu etika bertanya dengan baik pada orang lain?”


”Dimana suami kamu? Aku sangat yakin jika Eric tahu dia pasti akan marah padamu,” ucap Hana.


”Masalahnya karena kamu melaporkan dia dan sekarang dia menjual rumahnya, hanya untuk membayar hutangnya pada perusahaan ini, apa kau puas sekarang?” teriak Ayu dia ingin meluapkan emosinya yang sejak kemarin meletup-letup itu.


Ayu membelalakkan matanya mendengar penjelasan Hana.


”Kau pikir rumah itu murni hasil kerja kerasnya selama ini? Kau salah besar Mbak Ayu, coba kau tanyakan sama suamimu minta penjelasan padanya jangan asal main tuduh saja.”


"Kau ... ”


”Hentikan Ayu!” teriak Eric yang masuk ke ruangan Hana beruntung dia belum terlambat karena Ayu sudah mengayunkan tangannya hendak menampar Hana.


”Bikin malu, ayo pulang!” ajak Eric menarik lengan Ayu.


"Lepaskan! Enak saja dia ngaku-ngaku jika masih memiliki hak atas rumah itu,” ucap Ayu.


”Iya apa yang dia katakan itu benar, puas kamu sekarang?”


Giliran Eric yang bicara membuat Ayu terkejut mengetahui kebenarannya.


”Kau bohong kau bilang rumah ini hasil kerja kerasmu selama ini,” bantah Ayu dia tetap tidak terima setelah Eric mengakuinya.


”Terserah kau saja ayo kita pulang!” ucap Eric membuat semua yang ada di sekitarnya bubar.

__ADS_1


Indah pun langsung masuk menemui Hana karena khawatir jika sahabatnya itu kenapa-napa, ”Kamu gak apa kan Na?”


”Gak,” balas Hana mengulas senyum.


”Gila memang tuh perempuan, main tuduh aja gak lihat faktanya jika suaminya sendiri yang sudah salah.”


”Udah biarkan saja yang penting sekarang dia sudah tahu siapa Eric yang sebenarnya tukang gombal, obral janji manis sana-sini. Dulu waktu sama aku dia bilang mau merenovasi rumah tersebut, belum juga direnovasi sudah dijual kayaknya hidupnya susah banget.”


”Bersyukur Han, kamu bisa lepas dari dia dan mendapatkan pengganti yang lebih bai dari Eric.”


”Kok kamu ngomongnya gitu?”


”Itu jarimu?” tunjuk Indah.


Hana menoleh dan memperhatikan jarinya, ”Kenapa?”


”Aduh kamu polos banget, itu kan cincin yang sama persis dengan yang dipakai oleh Pak Malik, jangan-jangan kalian udah ... ?”


***


”Loh Bang kok di sini?” tanya Faris melihat Malik duduk di mejanya mengecek berkas.


”Memangnya kamu suruh aku ke mana?” tanya Malik.


”Ya itu di ruangannya Mbak Hana sedang ribut istrinya Eric melabrak Hana habis-habisan.”


”Apa kau yakin?”


”Iya itu pegawai di bawah pada ngomongin ramai sekali aku kira Abang sedang di ruangan Mbak Hana karena yang aku dengar Ayu istrinya Eric hampir saja menampar Hana tapi beruntung Eric segera datang ke sana.”


”Astaghfirullah, aku benar-benar tidak tahu sama sekali.” Malik bangkit ingin segera ke ruangan istrinya.


Dengan langkah lebar dan menahan amarahnya dia langsung membuka pintu ruangan istrinya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Hana terkejut melihat kedatangannya itu terlebih orang-orang yang ada di depan ruangan Hana.


”Bang, ada ke sini?” tanya Hana yang terkejut.


”Apa mereka menyakitimu?” balas Malik.


”Mereka?” Hana tidak mengerti maksud perkataan Malik.


”Eric dan istrinya bukankah tadi dia datang ke sini?” ucap Malik.


”Sudahlah lupakan saja, anggap saja tidak terjadi apapun semoga dia cepat sadar dengan apa yang dia alami.”


”Tidak bisa, aku akan memecat mereka berdua!” ucap Malik tanpa bantahan.

__ADS_1


Yuk mampir Kak, baru 2 bab 🙏



__ADS_2