Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
69. Candaan Malik


__ADS_3

”Kau bawa kemana kakakmu itu hah?” tanya Malik pada Sabrina.


”Hanya di mall beli sedikit camilan dan juga beberapa baju baby udah itu saja kok Bang,” jawab Sabrina.


”Kakak iparmu itu sedang hamil butuh istirahat yang cukup dan Abang tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengannya, Sabrina apa kau tidak mengerti apa yang Abang takutkan hah?”


”Bang, kami hanya jalan-jalan sebentar tidak lama tapi kau menuduhku macam-macam bikin aku malu saja, lagipula aku sama sekali tidak melakukan hal buruk terhadapnya.”


”Sudah jangan bertengkar kenapa kalian begitu yang penting kan aku sudah kembali dalam keadaan baik-baik saja, Emil apa sudah dijemput Bang?” tanya Hana.


”Sudah dijemput mang Tejo dia puluh menit yang lalu,” jawab Malik.


”Kak Hana aja gak marah kenapa Bang Malik malah uring-uringan begitu?” timpal Sabrina.


”Sudah jangan dilanjutkan lagi,” sela Hana dia tak mau memperpanjang masalahnya.


”Mama,” teriak Emil berlari kecil menghampiri ketiganya di meja makan.


”Kamu baik-baik saja kan Sayang, maaf mama gak bisa jemput kamu tadi,” sesal Hana.


”Its oke gak masalah Ma, sekarang aku sudah sampai di rumah memangnya .


Mama mau kasih surprise buat Emil?”


Hana menggelengkan kepala.


”Kalau begitu biar Emil saja yang kasih kejutan buat mama.”


Emil merogoh tasnya dan mengambil kertas serta bunga yang dibuatnya di sekolahan.


”Selamat ulang tahun mamaku yang cantik, panjang umur dan selalu mencintai kami semuanya.”


Hana terharu mendengar kalimat tersebut.


”Kamu tahu darimana mama ulang tahun padahal mama gak kasih tahu siapapun?”


”Dari papa,” jawab Emil.


Hana melirik singkat lalu berkata, ”Lain kali kejutannya uang aja yang banyak ya.”


”Ck! Ternyata istriku matre juga,” ucap Malik seraya menarik kursinya dan pergi menuju ke dapur menyiapkan makan siang untuk istrinya, perasaannya luluh seketika mendengar jika Hana berulang tahun.


Malik berinisiatif membuatkan makanan spesial untuk wanita yang telah menemaninya belakangan ini.


”Semoga dia suka,” gumam Malik.


Di ruang makan


”Ma, tadi Emil berantem sama teman,” ungkap Emil.

__ADS_1


”Kenapa bisa begitu?” tanya Hana.


”Ada teman yang mengejek Azizah dan buat dia nangis akhirnya Emil marah hampir saja Emil dipukul olehnya tapi Miss Nina datang dan menjauhkan Emil darinya.”


”Astaghfirullah nanti mama tanyakan sama Miss Nina ya, Emil jangan khawatir. Tapi Emil gak apa kan?” tanya Hana khawatir.


”Gak kok Ma,” jawab Emil.


”Kenapa temanmu itu mengejek Azizah?” tanya Sabrina.


”Iya karena Azizah itu anak orang miskin gitu, sukanya merebut makanan temannya karena di rumahnya dia gak pernah makan makanan enak,” terang Emil.


”Ya Allah kenapa tega sekali temannya itu, nanti biar mama kasih tahu Miss Nina ya biar ditegur walinya kasihan juga kalau begitu bikin anaknya jadi kurang percaya diri, dia udah hidup tidak bahagia malah semakin disudutkan dengan kalimat-kalimat menohok seperti itu, sekaya apa sih bapaknya anak itu?” gerutu Hana membuat Malik dan Sabrina terkekeh mendengarnya.


”Sayang, kau ini sedang hamil kontrol emosinya, kenapa kau jadi begitu bersemangat dengan cerita Emil hem,” ujar Malik.


”Ya kan kasihan aja masa anak kecil digituin kalau anakku diperlakukan begitu pasti aku juga akan marah Bang,” tukas Hana.


”Apa yang dikatakan mbak Hana benar Bang, aku aja kalau anakku diperlakukan begitu pasti marah naluri seorang ibu itu kalau Bang Malik merasa aneh ya wajar aja sih kan Bang Malik seorang papa bukan mama!”


” Udahlah aku mau pulang saja,” ucap Sabrina menyambar tasnya beranjak pergi.


”Gsk makan dulu ini, padahal sudah Abang masakan makanan enak kesukaanmu loh?” ucap Malik membuat Sabrina menoleh dan hendak duduk kembali.


”Tapi berhubung kau pulang ya udah Abang batalin saja masak cumi pedasnya masuk lemari lagi!”


”Astaga Bang Malik keterlaluan kau ini Bang!” teriak Sabrina kesal buru-buru dia pergi meninggalkan rumah Malik.


”Baiklah maaf kalau begitu,” sesal Malik.


”Maafnya sama Sabrina bukan sama Hana,” ucap Hana berlalu meninggalkan Malik yang masih sibuk di dapur. Ya belakangan ini memang dia yang selalu menyiapkan apapun untuk Hana.


***


”Duh anak mama tampan sekali, pasti kakakmu pangling lihat kamu begini Vin,” ucap Rita.


Pak Soleh yang mendengarnya hanya tersenyum samar dia juga tahu jika putranya memang tampan seperti dirinya jika tidak mana mungkin Rita mau menikah dengannya.


”Mama kamu berlebihan Vin, iya kan?” ucap Soleh.


Alvin pun tersenyum, ”Benar Pa, padahal memang dari dulu Alvin juga udah tampan.”


Uhuukkk ...


Pak Soleh tersedak kopinya sendiri ternyata Alvin lebih cerdas darinya.


”Sudah Alvin berangkat dulu ke kantor, nanti telat Bang Malik komplain lagi, gak ada toleransi kemarin dia bilang meskipun aku adik iparnya sekalipun kalau salah ya tetap dihukum.”


”Hati-hati Nak,” ucap Rita.

__ADS_1


Alvin pun mengangguk, ”Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam tuh Pa, anak kita sudah dewasa sebentar lagi pasti kita akan mantu!” ucap Rita.


”Jangan, papa tidak mengijinkannya nikah muda.”


”Loh kenapa?”


”Dia laki-laki Ma, biarkan dia mencari pengalaman hidup lebih dulu kerja dengan baik biar punya tabungan kelak karena nikah itu gak cuma modal cinta!”


”Aduh papa ini berlebihan deh,” sanggah Rita.


”Lah memangnya wanita sekarang kenyang makan cinta saja? Mana mau semua kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan uang, meskipun uang bukanlah segalanya tapi segalanya membutuhkan uang.”


Rita memanyunkan bibirnya mendengar penuturan suaminya.


”Ke toilet si terminal aja bayar dua ribu, apalagi ke rumah mertua gak bawa apapun nanti pasti pada ghibah!”


”Pasti pengalaman pribadi nih, ayo ngaku!” desak Rita pada Soleh yang baru menyadari jika itu adalah pengalaman suaminya dengan mantan istrinya terdahulu Sofia.


***


Alvin melakukan mobilnya menuju perkantoran elit tempat dia akan bekerja, dimana lagi kalau bukan perusahaan milik kakak iparnya Malik.


”Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya bagian admin.


”Ada, saya mau ke ruangannya Pak Malik di sebelah mana ya?” jawab Alvin.


”Oh, sudahkah buat janji sebelumnya?”


”Tentu saja.”


”Baik ditunggu ya Pak, saya konfirmasikan dulu ke Pak Faris, asistennya.”


Beberapa menit kemudian Alvin menuju ke lantai atas menemui kakak iparnya itu dan langsung diajak meeting dengan karyawan yang lain.


”Ini adalah pegawai yang baru yang akan menggantikan posisi Bu Hana, namanya Alviano lebih lengkapnya kalian bisa kenalan sendiri nanti.”


Malik pun kembali berbicara panjang lebar mengenai peluncuran produk baru yang akan dia rilis pekan depan dan akan dibantu oleh Alvin yang didapuk sekaligus untuk menjadi modelnya bersama dengan bintang dari negara seberang.


”Maksudnya Bang? Eh Pak Malik,” ralat Alvin dia terlalu gugup dengan keputusan yang mendadak ini.


”Kamu akan saya bikin bintang di perusahaan ini, pasanganmu nanti dari negara tetangga dia sudah bersedia menjadi model iklan jadi bersiaplah beberapa hari lagi kita akan mulai syuting,” terang Malik.


”Pak ada tamu.”


”Suruh masuk!”


Seorang wanita masuk ke ruangan Malik, Alvin pun menoleh dan terkejut melihat siapa yang ada sedang berjalan menghampiri meja Malik.

__ADS_1


”Apakah ini mimpi?” gumam Alvin.


__ADS_2