
"Ma, Emil lapar,” rengek Emil membuat Hana harus ekstra sabar karena putra sulungnya sejak tadi merengek meminta makan sedangkan dia sedang meng-ASI si bungsu yang sejak tadi tak mau lepas.
”Sebentar ya Sayang, adikmu belum selesai tunggu ya,” bujuk Hana.
”Emil lapar Maa ... please give me eat!” serunya membuat Hana menahan tawanya jika sudah memakai bahasa orang bule itu sebuah pertanda jika Emil benar-benar dalam keadaan sangat lapar.
”Tahan ya, dikit lagi kok adikmu belum kenyang jadi tunggu bentar lagi atau kakak mau diambilkan sama papa?” tawar Hana.
”Tidak mau, Emil maunya sama mama aja!” tolak Emil merengek manja pada Hana.
”Pokoknya Emil hanya mau sama mama gak mau papa!” sambungnya.
"Baik kalau begitu ayo mama antar ke dapur nanti dibantu Bik Surti ya, boleh kan?”
Hana beranjak menggendong putranya membawanya ke dapur.
"MasyaAllah Non Hana, biar Bik Surti bantu gendong si kecil,” ucap Bik Surti mengambil alih si kecil dari tangan Hana.
”Capek banget ya Bik,” keluh Hana.
”Sabar Non, biar nanti Bik Surti bantu kalau memang gak kuat ya istirahat saja.”
”Bang Malik kemana Bik?"
”Tadi terima telepon lalu keluar dan belum kembali lagi.”
Hana mengedarkan pandangannya dan menemukan suaminya tengah berbicara lewat ponselnya.
”Bik tolong pegangin dia sebentar ya, aku mau suapin Emil dulu,” ucap Hana.
”Iya Non, silakan saja biar dia gak rewel,” balas Bik Surti dia merasa tidak tega melihat Hana kerepotan sendiri dan Emil pun menjadi cemburu karena dia merasa adiknya lebih diperhatikan daripada dirinya.
”Ayo berdoa Sayang, mama akan menyuapi kamu selagi adik digendong sama Bik Surti.”
Emil menurut dan mulai mengunyah makanannya itu hingga habis tak tersisa karena memang sudah sejak pagi dia tidak makan apapun.
”Sayang kalian di sini, dimana si kecil?” tanya Malik yang baru saja selesai menerima telepon.
”Aku titipkan sama Bik Surti sebentar ini juga mau selesai.”
Malik segera mencari Bik Surti dan mengambil alihnya Malik tidak tega jika harus memberikan putranya putranya mengingat Bik Surti sudah lanjut usia.
”Biar Malik gendong Bik,” ucap Malik.
”Silakan Den, kasihan saya sama Non Hana dia pasti sangat lelah karena seharian mengurus dua orang anak lagi Den Emil kenapa jadi cemburuan sekali ya,” curhat Bik Surti.
”Tenang saja Bik, dia masih adaptasi jika cemburu wajar saja namanya juga anak kecil InsyaAllah nanti dia akan terbiasa,” tukas Malik memberitahukan pada Bik Surti.
”Non Hana kayaknya juga belum makan siang.”
__ADS_1
”Baik biar nanti Malik suruh dia makan sekalian. Bik Surti istirahat saja dulu!”
Malik segera pergi meninggalkan Bik Surti menuju meja makan.
”Sayang, makanlah lebih dulu biar si kecil Abang yang gendong,” seru Malik.
”Maaf jika Abang belum bisa membantumu lebih banyak, kau pasti lelah sekali!”
”Tidak apa aku bisa menghandle mereka,” sahut Hana.
”Kau yakin? Atau kamu mau bantuan pengasuh buat mereka berdua, Abang bisa carikan jika kamu mau?”
”Tidak perlu Bang, lagipula jika pakai jasa pengasuh aku justru khawatir mereka jadi jauh dariku,” tolak Hana.
”Baiklah jika kau tidak mau, biar nanti Abang kurangi jam kerja di kantor kita rawat anak kita sama-sama.”
”Abang bisa tetap ke kantor, percayakan anak-anak padaku.”
”Terima kasih Sayang,” ucap Malik memeluk Hana.
***
”Vin, kemarin kamu gak pulang?" tanya Rita mengintrogasi putranya yang terlihat berbeda semenjak dia bekerja.
”Alvin tidur di rumah Aryo, kemarin kita ada sama teman-teman kampus mau ke Bogor berhubung mama juga tidak ada di rumah jadi Alvin sekalian menginap di sana sama teman-teman yang lain juga.”
”Gak akan Ma, Alvin selalu saja terbuka dengan mama sama papa. Kapan Alvin bohong?”
”Lalu wanita yang bersama kamu waktu itu?” selidik Rita.
”Dia punya nama Ma, namanya Angela dia itu gadis yang Alvin temui di Singapura bulan lalu.”
”Terus terang mama kurang suka dengan dia Vin,” ucap Rita to the point.
”Mama kok gitu jangan lihat orang dari covernya Ma, dia itu gadis yang baik kok,” ungkap Alvin membela Angela.
”Baik versi kamu, kalau versi mama baik itu modelan kakakmu.”
”Ma, tidak semua orang harus seperti kak Hana baru dibilang baik. Setiap orang pasti punya plus minusnya Alvin juga punya minus mungkin mama menilai Alvin sempurna tapi tidak dengan orang lain."
”Terserah kamu saja, tapi sungguh mama hanya pingin yang terbaik buatmu kamu itu anak laki-laki mama satu-satunya ingat Vin.”
”Ya ampun Ma, jangan gitu dong bikin Alvin bimbang saja,” keluh Alvin.
”Ya memang benar jika kamu masih tetap ingin doa restu dari mama maka kamu harus patuh sama mama,” ucap Rita.
Alvin mengusap wajahnya kasar tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh mamanya itu.
”Ingat Vin surgamu ada di telapak kaki mamamu,” seru Soleh.
__ADS_1
”Iya Alvin masih ingat akan hal itu kok Pa, makasih udah ingetin Alvin tapi tolong jangan minta Alvin buat menjauh dari dia karena alvin sedang berusaha untuk mencintainya.”
”Terserah kamu saja Vin, mama gak mau ikut campur urusan pribadimu tapi jika ada sesuatu tolong jangan cerita sama mama,” ucap Rita.
”Alvin ke kantor dulu Ma, ini sudah telat sekali.” Alvin berpamitan pada Rita dan Soleh.
”Apa abangmu pergi ke kantor setiap hari?” tanya Soleh sebelum Alvin keluar dari pintu.
Alvin pun berbalik, ”Mungkin hari ini dia datang Pa, dua hari yang lalu dia gak datang karena sibuk mungkin karena kak Hana gak ada yang bantuin ngasuh si kecil dan Emil juga rewel karena tidak mau dinomor duakan sama Kak Hana.”
”Alvin pergi Pa, Ma.”
”Apa kita perlu ke rumahnya Pa?” tawar Rita.
”Bersiaplah papa antar ke sana sekarang, bantuin dia dulu semampu kita karena papa sendiri gak tega meskipun dia bilang ’gak apa-apa' tetap saja papa khawatir.”
”Baiklah mama siap-siap dulu.”
Rita dan Soleh pun pergi ke rumah Hana berharap bisa meringankan beban putrinya itu. Benar saja begitu sampai di depan rumah Malik, Emil sedang menangis merengek-rengek minta digendong pada Hana.
”Hana apa yang terjadi Nak?” Rita segera meraih si kecil yang berada di gendongan Hana.
”Dia sedang manja Ma, gak mau mandi sendiri.”
”Di rumah gak ada orang?" tanya Soleh mencoba mengambil alih Emil namun anak itu menolaknya.
”Bik Surti lagi ke pasar.”
”Emil maunya sama mama Hana, opa jangan deket-deket sama Emil dulu!”
”Astaghfirullah apa setiap hari Emil seperti ini?” tanya Soleh.
”Iya Pa, dia cemburu pada adiknya.”
”Ya ampun Sayang, adikmu masih kecil Nak.” Soleh mengusap kepala Emil.
”Butuh waktu Pa, dia masih belum bisa nerima kehadiran adiknya.”
”Yang sabar ya Sayang, mama yakin kau bisa melalui ini dengan baik.”
”Walah ada tamu rupanya, silakan masuk Pak, Bu Rita ayo masuk!”
”Non Hana sudah ditawari pengasuh sama Den Malik tapi menolak, saya juga kasihan sama dia soalnya Emil sendiri gak mau sama siapapun selain sama dia.”
”Mama boleh tinggal di sini? Biar nanti mama urus si kecil kamu urus Emil, daripada kamu nyari pengasuh bagaimana Nak?”
Hana tampak berpikir dia tidak mungkin melakukannya sendiri karena dia tahu bagaimana kemampuannya, di sisi lain dia tak mau merepotkan mamanya.
”Hana pikirkan dulu ya Ma.”
__ADS_1