
Hana menghela nafasnya mendengar penuturan Alvin, dia merasa iba dan tergerak untuk menolong adiknya itu. ”Besok deh aku coba ke rumahnya, tapi ingat ya kamu harus janji jika ini adalah yang terakhir kalinya karena aku gak mau terlibat masalah pelik nantinya.”
”Makasih Kak, kalau begitu aku pamit dulu ya.” Alvin segera bangkit merapikan bajunya.
”Om gak bobo sini aja sama Emil?” tawar Emil.
Alvin tersenyum lalu mengacak rambut Emil gemas, ”Lain kali saja ya, besok Om ada acara di rumah jadi gak bisa nginap di sini.”
”Yah padahal kan besok weekend masa mau kerja, papa aja besok libur!” protes Emil dia ingin sekali bermain dengan Alvin sudah lama dia tidak bersama dengan Om-nya itu.
”Lain kali deh ya, Om janji pasti akan nginap di sini, Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
”Yah sepi lagi deh!” Emil kembali ke kamarnya seakan tidak menerima keadaan jika hari sudah malam dan semua orang butuh istirahat.
”Anak itu benar-benar,” lirih Malik seraya menggoda Aydan yang sedang kelelahan dan ingin tidur sehingga membuat bocah itu sedikit rewel.
”Apaan sih Bang biarkan saja, jangan mengganggunya kasihan.” Hana menyingkirkan tangan Malik yang sedang berada di lengannya.
”Habisnya lucu sekali sih, Abang gemes pengen mencubit pipinya ini yang chubby kayak mamanya.”
”Udah biarkan dia istirahat saja, aku juga lelah sekali hari ini,” ucap Hana merebahkan tubuhnya di samping Aydan.
Malik merasa kasihan dengan Hana, ”Sini aku pijitin.” Malik memegang bahu Hana dan mulai memijitnya.
”Kamu kan bisa pergi ke spa pijat di sana, sesekali memanjakan diri,” ucap Malik.
”Gak ada waktu Bang, lagipula gak ada yang jagain Aydan.”
”Titipkan pada mama sebentar kan gak masalah. Besok biar Abang yang bilang sama mama, sorenya kita adain makan malam bagaimana?”
”Aku tanyakan mama dulu deh kalau mama free Hana baru berani.”
”Ya udah ayo tidur!”
Malik memeluk Hana dari belakang karena dia memiringkan tubuhnya ke arah putranya Aydan yang ingin menyusu.
Tepat jam tujuh Hana telah menyiapkan keperluan Aydan dia berencana menitipkannya ke rumah Rita setelah tadi pagi memberitahukan rencananya lebih dulu pada wanita itu.
”Apa Emil mau ikut?” tanya Hana.
”Tidak Ma, Emil di rumah saja lagian nanti Emil malah gangguin adik lagi.”
”Duh dah dewasa sekali dia, siapa yang ngajarin sih?” Malik mencubit gemas pipi Emil.
”Sakit Pa,” ucap Emil.
”Habisnya papa gemas sama anak-anak papa semuanya.”
__ADS_1
Hana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang manusia yang berbeda generasi itu sesekali dia tersenyum ke arah Aydan yang dia letakkan di sampingnya.
”Udah habiskan dulu sarapannya mama mau pergi nih!”
Keduanya diam begitu ditegur oleh Hana dan langsung menghabiskan sarapannya. Malik pun mengantarkan istrinya ke rumah mertuanya bersama dengan Aydan lalu kembali ke spa dan meninggalkan Hana di sana, dirinya melanjutkan perjalanan menuju kantor hari ini pengumuman resmi pegawai barunya dan dia harus ikut menyeleksinya.
”Pak Malik, silakan semua sudah beres berkas sudah saya letakkan di meja Pak Malik,” ucap Pak Hasan.
”Makasih Pak Hasan.” Malik kembali melangkah ke ruangannya dan sekilas melihat Untari ada di mejanya, apa wanita itu sudah sehat?
”Pagi Pak Malik,” sapa Untari.
Ya, Malik memang sengaja datang menghampirinya. ”Bagaimana keadaannya apa sudah sehat?”
”Alhamdulillah Pak Malik sudah,” jawab Untari.
”Padahal Alvin mau datang ke rumahmu tapi dia masih ragu.”
”Ragu ... kenapa ya Pak, apa ada sesuatu?”
Malik terkekeh kecil wanita yang ada di depannya ini memang polos pantas saja jika Alvin menyukainya.
”Iya dia ingin datang ke rumahmu untuk melamar kamu.”
”Apa me-melamar?” kedua mata Untari membulat mendengar penuturan atasannya tersebut.
Untari diam tidak tahu harus bicara apa, karena dirinya sendiri sedang bimbang.
”Ya sudah lanjutkan saja pekerjaannya, kalau sudah selesai kamu boleh pulang karena hari ini hari Sabtu jadi hanya kerja setengah hari saja kan.”
Malik melangkah kembali menuju ke ruangannya dan mengecek berkas yang ada lalu meminta Pak Hasan memanggil nama-nama yang terdaftar di kertas yang sudah dia tulis nama-nama pegawainya.
”Pak ini beneran Pak Malik mau mempekerjakan Bayu?” tanya Pak Hasan.
”Iya, dia sudah lolos beberapa kali tes kan jadi dia layak buat diterima semoga saja dia tidak seperti kakaknya Eric.”
”Baiklah Pak, saya akan memanggilnya dan mulai Senin bisa kan Pak bekerja di sini?”
”Benar, tolong kau awasi dia jangan sampai dia berbuat gaduh seperti kakaknya Eric!”
”Baik.” Pak Hasan segera pergi meninggalkan ruangan Malik sedangkan Malik sendiri kembali menata berkas dan bersiap menjemput istrinya kembali.
***
Hana selesai melakukan apa dan berniat untuk membayar semuanya namun langkahnya terhenti ketika suara seseorang memanggil namanya.
”Mbak Hana.”
Hana menoleh dan melihat Flo sedang bersama dengan seorang laki-laki berdiri di belakangnya. ”Flo?”
__ADS_1
”Iya Mbak, ini aku bagaimana kabarnya? Makin cantik saja,” puji Flo.
”Alhamdulillah, kamu sendiri?” Hana menunjuk pada pria yang ada di samping Flo.
”Dia suamiku Mbak, namanya Bastian dia pengusaha di Bali kami ke sini sedang jalan-jalan saja.”
Hana hanya mengangguk dan menangkupkan tangannya di dada, ”Kalian sudah menikah?”
”Iya kami menikah di Bali waktu itu,” jawab Bastian.
”Selamat, aku kira kau masih berada di Paris bersama dengan mamamu.”
”Tidak, kami sudah berpisah beberapa bulan yang lalu setelah itu kamu tidak pernah saling kontak lagi karena ponselku hilang dan semua kontak pun aku tidak mengingatnya saking banyaknya karena itulah aku tidak mengundang siapapun di pernikahanku kemarin.”
Tin ... tin ...
Suara klakson mobil terdengar membuat Hana mengalihkan pandangannya keluar dilihatnya mobil suaminya sudah terparkir di depan.
”Maaf aku harus pulang, mampirlah ke rumah jika ada waktu. Assalamualaikum.”
Hana melenggang pergi menemui Malik yang sudah berdiri bersandar pada mobilnya, demi apa pria itu masih tetap sama tampannya seperti di awal mereka bertemu.
”Kenapa lama sekali?” Malik membukakan pintu mobil untuk Hana.
”Maaf Bang di dalam tadi aku bertemu dengan Flo adik iparmu itu.”
Malik mengangkat alisnya kenapa tiba-tiba Flo ada di Jakarta bukankah mertuanya bilang dia ada di Paris. Malik menggaruk alisnya sejenak, ”Apa dia ada menanyakan sesuatu padamu?”
”Ya biasa hanya basa-basi singkat saja dan lagi dia mengaku sudah menikah di Bali dengan seorang pengusaha.”
”Benarkah, sulit dipercaya jika dia memang sudah menikah tapi syukurlah semoga pernikahannya berjalan sesuai dengan impiannya,” ujar Malik.
”Memangnya kenapa dengannya Bang?”
”Dia kan sudah pernah menikah sebelumnya, dengan orang Paris tapi hanya beberapa bulan saja mereka bercerai.”
”Kok Abang gak cerita?”
”Gsk penting Sayang, lagian buat apa sih kamu tahu soal dia.”
”Ya aku pikir dia kan masih gadis.”
”Kita jemput Aydan sekarang?” Hana mengangguk dan Malik pun langsung meluncur ke rumah Rita.
Terdengar suara teriakan Pak Soleh dari halaman begitu Malik dan Hana sampai di rumah itu.
”Apa yang terjadi Ma?” Hana terkejut melihat Rita sedang menangis.
”Adikmu ... ”
__ADS_1