
”Maaf mengganggu waktunya saya mau memberikan ini, berkas laporan keuangan bulan lalu,” ucap Hana begitu sampai di ruangan Malik.
Faris sengaja mengambil alih berkas tersebut dan memeriksanya.
”Mm, kalau begitu saya permisi.” Baru saja melangkah suara Maryam sudah menghentikan langkahnya.
”Hana, bisakah kau datang untuk makan malam bersama kami nanti malam?” tanya Maryam.
”Terima kasih atas undangannya Bu Maryam, tapi saya benar-benar minta maaf karena malam ini saya ada acara sendiri dengan adik saya di rumah,” jawab Hana.
”Oh iya sudah mungkin lain kali saya mau undang kamu makan malam di rumah, kamu mau kan?”
”InsyaAllah jika tidak ada halangan saya akan datang.”
”Syukurlah, kalau begitu.”
”Saya permisi dulu,” pamit Hana segera meninggalkan ruangan Malik.
”Dia gadis yang sopan, cantik dan baik. Lalu tunggu apalagi bukankah sebentar lagi Emil juga akan masuk sekolah jika dia memiliki mama baru dia pasti akan senang dan tentunya tidak akan diejek teman-temannya. Ayolah Malik cepat ambil keputusan.”
”Sabar dong Ma,” ucap Malik. ”Malik juga sedang berusaha,” lanjutnya.
Di sisi lain, Faris sedang berjuang menahan tawanya dia merasa geli dengan atasannya jika sudah Yang Mulia Ratu perintahkan sungguh Malik tidak bisa menolaknya.
”Baiklah mama akan menunggunya. Mama pamit ya,” ucapnya.
Malik dapat bernafas lega karena mamanya hanya sebentar di kantornya mungkin karena hari telah beranjak senja membuat wanita paruh baya itu memilih segera pulang sebelum terjebak kemacetan.
”Kau dengar kan Bang, seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, begitu juga dengan Tante Maryam yang ingin putra dan cucunya ada yang mengurusnya.”
”Diam kamu jangan ikutan ceramah? Kepalaku sedang sakit sekarang!” gerutu Malik.
”Nih laporannya Bang, tinggal cek ulang aja.”
”Letakkan di sana aku mau pulang sekarang,”' ucap Malik segera keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Hana.
”Eh Pak Malik, ada apa ya?” tanya Hana yang terkejut melihat pria itu sudah ada di ruangannya.
”Waktunya balik, ayo saya akan antar kamu pulang ke rumah!” Hana tersenyum mendengar perkataan Malik.
”Masih kurang sepuluh menit lagi, saya gak mau dibilang korupsi waktu,” keluh Hana.
”Siapa yang bilang?”
”Ya memang belum waktunya tunggu sepuluh menit lagi ya Pak,” ucap Hana.
Malik memainkan jarinya di meja kerja Hana, ”Bagaimana kalau kamu pindah bagian saja?”
”Eh?” Hana mendongakkan kepalanya.
”Jadi sekretaris saya bagaimana?” tawar Malik.
__ADS_1
”Lalu mau dikemanakan Pak Basuki dan Pak Faris? Bapak punya dua orang kepercayaan sekaligus loh masa mau nambah lagi lalu siapa yang akan mengisi kursi saya nanti?”
”Buka lowker baru atau pindahkan salah satu di antara mereka mudah kan?” tawar Malik.
Hana menggelengkan kepala, ”Jangan suka mengambil keputusan sepihak belum tentu mereka ikhlas dengan apa yang kita putuskan. Kita tidak tahu isi hati manusia, bisa saja mereka hanya berpura-pura iya padahal sebenarnya dia itu menolaknya.”
”Ayo!”
”Kemana?”
Malik menunjuk jam tangannya tepat jam lima sore waktunya untuk pulang.
”Memangnya ada acara apa sama Alvin?” tanya Malik begitu masuk ke mobilnya.
”Sebenarnya bukan acara penting hanya makan malam biasa saja, kebetulan belakangan ini Alvin sering pulang malam karena jadwal skripsinya jadi mumpung dia bisa pulang cepat kita pengin makan bareng berdua di belakang rumah.”
”Saya ikut boleh ya?” tanya Malik.
”Kalau Pak Malik mau ikut silakan, atau Pak Malik ajak Emil sekalian,” jawab Hana.
”Alhamdulillah, kalau begitu kita pulang ke rumah saya dulu jemput Emil bagaimana?”
”Baik.”
Keduanya segera pergi meninggalkan kantor dan menjemput Emil.
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson mobil Malik terdengar begitu nyaring. Emil terlihat begitu ceria dan telah siap untuk pergi karena sebelumnya Malik telah menghubungi Bik Surti untuk mendandani bos kecilnya itu dan membawanya pergi bersama dengan Hana.
”Waalaikumussalam, sudah dong!” jawab Emil.
”MasyaAllah, tampan sekali anak papa yang satu ini,” puji Malik.
”Iyalah anak papa kan cuma satu Emil!” balasnya.
”Memangnya Emil mau punya adik?” tanya Malik.
”Tentu saja Pa, Emil mau punya dua adik lagi cowok dan cewek biar rumah ini jadi ramai Emil ada teman,” ujarnya.
”Ayo kita berangkat!” ajak Hana.
***
”Loh Mas Jaka sudah ada di sini?” Alvin terkejut mendapati Jaka sudah ada di rumahnya.
”Iya, maaf ya saya datang tanpa kasih kabar lebih dulu,” ucapnya.
”Yuk masuk!” ajak Alvin.
”Kakakku belum pulang ditunggu aja biasanya jam tujuh sudah sampai di rumah,” ucap Alvin.
__ADS_1
”Kakakmu apa ada dekat dengan pria selama ini? Maksudnya setelah dia tidak jadi menikah bulan lalu,” tanya Jaka menyelidik.
”Oh soal itu aku gak berani jawab Mas, biar Kak Hana saja yang jawab ya,” balas Alvin.
”Baiklah jika begitu.”
Suara mobil berhenti di depan rumah menghentikan percakapan mereka berdua.
”Nah itu pasti Kak Hana yang datang,” ucap Alvin.
”Kok pria itu selalu menempel sama Hana ya Vin, apakah mereka punya hubungan khusus?” tanya Jaka.
”Lebih baik Mas Jaka tanyakan langsung pada kakakku daripada aku salah jawab,” ujar Alvin.
”Assalamualaikum,” seru Hana.
”Waalaikumussalam,” jawab Alvin dan Jaka.
”Eh ada tamu?” ucap Hana terkejut dengan kehadiran Jaka di rumahnya.
”Iya Na, sudah sejak tadi aku nungguin kamu pulang,” balas Jaka.
”Om Alvin,” panggil Emil.
”Eh iya, adik kecil yuk bantuin Om nyiapin barbeque di belakang rumah,” ajak Alvin.
”Mas Jaka di sini aja dulu kita barbeque di belakang rumah, benar kan Kak Hana?” ucap Alvin.
”Mm, baiklah semua sudah siap kok tinggal dipindahin saja karena tadi pagi aku sudah nyiapin semuanya, Alvin ayo siapkan tempatnya!”
”Pak Malik sama Mas Jaka langsung aja ke belakang ya,” lanjut Hana.
”Saya bantuin kamu aja Na,” ucap Malik.
Hana meletakkan tasnya di kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Semua sudah siap ketika Hana keluar, rupanya keempat pria itu yang bekerja menyiapkan semuanya.
”Sejak kapan Pak Malik kenal dengan Hana?” tanya Jaka begitu persiapan sudah selesai.
”Apa Mas Jaka sedang mengintrogasi saya? Mm, maksud saya Ustadz Jaka,” ralat Malik.
”Saya hanya ingin tahu bagaimana pergaulan calon istri saya,” ucap Jaka.
”Baru calon istri kan? Kalau begitu mari kita bersaing dengan sehat untuk mendapatkannya,” tantang Malik.
”Maksud Anda?”
”Saya juga sedang berjuang untuk mendapatkan hatinya karena itu mari kita bersaing dengan sehat, ingat dia belum memiliki hubungan atau ikatan apapun dengan Anda jadi saya masih bisa untuk mendapatkannya bukan?”
Jaka terdiam mendengar pengakuan Malik, ”Anda mungkin bisa mendapatkan cinta Hana tapi apakah Anda yakin bisa mendapatkan restu kedua orang tuanya?”
__ADS_1
Giliran Malik yang bungkam seribu bahasa.
”Benar kan apa yang saya katakan?” ucap Jaka kemudian.