
”Itu Bang, Eric datang ke rumah dan bicara sama Mama,” balas Hana setelah selesai mendengar penjelasan dari mamanya lewat telpon.
Malik mengernyitkan alisnya setelah mendengarkan perkataan Hana. ”Dia itu tak tahu malu atau gimana,” komentar Malik setelahnya.
”Ya bagaimana Bang kadang kebutuhan membuat rasa malu jadi hilang,” sahut Hana.
”Benarkah?” goda Malik.
Hana hanya mengangguk sambil menyamankan posisinya dia mulai merasakan kantuk yang luar biasa.
”Istirahat di kamar saja, biar posisinya lebih nyaman,” titah Malik.
”Gak perlu Bang, ini cuma sebentar saja kok lagipula aku khawatir jika Emil akan bangun dan mencariku,” ucap Hana.
Malik pun memilih bangkit menuju kamarnya dan mengambil bantal dan selimut lalu memasangkannya pada tubuh Hana setelahnya dia masuk ke ruang kerjanya dan memeriksa berkas mantan pegawainya yang bernama Eric Abidal.
”Hallo Bang, ada apa?”
”Apa ada lowongan pekerjaan buat ditempatkan di belakang macam office boy atau bagian gudang misalnya?”
”Aku tidak tahu, tapi akan aku coba tanyakan ada Pak Hasan nanti. Kenapa kau tanya lowker Bang?”
”Nanto saja aku jelaskan jika sudah ada di kantor ya.”
”Baiklah, aku akan tanyakan pada pihak HRD sekarang.”
Bip.
”Bik, nanti tolong masak makanan yang enak ya setidaknya banyak gizinya,” ucap Malik pada Bik Surti yang sedang sibuk membereskan peralatan dapurnya.
”Baik Pak Malik, itu Non Hana apa sakit kok sepertinya dia mengigau?” tanya Bik Surti.
”Tadi baik-baik saja kok Bik,” sanggah Malik segera ke ruang tengah memeriksa Hana dan benar saja Hana memang demam.
”Sayang kau demam, sebaiknya pindah ke kamar sekarang,” ucap Malik.
Hana mengerjapkan kedua matanya perlahan, ”Apa Emil sudah bangun?”
”Jangan memikirkan orang lain sedangkan kau sendiri sedang sakit begini,” jawab Malik segera menggendong tubuh istrinya ke kamar.
”Istirahatlah biar Abang yang akan handle Emil, sebentar Abang ambil obat dulu ya!” Malik bergegas mengambil obat.
”Pa, mama kok gak kelihatan?” Emil sudah berdiri di belakangnya mendongakkan wajahnya melihat Malik yang tengah membawa nampan yang berisikan air putih dan obat.
”Sekarang mama sedang sakit Sayang, sebaiknya Emil jangan ganggu mama dulu ya tunggu mama sembuh,” jawab Malik.
”Mama sakit?” ulang Emil.
__ADS_1
”Iya mungkin kecapekan jadi sakit.”
”Emil janji akan jadi anak yang baik, cepat sembuh ya,” ucap Emil.
Emil mengikuti langkah Malik ke kamarnya. "Sayang, minum obatnya dulu ya.”
Hana menurut mengambil obat tersebut dan langsung meminumnya.
”Cepat sembuh Ma, dua hari lagi Emil kan mau masuk sekolah,” ucap bocah berumur lima tahun itu.
”Mama gak apa-apa kok hanya lelah saja habis minum obat istirahat nanti juga sembuh,” jelas Hana karena dia tak ingin Emil khawatir dengan keadaannya.
"Really?”
”Of course,” balas Hana mengurai senyum memeluk anak tersebut.
***
”Ini datanya Bang,” Faris menyerahkan data bagian perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja.
”Jadi hanya bagian gudang dan cleaning servis yang sedang membutuhkan orang?” ucap Malik.
”Sebenarnya buat siapa sih Bang?” tanya Faris.
”Eric, kemarin pagi dia datang ke rumahnya Hana dan memohon pada mertuaku agar dia bisa kembali bekerja di sini. Awalnya aku enggan menerimanya tapi setelah aku pikir-pikir lagi tidak ada salahnya juga kan itung-itung menolong orang,” ucap Malik.
”Tapi aku tidak yakin Bang,” seru Faris.
”Aku rasa kau memiliki niat lain selain itu.”
”Kau benar, aku memang sengaja membiarkannya bekerja di sini karena dengan begitu aku bisa memantau apa saja yang dia kerjakan selama ini,” ucap Malik.
”Nah benar kan tebakanku itu, lalu apa Abang yakin mau menaruhnya di bagian gudang?” tanya Faris memastikan perkataan Malik.
”Tempatkan dia di sana, apakah dia akan mampir bertahan dulu dia masuk ke sini karena rekomendasi dari Hana, sekarang tidak akan ada yang memback-up dirinya lagi sekarang jadi dia harus benar-benar berjuang keras.”
”Kau ini terlalu cerdas!”
Tok ... tok ... tok ...
Mereka berdua pun saling pandang.
”Siapa?” tanya Malik.
Faris hanya mengedikkan bahunya tanpa menjawab segera melangkah membuka pintu. Faris berbalik dan memutar bola matanya setelah melihat siapa yang datang.
”Flo, ada keperluan apa kau ke sini? Bukankah kerjasama kita sudah dibatalkan?” tanya Malik.
__ADS_1
”Aku ingin bertanya padamu,” balas Flo.
”Bertanya soal apa?”
”Soal mama Lani, apa benar dia sudah pulang ke Paris?”
”Aku tidak tahu menahu soal dia dan tolong jangan tanyakan hal itu padaku mengerti.”
”Kau egois Bang, kenapa sampai kau tidak tahu sama sekali bukankah dia itu mantan mertuamu dan dia datang ke sini untuk bertemu dengan putramu,” cecar Flo.
”Aku tekankan padamu, meskipun dia datang ke sini untuk bertemu dengan Emil, aku sama sekali tidak menghubunginya dialah yang menghubungiku,” balas Malik.
”Lalu kemana Abang saat dia menghubungimu?”
”Aku kasih tahu kamu ya Flo, aku punya urusan yang lebih penting dari sekedar ngobrol ke sana kemari tidak jelas dari dua hari yang lalu aku mengurus keluargaku karena istri dan anakku Emil sedang sakit.”
Malik memijat pelipisnya dia sedang merasakan lelah tapi kedatangan Flo membuatnya semakin menambah rasa lelahnya.
”Maafkan aku Bang, karena aku pikir kau tahu kemana mama Lani pergi,” ucap Flo.
”Cari saja di rumah suaminya di Paris, karena dia datang kesini pun tanpa seijin dari suaminya padahal suaminya sedang sakit istri macam apa itu? Dan kau tak perlu repot-repot mencari tahu dimana dia sekarang, jika dia sudah kehabisan uang aku yakin dia akan kembali.”
Flo terdiam mendengar penjelasan dari Malik. ”Kalau begitu maafkan aku,” sesal Flo.
”Sekarang pergilah karena aku sedang sibuk dan banyak pekerjaan.”
Tanpa menyahut lagi Flo segera keluar dari ruangan Malik, niat hati ingin mencari muka tapi justru berujung malu.
”Ck! Kau jangan terlalu keras padanya Bang, bagaimanapun dia pernah menjadi mantan. Mantan adik ipar, hiks...” Faris terkekeh kemudian.
"Dia itu mau keras atau lembut sama aja.”
Malik segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dia lupa jika ada janji dengan Dokter Wira mengenai hasil lab yang akan diberitahukan olehnya siang ini. Malik memacu kecepatan mobilnya dengan cepat dia ingin segera sampai di rumah.
Sedangkan di rumah Malik, Dokter Wira tengah menunggu Hana dan Emil bersamaan.
”Emil kamu duduk dulu di sini ya Mama mau menelpon papamu sebentar,” ucap Hana segera mengambil ponselnya dan segera menjauh dari keduanya.
”Om Dokter,” panggil Emil.
”Ada apa Sayang?” sahut Dokter Wira menatap intens pada Emil dia tida tega karena usianya yang masih sangat muda namun penyakit leukimia tengah menggerogoti tubuhnya.
”Bisakah Om Dokter menyembunyikan penyakitku dari papa sama mama?”
Dokter Wira terkejut mendengar perkataan Emil, ”Kenapa Nak? Kedua orang tuamu harus tahu karen ini sangat berbahaya.”
”Aku punya alasan sendiri Dok, tolong ya,” ucap Emil mengiba.
__ADS_1
”Ya Allah, kenapa bisa jadi begini. Sekarang katakan alasannya Nak!”
"Karena ... ”