Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
65. Surprise


__ADS_3

”Dia Azizah Pa, teman Emil. Mama juga tahu kok karena Emil. sudah pernah cerita sama mama,” ucap Emil membuat Malik mengangkat alisnya.


”Benarkah?” goda Malik. ”Sebaiknya kamu masuk dengannya saja papa akan mengawasi kamu dari sini.”


Malik mendorong tubuh Emil perlahan mendekat pada Azizah membuat Emil gugup, bukannya membantu Malik justru mengibaskan tangannya menyuruh Emil pergi.


”Ck! Papa emang menyebalkan tidak bisa seperti mama!” kesal Emil.


”Itu papamu? Bukankah kemarin kamu diantar oleh mamamu?” tanya Azizah.


”Iya, mamaku sedang sakit jadi tidak bisa mengantarkan diriku pagi ini.”


”Oh begitu semoga cepat sembuh ya,” ucap Azizah.


”Makasih.”


”Hari ini kamu jangan ambil susuku lagi ya, aku juga mau meminumnya,” seru Emil.


”Maaf jika kamu tidak suka tapi hanya di sini aku bisa meminum susu seperti itu di rumah nenekku melarangku makanya mamaku tidak pernah membelikannya untukku.”


”Hah, kenapa bisa begitu?”


”Kata nenek jangan kebanyakan jajan makanya mamaku sangat irit sekali setiap harinya karena dia tidak bekerja dan hanya di rumah antar jemput diriku.”


”Maafkan aku.”


”Sayang, kalian asyik mengobrol ya? Ayo masuk kita mulai belajarnya!”


Dengan semangat keduanya masuk kelas membuat Miss Nina senang karena keduanya tampak akur berbeda dengan kemarin.


***


”Bang bagaimana keadaan mbak Hana?” tanya Sabrina.


”Alhamdulillah baik, kamu ngapain sepagi ini di kantor Abang, memangnya kamu gak buka butikmu?” jawab Malik.


”Ya ampun Bang, aku tuh khawatir begitu mendengar kabar tentang mbak Hana, mama memintaku ke sini menanyakan ini kebenarannya Bang.”


”Makasih sebelumnya tapi memang Hana baik-baik saja, ke rumah saja gih sana!” titah Malik.


”Nanti malam lah sekalian ikut makan malam bersama.”


”Terserah kamu saja, dia butuh teman karena memang dia sendiri yang membatasi diri keluar rumah.”


”Ya itu bagus Bang, karena istri yang baik itu harus selalu di rumah mengurus keluarga suami dan anaknya,” ucap Sabrina.


”Lalu kenapa kau masih saja bekerja bukankah gaji Faris sudah lebih dari cukup buat satu bulan bahkan masih sisa.”


”Ya karena aku masih ingin berkarya itu aja Bang,” kilah Sabrina.


”Berkarya tidak harus bekerja di luar, dikerjakan di rumah juga bisa,” saran Malik.


”Iya juga sih, nantilah aku pikirkan lagi jika keadaan sudah stabil karena aku sedang menarik pelanggan dari luar negeri jika aku tidak buka butiknya aku khawatir mereka tidak akan percaya padaku.”


”Percaya saja, rezeqi sudah diatur oleh Allah jadi jangan terlalu khawatir dengan apa yang akan terjadi esok.”


”Kok malah jadi ceramah Bang,” cibir Sabrina.


”Abang gak sedang berceramah tapi mengingatkanmu ingat semua hanya titipan,” sambung Malik.

__ADS_1


”Ck! Semakin pintar bicara pasti mbak Hana yang ajarin nih,” selidik Sabrina.


”Jika positif kita ikuti jika jelek kita ingatkan biar gak terulang lagi, dia memang bawa dampak positif buat Abang.” Malik tersenyum simpul mengingat hari-harinya bersama dengan Hana.


”Oh iya ini buat kalian berdua.” Malik menyerahkan amplop cokelat pada Sabrina.


”Apa ini Bang?”


”Buka aja!”


Sabrina membukanya kedua matanya membulat, ”MasyaAllah Eropa, ini beneran Bang buat kita berdua?”


Malik mengangguk. ”Eh bukanya mama waktu itu juga kasih tiket honeymoon sama Bang Malik terus gak jadi pergi itu bagaimana?”


”Ya gak gimana-gimana tiketnya udah tak kasih balik sama mama dan ditukar dengan uang karena gak mungkin kita berangkat sedangkan Emil waktu itu kan sakit.”


”Makasih ya Bang, aku mau ke ruangan Faris dulu kasih tahu dia jika dapat hadiah dari abang iparnya yang baik hati ini.”


”Faris gak ada di ruangannya tapi tunggu aja mungkin bentar lagi dia balik.”


”Memangnya dia kemana?”


”Keluar ketemu klien.”


”Oh, baiklah aku pergi bye!”


Malik hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adiknya itu sejak dulu Sabrina memang tidak berubah manja seperti anak kecil.


Tok ... tok ... tok ...


”Maaf Bang ini laporannya dan klien setuju bekerjasama dengan kita,” ucap Faris.


”Tidak, memangnya dia ke sini?”


Malik mengangguk, ”Mau kasih surprise katanya.”


”Hm, dari itu Bang dan memang Sabrina selalu ada aja yang dilakukannya bikin dag dig dug tiap hari.”


”Yang penting kan kau senang. Sudah sana temui dia di ruanganmu,” titah Malik mengusir adik iparnya itu.


”Baik bos!”


”Kalian berdua memang sama saja,” gumam Malik.


”Apa Bang, aku masih bis mendengarnya loh,” sahut Faris.


”Gak ada, udah sana pergi!” usir Malik kali ini dia benar-benar meminta Faris keluar dari ruangannya.


***


Bagaimana jika melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain, sakit? Hal yang dilihat Alvin saat ini dia melihat Aisha dan Bima bersama di depannya. Hari ini adalah acara wisuda buat Alvin, bukan senang yang dia rasakan tapi sesak.


”Vin,” panggil Hana.


”Eh gimana Kak?” tanya Alvin.


”Udah jangan dilihatin saja kalau berani samperin sana!” saran Hana.


”Gak akan kak, takut ganggu lagian kan memang mereka berdua itu sama-sama saling mencintai masa aku jadi orang ketiga gak banget lah.”

__ADS_1


”Sip, jadi pria itu harus punya prinsip Abang setuju dengan prinsipmu Vin,” ucap Malik.


”Ya daripada sakit hati berlarut-larut.”


”Wanita dengan laki-laki itu berbeda Sayang, ingat itu!” ucap Malik mengingatkan.


”Ya terserah kalian saja deh. Ayo kita foto bersama mama kemana kok gak kelihatan?" tanya Hana.


”Ma, Pa, dicari kak Hana tuh!” seru Alvin.


”Ayo Ma, Pa, kita foto bersama,” ajak Hana.


Mereka pun asyik berfoto bersama.


”Emil Sayang, sini kita foto bersama.”


”Ayo kita pulang dan rayakan di rumah!” ajak Hana.


”Eh tunggu sebentar ada sesuatu buat Alvin,” ucap Malik.


”Apaan Bang?” sahut Hana.


Malik pun mengajak yang lain keluar gedung lalu memberikan kunci mobil pada Alvin.


”Buat kamu selamat bergabung di perusahaannya Abang,” ucap Malik.


”MasyaAllah beneran ini Bang?” ucap Alvin tak percaya dengan apa yang diterima olehnya mobil keluaran terbaru di depan matanya.


”Apa ini gak berlebihan Bang?”


”Tidak ada yang berlebihan bukankah kau juga mendapatkan beberapa tawaran dari perusahaan besar dan kau menolaknya, mereka adalah partner dari perusahaan kami dan abang harap kamu bisa bekerja sama dengan kami itu saja.”


”Hem jadi ini sogokan biar aku memilih perusahaannya Bang Malik begitukah?”


”Bisa jadi begitu!”


”Baiklah akan ku pikirkan, makasih banyak ya Bang.”


”Kita balik dulu ya, kasihan kakakmu udah kecapekan di sini. Jangan lama-lama kami tunggu di rumah.”


Malik dan keluarganya pun memilih balik lebih dulu sedangkan Alvin masih menunggu beberapa teman-temannya yang akan melakukan foto bersama.


”Vin,” panggil Bima.


”Eh ada apa Bim? Apa teman-teman satu jurusan udah siap untuk berfoto?” tanya Alvin.


Bima menyerahkan amplop berwarna biru muda pada Alvin.


”Apaan nih?”


”Buka aja!”


”Bim, Vin semua udah siap ayo kita berfoto bersama sebagai kenang-kenangan!” ajak Nadia teman satu jurusan mereka.


Alvin yang sedang membuka undangan tersebut pun terdiam seketika melihat nama yang tertera di sana. ”Apakah ini surprise dari mereka berdua? Secepat inikah Aisha mengambil keputusan?” gumam Alvin.


”Vin, ayo cepetan!” Nadia menarik lengan Alvin.


”Eh?”

__ADS_1


__ADS_2