
”Ada apa Na, kok lesu gitu? Apa masih sakit?” Indah menatap Hana heran.
”Itu tamunya Pak Malik menyebalkan sekali tahu-tahu aku tuh di tanyain ’Ada hubungan apa kamu dengan Pak Malik?’ apa dia sedang cemburu gitu?” seru Hana.
”Memangnya tamunya wanita?”
”Iya bilangnya sih adik iparnya, rambutnya pirang.”
”Oh, dia beberapa hari yang lalu juga ada datang ke sini tapi Pak Malik sepertinya kurang begitu suka dengannya.”
”Eh? Kok bisa dengan saudara ipar gak suka?”
”Gak tahu juga mungkin ada sesuatu yang membuat mereka jadi menjaga jarak, lebih tepatnya Pak Malik yang menjaga jarak dengannya,” jelas Indah.
”Sudahlah lanjut kerja saja yuk, akhir bulan loh kalau gak kelar otw lembur kita nanti.”
Hana segera kembali ke ruangannya, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Hingga menjelang makan siang Hana tidak sempat keluar untuk sekedar mengganjal perutnya.
Tok ... tok ... tok ...
Hana mengangkat kepalanya, terlihat Malik berada di depan pintu ruangannya melambaikan tangannya dengan membawa sesuatu di tangannya.
Malik masuk mengurai senyumnya, ”Kenapa gak keluar untuk makan siang?”
”Sibuk Pak, lagipula nanggung juga iya bentar lagi selesai. Saya sedang gak mau lembur hari ini penginnya cepat selesai dan segera pulang.”
”Makan ini dulu,” ucap Malik meletakkan box di meja dan menarik kursi untuk dia duduki.
”Apa ini Pak?”
”Itu cake toko di depan kantor lagi grand opening gitu, kata Faris enak jadi beli beberapa sekalian buat Emil di rumah. Cobain!”
”Oh terima kasih.”
Hana pun membuka dan mencobanya.
”Em, enak lembut banget,” seru Hana.
”Silakan bapak ambil juga,” ucap Hana.
”Saya sudah mencobanya karena memang enak ya itu tadi saya berani beli dan kasih ke orang,” jelas Malik menarik selembar tisu dan memberikannya pada Hana.
”Sedikit kotor tuh,” ucap Malik menunjuk ke ujung bibir Hana.
__ADS_1
”Oh.”
”Kamu itu punya penyakit maag seharusnya memperhatikan pola makannya jangan sampai telat juga,” ucap Malik.
”Ya gimana lagi? Kadang juga karena gak mood makan jadi ya suka mengabaikan diri. Oh iya Pak tadi itu saudara ipar beneran?” tanya Hana.
”Iya memangnya kenapa?”
”Gak apa tadi sempat ketemu di pantry waktu saya ambil minum.”
”Dia gak ngapa-ngapain kamu kan?”
Hana menatap ke arah Malik sebentar, "Tidak.”
”Jika dia ada ngomong sesuatu kasih tahu saya mengerti!”
”Baik Pak,” ucap Hana seraya menghabiskan cake yang masih tersisa di tangannya.
Malik terus menatap Hana membuat gadis itu salah tingkah dibuatnya.
”Bapak sudah gak ada pekerjaan?” tanya Hana memberanikan diri bertanya karena sejujurnya dia sendiri tidak suka bekerja di awasi.
”Tentu saja ada, saya hanya ingin memastikan jika apa yang saya kasih itu dimakan. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Hana mengangguk setelah Malik keluar dia melanjutkan pekerjaannya lagi. ”Dasar aneh!” ucapnya.
”Enak banget ya itu mantanmu,” ucap Ayu.
”Kenapa memangnya?”
”Memangnya kamu gak tahu atau pura-pura gak tahu!” ucap Ayu ketus pada Eric.
”Ya aku memang beneran gak tahu makanya nanya sama kamu Ayu,” ucap Eric.
”Menurut rumor Pak Malik lagi deketin dia, tapi kalau aku sendiri menilainya pasti Hana deh yang keganjenan jadi Pak Malik ya ngejar!” seru Ayu.
”Mana mungkin Hana begitu, aku tahu sifatnya karena aku mengenalnya sejak SMA jadi aku tuh benar-benar tahu,” jelas Eric membuat Ayu kesal karena Hana mendapat pembelaan dari suaminya.
”Kamu sedang belain dia?” tanya Ayu.
”Tidak, tapi itu fakta.”
”Awas saja kalau kau dekat-dekat dengannya lagi aku gak akan segan-segan buat dia menangis,” ancam Ayu membuat Eric mendelik mendengar perkataannya.
__ADS_1
”Jangan pernah bermain-main dengannya dia memiliki banyak teman yang akan membelanya.”
”Aku tidak peduli, nyatanya kau masih cinta kan sama dia? Ayo jawab jujur!” desak Ayu.
”Kamu ini ngomongin apaan sih kalau aku masih cinta sama dia ngapain aku milih kamu?” balas Eric menyakinkan Ayu.
”Awas saja kalau bohong!” Ayu segera pergi meninggalkan Eric di kantin kantor.
Menjelang sore semua karyawan sedang harap-harap cemas menunggu gaji yang akan dibagikan. Sama halnya dengan Eric dan Ayu kali ini dia benar-benar tidak menyangka jika gajinya bakal dipotong hingga 85% membuat mereka shock dan langsung pergi ke ruangan Malik.
”Kenapa Pak Malik memotong gaji saya terlalu banyak? Bukankah kita sudah sepakat Fifty-Fifty ini sudah lebih dari itu!” seru Eric yang tidak terima dengan keputusan Malik.
”Awalnya saya memang setuju tapi setelah saya pikir-pikir lagi sepertinya akan memakan waktu yang lama jika saya hanya memotong setengahnya, jika saya memotong gaji kalian berdua bukankah utang kalian segera lunas,” sahut Malik yang merasa kesal karena waktu istirahatnya terganggu.
”Tapi Pak Malik tidak adil bukankah yang utang itu suami saya kenapa saya ikut kena imbasnya?” ucap Ayu tak kalah kesal dengan Eric.
”Bu Ayu, Pak Eric ini utang untuk siapa? Atau begini saja Bu Ayu bisa menjual kembali barang branded yang dibelikan Pak Eric buat Bu Ayu untuk bayar utang lebih dulu.”
”Astaga, kenapa saya jadi kebawa-bawa. Ini semua gara-gara kamu!” tunjuk Ayu pada Hana yang baru saja masuk ke ruangan Malik.
”Saya?” ucap Hana menunjuk dirinya sendiri.
”Saya bahkan tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami Anda, jika tidak ada yang melaporkannya jadi jangan asal menuduh orang sembarangan tanpa bukti atau Anda mau saya laporkan balik, tuduhan Anda tidak mendasar Bu Ayu.”
”Pak Eric suka atau tidak suka itu adalah keputusan atasan maka Anda pun harus menerimanya,” ucap Faris yang sejak tadi berada di ruangan tersebut akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
”Baiklah saya terima keputusan ini, saya permisi.” Eric melangkah keluar dari ruangan itu seraya menarik lengan Ayu istrinya.
”Mas, kenapa kau tidak melawan mereka?” tanya Ayu yang tidak dapat menahan kekecewaannya pada Eric.
”Untuk apa? Apakah kau mau mempermalukan diri sendiri?” ucap Eric.
”Mereka itu banyak uang dan bisa melakukan apapun yang mereka mau, jadi gak ada gunanya melawan sampai di sini kau faham!” Eric berlalu keluar dari kantor dengan perasaan kesal bagaimana dia harus menghidupi istri dan kedua orang tuanya jika gajinya saja dipotong habis oleh perusahaan.
”Ayu, aku mau minta tolong sama kamu.” Eric menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Ayu.
”Apa itu Mas?” tanya Ayu.
”Tolong kamu jual dulu barang-barang berharga yang pernah aku belikan padamu dulu. Aku akan menggantinya nanti jika aku sudah punya uang anggap saja aku utang sama kamu.”
”Tidak aku tidak mau!” tolak Ayu.
”Jadi hanya segini rasa cintamu padaku atau jangan-jangan kau tidak mencintaiku?”
__ADS_1
Ayu membelalakkan kedua matanya mendengar perkataan Eric.
”Tidak bukan begitu a-aku ... ”