
”Hana sebaiknya kamu pulang, biarkan urusan di sini kami yang handle kondisimu tidak memungkinkan jika harus tetap berada di sini,” ucap Maryam.
”Tapi Ma, bagaimana jika Emil mencariku nanti?”
”Abang yang akan bicara padanya nanti,” ucap Malik begitu masuk ke ruangan Emil.
”Mama Rita, Alvin dan Sabrina sedang terbang ke sini jadi kau tidak perlu khawatir kita bisa bergantian jaga nantinya,” sambungnya.
”Ingat di dalam rahimmu juga ada titipan-Nya kau juga harus menjaganya Hana,” ucap Maryam.
”Baiklah jika begitu, Hana akan pulang ke apartemen dulu tapi bolehkan jika Hana menjenguk Emil sesekali nantinya?” tanya Hana.
”Tentu saja Sayang,” sahut Malik.
”Jam berapa mereka akan datang?” tanya Maryam menatap ke arah Malik.
”Mungkin jam satu siang Ma, tapi aku sudah meminta Sabrina untuk langsung ke apartemen saja istirahat di sana.”
”Bagaimana bisa mama naik pesawat?” tanya Hana.
”Sayang, sesuatu itu harus dipaksa dan jika itu terjadi maka semuanya akan menjadi mudah. Mama itu ke sini karena paksaan putrinya membutuhkannya jadi meskipun takut dia tetap akan melawan rasa takutnya. Itulah yang namanya The power of emak-emak, benar kan Ma?”
Maryam terkekeh mendengar perkataan Malik. ”Sudah sebaiknya kalian bersiap pulang Mama yang akan urus Emil nanti,” ucap Maryam.
Hana dan Malik pun berpamitan pada Emil pulang lebih dulu ke apartemen dan anak itu mengira jika Hana sedang sakit karen Hana belum mengatakannya pada Emil.
”Istirahatlah sebentar lagi mama sama duo adik datang mereka sudah di airport dan sedang dalam perjalanan ke sini.”
Hana hanya mengangguk dia memang merasa sangat lelah padahal tidak melakukan aktifitas yang berat dan hanya duduk di sofa melihat acara televisi.
”Sayang, jika butuh sesuatu bilang ya,” ucap Malik dia tidak tega melihat istrinya seperti ini.
”Iya makasih.”
Malik merengkuh tubuh Hana sesekali dia mengecup ujung kepalanya. ”Makasih ya udah menemaniku sejauh ini. Kau yakin tidak ingin sesuatu?”
Hana menggelengkan kepala lalu memejamkan matanya rasa lelahnya, menggelayuti tubuhnya.
”Maaf ya Bang, jika Hana belum sepenuhnya bisa bantu Abang.”
Malik mengusap perut Hana yang masih rata. ”Baik-baik ya di sana jangan merepotkan mamamu,” ucap Malik.
”Memangnya dia ngerti?”
”Abang gak tahu setidaknya Abang udah pesan sama calon anak kita untuk tidak menyusahkan mamanya,” ucap Malik.
”Astaghfirullah, Abang ini ada-ada saja.”
__ADS_1
Terdengar suara kode pintu dibuka, ”Assalamualaikum,” seru Sabrina.
”Waalaikumussalam,” jawab Malik dan Hana.
”Kok lebih cepat?" tanya Malik.
”Iya, tadi minta sopirnya ngebut ke sini. Mbak Hana bagaimana keadaannya Mbak?” tanya Sabrina.
”Baik.” Hana memperhatikan mamanya yang pucat.
”Mama bagaimana Vin?” tanya Hana.
”Biarkan mama istirahat dulu Vin, kamarnya ada di sana,” ucap Malik mengarahkan Alvin karena dia sendiri sedang merasa sangat lelah.
”Nanti saja mama mau lihat Hana, bagaimana keadaannya?” tanya Rita.
”Hana baik-baik saja kok Ma,” balas Hana.
”Yakin? Jangan buat kami khawatir!” seru Rita.
Hana pun mengangguk dia memang tak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaannya terlebih mama kandungnya.
”Kamu ingin sesuatu?” tanya Rita.
Hana menggelengkan kepalanya. ”Mama istirahat aja nanti kita ngobrol lagi ya.”
Rita mengangguk dan segera masuk ke kamarnya namun beberapa menit kemudian dia kembali keluar.
”Lah, mama di rumah aja biar nanti kita bergantian kasihan Kak Hana kalau sendirian kan ada Bang Malik biar nanti gantian sama Bang Malik ke rumah sakit,” usul Alvin.
”Apa yang dikatakan Alvin benar Ma, sebaiknya mama istirahat dulu ya,” sahut Malik.
Mau tak mau Rita pun akhirnya menurut pada perkataan anak dan menantunya.
Mendadak Malik merasa mual dan pusing, bolak-balik dia ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya tapi hanya cairan bening yang keluar.
”Sepertinya suamimu ikut merasakan ngidam!”
"Apa?” Malik dan Hana menatap ke arah Rita begitu wanita itu selesai bicara.
”Kalian tidak percaya? Cek saja ke Dokter.”
Malik dan Hana saling pandang. ”Sebenarnya udah dari kemarin tapi Malik menahannya Ma,” ucap Malik.
”Segera periksa ke Dokter!”
***
__ADS_1
”Darimana saja kamu Mas?” tanya Ayu menodong Eric yang baru saja pulang sudah dua hari dia tidak pulang ke rumah.
”Aku dari rumah teman,” balas Eric enteng.
”Apa? Dari rumah teman?” ulang Ayu.
”Mana uang untuk belanja, aku butuh skincare, susu, aku juga mau beli peralatan bayi ingat bang dua bulan lagi anak kita akan lahir!” ucap Ayu.
Mendengar hal itu Eric justru marah pada Ayu, ”Kau ini perempuan bisanya hanya menuntut dan tidak tahu bagaimana suaminya banting tulang di luar?”
”Memangnya kmu di luar kerja? Jika iya mana hasilnya? Aku butuh uang Mas!” desak Ayu.
”Iya sabar nanti juga dikasih kalau sudah ada hasilnya aku baru kerja dia hari mana ada kerja langsung hasil. Ikut orang juga satu bulan baru dapat gaji.”
”Astaga Mas, kau sedang bercanda kan? Susu ku habis, skincare, bajuku juga udah pada gak muat karena perutku melar, usahanya di kencengin Mas!” teriak Ayu.
"Ya bagaimana lagi, aku juga sudah berusaha tinggal nunggu hasilnya aja kan?” ucap Eric santai.
”Memangnya apa yang kamu kerjain Mas?”
”Aku kerja kirim paket barang dan gajinya lumayan besar.”
”Hati-hati Mas, jangan sampai kau terlibat sindikat kirim paket barang terlarang sekarang sedang marak terjadi di sekitar kita!” seru Ayu mengingatkan suaminya Eric.
”Ya gak mungkinlah aku ini kerja kirimin paket barang dari rumah ke rumah mana mungkin aku mau kerja begituan, memangnya aku bosan hidup apa?” ucap Eric.
”Kalau memang bukan sebaiknya kamu cek lagi pekerjaan yang sedang kamu lakukan Mas, jangan sampai terlambat! Aku tidak mau dinafkahi dengan uang yang haram! kalau kamu masuk penjara bagaimana aku dan anakmu nanti?” ucap Ayu membuat Eric semakin kesal dibuatnya.
”Kamu ini bisa gak sih diam aja di rumah dan jangan banyak bicara, kalau kamu mau makan bantu ibuku jualan bakso keliling komplek sana dengan begitu aku akan menghargai kamu sebagai wanita jangan hanya asal berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun!”
”Aku ini tulang rusukmu Mas, kenapa kau memintaku untuk bekerja?” ucap Ayu pelan.
”Karena kau terlalu banyak menuntut dan tidak pernah mau tahu bagaimana aku berjuang di luar sana, pria mana yang tahan jika diperlakukan seperti itu. Ingat aku bukan pria kaya seperti yang kau kira. Aku pikir kau lebih baik dari Hana tapi nyatanya aku keliru kau sangat menyebalkan aku tidak tahan denganmu!”
Eric kembali keluar dari rumah ibunya niat hati ingin istirahat di rumah namun faktanya perkataan Ayu istrinya membuatnya marah dan semakin kesal. Dia tidak mengira jika pernikahannya dengan Ayu bakal diisi dengan pertengkaran demi pertengkaran yang membuatnya semakin ingin berpisah dari wanita itu.
”Mas, kau mau pergi lagi?” tanya Bayu adik Eric yang masih di bangku kuliah.
”Apa kau tidak kasihan dengan ibu? Setiap hari mendorong gerobak baksonya keliling komplek! Ingat Mas, ibu juga masih tanggung jawabmu karena beliau itu janda dan kau anak laki-lakinya yang paling besar.”
”Kau sendiri sudah bantu apa pada ibu?” balas Eric.
”Aku memang belum bisa membantunya tapi setidaknya aku tidak mau membebaninya. Aku pasti akan kerja sebentar lagi setelah selesai kuliah tentunya karena aku bukan benalu!”
”Jadi kau pikir aku dan istriku itu benalu begitu?” ucap Eric menjadi kesal.
”Mas Eric pikir saja sendiri!”
__ADS_1
Eric terdiam apa yang dikatakan Bayu adiknya benar, tapi memulainya dari nol itu sangatlah sulit.
”Apa yang harus aku lakukan?” lirih Eric.