
”Kenalin Kak, ini Angela teman Alvin yang waktu itu bertemu di Singapura,” jelas Alvin.
”Jadi dia yang waktu itu kau bela-belain lari-lari naik MRT ke Jurong east?” tanya Rita pada putra kesayangannya itu.
”Benar Ma, cantik kan?” tanya Alvin.
Rita hanya mengangguk sebenarnya sedikit kecewa dengan pilihan Alvin karena dia pikir wanita yang akan bersama dengan putranya itu adalah wanita berjilbab, penuh sopan santun dan bertutur kata lemah lembut.
”Dia juga bekerja di perusahaannya Bang Malik, kebetulan tadi pagi kami habis syuting iklan buat produk baru yang akan diluncurkan awal bulan depan.”
"Kau hebat Vin, jadi manager merangkap modelnya pasti Malik membayar kamu berlipat-lipat ya?” ucap Maryam yang masih di situ setia mendengarkan perbincangan yang sedang dilakukan oleh kedua keluarga besar.
”Tante bisa aja, lumayan sih tentunya bisa buat beli rumah baru kan lumayan bener gak Bang?”
Alvin melirik ke arah Malik yang hanya tersenyum simpul mendengar perkataan adik iparnya itu.
”Jangan didengarkan Ma, Alvin terlalu membesar-besarkan situasi,” ujar Malik.
”Fakta Bang!”
”Iya terserah kau sajalah,”
Rita memandangi Angela dari atas hingga bawah tak berkedip membuat gadis itu salah tingkah Alvin yang menyadari hal itupun segera menarik diri pamit dengan alasan mau mengantarkannya pulang ke rumahnya.
”Kak, kami pulang dulu ya, besok Alvin ke sini lagi jemput mama pulang hari ini kan mama sama papa akan menginap di sini.”
”Ingat Vin, antarkan anak orang hingga ke rumahnya jangan sampai mampir ke tempat yang gak jelas mengerti.”
”Siap Kak, kami permisi dulu.”
Alvin membawa Angela keluar dari rumah itu, hingga malam tiba semua orang pun memilih untuk beristirahat kecuali Maryam dan Sabrina yang memilih untuk pulang setelah Faris menjemputnya dari kantor.
Di dalam kamar Hana twmpak sibuk meng-ASI di kecil dengan sabar dia lakoni peran barunya menjadi seorang ibu muda.
”Sayang apakah kau mau menerima usulan nama dari Emil?” tanya Malik begitu semua orang istirahat di tempatnya masing-masing.
”Memangnya nama apa yang dia usulkan Bang?” tanya Hana.
”Aydan sama Hannan kalau gak salah sih itu tadi.”
”Bagus, darimana dia dapat ide nama tersebut?”
”Kurang tahu," jawab Malik asal.
”Setidaknya cek dulu artinya karena nama adalah doa,” seru Hana.
”Siap Bu Bos!”
”Apa dia belum juga kenyang?” tanya Malik menunjuk pada bayinya yang sejak isya hingga jam delapan lebih masih saja meng-ASI pada Hana.
”Kalau dia sudah kenyang tandanya berhenti Bang, biarkan saja yang penting dia bisa tidur lelap malam ini aku lumayan lelah,” ucap Hana.
__ADS_1
”Setidaknya gantian ya, habis baby bobo tinggal papanya yang diberi ASI, nunggu giliran,” ucap Malik nyengir seakan tidak bersalah dengan apa yang dia ucapkan.
”Boleh tapi setelah itu bobonya di luar ya Bang!” seru Hana.
”Loh kok gitu, jangan begitu apa kamu tega sama Abang?”
”Lagian Abang juga tega sih sama Hana, sudahlah biar Hana istirahat dulu ya Bang.”
Malik hanya bisa menahan diri melihat pemandangan yang ada di depannya itu, dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya.
”Maafkan Hana ya Bang,” lirih Hana. Malik tersenyum samar bahkan hampir tak terlihat mendengar penuturan istrinya, dia yakin Hans tidak akan Setega itu padanya. Ya, sangat yakin.
***
”Maafkan mamaku ya,” ucap Alvin pada Angela yang masih saja fokus melihat jalanan.
”Apa pemandangan di luar lebih menarik daripada wajahku ini?”
”Dasar narsis!”
”Loh benar kan perkataanku ini? Memangnya kau tidak tertarik denganku? Jujur saja gak masalah kok jika kejujuranmu menyakiti hatiku!” seru Alvin.
”Sudah jangan berpura-pura sok strong tapi kenyataannya puasa saja kamu gak kuat,” sindir Angela.
”Apa maksudmu?” tanya Alvin.
”Gak ada dan gak bermaksud apa-apa.”
”Vin jangan nekad ya aku takut!” seru Angela yang memegang pintu mobilnya cukup kuat.
”Ini juga sudah pelan kok, mau bagaimana lagi?” ujar Alvin.
”Ish, kamu memang gak mau mengalah dikit saja buatku,” sahut Angela.
”Alvin tiba di apartemen Angela begitu masuk lift ternyata mereka berdua satu lift dengan Bima.
”Kalian tinggal di sini juga?” tanya Bima.
”Bukan aku Bim, aku hanya mengantarkan dia pulang apartemennya ada di lantai sepuluh.”
”Wow kita satu lantai aku juga berada di lantai sepuluh,” sahut Bima.
”Kita bertetangga,” ucap Angela. Dia memang sudah mengenal Bima sebelumnya dan pria itu memang kerap gonta ganti pasangan hanya saja dia tidak bisa menjelaskan karena memang tidak ada bukti yang akurat.
”Itu apartemenku sampai jumpa.” Bima berpamitan pada Angela dan Alvin.
Angela hanya mampu mengulas senyumnya tidak percaya pada apa yang dia lihat. Angela membuka apartemennya dengan cepat Alvin terus saja mengikutinya.
”Sudah kamu pulang saja, nanti mamamu mencari dirimu!”
”Tidak akan, aku sudah dewasa mana mungkin mama akan mencariku mereka tidak akan ikut campur dalam setiap keputusan yang akan aku ambil nantinya.”
__ADS_1
”Kau yakin sekali.”
”Memang harus yakin.”
Dengan santainya Alvin duduk di sofa seakan dia adalah pemilik dsri apartemen tersebut, Angela membiarkannya melakukan apapun yang Alvin suka tentu saja selama itu tidak merugikan dirinya.
”Vin, sebaiknya kau pulang saja aku khawatir mamamu akan mencari keberadaan dirimu,” titah Angela.
”Ish, kenapa sejak tadi kau selalu saja memintaku untuk pulang Angela, apa kau tidak suka aku berada di sini?” seru Alvin.
”Bukan begitu aku hanya tidak mau membuat mamamu marah nantinya.”
”Sudahlah aku kan tetap di sini hingga esok.”
”Apa?” Angela membelalak mendengar perkataan Alvin.
***
”Bang buruan bangun!” bisik Hana membuat Malik cukup terkejut begitu melihat Emil sudah ada di tengah dia tidur berada di antara keduanya.
”Sejak kapan dia ada ... ”
”Udah jangan banyak protes, singkirkan lengannya Bang, kasihan dia pasti sangat lelah sehingga tidak bisa tidur sendirian di kamar sebelah,” terang Hana.
”Dasarnya dia emang penakut dan sekarang kau berikan dia adik dia akan cemburu karena waktumu akan terbagi antara si kecil dan kakaknya. Memangnya kamu sudah siap dengan itu semuanya?”
"Entahlah Bang, jalani saja dulu kalau gak kuat ya istirahat,” ucap Hana sok bijak.
Mendengar hal itu tentu saja Malik terkekeh tiada henti. ”Sejak kapan kau menjadi mentorship hah?”
”Sejak memulai hidupnya bersama denganmu Bang!”
Keduanya saling melempar senyum satu sama lain.
”Oh iya mengenai adikmu itu, aku mau minta maaf sebelumnya karena ini juga diluar kehendak ku,” ucap Malik tiba-tiba.
”Memangnya kenapa Bang, sepertinya serius sekali?” tanya Hana.
”Benar, sepertinya adikmu jatuh cinta pada Angela dan dari yang Abang lihat tadi mama seperti kurang setuju jika Alvin dekat dengan gadis itu,” jelas Malik.
”Aku kurang merhatiin tadi, lalu bagaimana Bang?”
”Abang juga tidak tahu besok kau tanyakan pada yang bersangkutan biar semuanya jelas.”
”Aduh bagaimana ya Bang, aku gak berani.”
”Sama Abang juga, sebaiknya kita minta bantuan orang lain saja buat menyelesaikan masalah ini, takutnya nanti Alvin udah berbuat macam-macam sama dia.”
”Gak mungkin adikku anak yang baik kok.”
”Buktikan!”
__ADS_1