
”Waalaikumussalam Pak Anwar, Anda datang ke sini?” jawab Malik karena dirinyalah yang masuk terakhir kali setelah mantan istrinya Cindy masuk lebih dulu.
”Saya sengaja datang ke sini setelah mendapat laporan dari Miss Nina jika Anda menarik putra Anda dari yayasan milik saya,” ungkap Pak Anwar.
"Silakan duduk dulu Pak Anwar.” Malik mempersilakan kedua tamunya untuk duduk sedangkan Hana masuk menyiapkan air minum tapi ternyata mama mertuanya sudah menyiapkannya lebih dulu.
”Makasih Ma,” ucap Hana.
”Dia pasti tidak akan berkutik jika datang bersama dengan suaminya, kamu tenang saja ya." Maryams coba menenangkan Hana.
”Itu pasti Ma.” Hana membawa nampan dan menyuguhkannya di meja tamu. ”Silakan!”
”Kamu tidak menaruh racun di dalamnya kan?” ucap Cindy ketus.
”Astaga, tolong jaga ucapanmu Cindy!” teriak Pak Anwar yang kesal dengan perkataan mantan istrinya.
”Ingat Mas, kita hanya mantan dan Mas Anwar tidak berhak mengatur saya,” sahut Cindy. Bahkan di rumah orang dia berani mengajak ribut mantan suaminya, Pak Anwar merasa malu dengan kelakuannya.
"Maafkan dia Pak Malik, jujur saya tidak mau jika kejadian tidak menyenangkan terjadi,” ucap Pak Anwar. "Dan untuk putranya Pak Malik, saya mohon untuk tidak menariknya keluar dari yayasan. Anak Pak Malik sangat cerdas dan memiliki potensi besar untuk ikut memajukan yayasan saya.”
Malik mengedikkan bahunya dan menghela nafas sejenak, ”Bagaimana ya, kalau saya sendiri menurut dengan keputusan istri saya.” Malik menatap Hana dan tersenyum bagaimanapun nantinya dia harus tetap melibatkan ibu dari anak-anaknya.
”Kalau begitu bagaimana Bu Hana, apa Bu Hana mau memberikan kesempatan pada kami?”
”Boleh dengan syarat.”
”Apa Bu Hana?” tanya Pak Anwar.
Hana menatap ke arah Cindy, ”Yayasan itu bukan atas nama mantan istri bapak kan?”
”Tentu saja bukan yayasan itu resmi milik keluarga saya dan Miss Nina adalah sepupu saya jadi Bu Hana tidak perlu khawatir soal hal itu.”
”Saya mau jaminan keselamatan putra saya jika memang demikian adanya.”
”Baik jika begitu saya akan menjaminnya,” ucap Pak Anwar mantap.
”Saya akan bicarakan lagi dengan putra saya nanti.”
Pak Anwar bangkit diikuti oleh Cindy. ”Kami permisi Pak Malik, Bu Hana terima kasih.”
Keduanya hanya mengangguk dan mengantarkan tamu hingga ke mobil mereka. Malik merangkul bahu Hana lalu menoleh apa yang dilakukan oleh Hana itu Malik sangat menyukainya. Istrinya meminta jaminan keselamatan untuk Emil hal yang kadang terlupakan tapi justru Hana sangat mengutamakan.
”Masuk Bang,” ajak Hana.
Malik menoleh dan tersenyum kecil, ”Kau luar biasa, Abang gak tahu harus bagaimana menyikapi semua ini.”
”Bang boleh nanya?”
”Apa?”
__ADS_1
”Darimana beliau tahu jika kita mau menarik Emil dari yayasan itu atau Abang ... ”
”Ya memang sebelum pergi Abang mau memastikan keselamatan kalian lebih dulu dan memintanya buat mengawasi mantan istrinya itu. Tapi ternyata dugaan Abang meleset yang melakukan semuanya justru Flo yang ingin membalas dendam pada Abang. Maaf karenanya jadi terluka.”
”Tidak masalah.”
Malik merangkul bahu Hana masuk ke rumah. Baru beberapa langkah suara mobil masuk ke halaman mengalihkan perhatian keduanya. ”Alvin.”
”Bang, Kak, kenapa ada di luar?”
”Kami baru saja kedatangan tamu. Masuk Untari sudah menunggu di dalam,” ucap Malik.
Alvin hanya menanggapinya dengan senyuman dan mengikuti langkah keduanya.
***
”Aku tidak mengira jika pelakunya adalah Flo. Aku kira Cindy mantanmu itu Bang,” seru Faris. Ya ketiga pria sedang berada di ruangan Malik berkumpul membahas masalah yang baru saja dialami oleh Hana.
”Ya, aku juga kaget mendengarnya,” sahut Malik.
”Lalu bagaimana dengan Bayu, apakah Bang Malik mau memecatnya? Dia satu divisi denganku kinerjanya memang bagus tapi ya itu tadi aku gak menyangka jika dia akan melakukan hal seperti itu,” ungkap Alvin.
”Nanti aku akan bertemu langsung dengannya dan menanyakan langsung jika memang dia terlibat lebih dalam aku tidak akan memberi toleransi padanya,” sahut Malik.
”Bukankah dia akan jadi saksi nantinya?" tanya Faris.
”Kita keluar saja ya!” ajak Malik dirinya ingin bermain dengan anak dan juga keponakannya.
”Bang makanannya sudah siap!” ucap Hana.
Hari ini semua keluarga berkumpul jadi satu di rumah Malik dan itu menjadi kebahagian tersendiri baginya karena momen ini jarang terjadi, mungkin inilah hikmahnya semua orang saling menguatkan.
Sesekali Malik melirik ke arah Hana, namun Hana terlihat acuh dan justru sibuk berbicara dengan Untari.
”Kita bisa pergi berlibur bersama kan Pa?" seru Emil tiba-tiba menyela membuat semua orang terdiam.
”Memangnya mau liburan kemana?” sahut Malik.
"Menurut Papa enaknya kemana?”
”Bagaimana kalau ke Singapura saja, jadi gak perlu jauh-jauh,” tawar Alvin.
”Kamu mau bayarin?” ucap Malik menimpali.
Alvin tergelak seketika, ”Gak keliru Bang? Seharusnya Abang yang bayarin kita-kita benar gak?”
Mata Alvin menatap ke sekitar meminta dukungan yang lain. ”Angkat tangan dong yang setuju dengan usulannya.”
Hening, semua terdiam.
__ADS_1
"Bagaimana baiknya saja,” ucap Maryam menyela.
”Bayar sendiri-sendiri!” tegas Malik.
”Astaga pelitnya, ingat Bang harta gak dibawa mati!” ujar Alvin mengingatkan.
”Iya tahu,” sahut Malik.
”Lalu kenapa kau pelit Bang?”
”Aish, tempo hari aku sudah memberikan hadiah ke Paris masa iya harus kasih ulang,” gerutu Malik.
”Hem, baiklah nanti aku beli sendiri,” gerutu Alvin.
”Sudah kalian pada ribut biar papa yan bayarin kalian semua,” seru Daniel tiba-tiba datang menghampiri meja makan.
"Tapi jangan ke Singapura ya Opa,” ucap Emil.
”Hah? Lalu ke mana?”
”Australia, Emil ingin ke sana.”
”Bagaimana Pa? Ini cucumu sendiri yang mengusulkan tempatnya,” ucap Malik.
”Baiklah terserah kalian saja, nanti papa yang akan meminta asisten papa buat mengurus semuanya.”
”Makasih Opa, Opa memang terbaik,” puji Emil membuat Maryam cemburu mendengarnya.
”Oma bukan yang terbaik?” sela Maryam.
”Oma yang terbaik untuk hal masak memasak sama dengan mama Hana.”
”Sudahlah lanjutkan saja makannya, Faris dimana Sabrina?” Malik mencari adiknya yang menghilang di meja makan.
”Ada di kamar mungkin Lala rewel jadi pergi ke sana buat mengASI,” jawab Faris.
”Oh begitu, bilang padanya jika papa datang untuk menjenguknya,” titah Malik karena dia tahu jika papanya Daniel sangat menyayangi adiknya itu.
”Tidak perlu nanti papa sendiri yang menemuinya,” ucap Daniel segera mengambil piring untuk ikut menikmati makanan yang ada di meja makan.
Di sisi lain Rita dan Untari tampak sedang berdiskusi dengan serius.
”Tapi apa mungkin Alvin akan setuju Nak?” tanya Rita.
”Ma, Untari juga ingin seperti Kak Hana menikah punya momongan dan ini sudah beberapa kali Untari sengaja tidak meminum pil karena Untari pengen hamil,” sahut Untari.
”Apa jadi kamu gak menuruti perkataanku?” ucap Alvin membuat Untari terkejut karena perkataannya di dengar oleh Alvin.
”Mak-maksudku ... ”
__ADS_1