Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
22. I'm Falling Love with Her


__ADS_3

”Pak Malik gak sibuk?” tanya Hana


”Kamu mau saya sibuk terus, begitukah?” balas Malik.


”Tidak bukan begitu biasanya kan Pak Malik jarang makan di luar itu aja.”


Malik masih menatap ke sekelilingnya mencari tempat yang nyaman untuknya menikmati makan siang bersama dengan Hana. Begitu mendapatkannya Malik segera menarik lengan Hana membawa gadis itu masuk ke kafe yang tidak begitu ramai pengunjung.


”Duduklah!” ucap Malik setelah menarik kursi buat Hana.


”Memangnya tidak boleh meluangkan waktu sekedar untuk makan siang bersama kamu?” ucap Malik setelah duduk di depan Hana.


”Bukan begitu, biasanya kan Pak Malik lebih suka delivery daripada keluar buang waktu.”


”Kamu mau makan apa?” tanya Malik seraya melambaikan tangannya memanggil waiters.


”Ikut saja,” balas Hana.


”Yakin? Kalaupun saya pesan racun kamu mau memakannya?”


Hana terkekeh kecil mendengarnya, ”Saya yakin Pak Malik tidak akan melakukan hal itu.”


Malik menghela nafasnya perlahan, ”Jadilah orang yang memiliki prinsip karena itu sangat penting dalam menentukan langkah hidupmu.”


”Saya pesan spaghetti bolognese, steak wagyu, salad buah dan capuccino untuk 2 porsi.” Malik menutup kembali buku menu dan memberikannya kembali pada waiters.


Malik masih menatap intens ke arah Hana yang sedang membalas pesan yang masuk ke ponselnya hingga akhirnya panggilan masuk menghentikan kegiatannya.


’Papa calling ... ’


”Assalamualaikum ada apa Pa, kok tumben telepon Hana siang-siang begini?”


”Waalaikumussalam, bagaimana kabarnya di Jakarta Na? Bisakah kau pulang secepatnya?”


”Kenapa? Apa papa sakit lagi?”


”Bukan tapi papa mau menjodohkan mu dengan Ustadz Jaka.”


”Tapi Pa, Hana mau ...”


Tut ... tut ... tut ...


"Loh kok terputus?” gumam Hana.


”Ada apa?” tanya Malik.


”Tidak ada apa-apa, itu papa tiba-tiba kok nyuruh pulang,” balas Hana.


Malik menautkan kedua alisnya, ”Maksudnya pulang ke Jogjakarta?”


Hana mengangguk cepat.


”Apa ada masalah di sana?” tanya Malik.


”Gak tahu juga, tiba-tiba suruh pulang dan nikah sama orang,” jawab Hana.

__ADS_1


Ppppffft


Malik tersedak air yang sedang diminumnya.


”Maaf,” ucap Hana memberikan tisu pada Malik.


”Lalu kau jawab apa?”


”Belum saya jawab sudah terputus duluan.”


”Bagus.”


”Kok bagus?” Hana mengernyitkan dahinya.


”Iya bagus biar nanti saya yang akan ke Jogja buat lamar kamu, kamu mau kan nikah sama saya jadi ibu buat Emil putra saya?”


Hana terdiam kemudian. ”Saya gak maksa kamu buat kasih jawaban itu sekarang, tapi intinya saya akan tetap menunggu kamu sampai kamu siap menerima saya dan Emil.”


”Buruan dimakan memangnya kamu akan kenyang kalau hanya dilihatin saja,” ucap Malik.


Hana pun menyantap makanannya dengan sedikit kesusahan, mendengar permintaan papanya yang mendadak membuatnya tidak dapat berpikir jernih.


Malik dan Hana kembali ke kantor namun di pintu masuk mereka bertemu dengan Eric dan Ayu.


”Bukankah jam makan siang sudah habis kenapa masih berkeliaran di sini,” tegur Malik.


”Kami baru saja dari kafe Pak, kebetulan kafe tersebut ramai jadi sedikit mengantri dan hal itu tentu saja bikin kita telat kembali ke kantor maaf,” ucap Eric tatapannya tidak lepas ke arah Hana.


”Lain kali jangan diulangi, mengerti!” sela Malik yang tidak suka melihat tatapan Eric pada Hana.


”Apa maksudmu?” tanya Hana.


”Kamu senang kan bisa bebas dari Eric dan sekarang kau mau menggaet bosmu sendiri,” ucap Ayu dengan pandangan jijik pada Hana.


”Aku memang bersyukur bisa lepas dari pria seperti dia, memangnya dia tidak cerita sama kamu kalau dia masih ada utang juga padaku seratus juta?”


Ayu menoleh ke arah Eric yang terlihat salah tingkah karena kedoknya mulai terbongkar. ”Kau pikir dia banyak uang mengajakmu jalan-jalan ke Singapura, padahal uangnya boleh pinjam padaku.”


”Kau ... ”


”Apa? Tidak terima? Atau kurang yakin perlu aku tunjukkan bukti transferannya?” potong Hana.


Hana tak mau ambil pusing dengan sikap Ayu yang sudah kelewatan dan memilih pergi daripada meladeninya.


”Mari Pak Malik lebih baik segera bekerja agar waktu tidak terbuang percuma.” Hana menggandeng lengan Malik membuat pria itu cukup terkejut tapi tersenyum ada akhirnya.


***


”Darimana saja kenapa baru balik? Sejak tadi aku menunggumu,” ucap Faris.


”Aku baru saja makan siang dengan Hana di luar, ada apa?” tanya Malik.


Faris menyerahkan berkas yang ada di tangannya. ”Ini kerjasama dengan QQ Company. Apakah kau berminat, jika iya tinggal kau tanda tangani saja,” balas Faris.


”Bukankah ini sudah ada sejak bulan lalu, kenapa kau baru menyodorkannya padaku sekarang?” Malik kembali meneliti berkas tersebut.

__ADS_1


”Apa ini tidak salah?” Malik menunjuk nama model yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri, Florensia Agatha.


"Iya karena itu aku tidak langsung memberikannya padamu jika kau menerimanya maka kau akan sering bertemu dengannya di kantor.”


”Berapa banyak keuntungan yang diberikan oleh perusahaan ini?” tanya Malik seraya berpikir apakah mau menerima atau menolaknya.


”Keuntungannya cukup besar karena mereka sudah menyiapkan semuanya kita hanya perlu memproduksi barangnya saja.”


”Baik, kita terima saja.”


”Yakin? Bagaimana jika kesempatan ini dimanfaatkan oleh Flo untuk dekat denganmu?”


”Tidak mungkin, aku bisa menjaminnya. Kita bekerja saja secara profesional!” ucap Malik.


”Baiklah jika itu keputusanmu.”


Malik segera menandatangani kontrak perjanjian kerja tersebut dan menyerahkannya kembali pada Faris.


”Bagaimana perasaanmu ketika kau sedang bersama dengan adikku?” tanya Malik.


”Hah? Kau sedang bertanya padaku?” ucap Faris tidak percaya dengan pertanyaan Malik.


”Iya tentu saja memangnya ada orang lain di sini selain kita?”


”Jangan katakan kau sedang jatuh cinta pada Hana.”


”Kenapa, tidak boleh? Terserah aku mau jatuh cinta pada siapa, kenapa kau melarangku seakan-akan Hana itu adikmu!”


”Bang, jangan kayak ABG lagi deh, kalau kita dekat dengan orang yang kita sayangi tentu saja berdebar-debar, rasanya waktu gak pengen cepat berlalu, gak pengen buru-buru berpisah, selalu saj rindu pengennya ketemu terus. Itu yang aku rasain Bang, kalau dekat Sabrina,” ucap Faris.


”Fix, I’m falling love with her!”


”Alhamdulillah, ternyata Bang Malik masih normal,” seru Faris.


”Apa maksudmu?”


”Setelah sekian lama Bang Malik diam bahkan tak pernah ada wanita manapun yang mampu menggetarkan hati Bang Malik sekarang tiba-tiba mendengar pernyataan ini mematahkan argumen yang ada jika Bang Malik tidak normal.”


”Siapa yang bilang aku tidak normal?”


Faris meringis mendapat pertanyaan seperti itu, ”Jangan menyebarkan rumor tidak jelas, aku masih normal dan masih butuh kehangatan seorang wanita.”


”Lalu kapan kau akan melamarnya?” tanya Maryam yang baru saja masuk ke ruangan putranya.


”Mama mau kau segera menikah dengannya, biar Emil ada yang menjaga dan lagi mama juga tenang karena ada yang membantu mama mengurus dirimu,” lanjutnya.


”Kapan Malik, kenapa diam saja!”


”Masalahnya ... masalahnya dia yang belum siap Ma, tapi akan coba Malik bicarakan dengannya nanti.”


”Secepatnya karena mama tidak mau menunggu lama,” seru Maryam.


”Nah tuh orangnya ke sini!” ucap Faris menunjuk ke arah Hana.


”Dia?” Maryam menatap Malik meminta jawaban dari putranya.

__ADS_1


__ADS_2