Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
79. Kekhawatiran Seorang Ibu


__ADS_3

”Ma.”


Emil menghampiri Hana yang sedang sibuk di dapur, ”Kamu sudah datang Sayang,” sahut Hana.


”Bagaimana sekolahnya hari ini?” lanjut Hana segera mengangkat Emil ke kursi.


”Sangat menyenangkan,” jawabnya mengulas senyum.


”Benarkah?”


”Sayang, ada tamu!” seru Malik menuju ke arah dapur menghampiri keduanya.


”Eh Pak Daniel, silakan duduk!”


”Nak Hana tolong panggil saya dengan sebutan papa saja bisa kan?” ucap Daniel.


Hana mengalihkan pandangannya ke arah Malik dan pria itu mengangguk singkat.


”Baik ... pa, silakan duduk!”ucap Hana menarik kursi dan mempersilakan Daniel untuk duduk.


”Dimana Aydan kenapa kau sendiri yang sibuk di dapur?” tanya Malik.


”Dia sedang tidur Bang, baru saja minum ASI jadi aku bisa meninggalkannya di dalam box.”


”Aku ganti pakaian dulu ya,” pamit Malik.


”Hana ... terima kasih ya telah menjaga cucuku dengan baik.”


”Iya pa, bagaimanapun Emil juga putraku meskipun dia tidak lahir dariku, aku akan tetap menjaganya dengan baik.”


Daniel mengeluarkan selembar cek dan memberikannya pada Hana.


”Apa ini Pa?” tanya Hana.


”Untukmu, sebagai ucapan terima kasihku karena telah menjaganya dengan baik!”


”Pa, ini tidak perlu sungguh. Hana merawatnya dengan ikhlas, karena Hana mencintai papanya maka dari itu Hana juga harus menerima dia sebagai anakku juga. Hana janji tidak akan pernah membeda-bedakan dengan yang lain.”


”MasyaAllah, tapi sungguh papa ikhlas ingin memberikannya padamu, anggaplah ini sebagai hadiah atas kelahiran putramu Aydan.”


”Terima saja Sayang,” seru Malik menghampiri mereka bertiga dengan menggendong Aydan.


”Oh, terima kasih kalau begitu.”


”Sayang, kamu terbangun atau papamu membangunkan kamu hem,” bisik Hana pada si kecil.


”Tidak, bukan aku karena begitu Abang masuk untuk mengeceknya dia sudah bangun,” bantah Malik.


”Aku pikir Abang sengaja membangunkannya. Pa, makan malam di sini ya, nanti mama dan papa juga akan ke sini. Kita adain syukuran buat Aydan.”


”Benarkah? baiklah kalau begitu papa setuju.”


Ting tong ...


Ting tong ...


”Abang rasa mereka sudah datang,” ucap Malik. ”Biar Abang yang buka pintu!”

__ADS_1


Malik bergegas ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang. ”Silakan masuk Ma, Pa.”


”Apa yang lain sudah datang?” tanya Rita pada menantunya itu.


”Belum Ma, mungkin sebentar lagi jalanan macet bisa itu yang bikin mereka datangnya telat,” jawab Malik.


”Dimana yang lain?” Rita mengambil cucunya Aydan dari gendongan Malik.


”Duh cucu Oma makin gembul aja pipinya kayak bakpao!” seru Rita.


”Oma, opa,” panggil Emil.


”Eh ada tamu rupanya,” ucap Rita.


”Dia bukan tamu Ma, dia juga opanya Emil bukankah begitu Sayang?” ucap Hana dan Malik hanya dapat mengangguk singkat.


”Tunggu bentar ya chef-nya belum datang juga soalnya,” seru Malik.


Rita tengah bermain dengan Emil dia bahagia karena Emil mau bermain dengan adiknya walaupun sebentar saja.


Tepat jam tujuh malam semua keluarga berkumpul acara makan malam bersama dua keluarga besar pun berlangsung suasana akrab terlihat sayangnya satu yang tidak hadir dalam acara tersebut dia adalah Alvin.


”Ma, mama tahu kemana dia pergi?” tanya Hana.


”Entahlah, mama khawatir jika dia bersama dengan Angela,” jawab Rita.


”Kau tahu kan dari awal Alvin sedang patah hati dengan Aisha mama khawatir jika Angela hanya dijadikan sebagai pelampiasan saja, bukannya mama gak setuju dengan hubungan mereka berdua,” jelas Rita.


”Besok biarkan Hana yang bicara sama dia di kantor Ma, Hana akan coba bicara sama dia.”


”Kamu yakin?”


”Makasih ya Na,” ucap Rita.


***


”Aku berangkat ke kantor ya,” ucap Alvin berpamitan dengan Angela.


”Nanti pulang ke sini kan?” tanya Angela.


”Aku tidak tahu lihat kondisi nanti, kenapa?” jawab Alvin.


”Aku kan masih kangen Vin,” ujar Angela.


”Ya besok kan masih bertemu di kantor nanti aku atur waktunya lagi ya, pokoknya jangan sampai keluargaku tahu kalau kita sering bertemu karena mamaku masih belum kasih lampu hijau buat merestui hubungan ini.”


”Apa aku juga harus bicara dengan mamamu agar beliau kasih restu pada kita,” tawar Angela.


”Tidak, jangan lakukan apapun Angela. Aku tidak mau mamaku malah semakin mengekang diriku,” ucap Alvin.


Angela mencebikkan bibirnya padahal dia sudah sangat cocok dengan Alvin tapi restu dari kedua orang tuanya Alvin belum dia dapatkan mungkin karena Angela itu seorang model dan hal itu membuat mereka jadi berpikir berkali-kali untuk menerimanya sebagai menantu.


”Sudahlah mungkin memang jalan kita harus menjalani hubungan tersembunyi seperti ini," ucap Angela wajahnya terlihat bersedih , dia tidak bersemangat.


”Sabar ya,” ucap Alvin mengusap surai hitam Angela.


”Sampai kapan Vin? Atau ...”

__ADS_1


”Atau apa?”


”Aku punya ide.”


”Ide? Apa itu?”


Angela menghampiri Alvin dan menatapnya lekat dan sedikit berjinjit membuat Alvin terkejut karena Angela terlihat lebih agresif.


”Apa yang akan kau lakukan?” tanya Alvin.


”Buat aku hamil,” bisik Angela.


Alvin menggeleng cepat. ”Tidak, aku tidak mau melakukan itu. Apa kata keluarga besar orang tuaku nanti jika hal itu sampai terjadi, itu tidak mungkin dan tolong jangan buat ide gila seperti itu lagi oke! Aku akan berusaha meyakinkan mama nanti, percayalah kau hanya perlu untuk bersabar.”


”Aku ke kantor sekarang ya, cup!”


”Sampai jumpa!”


Alvin segera pergi meninggalkan apartemen Angela dia khawatir tidak bisa menahan diri dari Angela meskipun mereka berdua sering bersama dan satu atap Alvin benar-benar tidak mau menyentuh Angela.


Alvin segera melajukan mobilnya dan begitu tiba di ruangannya dirinya dikejutkan dengan kehadiran Hana kakaknya.


”Kak Hana, sejak kapan di sini?” Alvin cukup terkejut melihat kehadiran kakaknya di ruangannya.


”Kenapa semalam kamu gak datang?” Hana bertanya balik pada Alvin.


”Aku sibuk Kak, maaf tapi aku punya kado istimewa buat keponakan kecilku kok,” ucap Alvin menunjukkan foto mainan yang sudah dia beli di rumah.


”Aku belum sempat membawanya karena semalam aku ada acara dadakan.”


”Bersama Angela?”


Alvin langsung membelalakkan matanya, ”Darimana kak Hana tahu?”


”Hanya menebak karena isu yang beredar kau sedang dekat dengannya, ayolah Alvin apakah kau mau mempermainkannya?”


”Kakak khawatir sekali soal itu?”


”Ya tentu saja karena kakak dan dia sama, sama-sama wanita tolong jangan sakiti dia!”


”Astaghfirullah Kak, kenapa kau dan mama berpikiran yang sama. Mama juga tidak percaya dengan apa yang aku lakukan, rupanya makhluk yang bernama wanita itu sangat rumit sekali untuk dimengerti.”


”Kamu salah, kamu saja yang tidak bisa memahami mereka.”


”Tolong katakan dengan jujur apa kau sedang menjalani hal yang serius dengannya, jika tidak tolong tinggalkan saja dia.”


Alvin tersenyum getir bahkan tak ada orang yang tahu bagaimana luka hatinya saat ditinggal Aisha, Alvin berpura pura kuat padahal sakit sekali apalagi orang yang menikah dengannya adalah sahabatnya sendiri Bima.


”Kakak gak ngertiin aku kenapa kak Hana begitu peduli dengan orang lain,” ucap Alvin.


”Kenapa kau berubah Vin? Kakak sangat peduli padamu jadi kakak menanyakan hal ini padamu, jika tidak mana mungkin kakak bicara padamu saat ini,” ucap Hana penuh penekanan.


”Aku kasih tahu kakak, semoga kak Hana puas dengan jawabanku,” ujar Alvin.


”Apa itu Vin?”


”Aku ...”

__ADS_1



Mampir yuk Kak 🙏


__ADS_2