Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
25. Jogjakarta Aku Datang


__ADS_3

”Aku harus segera mengambil langkah sebelum Ustadz Jaka mendahului,” gumam Malik.


”Mikirin apa Pak Malik?” tanya Bik Surti.


”Hana, Bik bagaimana pendapatnya apakah saya harus melamarnya? Tadi siang mama memintaku untuk segera mengajaknya pulang dan melamarnya ke Jogja.”


”Pak Malik sendiri bagaimana? Jika yakin ya segera lamar saja jangan menunggu lama,” ucap Bik Surti.


”Wanita itu butuh kepastian Pak Malik, apalagi Non Hana pernah dikecewakan jadi Bik Surti yakin kalau Pak Malik bakalan diterima oleh dia.”


”Baiklah makasih usulannya Bik, saya titip Emil ya besok pagi saya akan segera ke Jogja dengan Hana,” ucap Malik.


”Semangat Pak, dan yakin saja InsyaAllah niat baik pasti dimudahkan oleh Allah,” ucap Bik Surti.


”Aamiin.”


Paginya Malik langsung meluncur ke rumah Hana.


”Dimana kakakmu?” tanya Malik pada Alvin yang sedang membenahi motor sportnya di depan rumah.


”Eh Pak Malik, ada kok di dalam sedang santai bentar ya Alvin panggilkan,” ucap Alvin seraya berlari kecil masuk ke rumah.


”Kak, ada Pak bos di depan, buruan temui dia!” seru Alvin membuat Hana terkejut karena dia merasa tidak memiliki janji dengannya, lalu untuk apa dia datang ke sini tanpa memberitahukannya lebih dulu.


Hana segera keluar dan Malik sudah duduk di teras rumahnya. ”Ada apa ya Pak Malik tumben datang ke sini tanpa konfirmasi lebih dulu,” ucap Hana.


”Kita ke Jogja sekarang yuk!” ucap Malik tanpa basa basi membuat Hana terkejut.


”Ke ... ke Jogja ngapain?” tanya Hana gugup.


”Temui kedua orang tuamu, saya akan melamar dirimu hari ini juga!” jawab Malik.


”Tapi Pak sa-ya ... aduh bagaimana ya jelasinnya,” ucap Hana.


”Apalagi Hana, apakah kamu masih meragukan keseriusan saya?” tanya Malik.


Hana menggelengkan kepala cepat.


”Lalu apa yang membuatmu ragu katakan,” desak Malik. ”Apakah kita perlu membuat perjanjian hitam di atas putih agar kau tenang,” lanjut Malik.


”Tidak bukan itu,” ucap Hana.


”Lalu?”


Hana menghela nafasnya sejenak. ”Baiklah saya ganti pakaian dulu.” Hana kembali masuk mengganti pakaiannya, sungguh dia terlalu shock dengan sikap Pak Malik bosnya itu.


”Alvin saya bawa kakakmu sebentar tolong jangan bilang siapa-siapa kalau saya ajak dia pulang ke Jogja, jangan kasih tahu orang di rumah mengerti!” ucap Malik pada Alvin.


”Baik Pak Malik selama itu tidak mengganggu kakak saya, tidak masalah,” sela Alvin.

__ADS_1


”Kami pergi, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Malik segera mengemudikan mobilnya ke bandara dan langsung cek in karena dia telah memesan tiket sebelumnya.


Hana tidak habis pikir kenapa bosnya mendadak bersikap begitu padanya padahal kemarin tak ada masalah, apakah ini ada hubungannya dengan perdebatannya semalam dengan Ustadz Jaka, memikirkan hal itu membuat kepalanya mendadak menjadi pusing.


”Kita sudah sampai langsung naik taxi saja Pak Malik,” ucap Hana mengarahkannya keluar dari bandara Yogjakarta Internasional Airport.


Setengah jam perjalanan keduanya sampai di rumah Pak Soleh papa tirinya itu.


”Assalamualaikum,” ucap Hana.


”Waalaikumussalam,” jawab Rita mendengar suara anak perempuannya datang wajahnya tampak sumringah.


"Kamu pulang kok gak kabar-kabar dulu Sayang,” ucap Rita lalu memandang ke arah Malik.


”Silakan masuk Pak Malik, ini ada apa ya kok tiba-tiba pulang ke sini?” tanya Rita.


”Saya mau melamar putrinya Bu Rita,” ucap Malik kemudian membuat wanita paruh baya itu terkejut.


Hana memejamkan kedua matanya tidak tahu harus bagaimana mengambil sikap, sejujurnya dia bahagia karena ada orang yang berani mengatakan itu di depan mamanya tapi di sisi lain dia masih ragu takut jika kembali terluka.


”Apakah Nak Malik serius dengan Hana?” tanya Rita dan Malik mengangguk cepat.


”Tunggu papanya Hana pulang dulu ya, nanti kita bicara dengannya mungkin orang yang akan sulit menerimanya adalah beliau, meskipun hanya papa tiri bagi Hana tapi beliau sangat menyayangi Hana,” jelas Rita.


”Kalau begitu kalian makan siang saja dulu, mama baru saja selesai masak. Hana, ajak Pak Malik ke meja makan sekarang!” titah Rita.


”Mari Pak Malik!”


Malik menikmati makan siangnya dalam diam namun dalam hatinya mulai gelisah, apakah lamarannya kali ini akan berhasil mengingat statusnya adalah duda beranak satu.


”Biarkan saja di sana Pak Malik saya akan membereskannya nanti,” ucap Hana.


Dengan cekatan Hana membereskan mejanya dan segera kembali ke ruang tamu dengan membawa buah-buahan yang sudah dia kupas.


”Biasanya jam berapa papamu pulang?” tanya Malik.


”Tidak mesti karena beliau itu kepala sekolah jadi kadang pulang paling akhir,” jawab Hana.


Malik menatap intens ke arah Hana, ”Kamu tidak meragukan saya kan?” tanya Malik.


”Saya tidak mau menunggu terlalu lama apalagi ada Ustadz Jaka yang selalu saja mencoba mendekatimu. Jujur sejak semalam saya tidak bisa tidur dengan tenang,” jelas Malik.


”Pak Malik yakin dengan saya?”


”Sangat yakin!”

__ADS_1


Dengan sedikit keberanian Malik meraih tangan Hana dan menggenggamnya membuat Hana terkejut.


”Saya janji tidak akan menyakitimu, seperti yang udah kamu alami sebelumnya saya akan menjadikanmu ratu di rumahku dan juga di sini,” ucap Malik mengarahkan tangan Hana di dadanya membuatnya cukup tersentuh dan kedua matanya berembun.


”Na, sepertinya papamu sedikit terlambat pulang ke rumah,” seru Rita membuat keduanya terkejut dengan cepat Hana menarik tangannya sebelum mamanya melihatnya.


”Putranya gak diajak Pak Malik?” tanya Rita.


”Dia di rumah mama saya, kebetulan kemarin ada acara keluarga di sana jadi dia menginap sekalian,” jawab Malik.


”Saya merindukannya, jujur ya pertama kali melihatnya saya sudah suka sama dia sayangnya hanya sebentar bertemu waktu itu saya harus buru-buru ke stasiun karena khawatir ketinggalan kereta, biasalah emak-emak kayak saya masih suka panik,” ujar Rita.


Tepat jam dua sebuah mobil masuk ke halaman rumah Pak Soleh.


”Itu papa saya sudah pulang,” ucap Hana.


”Assalamualaikum,” ucap Pak Soleh.


”Waalaikumussalam,” jawab bersamaan.


”Eh ada tamu rupanya,” ucap Pak Soleh.


”Duduk dulu Pa, Hana buatkan minum ya.” Hana segera ke dapur membuatkan teh untuk Pak Soleh.


”Saya bosnya Hana di Jakarta Pak, dan maksud kedatangan saya ke sini untuk melamar putri bapak,” ucap Malik.


”Oh, jadi kamu yang namanya Malik itu?” tanya Pak Soleh.


”Benar Pak,” jawab Malik jantungnya berdetak lebih kencang mulai khawatir jika calon mertuanya galak padanya.


”Kamu cukup berani ya, datang ke sini apakah kamu yakin saya akan menerimanya?”


”Saya sudah memasrahkan jawabannya sama Allah, yang penting saya sudah ikhtiar semampu saya dan saya benar-benar tulus dengan Hana.”


Pak Soleh mengangguk mendengar pengakuan dari Malik.


”Silakan diminum dulu Pa,” ucap Hana.


Pak Soleh menyesap tehnya seraya memandang tak berkedip ke arah Malik membuat pria itu jadi salah tingkah dibuatnya.


”Ini kandidat pilihan Mama itu kan?” tanya Pak Soleh tanpa mengalihkan pandangannya pada Malik.


”Benar Pa, bagaimana menurut Papa?” tanya Rita.


Pak Soleh menyadarkan tubuhnya di sofa, ”Boleh juga tapi tetap ada syaratnya?”


Semua memandang ke arah Pak Soleh.


”Apa syaratnya Pak?” tanya Malik.

__ADS_1


Soleh menoleh ke arah Rita tersenyum menyeringai membuat semua orang semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan olehnya.


__ADS_2