
”Vin, sejak tadi kok melamun terus kenapa?” tanya Hana.
Alvin menyerahkan undangan berwarna biru itu pada hana. ”Gak ada apa-apa kok lagi malas aja Kak, yang lainnya kemana kok sepi?” Alvin melihat ke sekelilingnya.
”Mama sama papa lagi keluar jalan-jalan bareng Emil. Oh iya apa kamu yakin mau bergabung sama Bang Malik?”
”Iya, Alvin kan baru saja selesai dan belum ada pengalaman jadi gak ada salahnya sekalian belajar darinya,” jelas Alvin.
”Ini serius?” tanya Hana setelah melihat isi amplop tersebut.
”Iya tentu saja Kak, menurut Kak Hana bagaimana? Apa aku harus datang?” balas Alvin.
”Datang saja gak masalah kan, tapi apa hatimu kuat melihat mereka berdua nantinya,” ucap Hana khawatir.
”Ya gimana lagi masa diundang gak datang nanti malah menimbulkan tanda tanya buat mereka berdua terlebih Aisha karena Alvin sudah jujur sama dia beberapa hari yang lalu Kak.”
”Apa? Lalu reaksinya bagaimana, dia tidak menerima kamu dan lebih memilih Bima begitukah?”
”Yang terjadi hari ini itulah jawabannya Kak, tapi ya biarlah mungkin memang belum jodoh mau diapain lagi juga percuma.”
”Jangan putus asa kamu itu ganteng Vin, kakak yakin kok kalau habis ini kamu pasti banyak yang antri,” ucap Hana memberikan support pada Alvin.
Alvin hanya tersenyum menanggapi perkataan kakaknya itu.
”Kok malah senyum, ada yang lucu?"
”Kak Hana ini lucu kalau hanya antri saja banyak Kak, bukannya Alvin sombong tapi beneran deh di kampus tuh banyak yang antri hanya saja memang Alvin enggan meladeni mereka, bukan tipe Alvin juga.”
”Ya ampun, ingat ya jangan jadi playboy!”
”Tidak akan karena fitrahnya wanita itu untuk dicintai bukan disakiti.”
”Bagus, lalu kenapa mama sama papa bisa datang bersamaan ke sini, apakah mereka sudah baikan?"
”Iya tentu saja, kalau gak baikan mana mau mama pergi berdua, bagaimanapun papa juga gak mungkin ninggalin mama karena udah ada kita berdua, dan wanita itu lewat deh nanti Alvin bakal gibas habis dia biar gak datang lagi gangguin mereka berdua,” ucap Alvin enteng.
”Mama,” teriak Emil anak itu berlari kecil menghampiri Hana.
”Gak perlu lari kalau jatuh bagaimana?” ucap Hana.
”Ma tadi Emil ketemu sama Om yang waktu itu jualan bakso di komplek rumah kita loh, ternyata oma sama opa kenal dia,” ucap Emil dengan polosnya.
”Benarkah? sekarang oma sama opa dimana?” tanya Hana.
”Masih jalan di belakang Emil lari duluan kan balap lari mereka kalah Emil juara,” seru Emil bahagia.
__ADS_1
”Memangnya siapa yang Emil maksud kan itu Kak?” tanya Alvin.
”Eric, sekarang dia jualan bakso keliling karena menolak jadi pegawainya Bang Malik. Ya itu pilihan dia sendiri tadinya Bang Malik mau menaruhnya di bagian gudang karena kinerjanya menurun dan juga terkait dugaan penggelapan dana perusahaan yang dilakukannya.”
”Lalu sekarang udah lunas?”
”Dia jual rumah yang dulu kita beli bersama, uangnya juga dia kasih semua ke Bang Malik.”
”Astaghfirullah, jadi Kak Hana gak menerima sepeserpun dari penjualan rumah itu?” teriak Alvin tidak percaya dengan pengakuan Hana.
”Duh kayaknya dia minta dikasih pelajaran sama Alvin.”
”Jangan melakukan hal yang tidak baik, lagipula Bang Malik udah kasih balik uangnya ke rekeningku dia memang gak mau nerima uang tersebut.”
”Kebangetan juga tuh laki, pantas aja hidupnya kacau gak jelas karena perbuatannya sendiri.”
”Jadi tahu kan, tanpa kita membalas yakin saja Allah gak tidur melihat semua yang dikerjakan umatnya. Tadinya aku juga kecewa apalagi setelah pembatalan sepihak yang dilakukannya dulu.”
”Ya Allah Kak, kamu kok sabar banget sih,” ucap Alvin gemas pada Hana.
”Terbukti juga pilihannya itu seperti apa, mungkin menyesal juga gak ada guna, kakak justru bersyukur karena bisa lepas dari Eric coba kalau dulu teta dilanjutkan sesal berkepanjangan kali.”
Alvin mengangguk dan bisa menyimpulkan dengan jelas apa yang akan terjadi pada dia jika memaksakan Aisha menjadi miliknya. Alvin hanya berharap semoga Aisha bahagia dengan pilihannya itu.
***
”Bang!”
”Meeting bentar lagi dimulai loh!”
”Baik.”
”Bang!”
”Apalagi?”
”Buruan bangun kita ke ruang meeting!” kesal Faris.
”Bentar tanggung nih,” balas Malik dirinya tengah asyik memilah baju-baju bayi di aplikasi situs jual beli online, sudah banyak yang masuk keranjang dan tinggal check out saja tapi Faris justru menganggu kesenangan barunya itu.
”Tapi karyawan udah pada nungguin tinggal Bang Malik saja yang belum datang!”
”Astaga Faris kau ini mengganggu saja apa tidak bisa kau menundanya satu jam lagi?” tanya Malik.
”Tidak!” ucap. Malik tegas.
__ADS_1
”Bang, apa kau amnesia tadi bahkan sudah menundanya satu jam yang lalu dan sekarang minta ditunda lagi, lebih baik gak usah aja sekalian!" ucap Faris kesal.
”Baik, ayo kita ke ruang meeting sekarang!” ucap Malik segera bangkit dan menunda kegiatannya barunya itu dia tak mau Faris semakin kesal padanya.
”Jadi ini semua yang kalian lakukan jika tidak ada saya di sini?” ucap Malik dia cukup terkejut dengan pemandangan yang terjadi di ruangan meeting sesama pegawai ngobrol dan saling menggoda satu sama lain.
”Saya akan menerapkan peraturan baru jika antar pegawai tidak boleh saling berpacaran jika itu terjadi salah satu harus keluar dari kantor ini mengerti!" ucap Malik tegas.
”Lalu bagaimana dengan bapak sendiri bukankah Pak Malik menyukai Bu Hana pegawainya Pak Malik sendiri kenapa itu diperbolehkan?" tanya seorang pegawai lainnya.
”Itu tidak ada kaitannya dengan yang baru saja katakan karena itu terjadi sebelum aturan dibuat dan aturan ini berlaku selamanya mulai sekarang jadi jika ada yang ketahuan menjalin cinta sesama pegawai siap-siap saja keluar dari kantor saya.”
”Sekarang mana laporan kalian?” tanya Malik
Setiap pegawai memberikan penjelasan terkait kegiatannya selama bekerja dalam satu bulan belakangan dan ini adalah agenda rutin bulanan yang selalu dilakukan Malik agar tahu kinerja pegawainya itu.
”Oke rapat kali ini selesai. Oh iya satu lagi mungkin pekan depan akan ada pegawai baru yang mengisi bagian manager menggantikan Bu Hana.”
”Baik Pak,” jawab semuanya serentak.
Malik pun kembali ke ruang kerjanya dan mulai mengulang kegiatannya menggulir aplikasi belanja online.
”Baju, selimut, tempat tidur, bak mandi, keperluan baby, Ya Allah semua sudah aku pesan tinggal buat Hana yang belum.”
Malik kembali menggulir bagian baju dewasa, dipilihnya beberapa pakaian yang nyaman untuk busui (ibu menyusui) dan juga beberapa jilbab instan Malik ingin Hana tetap terlihat cantik meskipun sedang mengasihi anaknya kelak.
”Done!” gumamnya.
”Lebih baik aku pulang sekarang.”
”Mau kemana Bang?” tanya Faris.
”Balik, ini kan udah jadwalnya orang balik, memangnya kamu mau nginap di kantor buruan pulang Sabrina udah nunggu di rumah!”
”Eh dengar-dengar pengganti bagian manajer cakep loh, masih muda juga iya?”
”Kata siapa memangnya kamu tahu darimana jangan nyebar gosip yang gak jelas ketahuan kena semprot di PHK nanti sama Pak Malik.”
”Eh, tapi memang benar kok itu bocoran dari Indah bisa saja kan benar karena dia juga dekat dengan Bu Hana istrinya Pak Malik.”
”Nanti sajalah jangan berasumsi sendiri kalau salah malah bisa berabe!”
”Ehem, sudah selesai ghibah-nya?”
Semua orang terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
”Mampus! semoga gak dipecat!” gumam para pegawai.