Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
37. Tidak Membandingkan


__ADS_3

”Bang,” panggil Sabrina.


”Ada apa? Kenapa dari kemarin kamu bersikap acuh pada Tante Lani?” tanya Malik. Sabrina adiknya masih terlihat kesal dengan mertuanya karena dinilai genit dan tidak tahu diri menurut adiknya.


”Aku gak suka ya jika Abang dekat-dekat sama tante-tante itu, Sabrina itu lihat dia melirik Abang terus semalam seakan-akan Bang Malik tuh milik dia!” kesal Sabrina.


”Kok jadi kamu yang sewot, istriku aja gak sewot dengan dia,” ujar Malik.


”Ck! Abang ini bagaimana sih? Mana mungkin Mbak Hana akan protes secara langsung bisa saja dia juga risih tapi dia juga bingung bagaimana menyampaikan tanpa harus membuat orang lain tersinggung. Tipe orang seperti Mbak Hana itu orangnya sangat menjaga perasaan bahkan lebih baik dia sakit sendiri memendam perasaannya daripada buat orang lain terluka,” jelas Sabrina.


”Kamu ini sok tahu! Lalu kalau modelan pria kayak Faris bagaimana apa dia seperti Hana juga?” tanya Malik.


Sabrina mengedikkan bahunya, ”Terserah Abang aja deh, malas kasih tahu jika udah terlanjur ... ”


”Terlanjur apa haiyo?” potong Hana membuat Malik dan Sabrina saling pandang.


”Ini Mbak, apa boleh jika Emil mau ikutan progam bimbel di rumah kalau iya biar nanti dicarikan guru buat dia,” ucap Sabrina asal nyeplos.


”Tidak perlu karena aku sendiri yang akan mengajarinya,” sahut Hana.


”Kamu yakin?” tanya Malik.


”Yakin, aku akan bagi waktunya nanti,” balas Hana.


”Aku mau ke rumah mama dulu bentar boleh ya Bang?” Hana meminta ijin pada Malik untuk pulang.


”Boleh, aku antar ya?” tawar Malik.


”Nanti Emil kalau bangun bagaimana? Kasihan dia kan semalam gak bisa tidur.”


”Gak apa biar Emil jadi urusanku, kalian pergi saja,” ucap Sabrina membiarkan mereka pergi.


”Ayo Abang akan antar.” Malik mengulurkan tangannya ada Hana. Hana menatap ke arah Sabrina dan gadis itu mengangguk mengijinkan keduanya pergi.


”Pergilah, ingat jangan ngebut!” ucap Sabrina.


Sepanjang perjalanan Hana hanya diam membuat Malik tidak betah dengan hal tersebut.


”Ngomong dong!” pinta Malik.


”Ngomong apa?” tanya Hana.


”Apa aja yang penting ada suaranya kalau diam saja rasanya sepi kaya berasa di kuburan!” balas Malik.


Hana menggelembungkan kedua pipinya membuat Malik semakin gemas dibuatnya.


”Bang Malik beneran kan gak ada affair di luar sana?” tanya Hana membuat Malik terkekeh mendengarnya.


”Kok malah ketawa? Hana serius Bang!” ucap Hana.


”Menurutmu bagaimana? Apa wajahku ada tampang playboy-nya?” tanya Malik.

__ADS_1


”Gak, tapi ...”


”Tapi apa?” potong Malik.


”Abang tipe orang yang diam-diam perhatian sama pasangannya itu sih yang Hana baca tapi juga diam-diam menghanyutkan dan penuh tanda tanya.”


Malik menaikkan alisnya sebelah mendengar penuturan Hana, ”Sok tahu!”


”Iya memang Hana sok tahu tapi kadang tebakan Hana benar,” ucap Hana.


”Tapi semoga kali ini tebakan kamu salah ya untuk point kedua itu,” kilah Malik.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Hana, terlihat Alvin sedang bersama dengan seorang gadis berhijab sedang bercanda di teras rumah.


”Tuh Alvin sepertinya yang ini cocok buat dia,” tebak Malik.


”Apa, dia itu teman SMA-nya Alvin namanya Aisha,” ucap Hana.


Malik melongo mendengar penjelasan Hana, ”Kirain pacarnya Alvin!”


”Iya awalnya aku ngira juga gitu tapi sepertinya gadis itu lebih suka pria yang religius seperti Ustadz Jaka,” ucap Hana.


”Kamu masih mengingatnya?” tanya Malik seraya turun dari mobilnya.


Hana tahu jika suaminya tengah cemburu jika membahas pria sekelas Ustadz Jaka, Malik memang cemburu karena dia tidak memiliki pengetahuan agama seluas Ustadz Jaka, hal itu yang terkadang membuat Malik minder pada Hana karena merasa belum mampu menjadi imam yang baik untuknya.


”Assalamualaikum,” sapa Hana.


”Masuk Kak, mama sama papa ada di dalam kok,” ucap Alvin.


”Ini cewek kamu Vin?” tanya Malik sengaja menggoda Alvin.


”Dia teman Bang, satu kampus tapi beda jurusan,” jelas Alvin.


”Kirain kalian berdua ada hubungan, terlihat cocok!” ucap Malik menepuk bahu Alvin lalu beranjak masuk ke rumah.


”Masak apalagi Ma?” tanya Hana melihat mamanya sedang sibuk di dapur meracik sesuatu.


”Itu Alvin pengin rica-rica mentok, biasa kalau di Jogja tinggal makan di sini dia bingung mau beli dimana,” jawab Rita.


”Mungkin karena Mama sedang ada di Jakarta aja jadi manja, biasanya juga gak pernah minta apapun,” ucap Rita.


”Sudah matang, kamu mau bawa pulang buat lauk nanti malam atau kamu mau makan malam sekalian di sini biar mama lebihkan masak nasinya,” sambung Rita.


”Bagaimana Bang, apa Abang mau makan di sini dulu?” tanya Hana pada Malik.


”Boleh aku ke ruang tengah ya, mau temani papa barang kali beliau mau diajak main catur,” jawab Malik.


Hana memilih membantu Rita di dapur karena tidak mungkin dia, mengganggu adiknya yang sedang bersama dengan Aisha.


”Na, kamu nyaman gak tinggal di rumah suamimu?" tanya Rita tiba-tiba.

__ADS_1


”Kenapa Mama tanya hal itu?" balas Hana.


”Ya Mama hanya ingin memastikannya saja karena kemarin mama mendengar mantan mertua Malik bicara tentang masa lalu anaknya yang menjadi istrinya Malik itu.”


”Apa yang dia bicarakan Ma?” tanya Hana.


"Ya bilangnya Tiara seperti pembantu tinggal di rumah tersebut, membuatnya sakit waktu akan melahirkan Emil karena kecapekan dan akhirnya setelah Emil lahir dia pendarahan hebat dan meninggal.”


”Bang Malik gak pernah bilang apapun soal mantan istrinya dan lagi Hana juga tidak mau menanyakan hal itu jadi ya gak tahu apapun Ma,” ucap Hana.


”Harus saling terbuka apalagi kalian itu akan melalui berbagai macam warna kehidupan setelah ini jadi apapun yang kau rasakan jangan dipendam tapi bicarakan dengan pasangan agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya,” titah Rita.


”Iya Ma, nanti akan Hana coba tanyakan pada Bang Malik agar tidak saling curiga yang berujung kesalahpahaman.”


"Mama tahu kau pasti bisa mengatasinya. Alhamdulillah masakan selesai, panggil yang lain kita makan bersama,” titah Rita.


”Masih sore Ma, baru juga jam enam,” ucap Hana.


”Sudah panggil aja yang lain sekalian itu siapa temennya Alvin ajak dia masuk sekalian!” Rita mendorong tubuh Hana keluar memanggil yang lain.


”Vin, Sha, ayo makan dulu. Mama sudah siapkan makan malam rica-rica mentok spesial,” seru Hana.


”Ayo Sha!” ajak Alvin.


"Tapi ... ”


”Udah gak apa Sha!” ucap Hana.


Hana menuju ruang tengah memanggil suami dan papanya.


”Pa, Bang, ayo makan semua sudah siap!” seru Hana.


”Oh bentar Na, ini suami kamu pasti kalah!” ucap Soleh penuh semangat.


Skakmat!


”Aduh Papa mencuri start duluan,” seru Malik.


Soleh terkekeh senang karena bisa mengalahkan menantunya.


”Ayo kita makan dulu!” ajak Soleh pada menantunya.


Di meja makan semua telah menunggu mereka berdua.


”Papa baru saja mengalahkan Malik, senang sekali rasanya,” ungkap Soleh.


”Dulu Papa berharap bisa mengalahkan papamu tapi tidak pernah bisa dan sekarang Papa bisa mengalahkan dirimu bukankah ini sebuah kebanggaan?” ungkap Soleh.


”Btw, kenapa mama dan papamu bisa bercerai bukankah mereka saling mencintai?”


Malik bingung harus menjawab apa mendengar pertanyaan dari papa mertuanya itu.

__ADS_1


”Mm, soal itu Malik kurang tahu Pa.”


__ADS_2