Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
83. Jodoh Untuk Adik


__ADS_3

”Kenapa? Gak boleh, Abang mau sekarang dan tidak menerima penolakan!” ucap Malik menyerang Hana dengan cepat dia tidak mau lagi menahan hasratnya untuk tidak melakukan apapun pada istrinya.


Hana yang sudah lelah karena seharian mengurus kedua anaknya pun hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya dan hal itu membuat Malik merasa bersalah setelah menyelesaikan keinginannya itu.


”Kamu gak apa kan, maafin Abang ya. Habisnya Abang sendiri sudah kangen banget sama kamu,” bisik Malik.


”Hana yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa maksimal melayani Bang Malik. Seharian ini Hana capek banget mana baby Aydan sedikit rewel.”


”Kita ambil pengasuh ya, buat bantuin kamu jadi kamu bisa istirahat kalau siang bagaimana?”


”Tunggu nanti sajalah Bang, kalau memang Hana gak kuat baru Hana akan meminta tolong sama Bang Malik buat carikan baby sitter,” ucap Hana.


”Baik jika maumu begitu, Abang nurut saja sih. Segera istirahat atau kamu mau nambah berapa ronde lagi?”


Hana melotot mencubit perut Malik karena gemas dengan ajakannya itu, berbeda dengan Malik yang justru tertawa lepas melihat wajah Hana yang merah merona.


Hana terlelap begitu saja sedangkan Malik keluar kamar memeriksa kedua putranya yang berada di kamar sebelahnya. Betapa terkejutnya dia melihat baby Aydan sedang bermain sendirian di dalam box bayinya.


"Astaga maafkan papa Sayang, kamu jadi terbangun ya," ucap Malik seraya menggendong baby Aydan.


Malik membawanya ke dapur dan membuatkan susu untuknya, dia tidak mau membangunkan Hana yang baru saja terlelap tidur.


”Den Malik ngapain malam-malam begini di dapur? Ya ampun itu kan baby Aydan, sini Bik Surti gendong dulu.” Bik Surti mengambil alih bayi itu dari gendongan Malik.


”Mungkin dia lapar Bik, popoknya juga gak basah kok jadi saya mau buat susu untuknya Hana baru saja tidur kasihan kalau dibangunkan.”


Dengan cepat Malik membuat susu untuk bayinya. ”Bik Surti kenapa bangun, apa haus juga?”


"Iya tadi sekalian mau ngecek apa lampu sudah pada dimatikan semua, ternyata masih hidup dan Den Malik yang sedang disini.”


Malik mengambil alih anaknya dan kembali ke kamarnya. ”Bik Surti istirahat lagi gih, biar besok gak kesiangan.”


”Iya.”


Malik sendiri sebenarnya lelah apalagi pekerjaannya di kantor sedang banyak-banyaknya tapi melihat wajah polos putranya yang sedang menyusu di lengannya membuatnya kembali tersenyum kecil. Dia tidak mengira jika dirinya akan diberi dua orang putra yang semuanya lucu lagi menggemaskan.


***


”Pagi Ma,” sapa Alvin.


”Loh kamu gak kerja?” Rita melirik ke arah jam di dinding.


”Alvin ijin gak masuk Ma,” ucap Alvin.


”Kamu sakit?” Rita menyentuh kening Alvin. "Adem aja, loh gak demam.”


Alvin tersenyum melihat mamanya masih saja mengkhawatirkan dirinya, ”Alvin memang sengaja gak masuk Ma, ada urusan di luar.”

__ADS_1


”Urusan apalagi, Alvin mama sudah kasih tahu kamu berapa kali untuk tidak bermain-main lagi di luar sana kamu itu sudah dewasa loh.”


”Alvin tahu kok Ma, makanya sekarang Alvin keluar pun mau ijin sama mama,” ucap Alvin.


”Memangnya kamu mau pergi kemana?”


”Sama Angela Ma, boleh ya?”


Rita menghentikan kegiatannya yang sedang mengolesi selai di atas roti tawarnya.


"Kamu yakin dengan dia?”


”InsyaAllah Ma,” jawab Alvin.


"Mama boleh gak kasih kamu calon lain?”


Alvin mengangkat wajahnya menatap Rita intens. ”Maksud mama apa ya?”


”Mama juga punya calon untukmu, bisakah kamu melihatnya lebih dulu setelah itu kamu boleh memilihnya sendiri.”


”Astaghfirullah Ma, kenapa mama mau lakuin itu kasihan kan jika nanti aku tidak memilihnya,” seru Alvin kesal.


”Dengarkan mama dulu Alvin!”


”Ma, sudah jelas Ma. Jika nanti kenyataannya dia menyukai Alvin dan Alvin sama sekali tidak suka dengannya apakah itu tidak dzolim namanya.”


”Apa ini Ma?” Alvin membacanya dengan teliti biodata ta'aruf yang diberikan mamanya padanya.


”Itu biodata putrinya Ustad Amir yang sekarang sedang berada di Jakarta, jika kau bersedia menemuinya ta'aruf dengannya maka segera buat biodata milikmu mama akan kasih ke dia. Cantik kan orangnya gak kalah cantik sama Angela, mama suka dia.”


Alvin merasa dunianya runtuh mendengar kalimat Rita, apakah itu tandanya dia tidak setuju soal hubungannya dengan Angela.


”Apa mama memintanya pada Pak Amir di Jogja? Dia masih anak kecil Ma,” kilah Alvin.


”Tidak mama mendapatkannya dari kakakmu Hana, karena dia masih peduli denganmu makanya dia ingin yang terbaik untukmu," seru Rita.


”Mama kebangetan sih, kenapa tidak minta pendapatku lebih dulu sebelum melakukan semua ini,” kesal Alvin.


”Bagaimana mama mau meminta pendapatnya sedangkan kamu tidak pernah ada di rumah bahkan kau lebih suka bersama dengan Angela mu itu!”


"Ma, dia sedang sakit dan butuh aku makanya aku lebih sering bersama dia,” ucap Alvin.


”Oke, kalau begitu temui dia besok sore alamatnya ada di belakang biodata itu, setelahnya terserah kamu mau memilih dia atau Angela.”


Alvin geram kenapa kakaknya ikut-ikutan masalah percintaannya padahal dia sama sekali gak pernah ikut campur masalah keluarganya.


”Baik jika itu mau mama, Alvin akan temui dia besok sore. Mama puas sekarang?”

__ADS_1


”Baik terima kasih putraku yang cakep, mama akan segera mengabari anaknya.”


Alvin pergi meninggalkan rumah, tujuannya satu ke rumah Hana kakaknya. Begitu sampai di rumah Malik, Alvin langsung mencari Hana dan melupakan keberadaan Malik yang berada di meja makan bersama dengan Emil dan baby Aydan.


”Kak,” teriak Alvin membuat semuanya terkejut terlebih Hana yang tidak biasanya mendengar Alvin meneriakinya seperti itu.


”Ada apa?” tanya Hana masih tidak sadar jika adiknya sedang tersulut emosi.


”Apa kamu sudah sarapan? Duduk nanti aku buatkan sandwich kesukaanmu.”


”Kak Hana tega ya lakuin ini sama aku.”


Hana menatap Alvin bertanya-tanya kenapa adiknya seperti itu. ”Ada apa?”


”Kenapa kak Hana mau menjodohkan diriku dengan putrinya Ustad Amir? Bukankah kakak sendiri menolak menikah dengan kakaknya Ustad Jaka.”


”Kamu salah paham Vin, duduk dulu aku akan jelaskan semuanya padamu,” ucap Hana.


”Telat kak, aku benci kamu kak,” seru Alvin.


”Astaghfirullah, kakak itu gak ada maksud mau jodohin kamu sama dia. Itu mama sendiri yang memintanya padaku karena kebetulan kita ketemu di mall tempo hari waktu aku beli susunya Aydan, dan asalkan kau tahu Alvin yang mau mama jodohkan itu lulusan Al Azhar dia baru pulang dari sana.”


”Alvin gak peduli kak dia mau lulusan mana apakah kalian tidak memikirkan perasaanku?”


”Kamu salah, justru karena aku care sama kamu mana mungkin seorang kakak ngebiarin adiknya terjerumus dalam lingkaran dosa. Asalkan kamu tahu Vin, kakak gak suka dengan caramu main tidur di apartemen orang apalagi dia perempuan, meskipun kalian tidak melakukan apapun itu bukan jaminan ke depannya kalian bisa menahan diri.”


”Sudahlah kalian jangan ribut pagi-pagi begini, kasihan tuh ada anak kecil di sini juga,” sela Malik melerai pertengkaran keduanya.


"Abang gak tahu mana mungkin faham.” Alvin segera pergi begitu saja hal itu membuat Hana semakin merasa bersalah dan menangis.


”Sudahlah, biarkan saja dia pergi. Orang sedang emosi lebih baik dibiarkan dulu.” Malik merengkuh tubuh istrinya yang sedang menangis.


”Tapi Bang, dia sudah salah faham.”


”Iya Abang tahu itu, nanti Abang akan bantu jelaskan padanya, sekarang urus si kecil saja ya,” bujuk Malik dia tak ingin istrinya bersedih.


”Emil ayo kita berangkat Sayang,” ajak Malik.


Emil masih menatap Hana yang masih meneteskan air matanya. ”Mama jangan sedih dong kan ada Emil sama dek Aydan.”


”Abang berangkat Sayang, ingat apapun itu pasti ada solusinya.”


Hana mengangguk pasrah dengan apa yang akan terjadi kesalahannya sendiri memang mengatakan pertemuannya dengan Untari gadis cantik anaknya Pak Amir tetangganya di Jogja.



Penampakan putrinya Ustadz Amir adiknya adiknya Jaka.

__ADS_1


__ADS_2