
Malik tengah mondar-mandir di ruangannya kerjaannya menumpuk sedangkan Alvin tidak bisa bekerja hal itu membuatnya harus ekstra teliti karena dia ikut mengambil alih pekerjaan tersebut karena Faris sendiri pun sedang tidak berada di kantor. Dia pergi bersama adiknya Sabrina ke luar negeri.
”Apa aku minta bantuan Hana saja ya,” gumam Malik.
Dia sendiri terlalu lelah karena beberapa hari tidak bisa tidur dengan baik, Aydan yang demam kemarin membuatnya ikut begadang bersama Hana.
”Bagaimana ya baiknya?”
Alvin tidak akan bisa bekerja dalam beberapa bulan ke depan dan tidak mungkin dia membiarkan posisinya kosong apalagi sampai berbulan-bulan lamanya, mencari pekerja yang jujur dalam waktu singkat pun akan sangat sulit dan pasti butuh waktu buat mereka beradaptasi di kantornya.
”Pak Basuki, bagaimana menurut bapak soal hal ini?” tanya Malik begitu Pak Basuki masuk ke ruangannya.
”Tidak masalah jika Bu Hana mau membantu, biar nanti saya desain ruangannya sedikit berbeda dari biasanya.” ucap Pak Basuki.
”Maksud Pak Basuki apa ya?”
”Ruangannya akan saya pindah di sebelah ruangannya Pak Malik, saya akan sediakan box bayi biar nanti putranya Pak Malik bisa diajak ke sini saya yakin Bu Hana gak akan tega meninggalkan putranya yang masih kecil,” papar Pak Basuki.
Malik mengangguk, ”Ide bagus Pak, tapi saya sendiri pun belum bilang sama dia soal hal ini.”
”Pak Malik konfirmasi dulu, apa Bu Hana bersedia jika beliau mau saya akan segera merubah ruangannya.”
”Baik kalau begitu terima kasih banyak Pak Basuki.”
Pria paruh baya itupun segera keluar begitu urusannya telah selesai. Malik pun segera menghubungi Hana namun tak ada jawaban yang dia dapatkan, Malik pikir Hana sedang sibuk dengan kedai putranya membuatnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi wanita itu.
”Sebaiknya aku bicara langsung saja padanya itu lebih baik dan tidak membuat kesalahpahaman nantinya,” ucap Malik dalam hati.
***
Hana dan Eric berbalik melihat Ayu tengah berkacak pinggang menatap keduanya penuh kebencian.
”Ayu ... kebetulan sekali kau ada di sini, balikin uangku sekarang ayo!”
”Kamu punya bukti kalau aku yang ambil uangmu?” bantah Ayu membela diri.
”Sebaiknya kalian selesaikan urusan kalian di rumah malu dilihat banyak orang,” ucap Hana menunjuk pada beberapa orang yang sedang menonton dia segera pergi khawatir ikut viral karena beberapa orang mulai memvideokan kejadian itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah kenapa mereka tidak juga berubah!” pekik Hana dia segera menjemput Emil dan membawanya ke rumah Rita mamanya.
Emil terus saja menggoda Aydan di kursi belakang sedangkan Aydan tersenyum-senyum karena tingkah kakaknya. ”Ma, Emil mau es krim boleh ya!”
”Boleh dong tapi nanti ya di rumah Oma, di sana ambil sendiri es krim miliknya Om Alvin di kulkas ada kok,” ucap Hana.
”Asyik,” teriak Emil heboh sendiri.
Begitu Hana sampai dia langsung melihat Alvin dan Untari yang sedang berada di teras.
”Kenapa gak masuk saja ke rumah?”
”Mama sedang gak ada di rumah, Untari gak mau ya udah, ada papa kok di dalam,” jawab Alvin yang masih duduk di kursi roda.
”Om punya es krim gak?” tanya Emil.
”Gak ada, udah om habiskan! Minta sama oma, bilang mama suruh telpon oma buat beli kan masih ada di supermarket sekarang,” jawab Alvin ketus membuat Emil cemberut mendengar perkataannya.
Untari menggelengkan kepalanya melihat sikap Alvin. ”Kau terlalu kekanak-kanakan, kau lihat dia langsung berlari jika dia menangis bagaimana?”
”Udah kamu pulang saja sana, lagipula kakakku udah datang kok,” ucap Alvin giliran ketus dengan Untari.
Semenjak kecelakaan yang dialami oleh Alvin, pria itu memang semakin tertutup apalagi dengan kondisinya sekarang yang harus duduk di kursi roda membuatnya semakin tidak percaya diri karenanya.
”Kamu ngusir nih ceritanya?”
”Baiklah jika kamu gak mau ketemu sama aku gak masalah kok, tapi jangan nyesel ya!”
Untari segera masuk ke rumah mencari Hana dia berencana mau pamitan dengannya.
”Kok cepet padahal aku kan baru datang, pasti Alvin ngeselin kamu ya?” ucap Hana.
”Ya begitulah Mbak, aku pulang sekarang ya. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Niat hati ingin menghibur Alvin, Untari harus kecewa karena Alvin masih saja bersikap cuek padanya padahal dia bela-belain datang di hari liburnya.
__ADS_1
”Bang Malik gak ikut ke sini mbak?” Alvin melakukan sendiri kursi rodanya masuk ke ruang tamu.
”Gak dia lembur hari ini, aku juga jemput Emil sendiri ke tempat lesnya. Vin, kamu itu jangan jaim sama Untari bisa kan? Kasihan loh dia jauh-jauh datang ke sini buat nengok kamu, eh malah kamu gitu sama dia. Dia tuh anak orang!”
”Apa yang dikatakan sama kakakmu benar Vin, papa perhatikan kamu bersikap dingin sama dia, jangan bilang kamu gak suka dia ya, sejak dia datang papa perhatikan kalian dari dalam kamar.”
Alvin langsung mengangkat wajahnya mendengar pengakuan Pak Soleh. ”Jadi papa sejak tadi ngintip kita berdua? Astagfirullah, kayak gak pernah muda aja!” ucap Alvin berdecak kesal dengan penuturan papanya.
”Ya gimana lagi mana ada tamu datang didiemin terus gak diajak ngobrol justru yang aktif ngajak bicara itu malah Untari, memangnya kamu lagi sariawan sehingga gak buka mulut kamu buat bicara? Kalau aku jadi Pak Amir udah aku suruh pulang saja dia, menyebalkan sekali.”
”Sudah Pa, mau marahin Alvin kayak apapun kalau Alvin sendiri gak ada kemauan untuk berubah ya percuma Pa, capek doang!” ucap Hana.
”Ya ampun kak, jangan mengompori papa dengan bicara seperti itu, memangnya kak Hana tahu isi hatinya Alvin dan Untari? Papa juga kenapa pakai ngintip segala!”
”Kalian ini bicara apa sih kok ribut sekali kedengaran sampai ke depan loh,” tegur Rita yang sejak turun dari taxi sudah mendengar pertengkaran tersebut. .
Hana tak mau ambil pusing segera mengambil putranya dan masuk ke kamarnya untuk istirahat bersama.
”Mana Untari, ada dia sudah pulang?” tanya Rita.
”Dia itu gak pulang Ma, tapi anakmu ini mengusirnya dengan cara yang sangat halus sekali,” seru Soleh.
”Apa benar itu Vin, jawab mama!”
Alvin bungkam alhasil Soleh sendiri yang membeberkan sikap Alvin pada gadis itu Rita terkejut mendengarnya, dia tidak percaya jika Alvin seperti itu terhadap Untari gadis pilihannya untuk Alvin putranya itu.
”Mama gak mau tahu pokoknya kamu harus minta maaf sama dia besok!” seru Rita.
”Kenapa harus nunggu besok Ma, jaman sekarang sudah canggih kok. Pakai ponsel juga bisa,” usul Soleh memberi solusi karena dia yakin bertemu langsung Alvin takkan mau melakukannya karena dia terlalu gengsi!
”Tidak bisa mama gak mau, maunya kau bicara dengannya langsung tidak ada bantahan jika kamu gak mau disebut anak durhaka.”
”Udah papa sama mama jangan berdebat kepala Alvin jadi pusing nih,” ucap Alvin seraya meringis membuat kedua paruh baya itu kembali khawatir.
Dengan malas dia meraih ponselnya dan menghubungi Untari.
” ... ”
__ADS_1