Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
107. Alvin Melamar


__ADS_3

”Jika kalian ada masalah selesaikan dengan baik, kasihan anak-anak,” ucap Maryam menasehati anak-anaknya.


”Bang Malik yang mulai duluan Ma, Hana sendiri gak mau begitu. Jika saja dia jujur di awal kan gak masalah.”


”Tuh kan mulai lagi perasaan Abang udah minta maaf semalam loh kok masih diungkit lagi,” keluh Malik yang tidak terima Hana kembali protes.


Maryam menarik nafasnya, ”Malik, apapun itu tetap kamu yang salah. Mama juga tidak membenarkan tindakanmu itu.”


Mendadak Malik menjadi pusing karena kedua wanitanya kembali menyudutkannya dengan kesalahan-kesalahan yang telah dia akui, Malik menggaruk tengkuknya kembali merasa bersalah, ”Tahu lah pusing aku jadinya.”


Malik berbalik kembali ke kamarnya membangunkan putra keduanya dan bermain-main dengannya itu lebih baik menurutnya daripada harus bersama dengan dua wanita yang sedang tidak baik-baik saja.


”Kamu udah maafin dia kan?” Maryam menatap Hana dia tak ingin menantunya terus menyudutkan putranya.


”Sudah kok Ma, biarkan saja dia begitu Bang Malik kebiasaan sih sudah beberapa kali dia bohong soal Tante Lani padahal jika dia jujur Hana gak akan marah kok.”


Maryam memahami perasaan Hana mau bagaimana lagi jika menantunya mau seperti itu, asalkan putranya tidak ditinggalkan begitu saja Maryam ikhlas Malik dihukum oleh istrinya.


”Ma, Hana boleh nginap lagi kan?” tanya Hana memohon pada Maryam.


”Tidak boleh Nak, pulang dan urus suami kamu itu. Ingat jangan sampai mama dan papa kamu tahu bisa-bisa Malik digantung!”


”Tidak akan percaya deh sama Hana, mama sama papa gak mungkin begitu apalagi Bang Malik itu menantu kesayangan mereka.”


”Syukurlah jika demikian, buruan habiskan sarapannya kalau Emil boleh kan tinggal di sini beberapa hari dia kan sedang liburan sekolah?”


”Terserah dia saja jika dia mau silakan saja.”


Hana kembali ke kamar menemui anak bungsunya yang dia kira masih tertidur tapi justru sedang bermain dengan Malik suaminya.


”Ya ampun Dek, kok Abang biarin dia bermain sendirian?” protes Hana melihat Aydan duduk di samping Malik yang tengah rebahan.


”Biarkan saja toh Abang juga jagain dia kok.” Malik mengurai senyum manakala Aydan tersenyum padanya seakan dia dan Malik adalah teman bermainnya.


”Sini rebahan di sini, temani Abang jagain dia,” ucap Malik menepuk sisi ranjang.

__ADS_1


Hana tidak menolak dan lebih memilih Aydan di tengah agar anaknya itu tidak jatuh membuat Malik sedikit memberengut karenanya padahal dia ingin sesekali menggoda istrinya itu.


”Jika dikasih bayi lagi apakah kamu mau?” tanya Malik seketika membuyarkan lamunan Hana.


”Eh, memangnya Abang mau anak lagi?”


”Iya tentu saja, kalau perlu yang banyak ya karena Abang mau saudara anak-anak kita banyak.”


”Tapi Hana gak mau Bang karena punya anak banyak pasti capek dan yang paling penting kasih sayang buat mereka, aku khawatir tidak bisa membagi waktu dan juga rasa.”


”Kita ke rumah mama Rita ya nanti, ada yang mau aku omongin sama beliau.”


”Soal adikmu?”


Hana mengangguk, ”Sudah bisa ditebak sih, tapi nanti ya setelah aku ketemu sama mama Lani, Abang akan jelaskan semuanya biar gak ada salah paham di antara kita oke.”


***


Alvin menatap cermin berkali-kali memantapkan dirinya sendiri siang ini dia akan ke rumah Untari setelah semalam dia gagal pergi karena hujan yang tak kunjung reda, dirinya begitu bersemangatnya sehingga tidak menyadari jika Rita mamanya sudah ada di belakangnya.


”Jadi dong Ma, sudah tampan begini masa gagal Ergo kalau semalam itu Alvin masih bisa ngertiin tapi sekarang. No way! ayo pergi sekarang.”


Alvin yang menjadi sopirnya menuju ke rumah Untari. Setibanya di sana keadaan rumah nampak sangat ramai membuat Alvin curiga terlebih kenapa Ahmed juga ada di sana.


”Vin? kita gak salah rumah kan?” Rita menanyakan ulang alamat rumahnya pada Alvin dia khawatir salah tempat.


”Tidak, itu Untari sebentar Ma.” Alvin menghampiri mereka Untari hampir saja menangis mengetahui kedatangannya.


”Apa yang terjadi?” bisik Alvin.


”Syukurlah kau sudah datang, mana kedua orang tuamu? Ajak mereka ke sini sekalian,” balas Untari.


Alvin segera mengajak kedua orang tuanya masuk ke rumah tersebut dan menjelaskan maksud kedatangan mereka ke sana. Geram tentu saja Ahmed kecewa karena Untari menolaknya dan justru lebih memilih pria lain daripada dirinya.


”Maaf kan saya, tapi sungguh saya tidak bisa menerima Anda sebagai seorang suami karena berbagai pertimbangan dariku sendiri maupun keluarga,” ucap Untari ada Ahmed mau bagaimana lagi Untari tidak mau terikat dengan pria itu selain jauh dia tidak mencintainya.

__ADS_1


”MasyaAllah Mas Soleh, sebenarnya saya malu sendiri jika Mas Soleh nanti yang akan jadi besan saya,” ucap Ustadz Amir.


”Ini sudah takdir Tadz, kita gak bisa menjodohkan si sulung namun si bungsu yang berjodoh mau bagaimana lagi?” balas Soleh.


Jaka yang ada di sana merasa tersinggung dan unsur diri karena malu, dia telah gagal mendapatkan hati Hana, bukan karena dia kurang tampan tapi memang belum berjodoh dengan Hana. Setelah penolakan itu pun hingga saat ini dia belum menikah karena belum menemukan sosok calon istri pengganti seperti yang dia mau, lebih tepatnya seperti Hana gadis pujaan hatinya.


”Kamu sudah mantab kan Nak Alvin?” tanya Ustadz Amir.


Alvin hany mengangguk dan mengulas senyum dia terlalu malu mengakui perasaannya.


”Baiklah jika memang demikian, kami selalu orang tua hanya bisa merestui hubungan kalian karena tidak mungkin kami melarangnya kan? Jadi kapan kau akan melamar putriku?”


Mendengar hal itu Alvin mengangkat wajahnya dan menatap Ustadz Amir dengan mimik serius. ”Sekarang saya melamarnya Ustadz, silakan tentukan hari baiknya buat kami berdua menikah.”


Soleh dan Rita senang karena putranya telah dewasa dengan mengambil langkah menikah berarti dia telah siap menghadapi masalah yang akan hadir dalam sebuah hubungan yang bernama ’rumah tangga' apalagi Soleh dia sangat bangga dengan keputusan Alvin sebagai seorang laki-laki yang mau mengambil alih tugas seorang ayah pada dirinya sendiri karena pada akhirnya Untari akan menjadi tanggung jawabnya.


”Kapan sebaiknya Mas Soleh? Silakan panjenengan (Anda) yang memutuskan kami pihak keluarga putri menurut saja,” ucap Ustadz Amir yang menyerahkan segala urusan pada pihak keluarga lelaki.


Soleh menoleh pada istrinya Rita, ”Secepatnya.”


”Bagaimana jika besok pagi kita adain ijab qabulnya lebih dulu Tadz?” sambar Alvin yang sudah tidak sabar ingin segera bersama dengan Untari.


Semua yang ada di sana saling pandang kenapa Alvin begitu ngebet pada Untari dan hal itu justru membuat para orang tua curiga terhadapnya.


”Kenapa kau begitu bernafsu ingin segera menikah Nak? Bukankah lebih baik tentukan dulu waktunya dengan baik,” usul Soleh.


”Bukankah semua hari itu baik, bukankah demikian Pak Ustadz?”


Giliran Ustadz Amir yang bingung dengan sikap Alvin itu, ”Eh iya, Nak Alvin benar jadi besok ya kamu mau akad nikah dulu?”


Kedua orang tua Alvin kebingungan dengan sikap putranya itu bukankah menikah perlu persiapan sedangkan mereka berdua belum menyiapkan apapun di rumahnya. Apakah Alvin sudah tidak waras karena dua kali gagal sehingga tidak mau berulang untuk yang ketiga kalinya.


”Baiklah besok pagi kita nikahkan mereka berdua.”


Deal.

__ADS_1


__ADS_2