
Malik mengambil sikap tegas apalagi dia sendiri tak mau disalahkan jika Alvin kembali terluka meskipun pada dasarnya jodoh sudah ada yang mengaturnya, Malik dikit tidak ada salahnya membantu adik iparnya itu.
”Jangan becanda Bang, gak lucu lagipula siapa yang akan menikah?” bantah Alvin.
”Hem, jadi kamu menolaknya? Kamu sendiri bagaimana?” Malik menatap Untari.
”Maaf Pak Malik, saya tidak bisa ambil keputusan sepihak karena saya masih memiliki orang tua di Jogja dan lagi kita gak ada hubungan apapun kok, beneran Pak Malik.”
Malik terdiam mendengar penjelasan Untari lalu setelah ini apakah dia akan tetap melanjutkan niatannya menjodohkan keduanya.
”Oke jika memang kalian benar-benar gak ada hubungan apapun saya akan mencoba mengerti tapi jika terbukti kalian ada affair di belakang saya dan lagi masih satu kantor maka saya gak akan segan-segan menendang kalian dari kantorku, hal yang sama seperti tahun kemarin.”
”Baik bos, maafkan kami.” Untari terlihat lebih dewasa daripada Alvin dilihat dari caranya kembali ke ruangannya tanpa disuruh lagi berbeda dengan Alvin yang masih saja duduk santai seakan tak menggubris permintaannya.
”Ck! Kau berlebihan Bang, masa sama adik sendiri begitu, ini namanya gak adil,” keluh Alvin.
Malik mengangkat alis kanannya mendengar kalimat protes dari adik iparnya itu, ”Apa maksudmu Alvin?”
”Bang, memangnya Abang gak ingat jika Kak Hana dan Abang dulu juga satu kantor dan kalian menikah juga.”
”Jadi ini yang kau maksudkan dengan tidak adil.” Malik berkacak pinggang menatap Alvin, ”Di sini siapa bosnya?”
”Bang Malik.”
”Ya udah berarti suka-suka saya dong mau bagaimana?”
”Dah lah Alvin mau balik kerja saja, pusing bicara sama orang cerdas suka diputar-putar ujungnya hasilnya sama gak mau kalah.”
”Dasar anak muda,” pekik Malik ingin kesal tapi dia adik iparnya tidak mungkin dia berlebihan Alvin karena bagaimanapun dia menyukai pemuda itu sebagai seorang adik.
Malik pernah menginginkan adik laki-laki, sayangnya Maryam dan Daniel lebih dulu bercerai setelah dua tahun Sabrina lahir dan itu membuatnya harus menjadi seorang ayah. sekaligus kakak hal yang tidak pernah dibayangkan olehnya menjaga mama dan adiknya bersamaan.
Suara langkah kaki menginterupsi pendengaran Malik seketika dia melihat siapa yang datang.
”Ada apa Faris?” Faris menunjuk ke belakang di sana ada Eric dan Bayu adiknya Eric. Malik hanya mengangguk dan menyuruh Faris untuk pergi.
”Ada apalagi?” Malik melepas kacamatanya di atas meja lalu menyuruh kedua tamunya untuk duduk di sofa.
”Maaf mengganggu waktunya, kami ke sini untuk memastikan kepastian dari lamaran yang kemarin saya titipkan pada Bu Hana.”
Malik diam mengamati Eric dan adiknya Bayu, ”Memangnya pendidikan terakhirmu apa?”
__ADS_1
Eric terlihat sedang menahan kesal, ”Jadi Pak Malik belum mengecek data informasi yang ada dalam berkas lamaran itu?”
Malik mengedikkan bahunya, ”Belum,” jawab Malik santai.
Eric ingin marah namun mengingat dia sedang membutuhkan bantuannya Bayu adiknya ingin segera bekerja membantu ekonomi keluarganya terlebih Dewi sudah sakit-sakitan.
Malik menghembuskan nafasnya, ”Kamu bisa bekerja di sini tapi tetap harus melewati prosedur yang berlaku, silakan ke pihak HRD-nya besok pagi jam sembilan biar Pak Hasan yang akan menanganinya.”
”Jadi bukan Anda sendiri yang langsung memberikan tes tersebut?” tanya Bayu.
”Tidak, saya hanya memeriksa hasil tesnya saja jika kamu layak maka saya akan menerimanya sebagai pegawai.”
Bayu memandang ke arah Eric sejenak lalu kembali menatap Malik. ”Kalau begitu saya akan kembali lagi besok pagi jam sembilan sesuai jadwal dan saya usahakan tidak akan telat waktu.”
Keduanya pamit dan sebelum Eric benar-benar pergi, Malik mengatakan sesuatu yang bikin Eric sedikit kesal.
”Ternyata adikmu lebih unggul darimu Eric.”
Eric pun berbalik menatap ke arah Malik, ”Jika semua orang sama maka dunia ini takkan berwarna Pak Malik, begitu juga dengan Anda dan Hana saya harap kalian bisa bertahan lama. Setiap orang memiliki plus dan minus, bukan jadi jangan saling mencari celah dan saling menjatuhkan. Anda masih cemburu kan karena Hana masih bisa memaafkan saya meskipun saya udah bikin dia kecewa. Karena saya cinta pertamanya,” bisik Eric membuat Malik tiba-tiba mengepalkan tangannya di samping.
Eric pergi dengan senyuman mengejek pada Malik, dia merasa puas karena dapat membalas Malik tanpa harus keluar banyak tenaga.
***
Malik pun menyambut Emil dengan merentangkan kedua tangannya memeluk tubuh kecil tersebut. ”Bagaimana harimu Sayang, kamu senang mama Hana di rumah seharian buat kamu?”
”Tentu Pa, makasih ya udah kasih mama banyak waktu tinggal di rumah.”
”Udah pulang Bang,” sapa Hana langsung salim takzim seperti biasanya.
”Iya, duh baby Aydan udah mandi ya,” goda Malik melihat putranya yang sedang digendong Hana.
”Udah dong papa sih pulangnya telat dari tadi dedek tungguin papa gak puyang-puyang,” canda Hana membuat ketiganya tertawa.
”Abang mandi dulu gih, makan malam udah siap loh.”
”Baik, nanti habis makan malam jangan langsung tertidur ya ada yang mau Abang bicarakan denganmu.”
Malik meninggalkan ketiganya, Hana segera mengambil nasi terlebih dahulu untuk Emil karena dia butuh waktu lebih lama dengan yang lain.
”Ma, besok masakin capcay atau bikin cookies lagi dong, udah lama loh mama gak bikin itu. Apalagi ada baby Aydan mama apa pernah bikin makanan kesukaan Emil?” protes anak kecil yang akan menginjak enam tahun itu.
__ADS_1
”Maaf ya, besok mama usahain. Sekarang Abang habiskan makanannya setelah itu istirahat ya, besok kan sekolah!”
”Baik Ma,” sahut Emil menurut dengan perkataan Hana. Hampir setengah jam pula Malik baru keluar dari kamarnya dengan setelan piyama senada dengan Hana.
”Kenapa lama sekali sih Bang,” keluh Hana.
”Maaf tadi Abang kan harus beres-beres dulu jadinya ya lama,” sanggahnya melirik ke arah Aydan yang masih lincah seperti tidak merasakan lelah setelah seharian bermain dan sepertinya Malik harus kembali begadang lagi malam ini. Malik menyantap makan malamnya sesekali dia menggoda putra bungsunya.
”Memangnya ada hal penting apa Bang?”
”Oh itu soal adikmu Alvin.”
”Kenapa dengannya, bukankah hari ini dia ada masuk kantor. Apa dia bikin kesalahan?”
”Sssttt ... Abang belum selesai bicara kamu udah menyela duluan,” ucap Malik.
”Maaf Bang, soalnya Hana khawatir saja jika anak itu bikin kesalahan di hari pertamanya kerja. Dia juga kan masih sakit masa iya harus kerja seharian penuh,” ujar Hana sengaja meminta keringanan untuk adiknya.
”Sakit apanya, sakit kok masih godain anak orang di kantor,” cibir Malik.
”Hah, maksudnya gimana Bang?”
”Makanya dengerin Abang dulu dong, Abang belum selesai bicara loh!”
”Baik, maafkan Hana kalau begitu katakan pada Hana apa yang sebenarnya terjadi di kantor segera ceritakan Bang jangan bikin aku penasaran,” desak Hana.
”Aku lihat dia godain Untari terus dari kapan hari itu.”
”Lalu responnya bagaimana?”
”Respon?”
”Ya responnya Untari.” Hana kesal karena Malik seakan kurang cepat tanggap dengan perkataannya.
”Biasa aja!”
Hana menepuk jidatnya sendiri mendengar perkataan Malik.
”Kok jadi kamu yang sibuk dengan hubungan mereka?”
”Hana gak mau aja keduanya sama-sama terluka Bang, makanya Hana juga harus memastikannya lebih dulu.”
__ADS_1
”Bagaimana jika kita nikahkan saja mereka berdua secepatnya daripada bikin mudharat!”
”Abang yakin ini adalah solusi?”