
Terkadang sesuatu terjadi di saat kita sedang tidak ingin melakukannya. Itulah yang sedang dialami oleh Alvin dia mendapatkan hadiah dari Malik tiket PP ke Bali, apakah dia harus bahagia?
Alvin menghampiri Untari begitu keluar dari ruangannya. ”Apa jadi nonton?” tanya Alvin menuju meja istrinya.
”Bagaimana baiknya jika mau nonton silakan,” balasnya mengurai senyum membuat Alvin gemas karena senyum manisnya itu.
”Ayo!” Alvin mencoba mengalihkan rasa sedihnya tujuannya satu saat ini membahagiakan istrinya karena dia mendapatkannya dengan susah payah setelah perdebatan dengan Ahmed. Tak ada yang tahu akan hal ini sehari sebelum Alvin meminang Untari dia lebih dulu menemui pria itu di hotel tempat dia menginap. Alvin cukup bernyali dengan mendatanginya karena satu harapan tak ingin kembali kehilangan apa yang ingin dia miliki setelah dia kali gagal.
Ahmed yang awalnya bersikeras tidak akan melepaskan Untari akhirnya menyerah setelah berbagai pertimbangan.
"Mau nonton apa?" tanya Alvin.
”Apapun itu asal jangan horor aku gak berani.”
Alvin mengangguk setelah mendapat jawaban dari Untari. ”Drama romantis ya?” ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Untari tersipu.
Keduanya masuk ke ruangan memilih tempat duduk yang nyaman. Untari menyandar kepalanya pada dinding di sebelah kanannya membuat Alvin bergerak cepat dengan menariknya perlahan ke bahunya.
”Kamu lelah ya?” tanya Alvin.
”Sedikit.”
Keduanya pun terhanyut dalam kisah percintaan yang sedang diputar. Hingga pukul delapan keduanya baru keluar. "Bagaimana filmnya? Ya ampun kamu nangis?” Alvin berhenti dan mengambil tisu lalu membersihkan sisa air mata di wajah Untari.
”Sedih sih gak tega aku lihat protagonis wanita menderita karena ulah kekasihnya.”
Alvin tergelak, ”Udah jangan baper yuk makan malam habis itu pulang ya!” Alvin mengajak makan di sekitar gedung cinema 21 tubuhnya juga sudah lelah malas untuk berjalan jauh.
”Oh iya, kita dapat ini dari Bang Malik.” Alvin menyodorkan sebuah amplop coklat pada Untari setelah memesan beberapa makanan pada pelayan restoran.
”Apa ini?”
"Buka aja.”
Untari membukanya dan terkejut melihatnya, ”MasyaAllah ini beneran Bang?” Untari memperlihatkan tiketnya. ”Ini Paris loh.”
Alvin memperhatikannya lagi dengan seksama. ”Ya ampun Bang Malik nge-prank aku, tadi di kantor dia bilang ke Bali.”
”Aku yakin Bang Malik punya alasan sendiri kenapa dia bersikap begitu, bilang makasih gih!” pinta Untari.
”Ya nanti aku akan bilang sama dia, kamu makan banyak!” titah Alvin seraya memberikan piring yang sudah dia potong-potong daging steak-nya memudahkan Untari untuk menikmatinya.
”Makasih.”
__ADS_1
......................
Malik menyelinap ke dalam selimut Hana sudah terlelap lebih dulu karena terlalu capek dengan kegiatannya hati ini seharian dia mengurus Emil dan Aydan ditambah lagi dia bolak-balik ke rumah sakit membantu mengurus kepulangan Azizah.
Malik memeluk pinggang Hana dengan erat seakan tidak ingin jauh dari wanitanya tentu saja hal itu membuat Hana sedikit terganggu dan benar saja Hana menggeliat akibat perlakuan Malik.
”Abang belum tidur?” tanya Hana dengan suara seraknya.
”Belum.”
Hana berbalik menghadap Malik. ”Ada apa, cerita!”
"Gak apa, hanya pengen memelukmu saja.”
”Bohong pasti ada masalah,” desak Hana.
Malik pun akhirnya bersuara menceritakan semua hal tentang masalahnya belakangan ini dan yang lebih parahnya soal Lani yang sudah kabur ke luar kota.
”Sudahlah jangan dibahas lagi biarkan saja dia berbuat sesukanya semua pasti ada balasannya, percaya saja.”
”Syukurlah jika kamu ngertiin Abang, maafin Abang yang belum bisa sepenuhnya menjadi imam yang baik untukmu.”
”Lalu Abang mau pergi ke London?”
Hana membelalak mendengar perkataan Malik sejak kapan adiknya pergi gak bilang-bilang padanya. ”Dia mau ke Paris? Kok gak bilang padaku?”
Malik terkekeh melihat reaksi Hana yang berlebihan menurutnya. ”Memangnya setiap kegiatannya harus ijin dulu sama kamu, Abang kasih dia hadiah honeymoon ke Paris kok aku gak dapat?”
”Oh begitu ceritanya, mau kemana dah Abang jabanin!”
Hana kembali membelalak mendengar jawaban dari Malik. ”Abang yakin?”
Malik mengangguk, ”Tentu saja apa sih gak buatmu.”
”Aku mau ke Maldives!” Itulah keinginan Hana sebagai ganti bulan madunya dulu tertunda.
Giliran Malik yang terkejut mendengar keinginan Hana. ”Yakin mau ke sana?”
”Iya, baiklah tapi Abang gak janji ya tunggu waktu yang tepat untuk bisa pergi ke sana.”
”Tidur yuk, Abang ngantuk nih!” Malik semakin mengeratkan pelukannya pada Hana. Keduanya pun mengistirahatkan diri dalam keheningan malam.
”Mama," teriak Emil menggedor pintu kamar Malik.
__ADS_1
”Ada apa Sayang.” Hana membuka pintu melihat putranya sudah berdiri dengan pakaian rapi.
”Sekarang kan libur memangnya kau mau kemana?”
”Emil dijemput Oma mau diajak ke rumahnya, Emil mau main sama adik bayi.”
”Baiklah tapi jangan nakal ya.” Emil menjabat tangan Hana dan menciumnya. ”Hati-hati ya jangan merepotkan Oma dan Tante Sabrina.”
Rumah kembali hening, Hana bersiap membersihkan diri dan bersiap turun bergabung bersama Malik dan yang lainnya. Gamis rumahan dan jilbab instan dipakainya dengan sedikit polesan minimalis menambah kecantikannya.
”Selamat pagi.”
”Pagi Sayang, duduklah,” jawab Malik dengan suara beratnya.
Hana duduk di dekat Aydan yang sedang memegang biskuit bayi, wajahnya sudah belepotan penuh remahan biskuit padahal dia baru saja dimandikan oleh Malik.
”Sini mama lap dulu.” Hana mengambil tisu basah dan membersihkan area mulut dan pipi yang kotor.
”Siapa yang mandiin dia tadi Bang?”
”Aku dong masa orang lain, iya kan Sayang,” ucap Malik mengusap pipi gembul milik Aydan. ”Begini-begini papa yang paling rajin mengasuh putranya sendiri padahal papa sangat sibuk di kantor.”
”Iyain saja deh daripada gak dapat belanjaan bulanan,” ujar Hana.
Malik hanya melirik mulutnya masih penuh dengan makanan mereka asyik dengan candaan yang tidak ada habisnya.
”Kita ke mall, jalan-jalan yuk!”
”Mau traktir?”
Hana menganggu, ”Ayo!”
Malik mendorong kereta bayi sedangkan Hana berjalan di sampingnya. Begitu masuk mall, Hana langsung menuju pakaian bayi, hal itu tentu membuat Malik menggelengkan kepala. ”Tuh lihat mama kamu, kalau udah lihat baju-baju milikmu menggantung di etalase pasti langsung masuk keranjang!”
Aydan tersenyum entah faham atau tidak dengan perkataan papanya, namanya juga bayi! Malik menyusul Hana masuk mengikutinya lalu duduk di kursi yang disediakan untuk pelanggan. Beberapa paket baju sudah masuk ke keranjang, Hana juga memilih beberapa pakaian bayi perempuan untuk keponakan kecilnya.
”Sudah?” tanya Malik begitu melihat Hana dengan paper bag di tangannya.
”Kita ke toko mainan yuk!” ajak Hana sedangkan Malik hanya menurut pada Hana biarlah sesekali dia mengikuti keinginan wanitanya karena beberapa hari belakangan ini dia tengah disibukkan dengan pekerjaannya di kantor.
Ketiganya asyik di toko mainan sehingga tidak menyadari jika di samping mereka ada seseorang yang tengah mengamatinya. ”Wah semakin berjaya ya kamu, aku kira kalian tidak akan bertahan lama.”
Hana menoleh ke belakang, ”Apa maksudmu?”
__ADS_1