Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
39. Puasa Dulu


__ADS_3

”Ada apa Bang? Kok serius sekali?” tanya Hana menghampiri keduanya.


Malik mengerlingkan matanya pada Emil memberi kode untuk diam tidak bicara pada Hana, dia sendiri tak ingin Hana sedih mendengarnya.


”Gak ada Sayang, kok mandinya cepet sekali,” ucap Malik mengalihkan pembicaraan.


”Iya, aku gak mau Emil menungguku kelamaan kasihan tadi udah ditinggal masa sekarang gak diurusin lagi,” sahut Hana.


”Makasih Sayang, udah ngertiin kita.”


”Itu sudah jadi kewajibanku Bang, Emil udah ngantuk? Kalau udah segera istirahat ya, biar segera sembuh bukankah sebentar lagi mau masuk sekolah.”


”Iya Ma, tapi Mama tidur di sini ya jangan kemana-mana,” pinta Emil.


”Baik, Mama akan tetap di sini sama Emil sekarang berdoa dulu lalu bobo.”


Emil pun menurut dan segera memejamkan kedua matanya dalam pelukan Hana.


”Abang mau kemana?” tanya Hana melihat suaminya beranjak dari ranjang Emil.


”Ke kamar sebelah dulu ambil berkas pekerjaan yang belum kelar tempo hari,” jawab Malik.


”Kenapa?” sambungnya.


”Udah malam Bang, kan bisa dilanjutkan besok saja,” protes Hana.


Malik kembali menghampiri Hana, ”Memangnya kenapa kalau dikerjakan sekarang hem, Abang pengin besok bisa fokus sama kalian berdua.”


”Loh memangnya besok Abang gak ngantor?” tanya Hana dia sendiri akan ijin gak masuk dan sudah dipastikan seharian akan sibuk mengurus Emil karena yang dia tahu jika Emil sakit akan sangat manja padanya.


Malik menggelengkan kepalanya, ”Abang juga mau bersama dengan kalian di rumah. Sudah lama Abang menunggu moments ini.”


Hana bangkit dan memeluk Malik, ”Makasih ya, dan Hana minta tetaplah seperti ini jangan pernah berubah sampai nanti.”


Hana mendongakkan kepalanya menatap Malik membuat Malik tersenyum kecil mendengar penuturan Hana.


”Justru Abang yang meminta hal itu sama kamu, karena di luar sana banyak sekali yang ngarep sama kamu termasuk Ustadz Jaka.”


”Ceritanya Abang cemburu nih!”


”Kalau iya kenapa memangnya gak boleh cemburu sama istrinya sendiri, cemburu itu kan tandanya sayang.”


”Tapi gak boleh berlebihan!”


”Eits tunggu!”


”Apa?”


”Abang mencium bau-bau sesuatu nih.”


Hana mengerutkan keningnya, ”Maksudnya?”

__ADS_1


”Rambut kamu kenapa basah?” tanya Malik.


”Ya habis mandi kan basah kena air, kalau kering itu namanya bukan mandi,” jelas Hana.


”Iya Abang tahu tapi ini beda dari biasanya,” ucap Malik menyelidik.


”Beda gimana?” Hana semakin tidak mengerti.


”Apa masa haidmu sudah selesai?”


Hana segera melepas pelukannya dan menatap Malik intens.


”Baru juga selesai sih, semoga besok pagi udah beres.”


”Alhamdulillah berarti bisa dong kita berangkat honeymoon pekan depan?” tanya Malik.


”Tapi bukannya Emil sudah sekolah Bang? Kasihan kalau dia ditinggal apalagi masih awal-awal gitu karen biasanya akan banyak murid baru yang diantar oleh kedua orang tuanya nanti. Memangnya dulu Abang pertama kali ke sekolah sendiri?”


Malik diam sejenak, ”Abang gak pernah diantarkan oleh mama ataupun papa jadi memang benar-benar mandiri terlebih mereka berdua selalu berantem tiap hari.”


”Maaf.”


”Gak apa, baikan kita tunggu Emil masuk beberapa hari dulu ya baru kita pergi nanti biar aku minta Sabrina yang mengawasinya,” ucap Malik.


”Abang yakin? aku kasihan aja Bang jika dia harus sendirian sementara kita senang-senangnya di sana.”


”Sayang, tolong dimengerti ya kali ini aja. Aku hanya mau kita berangkat berdua saja, aku tidak yakin jika dia ikut dia tidak menganggu kebersamaan kita berdua. Ini juga hanya beberapa hari saja aku juga gak bakalan pegang pekerjaan karena semua akan Abang alihkan pada Pak Basuki dan Faris.”


”Kau ini begitu aja marah,” bisik Malik menyembunyikan wajahnya di tengkuk Hana dan menyesap wanginya.


”Aku gak marah Bang, tapi ... ”


”Tapi kesal iya kan?” potong Malik.


”Emil sedang sakit jangan buat gerakan yang membuatnya tidak nyaman, biarkan dia istirahat!” ucap Hana.


”Kalau begitu bagaimana jika kita tidur di sofa saja,” usul Malik.


”Tidak mau jangan lakukan hal-hal aneh di depan anak.”


”Lah dia kan tidur.”


”Nanti kalau tiba-tiba dia bangun bagaimana?”


”Baiklah, tahan puasa lagi sehari ya,” ucap Malik pada dirinya sendiri membuat Hana terkekeh mendengarnya.


”Lagian baru juga enam hari, sabar dikit lagi,” bisik Hana.


***


Lani berjalan cepat menuju ke ruangan Malik namun begitu tangannya akan mendorong pintu, Faris dengan cepat menghentikannya.

__ADS_1


”Mau apa masuk ke dalam Bu Lani?” tanya Faris.


”Tentu saja mau menemui mantan menantuku itu,” jawab Lani.


”Sayangnya hari ini dia tidak datang ke kantor.”


”Kok bisa?”


”Ya jelas bisa dia kan pimpinan sekaligus pemilik perusahaan ini.”


”Bagaimana nasib pegawainya jika atasannya saja sesukanya sendiri keluar masuk seenaknya,” ucap lain kesal karena tujuannya menemui Malik gagal.


”Nyatanya perusahaan ini masih tetap berdiri dan bisa membayar ribuan karyawan meskipun dia tidak pernah datang ke kantor ini selama hampir dua tahun lebih. Apakah Bu Lani lupa jika selama itu Emil sakit keras dan Pak Malik lah yang berjuang keras membawanya berobat kesana-kemari. Dimana Anda waktu itu bukankah Anda adalah neneknya?”


Jleb!


Perkataan Faris bagai rentetan bom yang selama ini tidak dia harapkan. Dia memang acuh setelah Tiara meninggal dia jarang sekali menemui Malik bahkan ketika Emil divonis mengidap penyakit leukimia.


Lani jarang menemui cucunya bahkan bisa dihitung dengan jari dan alasan yang klise selalu dia utarakan ’jarak' Paris - Jakarta membutuhkan biaya sangat banyak.


”Baiklah jika begitu saya akan datang ke rumahnya saja,” ucap Lani mencoba menghindar dari Faris.


”Tidak perlu karena mereka sedang tidak ada di rumah dan sedang tidak ingin diganggu sebaiknya Anda segera pulang ke Paris bukankah suami Anda juga sedang sakit di sana kenapa Anda berkeliaran di Jakarta?”


Jleb!


Kembali Faris menyudutkannya.


”Darimana kau tahu semua ini?” tanya Lani.


”Apa Anda lupa jika Malik menikah itu dia meminta doa dari mantan papa mertuanya, tidak mungkin kan beliau tidak bicara tentang kondisinya saat ini,” jelas Faris.


Lani merasa malu karena ternyata Malik sudah mengetahuinya lebih dulu.


”Suamiku sakit setelah aku berangkat ke sini jadi tidak ada sangkut-pautnya dengan acaraku jalan-jalan di Jakarta,” bantah Lani.


”Jika memang begitu kenyataannya kenapa Anda tidak segera pulang setelah mendengar keadaannya, saya jadi curiga jangan-jangan Anda hanya mau mengetuk hartanya saja karena secara fisik suami Anda sudah terlihat berumur dan pantas jika Anda mengincar pria yang seharusnya menjadi adik Anda.”


Deg!


Lani semakin geram mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari Faris kenapa pria itu bisa tahu segalanya apakah dia merupakan mata-mata suruhannya Malik, tapi sepengetahuannya Malik itu orang yang lurus tidak pernah memiliki banyak orang suruhan.


”Apalagi yang sedang Anda pikirkan? Apakah harus saya panggilkan sekuriti untuk menyeret Anda keluar dari tempat ini!” ancam Faris.


”Kau tidak bisa seperti itu, kau hanyalah pegawai rendahan aku bahkan bisa melaporkanmu dan meminta Malik memecat dirimu sekarang juga. Kau harus tahu almarhumah putriku memiliki saham di sini,” papar Lani.


Faris menyerigai kemudian.


”Itu dulu dan sekarang sudah dialihkan pada Emil jadi Anda tidak memiliki hak apapun lagi.”


”Apa, kenapa bisa begitu?”

__ADS_1


__ADS_2