Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
113. Istighfar


__ADS_3

”Eric, kau tinggal di sini?” Malik tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya melihat sosok di depannya ini.


”Pak Malik, apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Eric.


”Justru saya yang ingin bertanya padamu kenapa kau tinggal di sini karena rumah ini sudah sebulan saya beli tapi sekarang justru telah berpindah tangan,” jelas Malik.


"Oh soal itu saya kurang tahu Pak Malik, karena saya sendiri tinggal menempatinya yang membayar rumah ini adikku Bayu yang baru saja kerja di kantornya Pak Malik. Dia ada pinjam ke Bank buat membayarnya, apa ada masalah?”


”Apa adikmu membelinya pada seorang wanita paruh baya yang bernama Lani?”


”Bisa jadi nanti biar saya tanyakan dengannya jika dia sudah pulang atau Pak Malik bisa menanyakannya langsung nanti di kantor karena saya sendiri di sini hanya disuruh untuk menunggunya, merawat rumah yang sudah dia beli berhubung saya tidak lagi mengurus anak saya jadi saya mau saja dan berjualan bakso di lingkungan komplek ini.”


”Bang sepertinya Tante Lani sudah tahu jika kita akan kesini untuk menemuinya makanya dia sembunyi dan aku yakin dia pasti tidak akan pergi jauh karena tidak memiliki paspor lagi.”


Malik pun kembali ke kantor dengan perasaan kesal Faris yang melihat ini pun tak berani menyapa karena khawatir kena damprat iparnya lagi seperti kemarin.


”Bang, aku sudah saat kabar tentang Flo dan juga Bu Lani.” Malik segera berhenti begitu mendengar nama Bu Lani disebut.


”Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, soal Flo aku sudah tahu semuanya. Rupanya Tante Lani mau main-main denganku.”


”Jadi kau sudah tahu Bang, baiklah jika demikian tugasku sekarang adalah ... ”


”Panggil Bayu ke ruanganku sekarang!” potong Malik dengan cepat dia segera melepaskan jasnya setelahnya duduk dan menyeruput teh yang ada di mejanya. Malik mencoba menetralkan degub jantungnya yang berdetak lebih cepat karena kemarahannya membuncah sekarang dan butuh pelampiasan.


”Astaghfirullah,” gumam Malik terus beristighfar dan beristighfar mencoba meredakan emosinya baru kali ini dia tertipu dan pelakunya adalah seorang perempuan mantan mertuanya sendiri jika saja pelakunya adalah seorang laki-laki pasti dia sudah menghajarnya.


”Astaghfirullah, emak-emak memang hebat,” desis Malik kemudian.


”Bang,” panggil Faris begitu masuk membawa Bayu.


”Duduklah.” Bayu duduk di depan Malik.


”Apa saya ada salah Pak Malik?” tanya Bayu dia khawatir dipecat karena baru saja kemarin dia hutang di bank buat membeli rumah yang sekarang ditempati oleh Eric.


Malik hanya diam sebelum akhirnya buka suara, ”Kamu kenal dengan Bu Lani?”


Bayu kembali mengingat-ingat nama tersebut. ”Ada apa dengannya Pak Malik? Saya hanya sebatas kenal sebagai pembeli saja karena saya membeli rumahnya kapan hari. Ada apa ya Pak?”

__ADS_1


”Apa dia ada cerita kemana dia akan pergi?”


”Oh soal itu saya kurang tahu karena saya sendiri tidak begitu memperhatikannya yang jelas dia sempat menerima telepon dan bilang akan segera menyusul ke Bandung ke rumah saudaranya begitu yang saya dengar.”


”Berapa kamu membeli rumah tersebut?” Malik menatap intens pada Bayu membuat pria itu kikuk.


”Kemarin saya bayar 300 juta Pak Malik, itupun saya pinjam dari bank beruntungnya langsung diacc karena jaminan saya bekerja di perusahaan ini,” ucap Bayu jujur.


”Hanya 300 juta?”


”Iya Pak, dia bilang sedang butuh uang dan mengaku dulu dia membelinya dengan harga 500 juta.”


Malik menghempaskan tubuhnya di kursi mendengar pengakuan Bayu sungguh wanita itu begitu licik dan pintar berakting di depan banyak orang dan mirisnya dia salah satu dari sekian banyak korbannya.


”Ya sudah kau bisa lanjutkan pekerjaannya.”


Bayu segera pamit kembali bekerja sedangkan Malik hanya bisa terdiam di kursinya.


”Kamu gak apa kan Bang?” tanya Faris mulai khawatir dengan keadaan iparnya.


”Yakin saja dia akan memahaminya Bang, karena semua ini juga bukan keinginan kita. Niat Abang kan udah baik hanya saja memang belum tepat sasaran,” ucap Faris menutup mulutnya menahan tawa sungguh dia ingin sekali menertawakan iparnya yang dengan mudah menggelontorkan uang hanya untuk seorang mantan, bisa jadi karena Lani mengiba menangis-nangis di depannya sehingga Malik tidak tega melihatnya. Dia mudah sekali dimanfaatkan oleh orang.


***


Hana menjemput Emil di sekolah dan bertemu dengan Bu Murni mamanya Azizah wanita itu menangis memeluk Hana.


”Sudah ya Bu, ibu jangan berlebihan saya bantu Azizah karena saya pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Azizah saat usiaku sama sepertinya.”


”Makasih banyak Bu Hana, kemarin itu sungguh bermanfaat sekali buat kami.”


”Yang penting Azizah bisa belajar dengan baik dan untuk sekolahnya InsyaAllah saya yang akan mencovernya jadi ibu tidak perlu lagi soal biayanya.”


Bu Murni kembali meneteskan air matanya terharu tentu saja di zaman sekarang masih ada orang baik di tengah situasi yang sulit jangankan untuk sekolah untuk bisa makan saja sudah Alhamdulillah.


”Iya sama-sama.”


Emil dan Azizah berjalan bersamaan keluar dari kelasnya. ”Mama,” teriak Emil menghambur ke dalam pelukan Hana.

__ADS_1


”Sepertinya bahagia sekali hari ini,” sapa Hana.


”Iya kita kan sebentar lagi mau ujian dan pindah kelas, bukankah begitu yang tadi dikatakan sama Miss Nina, iya kan Azizah?”


Gadis kecil itu hanya mengangguk singkat dia tidak begitu memperhatikan karena tubuhnya seakan ada yang tidak beres pusing dan mudah lelah itulah yang Azizah rasakan belakangan ini badannya juga lemas nafsu makannya berkurang.


Hana yang melihat itu jadi curiga dengan sikap anak itu. ”Kamu sakit?” Hana memeriksa Azizah dan terkejut mendapati anak itu demam.


”Ya Ampun, kau demam Sayang, ayo kita ke Dokter!” Hana segera menggendong Azizah ke mobil diikuti Emil yang digandeng oleh Bu Murni.


Hana membawa anak itu ke Dokter terdekat. "Bagaimana keadaannya Dok?”


”Dia kena DB Bu sebaiknya dirawat di rumah sakit.”


”Baik saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang. Ayo Bu Murni kita berangkat sekarang!”


”Tapi Bu, saya gak punya uang buat bayar kamarnya,” ucap Bu Murni dirinya menangis tentu saja hal itu membuat Hana merasa iba padanya sesulit itukah hidup mereka.


”Saya yang akan membayar biaya tagihannya Bu Murni tenang saja cukup jaga dia karena saya sendiri juga ada bayi di rumah. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!”


Hana segera membawa Azizah ke rumah sakit setelah sebelumnya meminta Mang Tejo menjemput Emil di sana nantinya. Hana segera mengurus administrasi dan memberikan sejumlah uang untuk Bu Murni pegangan.


”Bu Hana saya gak tahu harus bagaimana bayarnya nanti, terima kasih.” Murni kembali terisak mengingat nasibnya sendiri.


”Saya tidak bisa menunggu karena saya ada anak kecil, Bu Murni yang sabar ya nanti saya usahakan ke sini jika keadaan di rumah mendukung. Assalamualaikum.”


Hana segera melangkah keluar menuju mobilnya yang diparkir dekat pintu masuk baru saja dia akan menyalakan mesinnya dia melihat Aisha berjalan sendiri seraya memegangi perutnya.


”Aisha,” pekik Hana dengan cepat dia menemui wanita itu.


”Apa yang terjadi?” tanya Hana.


”Perutku sakit Mbak,” lirih Aisha seketika pingsan di tempat.


”Perawat tolong!” Hana berteriak memanggil beberapa perawat dan segera menolongnya dirinya jadi teringat perkataan Bima di hari pernikahan adiknya dia sempat mendengar sama-sama jika keduanya sering bertengkar. Apakah ini ada hubungannya dengan suaminya Bima.


__ADS_1


__ADS_2