Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
109. Malik Double Jengkel


__ADS_3

Pasangan yang baik adalah yang saling jujur dan terbuka satu sama lain. Setelah pernikahannya dengan Untari, Alvin mengajak tinggal di rumahnya sedangkan Rita dan Soleh memilih untuk pulang ke Jogjakarta keduanya berharap hubungan rumah tangga anak-anaknya baik-baik saja karena pada dasarnya mereka lebih faham dengan seluk beluk berkeluarga.


”Kita berangkat bareng yuk!” ajak Alvin merapikan kemeja dan meraih tas kerjanya.


”Aku malu.”


”Kenapa harus malu, ayo!” Alvin menggandeng Untari demi apa mereka berdua seperti itu justru membuat jantung Untari berdetak lebih cepat wajahnya pun merona seketika.


Alvin tidak henti-hentinya melirik ke arah Untari membuatnya salah tingkah. Keduanya pun melangkah bersama membuat semua orang yang melihatnya bertanya-tanya dengan kedekatan keduanya.


”Aku ke ruanganku dulu ya, nanti siang kita makan bareng ingat jangan kemana mana sebelum aku datang,” ucap Alvin melihat situasi di sekitarnya ’Cup!’ kecupan singkat mendarat di kening Untari.


”Gak boleh protes,” ucap Alvin ketika mengetahui Untari akan marah padanya. ”Senyum dong!”


Untari pun akhirnya tersenyum lalu segera mendorong Alvin agar pria itu segera ke naik ke ruangannya. Dirinya tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya dan itu terlihat di wajahnya.


”Ehem, bagaimana acaranya kemarin siang?” sapa Maya teman satu meja Untari.


”Kamu ngagetin saja, Alhamdulillah lancar.”


”Maaf ya gak bisa datang anakku sakit dari kemarin malam demam jadi sedikit rewel.”


”Gak apa Mbak, yang penting doanya. Ayo kita kerja.”


Baru saja menata dokumen di atas meja seseorang datang menghampiri keduanya. ”Selamat ya atas pernikahannya.”


Untari mengangkat wajahnya dan Faris ada di depannya. ”Eh, selamat pagi Pak Faris ada yang bisa saya bantu?”


”Ehem kenapa kalian gak mint cuti saja sama Pak Malik, kan bisa buat honeymoon ke Bali.”


”Bali udah pernah kok Pak,” sahut Untari terkekeh.


”Gitu ya, sayang sekali biasanya Pak Malik akan memberikan hadiah pada karyawannya yang sedang berbahagia kamu tanyakan saja ke Alvin biar dia cek.”


”Baik.”


Faris pun melangkah pergi dengan mengulas senyuman dia yakin Alvin pasti akan merongrong kakak iparnya itu dan sebentar lagi akan ada tontonan yang menarik untuk dilihatnya.


***


”Ma, hari ini boleh gak aku ajak Azizah main ke rumah?” Emil merapikan bajunya di depan cermin berlagak sudah dewasa.


”Sudah rapi apa yang sedang kau rapikan Nak?” seru Hana geleng-geleng kepala melihat Emil yang bertingkah layaknya orang dewasa.


”Mama belum jawab pertanyaanku,” ucap Emil memberengut.

__ADS_1


”Oh soal itu, silakan saja jika memang dia mau datang ke sini.”


”Beneran Ma?”


Hana mengangguk, ”Iya nanti mama buatkan camilan khusus untuk kalian berdua.”


”Makasih Ma.” Emil memeluk Hana dengan erat.


”Tapi ingat kalian tidak boleh bertengkar ya.”


”Hore Emil ada teman,” teriak Emil berjingkrak jingkrak bahagia.


”Den ada tamu?” seru Bik Surti.


Malik yang baru turun dari lantai dua pun segera menuju ke ruang tamu. Hana mengikuti langkah Malik di belakang setelah Bik Surti mengambil alih Emil.


”Malik, maaf jika Tante ke sini,” ucap Lani langsung berdiri ketika Malik sampai di ruang tamu.


Malik menatap ke arah Hana, dia tidak ingin Hana salah paham lagi. ”Ada keperluan apa ke sini? Bukankah tempo hari Malik sudah membereskan semuanya?”


”Iya benar tapi ... uang yang kamu kasih sama Tante dibawa kabur oleh Flo.”


”Apa?” Malik dan Hana saling pandang bukankah Flo sudah menikah dan tidak tinggal di sini.


”Kalian jangan salah faham, dia kemarin datang dan meminta bantuan pada Tante tapi karena Tante tidak memberi dia justru mengambil paksa. Tante hanya mau memberitahukan kalian untuk berhati-hati dengannya,” papar Lani.


”Berapa yang dia bawa?” tanya Malik sedangkan Hana hanya dapat memandang kesal pada Malik dan juga Lani.


”Seratus lima puluh juta, uang yang kamu kasih itu masih utuh belum Tante gunain sama sekali karena rencananya mau Tante buat bayar sewa kios.”


”Tante pulang saja dulu untuk urusan itu biar nanti asistenku yang akan menanganinya.”


Malik tidak bisa berkata tidak tapi juga tidak mau berkata iya karena dia tahu watak Lani dari almarhumah istrinya dulu.


”Baiklah Tante permisi dulu terima kasih.”


Lani pun pergi giliran Hana yang memberengut dia merasa tidak percaya dengan Malik karena telah memberikan uang segitu banyaknya pada mantan mertuanya tanpa sepengetahuannya. Hana langsung masuk tanpa memperdulikan tatapan Malik yang memohon untuk tidak marah padanya.


”Sayang dengerin dulu penjelasannya ya,” bujuk Malik.


”Gak perlu Bang, kayaknya Hana mau hidup di Jogja saja bareng sama mama.”


”Astaga jangan begitu dong, Abang bisa jelasin semua.”


Hana tidak memperdulikan perkataan Malik dan itu membuat Malik frustasi dirinya mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


”Emil ...!” teriak Malik membuat bocah itu terkejut karena panggilan Malik cukup kencang.


”Iya Pa,” jawabnya.


”Ayo kita berangkat, papa udah telat nih!” Malik seakan melupakan kelembutan yang biasanya dia lakukan pada keluarganya. Begitu juga dengan Emil dirinya menjadi takut karena melihat kemarahan di wajah papanya.


Sepanjang perjalanan pun Emil diam dan hal itu tentu saja membuat Malik menjadi merasa bersalah padanya. ”Maafkan papa Nak,” sesalnya.


”Jangan minta maaf padaku tapi minta maaflah pada mama, dia yang paling terluka jika papa bohong padanya. Emil sekolah dulu sampai nanti, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam,” balas Malik lalu kembali melajukan mobilnya manakala Emil sudah diurus oleh Miss Nina guru pembimbingnya.


Begitu sampai dia langsung ke ruangannya dan membanting pintunya membuat karyawan yang mendengarnya tercekat karena tidak biasanya bosnya semarah itu.


”Faris cepat ke ruanganku sekarang!”


Bip.


Malik mengendurkan dasinya berjalan mondar-mandir di ruangannya membuat Faris terkejut melihat tampilan bosnya yang berantakan.


”Apa yang terjadi?” tanya Faris.


"Tolong kau awasi Lani dan juga selidiki Flo apakah dia masih berada di sekitar sini. Wanita itu seakan hendak memeras diriku perlahan, baru kemarin aku memberinya modal dengan mudahnya dia bilang jika uang yang aku berikan diambil oleh Flo. Padahal Flo sendiri mengaku telah menikah dan Hana juga mengetahuinya tempo hari lalu mana yang benar?”


Faris mengangguk faham, ”Aku akan menyelidikinya sendiri dengan beberapa temanku nanti.”


”Tolong secepatnya karena aku sendiri tidak suka dicurigai istriku.”


Faris hampir saja tertawa jika tidak ingat kemarahannya sebelum datang ke sini beberapa karyawan sedang berghibah membicarakan atasannya yang terlihat berbeda.


”Maksudnya Hana ... ”


”Ya dia marah karena aku kasih uang pada Lani tanpa sepengetahuannya.”


”Astaga kenapa jadi semakin rumit.”


Alvin tiba-tiba masuk ke ruangan Malik dengan wajah sumringah, dirinya baru saja bertemu dengan Untari dan istrinya itu menyampaikan perkataan Faris padanya tentu saja hal itu membuat Alvin senang dan sekarang dia mau menagihnya pada atasannya sebagai hadiah dari perusahaan.


”Bang tiket honeymoon ke Bali mana?” tanya Alvin.


Faris menahan tawanya karena berhasil mengerjai Alvin berbeda dengan Malik yang kebingungan dengan pertanyaan adik iparnya itu.


”Apa maksudmu dengan tiket ke Bali?”


Alvin terlihat seperti orang bodoh kebingungan apakah ini hanya tipuan untuknya dari Faris. Sesaat Alvin menatap Faris yang masih terdiam.

__ADS_1


”Kenapa diam saja?” Malik menaikkan suaranya satu oktaf membuat Faris dan Alvin terkejut. ”Siapa yang bilang ada tiket honeymoon ke Bali?”


__ADS_2