Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
80. Tolong Nasehatin Bang!


__ADS_3

”Aku ... dan Angela, kami tinggal bersama kak.”


”Apa?” Shock tentu saja Hana tidak menyangka jika adiknya akan seperti itu.


”Jangan berlebihan kak, meskipun begitu kami tidak melakukan apapun sungguh!” ucap Alvin menyakinkan Hana.


”Tidak mungkin, kamu itu belajar ngaji gak sih? Dilarang berduaan yang bukan mahram karena yang ketiganya adalah setan! Memangnya kamu mau apa setan itu ada di antara kalian berdua. Hentikan Alvin jangan buat orang tua kita malu,” pekik Hana.


”Kami tidak melakukan apapun kak, sungguh!”


”Gak Vin, tolong kamu pulang ke rumah dan jangan kau ulangi lagi hal itu jangan buat orang tua menjadi malu, cukup kakak saja yang melakukan kesalahan karena pembatalan sepihak oleh Eric.”


”Kak, aku mungkin mencintainya apakah kakak mau bantu Alvin buat menyakinkan hal ini sama mama karena hanya dia yang kurang setuju dengan hubungan yang sedang aku jalani.”


”Sabar adalah kunci! Terus saja berjuang buat dapatin restunya jika memang kau yakin, kakak gak bisa bantu takut ada apa-apa nanti disangkutpautkan dengan masalah yang timbul,” ujar Hana.


”Yah kak Hana gak bisa support Alvin dong!” seru Alvin membuat orang yang ada di sekelilingnya menoleh ke arahnya.


”Kamu ini bikin keributan aja, tuh liatin mereka semua menatapmu!”


”Pokoknya kak Hana harus bantuin kalau gak, wassalam deh!” seru Alvin.


”Udahlah mendingan kak Hana segera pulang kasihan mama jagain Aydan di rumah.”


Hana melangkah meninggalkan ruangan Alvin menuju ke tempat suaminya berpamitan untuk segera pulang.


”Duh nyonya Malik makin cantik aja!” sapa Indah.


”Ya ampun kamu juga makin cantik loh!” seru Hana.


”Ngapain ke sini?”


”Bantuin aku nasehatin adikku ya, nanti aku jelasin lagi inti masalahnya via ponsel ya soalnya aku harus segera balik khawatir anakku yang bayi rewel.”


”Siap! Ya udah buruan pamit gih kasihan si kecil nungguin di rumah!”


Hana segera menemui Malik dan terlihat suaminya tengah sibuk mengecek berkas yang ada di mejanya.


”Bagaimana apa sudah clear masalahnya?” tanya Malik.


”Aduh gimana ya Bang, dia malah ngaku tinggal bareng sama Angela.”


”Hah? Serius nih kamu ngomongnya?”


”Iya Bang, duh tolongin Hana ya nasehatin dia agar tidak membuat malu orang tua, Hana khawatir saja Alvin gak bisa kontrol dirinya sendiri.”


”Baik nanti Abang coba bicara dengannya kamu yang sabar ya, dan sebaiknya segera pulang karena mama sudah menghubungiku tadi Aydan mulai rewel,” jelas Malik.

__ADS_1


”Nah kan, Hana balik dulu ya Bang!” pamit Hana mengecup singkat pipi kanan Malik membuat Malik terkekeh dengan perilaku istrinya itu.


”Eh iya lupa.”


Hana berbalik, ”Ada apa Bang?”


”Apa masa nifasnya sudah selesai?”


”Sudah, dari kemarin sudah bersih kenapa Bang?”


”Ya Allah, kamu gak ngabarin Abang?”


”Ya kan Hana lupa Bang, lagian baru kemarin juga iya.”


”Ya udah berarti mulai nanti malam ada jatahnya ya,” seru Malik.


”Mesum!” Dengan cepat Hana beranjak keluar dari ruangan itu membuat Malik terkekeh.


Rutinitasnya berolahraga di malam hari belakangan ini libur karena Hana habis melahirkan dan Malik berencana akan mulai kembali nanti malam, membayangkannya saja sudah membuatnya turn on secara hampir satu bulan dia menahan diri dengan hasratnya.


***


Di tempat lain Eric sedang memangku Amelia putrinya sedangkan ibunya Dewi sedang melayani pembeli yang sengaja datang ke rumah membeli bakso. Eric lebih memilih mangkal di rumah daripada harus berkeliling mengingat putrinya tidak ada yang merawatnya.


”Bu, bakso satu gak pakai mie kasih sawo yang banyak ya,” ucap salah salah satu pelanggan yang baru datang.


”Sudah habis baksonya Bu?” tanya Eric begitu melihat Dewi mengangkat panci kuahnya.


”Alhamdulillah tanpa harus capek-capek keliling mereka yang sudah mengenal kita mau kok datang ke sini,” jelas Bu Dewi.


”Syukurlah rezekinya si kecil Bu, jadi tidak perlu pergi jauh-jauh dan bisa tetap membuatnya nyaman. Eric gak tega kalau tiap hari harus berpanas-panasan kasihan.”


”Iya kau benar dan kebanyakan semua pelanggan juga dari luar komplek,” seru Dewi.


”Misalkan bikin kios bakso berani ya Bu,” seru Eric.


”Ya bisa nanti ibu carikan tempatnya, sepertinya ada modal buat bayar sewa tempatnya.”


”Selama ini kan hasil dari jualannya separo di tabung Bu, jadi kita punya simpanan buat bayar sewa gitu.”


Ya selama ini Eric memang selalu menyimpan uang hasil penjualan bakso kelilingnya karena dia tidak ingin lagi keliling dengan alasan capek dan kasihan dengan Amelia. Ayu acuh pada putrinya dan Eric membebaskannya melakukan apapun asalkan wanita itu tidak ergo meninggalkannya.


”Ayu kemana lagi?” tanya Dewi.


”Tadi setelah kasih ASI sama Amel gak lagi terlihat Bu, apa mungkin dia pergi gak pamit sama kamu!” lanjut Dewi.


”Eric cek dulu ke kamar.”

__ADS_1


Eric pun meletakkan putrinya di pangkuan ibunya dan segera menuju kamarnya.


”Ayu!” teriak Eric begitu melihat Ayu sedang berkemas akan pergi.


”Ada apa Mas?”


”Kamu itu yang ada apa kenapa tiba-tiba mengemasi pakaianmu!” tanya Eric menatap nanar pada istrinya.


”Aku mau balik ke rumah orang tuaku Mas,” jawab Ayu.


”Tidak boleh!” tolak Eric.


”Apa urusanmu melarangku?” ucap Ayu.


”Kau itu istriku dan Amelia butuh kamu, ingat dia belum dua tahun dan kau tidak boleh meninggalkannya sendirian dalam pengasuhan diriku saja dia juga utuh seorang ibu!”


”Bukannya kau bisa menjadi ibu dan ayah untuknya. Sudahlah jangan diperdebatkan lagi, Ayu mau segera pergi!”


Ayu melangkah keluar kamar tanpa memperdulikan Dewi dan Amelia yang ada di teras, dan dengan segera masuk taxi online pesanannya.


”Bu, Ayu kemana?” tanya Eric kebingungan.


”Loh dia gak berpamitan sama kamu?” jawab Dewi.


”Bilangnya mau pulang ke rumah orang tuanya,” ucap Eric.


”Astaghfirullah dia benar-benar nekad melakukannya, ini rasa memang seharusnya kau menceraikan dia Eric daripada dia menginjak-injak harga dirimu.”


Bu Dewi ikut tersulut emosi begitu mendengar penuturan putranya meskipun dia tahu putranya salah, tapi Eric sedang berusaha untuk memperbaikinya dan sekarang ayu justru membuat hidup putranya jungkir balik.


”Bu, aku tidak mau melakukannya karena mengingat Amelia tidak mungkin dia tumbuh tanpa seorang ibu di sisinya,” ucap Eric.


”Ibu macam apa dia yang mau bertindak sesuka hatinya, ibu tidak rela cucuku diasuh olehnya bikin tambah sakit hati saja,” kesal Dewi.


Eric mengacak rambutnya frustasi dia merasa tertekan sendiri dengan keadaan yang tengah menimpanya saat ini, tidak pernah terpikirkan jika situasi akan semakin buruk.


”Tunggu Bu, Eric harus mengecek sesuatu!”


Eric bergerak cepat kembali masuk ke kamarnya, Dewi yang penasaran pun mengikutinya dari belakang. Dewi melihat Eric mengacak-acak baju yang ada di lemarinya.


”Cari apa kamu Nak?” tanya Dewi.


”Simpanan uang Eric lenyap Bu, padahal udah terkumpul lumayan banyak buat bayar sewa kios.”


”Astaghfirullah,” pekik Bu Dewi dirinya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh beruntung Eric menopangnya.


”Apa yang harus kita lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2