
”Pantas saja Bang Malik tidak melirik sama Flo, lihat saja Hana dia jauh lebih menarik bahkan jika polesannya ditambah Sabrina yakin dia lebih cantik dari istrinya dulu,” ucap Sabrina.
”Jangan bahas Tiara, dia sudah tenang di sana dan lagi kenapa kau ikut mengomentari kehidupan abangmu itu,” sahut Maryam.
”Ya namanya juga kehidupan, gak mungkin lepas dari pandangan orang lain baik dan buruk pasti ada aja yang ngomongin,” ucap Sabrina.
”Abangmu bukan orang lain tapi saudaramu masa iya kamu mau ngomongin kakakmu sendiri.”
”Tapi kalau dipikir lagi Sabrina lebih mendukung Hana daripada Flo.”
”Terserah kamu saja mama gak akan memaksa abangmu untuk segera menikah lagi biarkan dia mengambil keputusannya sendiri, mama yakin jika dia pasti bisa memilih mana yang terbaik untuk hidupnya.”
”Nah itu yang mau Sabrina dengar dari mama, sebaiknya mama doakan yang terbaik buat Bang Malik. Kalau Emil ada yang jaga kan mama juga bisa hidup dengan tenang,” ungkap Sabrina.
”Lah kamu sama Faris bagaimana?” tanya Maryam.
”Bagaimana ya?” Sabrina tersenyum kecut. ”Sabrina sama dia lagi saling diam dulu, sama-sama introspeksi diri.”
”Kenapa?”
”Faris khawatir jika tidak bisa kasih kebahagian buatku karena dia pikir aku orangnya suka dengan kemewahan sedangkan kerjaan dia hanya sebagai asistennya Bang Malik gajinya gak seberapa itu yang bikin dia mikir dua kali buat ngelamar Sabrina.”
”Apa kamu udah kasih pengertian sama dia?”
”Sudah Ma, tapi ya kita lihat saja bagaimana kelanjutannya, Sabrina pasrah aja Ma.”
”Pantas saja kamu gak mau ke kantornya abangmu ternyata ini alasannya, pikirkan baik-baik jangan sampai salah jalan, kalau tersesat bagaimana?” goda Maryam.
***
”Pa, kenapa mama diam saja tadi padahal Emil gak minta macam-macam cukup satu macam saja udah cukup. Emil pengin kayak teman-teman yang kemana-mana selalu bersama papa mamanya. Apakah permintaan Emil itu terlalu sulit buat mama Hana?”
”Sayang dengarkan papa ya, tidak semua apa yang kita inginkan itu harus segera terwujud terkadang butuh usaha keras untuk mendapatkannya. Mm, bagaimana ya papa jelasinnya sama Emil.”
Malik tampak berfikir keras bagaimana menyampaikan semuanya pada Emil dengan bahasa yang mudah dia mengerti tapi nyatanya dia sendiri masih kebingungan menyampaikan sesuatu pada putranya.
”Bagaimana jika besok kita main ke wahana permainan kamu mau?” tawar Malik mengalihkan pembicaraan.
”Boleh, kita ajak mama ya Pa?”
”Mm, papa tidak janji tapi akan papa usahakan bicara dengan mama semoga dia mau kita ajak keluar bukankah besok mama libur.”
”Makasih Pa.” Emil memeluk Malik.
”Emil sayang sama Papa,” bisiknya.
”Papa juga sayang sama Emil, ayo sekarang Emil istirahat besok kita pergi liburan.”
Malik merapikan selimut Emil dan mengecup keningnya ada rasa sesak manakala putranya itu selalu menanyakan perihal mamanya.
Malik keluar dan duduk di ruang tengah dirinya mengingat kejadian tadi sore manakala putranya meminta Hana menjadi mama sungguhan untuk Emil.
Flashback on.
__ADS_1
”Maukah kau menjadi mamaku yang sesungguhnya?” ucap Emil.
Malik terkejut mendengar perkataan putranya itu demikian juga dengan Hana mereka saling pandang.
”Mm, pasti Emil suka nonton tv ya di rumah?” tanya Hana.
Emil menggelengkan kepala. ”Emil suka lihat teman-teman Emil yang kemana-mana pergi selalu bareng mama dan papanya, Emil mau kayak mereka Ma, apakah mama mau mengabulkan keinginan Emil?”
”Tante Hana kan udah jadi mamanya Emil sekarang,” ucap Hana.
”Maksud Emil mama bisa tinggal bersama dengan Emil dan papa di rumah, sarapan bersama antar Emil ke sekolah, temani dan ajarin Emil belajar kalau sore, kalau Emil mau tidur mama bacain buku cerita buat Emil.”
Hana terdiam.
”Emil cepat habiskan makanannya sudah malam kasihan mama kalau kemalaman kan capek,” ucap Malik.
Emil tampak sedih karena tidak segera mendapatkan jawaban dari Hana.
”Maaf ya Sayang, karena mama belum bisa menjadi mama yang sesungguhnya buat Emil tapi mama janji akan selalu ada buat Emil, bagaimana?” ucap Hana.
Emil tersenyum meskipun terlihat seakan terpaksa dan Malik tahu akan hal itu.
”Maafkan papa Sayang,” gumam Malik.
flashback off.
Malik meraih ponselnya, ”Jam sebelas semoga saja Hana belum tidur,” gumam Malik.
”Assalamu'alaikum, ada apa Pak Malik?”
”Waalaikumussalam, maaf saya ganggu waktu istirahatnya, soal idemu untuk mengajak Emil ke tempat wahana permainan apakah kamu bisa ikut dengan saya besok siang ke sana buat temani Emil bermain di sana?”
”Besok saya ada janji dengan teman saya Indah, mungkin hanya sebentar dan saya tidak bisa memastikan jam berapa bisa datang.”
”Saya akan menunggunya hingga urusannya selesai, jika sudah tolong segera hubungi saya biar nanti saya jemput bersama dengan Emil.”
”Baik Pak Malik besok saya akan menghubungi bapak.”
”Saya tunggu ya. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Bip.
Malik sedikit bernafas lega mendengar penuturan dari Hana, dia seakan mendapatkan angin segar dan berharap bisa membahagiakan putranya.
”Semoga ini yang terbaik untukmu Emil,” lirih Malik.
***
”Kamu kayak tergesa-gesa gitu Na, santai aja lagi,” seru Indah.
”Aduh aku udah janji mau nemenin putranya si bos jalan-jalan hari ini,” ucap Hana.
__ADS_1
Indah membulatkan matanya mendengar penuturan Hana. ”Yang bener Na, apa kalian berkencan?”
Hana menggelengkan kepalanya, ”Bukankah sudah aku jelaskan padamu jika aku sedang tidak ingin membuka hati buat orang lain, jadi mana mungkin aku berkencan sama Pak Malik lagipula impossible kali kalau aku sama Pak Malik dia itu orang kaya, rumah mamanya aja kayak istana.”
”Hah! Kamu udah pernah ke rumahnya Bu Maryam?” tanya Indah.
”Iya kemarin sore itu ternyata Pak Malik mengajakku ke sana jemput putranya itu,” jelas Hana.
”Ya ampun kirain kalian kencan,” ucap Indah.
Hana tersenyum kecut mengingat perkataan Emil padanya kemarin sore.
”Apa ada masalah?” selidik Indah.
Hana hanya menggeleng pelan dia tidak ingin bercerita pada Indah setidaknya untuk hal ini dia masih ingin memendamnya sendiri.
”Kalau ada apa-apa cerita jangan dipendam sendiri,” seru Indah.
”Baik.”
Hana menarik lengan bajunya melihat jam tangannya. ”Udah jam sebelas, aku pamit dulu ya.”
”Iya, hati-hati ada apa-apa hubungi aku ya,” ucap Indah.
Hana terburu buru keluar dari mall karena Malik dan Emil sudah menunggunya di parkiran depan.
”Assalamualaikum, apa kelamaan menunggu?” sapa Hana.
”Mama,” ucap Emil.
”Kejutan dari Papa,” seru Malik.
”Kok gak jawab salamnya,” ucap Hana manyun karena salamnya tidak ditanggapi.
”Waalaikumussalam,” jawab kedua pria beda umur itu bersamaan lalu saling pandang dan tertawa bersamaan.
”Maaf Ma, Emil lupa saking senengnya ketemu mama,” ucap Emil.
”Ayo berangkat!”
Malik melajukan mobilnya menuju Timezone wahana permainan anak untuk menyenangkan hati putranya Emil.
Begitu masuk ke mall mereka langsung disuguhi dengan pemandangan dimana Sabrina dan Faris yang sedang jalan berduaan.
”Tante!” teriak Emil.
Malik terlambat, seharusnya dia tidak mengijinkan Emil memanggil adiknya karena Malik tidak ingin Sabrina mengejeknya habis-habisan.
”Bang ngapain di sini?” tanya Sabrina melirik ke arah Emil dan Hana.
”Kamu sendiri ngapain ke sini bareng dia?” Malik menatap tajam pada adiknya dan Faris.
Keduanya sama-sama saling menatap meminta jawaban.
__ADS_1