Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
43. Ekstra Perhatian


__ADS_3

”Karena ... karena Emil tidak ingin mama sama papa khawatir dan tidak jadi pergi honeymoon keluar negeri,” papar Emil.


”Emil mau papa sama mama bahagia dan menghabiskan waktu hanya berdua saja tanpa ada Emil,” sambungnya.


”Astaghfirullah itu tidak benar Nak, Om akan tetap memberitahukannya pada keduanya,” ucap Dokter Wira dia trenyuh dengan apa yang diucapkan oleh anak kecil itu.


”Jika mereka tahu aku sakit pasti mereka akan membatalkan kepergiaannya dan Emil tidak mau itu terjadi, karena Emil mau punya adik. Jika Emil pergi nantinya akan ada yang menggantikan Emil di dekat papa sama mama.”


Dokter Wira meremas pahanya sendiri mendengar penuturan Emil.


”Jangan bicara begitu kamu pasti akan sembuh, nanti Om Dokter akan usahakan pengobatan yang terbaik mengerti!”


”Tapi Emil gak mau menghabiskan uang papa, kasihan dia Om, udah kerja siang malam dan uangnya Emil yang habiskan.”


”Ya Allah Nak, kau tidak boleh bicara begitu apapun yang dilakukan oleh papa dan mamamu semata-mata hanya untuk kamu jadi jangan pernah mengecewakan pengorbanan mereka berdua, kau harus berjuang untuk sembuh mengerti!”


”Papamu sedang dalam perjalanan pulang, ada apa ini?” tanya Hana begitu melihat suasana di ruang tamu tampak hening apalagi melihat Dokter Wira yang tengah berjongkok di depan Emil membuat Hana bertanya-tanya.


”Tidak ada kok Bu Hana tenang saja ya, kita tunggu hingga Pak Malik datang,” balas Dokter Wira.


Hana mengangguk meskipun hatinya masih tetap bertanya-tanya ada rahasia apa di antara keduanya.


Sebuah mobil masuk ke halaman membuat Hana segera keluar untuk menyambut suaminya yang baru datang dari kantor.


”Sayang, bagaimana keadaan Emil dan kau sendiri apakah masih merasa pusing?” tanya Malik telapak tangannya menempel di kening Hana.


”Kau masih pusing?”


”Sedikit nanti juga sembuh, yang penting aku sudah minum obat,” terang Hana.


”Sebenarnya bukan hanya obat yang dibutuhkan kau juga harus makan tepat waktu agar penyakit maag-nya tidak kambuh,” seru Malik.


Dengan langkah besar masuk ke ruang tamu di mana Dokter Wira telah menunggunya. Setelah berbasa-basi sedikit Dokter Wira pun menjelaskan hasil yang dia dapatkan dari tes darah kemarin di lab rumah sakit.


”Lalu bagaimana Dok?” tanya Malik sedangkan Dokter Wira pun menghela nafasnya dan memandang ke arah Emil.


”Penyakit itu memang datang lagi, dan saya sarankan untuk berobat keluar negeri saja. Maafkan saya Nak, saya gak bisa bohong apalagi ini tentang nyawa.”


”Ini tidak salah kan Dok?” tanya Malik begitu mendapatkan surat hasil lab itu dari Dokter Wira.


Dokter Wira menggelengkan kepalanya. ”Semakin cepat pergi semakin lebih baik, setidaknya sebelum semuanya terlambat.”


Malik menatap sedih pada putranya baru saja dia terbebas dari penyakit itu dan kini justru kembali harus merasakan sakit. ”Akan saya pikirkan lagi Dok, lalu untuk kemoterapi dan sebagainya bagaimana apakah akan tetap dilakukan?”

__ADS_1


”Jika dia setuju maka tidak ada salahnya mencoba karena kita sebagai makhluknya hanya mampu berdoa dan berikhtiar soal hasil kita perlu pasrah dan tawakal setelahnya,” terang Dokter Wira.


”Baiklah, tolong kirimkan semua yang dibutuhkan saya akan segera mengurusnya segera.”


”Baiklah.”


Hana memeluk tubuh Emil sungguh meskipun dia hanya sebagai mama tiri untuknya mendengar penuturan sang Dokter membuat Hana merasa belum ikhlas menerima semua ini.


”Nanti akan saya kirimkan berkas-berkasnya agar Emil bisa segera menjalani perawatan. Saya pamit dulu, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam,” jawab ketiganya.


”Istirahat yuk! Mama ajak gendong Emil ke kamar bagaimana?” tawar Hana.


”Jangan mama pasti tidak kuat biar papa saja ya?” ucap Malik menaik turunkan kedua alisnya menggoda Emil.


”Tidak Emil jalan saja Ma, Pa,” sahut Emil namun dengan cepat Malik menyambar tubuh mungil bocah itu dalam pelukannya.


”Papa gak akan ngebiarin kamu jalan sendiri lagipula harus naik tangga. Ayo Sayang,” ucap Malik dan Hana tersenyum melihat keduanya yang tengah bercanda seakan tidak ada masalah berarti yang sedang terjadi.


Setelah membaringkan Emil dan memberinya obat, Malik pun keluar menemui Hana yang sedang di ruang tamu ternyata Rita mama mertuanya datang.


”Ma, kapan datang?” tanya Malik.


”Baru saja, bagaimana dengan keadaan Emil?” balas Rita.


”Ma, bolehkah Malik meminta tolong?” sambung Malik.


”Apa itu?”


”Tolong temani Hana selama saya mengurus Emil nantinya,” ucap Malik.


”Bang, aku ikut bagaimanapun Emil juga tanggung jawabku jadi aku juga harus ikut mengurusnya,” sela Hana.


”Dia benar Nak Malik, sebaiknya biarkan dia ikut serta merawat Emil karena bagaimanapun Emil juga membutuhkan Hana begitupun sebaliknya,” jelas Rita.


Malik menatap Hana dia sendiri tak ingin membuat wanita yang telah dinikahinya itu kelelahan nantinya.


”Boleh ya Bang?” bujuk Hana.


”Baiklah, nanti biar Abang urus segala keperluannya selama di sana lebih dulu,” ucap Malik.


”Mama nginap di sini ya,” pinta Hana membuat Rita tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


”Mama gak mungkin nginap di sini nanti Alvin ngamuk sama mama karena ke sini pun mama ijinnya hanya sebentar saja,” ungkap Rita.


”Biar nanti Hana yang bilang sama Alvin, boleh ya Bang?” pinta Hana.


”Terserah mama, jika beliau tidak keberatan gak masalah dan Emil pasti akan senang jika Oma-nya menginap di sini,” jelas Malik.


”Bagaimana Ma, setuju kan?”


”Mama bicara dulu sama Alvin ya,” ucap Rita.


Sebenarnya dia canggung jika berada di rumah Malik selain rumahnya yang besar Rita merasa terlalu rendah karena tidak memiliki banyak harta seperti mantan mertuanya yang dulu. Lani sempat cerita jika papanya Tiara seorang pebisnis sukses di negaranya sana tentu saja hal itu membuat Rita tersadar jika Hana bukanlah anak orang kaya.


”Non Hana, Den Emil sudah bangun,” seru Bik Surti dia mendengar suara anak itu memanggil kata 'mama’ membuatnya segera berlari ke ruang tamu.


Ketiganya bergegas ke kamar Emil anak itu sangat senang melihat kedatangan Rita.


”Oma,” panggil Emil.


”Iya Sayang, cepat sembuh ya nanti kalau kamu sembuh Oma akan ajak kamu ke Jogjakarta ke tempat Oma, kamu mau kan?” ucap Rita.


”Mau, bolehkan Pa, Ma,” tanya Emil.


"Tentu saja Sayang,” balas Malik.


”Makanya Emil harus semangat untuk sembuh dan juga makan yang banyak,” sambung Hana.


"Emil sudah sangat bahagia kok memiliki kalian semua,” ucap Emil.


”Terima kasih karena selalu ada buat Emil.”


Hana memeluk Emil dengan erat rasanya baru kemarin dia bermain dengan anak ini dan sekarang Emil harus menahan sakit dan Hana yakin anak ini sangat menderita karena penyakitnya.


”Papa sama mama jadi pergi kan?” tanya Emil.


”Pergi?” Hana memandang ke arah Malik.


”Pergi kemana Sayang?” tanya Malik.


”Bukankah kalian akan berlibur keluar negeri?”


”Keluar negeri?” Malik dan Hana kembali saling pandang.


”Kami tidak akan pergi kemanapun Sayang, jadi tak perlu khawatir kami tidak akan meninggalkanmu,” ucap Hana dia tidak mungkin meninggalkan Emil yang membutuhkan ekstra perhatian darinya.

__ADS_1


”Tapi Emil mau kalian berdua buatkan adik untukku jadi jika Emil pergi kalian tidak akan kesepian.”


Deg.


__ADS_2