
”Alvin?” Hana terkejut melihat Alvin di rumah bersama dengan seorang wanita cantik berduaan di ruang tamu.
”Kak Hana,” lirih Alvin kemudian melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya.
”Kakak jangan salah paham Alvin bisa jelaskan, dia itu teman Alvin Kak, kita lagi garap tugas bareng. Kakak kok mendadak pulang apa ada yang perlu diambil?” tanya Alvin.
”Besok papa sama mama mau datang jadi aku mau cek rumah aja barangkali ada yang rusak atau gimana,” balas Hana.
”Eh, sama Bang Malik juga,” seru Alvin.
”Ya iyalah masa kakakmu mau pergi sendiri,” sahut Malik.
Alvin meringis mendengar jawaban dari Malik.
”Itu cewek kamu?” tanya Malik memperhatikannya dari atas hingga bawah lalu bergegas menuju ke kamar Hana.
”Sayang, kemarilah!” pinta Malik.
”Ada apa?” tanya Hana.
”Itu tidak salah, adikmu bawa wanita ke rumah?” balas Malik.
”Ya cuma kerjain tugas sih bilangnya tapi aku gak percaya begitu saja namanya juga anak muda?” ucap Hana.
”Berarti dulu kamu juga begitu?”
Hana menggelengkan kepalanya, ”Gak pernah dulu aku kuliah di Jogja kalau kerjain tugas ya rame-rame.”
”Lalu bagaimana kenal Eric?” tanya Malik.
”Oh, ceritanya sedang jelous ini? Dulu aku SMA-nya di Jakarta, karena mama ikut pindah ke Jogja mau gak mau aku juga harus ikut ke sana karena beliau gak ingin aku sendirian gitu tapi begitu mau lanjutin strata-dua papa nyaranin aku balik ke Jakarta sekalian cari kerjaan,” jawab Hana.
Malik mengangguk.
”Ada lagi?” tanya Hana. Malik pun hanya tersenyum menggeleng.
”Kok kamu gak nanya bagaimana masa lalu Abang?” ucap Malik.
Hana berbalik, ”Memangnya itu perlu? Aku gak mau Abang malah jadi keingetan hal buruk jadi buat apa? Bukankah lebih baik menjaga perasaan?”
”Iya juga, tapi setidaknya ada rasa pengen tahu kan?”
”Ada.”
”Lalu kenapa gak tanya?”
”Kadang karena kita kepo kita jadi melukai seseorang tanpa kita sadari, jadi memang aku sengaja membiarkan Abang buat bicara sendiri.”
__ADS_1
”Kamu gak merasa cemburu?” selidik Malik.
”Itu kan masa lalu, sekuat apapun kita merindukannya hal itu takkan pernah terulang dan lagi yang Hana butuhkan itu masa depan bukan bagaimana seseorang di masa lalu.”
Malik pun menarik lengan Hana memeluknya. ”Makasih ya, udah jadi bagian dari hidupku.”
”Apa ada yang harus diberesin?”
”Sepertinya gak ada, semua masih bagus baik keperluan kamar mandi maupun bumbu dapur dan isi kulkas. Aku khawatir saja kalau mama tahu dan mengira aku gak urus adikku dengan baik,” papar Hana.
Malik dan Hana pun kembali saling pandang, Malik sengaja semakin mendekat pada Hana mengikis jarak.
’Cup'
”Aku sedang libur ya Bang,” bisik Hana membuat Malik segera tersadar lalu menarik nafasnya perlahan.
”Besok kalau udah selesai kabari Abang ya,” ucap Malik. Hana melihat sekilas ke bawah melihat sesuatu sudah menggelembung di sana.
”Abang numpang mandi di sini ya?” Hana mengangguk dan mengambilkan handuk untuk Malik.
***
”Ma, akhirnya kau datang juga,” seru Flo pada Lani ibu tirinya.
Lani hanya menatap malas padanya, dia hanya ingin menghormati keputusan suaminya untuk tidak menyakiti gadis yatim piatu itu meskipun dia membenci Flo sekalipun karena sikapnya yang buruk, dia tidak mungkin untuk berbuat macam-macam padanya.
”Mama bisa kok ke sana sendiri kenapa kau repot-repot datang jemput Mama,” ucap Lani.
”Kan namanya juga belajar jadi anak yang berbakti,” sahut Flo.
”Mama tau kamu sedang merencanakan sesuatu tapi maaf, mama tidak akan mendukungmu!”
”Aku tahu kok akan hal itu, Flo hanya memastikan saja jika Mama benar-benar akan memarahi Bang Malik karena tidak memberi kabar.”
"Tidak akan, Mama tidak akan memarahinya lihat bagaimana nanti saja.”
Taxi pun bergerak cepat meluncur ke rumah Malik sesuai instruksi dari Lani. Dua puluh lima menit kemudian Lani tiba di rumah yang dulu di tempati oleh putrinya Tiara.
Dengan langkah yang anggun wanita itu masuk ke rumah tersebut membuat Emil yang sedang menonton tv terkejut melihatnya.
”Oma?” panggilnya.
”Sayang kau sudah besar Nak,” ucap Lani.
”Eh Bu Lani, sejak kapan datang ke sini?” sapa Bik Surti yang juga ikut terkejut melihat kedatangan ibu mertua dari bosnya itu.
”Kamu masih di sini Bik, aku dari bandara langsung kemari,” sahut Lani.
__ADS_1
”Oh, begitu Pak Malik juga belum pulang mungkin sebentar lagi biasanya sebelum jam enam sudah ada di rumah,” jelas Bik Surti.
”Apa dia ke kantor bersama dengan istrinya?” tanya Lani.
”Benar Bu,” jawabnya.
”Lalu bagaimana dengan cucuku?” tanya Lani lagi.
”Oh, soal itu selama Emil masih belum sekolah nanti saya yang akan jaga tapi kalau sudah masuk sekolah kemungkinan Bu Hana akan resign dan fokus menjaga Emil dan mengurus Pak Malik.”
”Semoga saja demikian, kau jangan nakal ya sama mama barumu,” ucap Lani mengelus rambut anak itu.
Hampir setengah jam Lani berada di rumah tersebut orang yang ditunggunya pun datang bersama dengan istrinya.
”Assalamualaikum Sayang, papa sama mama pulang,” teriak Malik.
”Waalaikumussalam Papa,” teriak Emil berlari menghampiri Malik dan Hana. ”Ada Oma di dalam,” bisik Emil.
”Benarkah?” balas Malik menatap putranya lalu beralih ke Hana.
”Ayo masuk!” ajak Malik menggandeng tangan Hana seraya menggendong Emil.
”Ma, kapan datang?” sapa Malik lalu beralih pada Flo yang sedang santai melihat majalah, tidak lebih tepatnya dia hanya berpura-pura saja.
Emil pun turun dan Lani segera memeluk menantunya membuat Hana sedikit terkejut dengan sikap mantan mertua suaminya itu.
”Saya buatkan minuman ya?” ucap Hana.
”Silakan!” jawab Lani.
”Tak perlu Sayang, biar Bik Surti saja yang membuatkannya,” sambar Malik dia sendiri tak ingin mertuanya menempel padanya.
”Duduk dulu Ma, saya mau ganti baju. Ayo Sayang, kita ke kamar,” ajak Malik.
Lani cukup kesal dengan sikap mantan menantunya itu sejak Tiara meninggal Malik justru terlihat lebih sexy di matanya.
Melihat ada yang aneh terjadi di depannya itu Flo pun tahu jika sebenarnya mama tirinya itu juga menyukai Malik. ”Kenapa Mama menatap Bang Malik seperti itu? Jangan bilang Mama suka dengan dia!” sindir Flo.
”Tidak Mama tidak menyukainya sebagai pria tapi Mama menyukainya sebagai menantu yang baik karena selama menjadi suaminya Tiara dia benar-benar membuktikan ketulusan hatinya,” bantah Lani.
”Benarkah? Orang lain mungkin bisa Mama bohongi tapi tidak dengan Flo. Mama suka kan dengan Bang Malik, dia itu menawan semakin ke sini, dia semakin menggoda dan Flo tidak yakin jika Mama juga tidak tergoda dengannya, bukankah Mama juga masih muda,” ucap Flo.
”Dari cara Mama memeluk Bang Malik tadi seperti seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu apakah itu benar?” ejek Flo membuat Lani semakin geram.
Lani tidak dapat menahan kekesalannya dia menatap tajam ke arah gadis itu. ”Apakah aku juga harus membuatmu menangis lebih dulu?” bisik Lani.
Membuat Flo cukup terkejut mendengarnya. ”Kau sedang bercanda kan?”
__ADS_1