
”Pak Malik sudah lama di sini?” tanya Hana begitu sampai di lobi melihat bosnya santai memainkan ponselnya.
”Lumayan, kita berangkat sekarang!” ajak Malik.
Hana menuruti keinginan Malik dan berjalan bersama dengannya. Hana mengabaikan tatapan mata yang melirik ke arahnya.
”Abaikan mereka!” Malik membuka pintu mobil untuknya dengan cepat segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Maryam.
”Memangnya kita mau kemana Pak Malik?” tanya Hana yang merasa jalanan yang dilaluinya terasa berbeda dengan jalan pulang ke arah rumahnya.
”Pergi ke rumah mamaku menjemput Emil.”
”Oh.”
”Kenapa, kau takut kalau saya culik?”
”Tidak.”
”Lalu? Wajahmu terlihat khawatir jangan bilang jika kau takut diculik atau mungkin kau ada janji dengan orang lain sekarang?”
”Tidak ada.”
”Hari ini Emil ulang tahun sebenarnya saya bingung mau kasih kado apa karena semua yang dia mau hampir saya penuhi di rumah juga banyak sekali mainan yang tidak terpakai. Apa kamu ada ide?” tanya Malik.
”Ajak dia keluar main di wahana permainan biasanya anak kecil akan suka dengan hal itu,” jawab Hana.
Malik menaikkan alisnya menimbang usulan dari Hana. ”Boleh juga, kamu ada waktu kan? Tolong temani dia main di sana.”
”Saya?”
”Iya, karena hanya kamu yang dia mau. Tadi siang dia sudah merengek-rengek minta diantar ke kantor tapi saya tidak mengijinkannya karena banyak pekerjaan dan juga khawatir jika nanti justru membuat gaduh suasana.”
Hana terdiam mendengar penjelasan Malik. ”Kenapa Pak Malik tidak menikah saja bukankah Pak Malik bisa lebih fokus mengurus kantor dan Emil tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu,” ucap Hana.
“Apa kau sedang menasehati ku?” sahut Malik.
Hana tersenyum getir mendengar perkataan Malik seraya memalingkan wajahnya keluar jendela.
”Pintar sekali memberi nasehat tapi dia sendiri tidak bisa praktek sama aja bohong!” gerutu Hana.
”To the point aja jangan ngomongin orang di belakang! Tapi apa yang saya katakan padamu tadi siang itu memang benar adanya dan berbeda situasinya dengan saya, ada alasan kenapa saya masih sendiri sampai sekarang.”
”Oh begitu ya.”
Mobil berhenti di depan rumah mewah milik segera keluar diikuti oleh Hana.
”Rumahnya sangat besar memang sudah dasarnya orang kaya,” gumam Hana.
”Kau mau berdiri di sana terus? Ayo masuk!”
”Eh iya Pak, maaf saya terkejut saja rumah Pak Malik besar.”
”Ini bukan punyaku tapi mamaku, rumahku cukup jauh dari sini.”
Keduanya berjalan beriringan membuat sosok lain di dalam rumah saling berbisik.
”Assalamu'alaikum,” ucap Hana.
__ADS_1
Malik menoleh ke arah Hana merasa kagum dengan sikapnya.
”Waalaikumussalam,” jawab Maryam.
”Ma, bagaimana Emil?” tanya Malik.
”Ada di kamarnya,” balas Maryam.
”Duduk dulu, saya mau panggil Emil di kamar,” ucap Malik segera mencari putranya yang tak terlihat.
Hana merasa canggung berada di rumah besar apalagi ditinggal oleh Malik dan ditatap intens oleh Maryam.
”Sudah berapa lama kalian bersama?” tanya Maryam.
”Eh?” Hana mengangkat wajahnya terkejut mendengar pertanyaan Maryam.
Maryam tersenyum melihat reaksi Hana yang berlebihan menurutnya.
”Sa-saya dan Pak Malik tidak ada hubungan apapun selain atasan dan karyawan,” jawab Hana gugup.
”Benarkah? Tapi Emil cucuku sangat menyukaimu, sebelumnya tidak pernah dia begitu bahkan dengan tantenya sekalipun dia tidak terlalu akrab,” jelas Maryam.
Hana hanya dapat mengurai senyum mendengar penuturan Maryam.
”Siapa Ma?” tanya Sabrina menghampiri Maryam.
”Eh ada tamu,” sambungnya.
”Ini pegawai kantornya Abangmu ikut ke sini,” balas Maryam.
Hana mengangguk, ”Saya Hana, manager di kantornya Pak Malik.”
”Oh. Bang Malik sendiri kemana Ma?”
”Masih di kamarnya Emil.”
***
”Sayang kau marah sama Papa?” tanya Malik.
Emil masih acuh mendengar perkataan Malik. ”Papa menyebalkan kenapa tidak mengijinkan Emil ke kantor, Emil sudah dua hari tidak ketemu sama mama Hana kenapa Papa gak ngertiin perasaan Emil sama sekali.”
”Maafkan Papa Sayang, sekarang ikut Papa keluar yuk!” bujuk Malik.
”Tidak mau, Emil sudah terlanjur kesal sama Papa,” keluh Emil.
”Astaga anak Papa yang tampan ini gak mau diajak ya sudah jangan nyesel nanti,” seru Malik berbalik dan sedikit melirik ke arah Emil.
”Papa aku ikut!” teriak Emil dan langsung melompat ke arah Malik.
”Ya ampun kau mengagetkan Papa Sayang,” ucap Malik segera membawa putranya keluar dari kamarnya.
”Lihat siapa di sana!”
”Mama,” teriak Emil bersemangat dan segera turun dari gendongan Malik.
”Mama ke sini, padahal Emil mau minta Papa antar Emil ke rumah mama sepulang kantor,” seru Emil kedua matanya berbinar seketika.
__ADS_1
”Bagaimana kabarmu apakah sudah sehat?” tanya Hana.
”Sudah dong, kan Emil nurut jadi bisa segera sembuh. Emil mau main ke rumah mama boleh ya?” tanya Emil.
”Boleh, tapi Emil tanya dulu sama Papa dikasih ijin atau gak, jika tidak boleh ...”
”Tidak boleh memaksa,” potong Emil.
”Anak pintar.”
Maryam dan Sabrina masih membisu melihat hal itu tidak tahu harus berucap karena hal itu sungguh tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
”Mm, apakah kalian akan makan di sini?” tanya Maryam mencairkan suasana.
”Kami mau makan di luar Ma, lagipula ini adalah hari ulang tahun Emil apakah mama sama Sabrina mau ikut?” tawar Malik.
Maryam dan Sabrina saling pandang.
”Tidak perlu Bang, sebaiknya kalian bertiga saja kami gak mau ganggu acara kalian,” ucap Sabrina.
"Ganggu bagaimana, kami gak ada hubungan apapun selain atasan dan pegawai,” ucap Malik.
”Belum Bang, semoga saja secepatnya, lagipula Hana tidak kalah cantik dengan mamanya Emil,” bisik Sabrina.
Malik menatap sekilas pada Hana memang benar apa yang dikatakan oleh adiknya itu, Hana tidak kalah cantik dengan almarhumah istrinya.
”Kita berangkat sekarang keburu kemalaman nanti. Kami pulang dulu ya Ma,” ucap Malik.
”Ayo!” ajak Malik.
Hana dan Emil pun berpamitan lebih dulu pada tuan rumah.
Sepanjang perjalanan Emil tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya karena telah bertemu lagi dengan Hana.
”Pa, kita mau kemana?” tanya Emil.
”Makan malam dong kamu tidak ingat hari ini hari apa?” tanya Malik.
Emil menggelengkan kepalanya, ”Emil gak ingat Pa, Emil hanya tahu ini hari jum’at besok Papa libur ya, bolehkah kita ajak mama Hana pergi berlibur?” ucap Emil.
”Kau mau berlibur kemana Sayang, tanyakan dulu sama mama Hana apakah besok free dan bisa diajak jalan?”
”Bagaimana Ma, apakah kita bisa pergi besok?”
”Mm, bagaimana ya? Sebenarnya mama ada janji sama teman mama,” balas Hana.
”Hem, begitu ya? Ya sudah deh gak jadi Pa, batalin saja kita mainnya kapan-kapan saja.”
Hana merasa iba tak tega melihat raut wajah kecewa Emil tapi di satu sisi dia tidak ingin orang beranggapan jika dia memanfaatkan Emil agar bisa dekat Malik.
”Jangan sedih gitu dong, kita bisa jalan-jalan lain waktu, mama janji.”
”Ma, bolehkah aku minta satu permintaan padamu?” ucap Emil.
”Apa itu?”
”Maukah kau menjadi mamaku yang sesungguhnya?”
__ADS_1