
”Mama,” panggil Emil mengurai senyumnya.
”Maafkan mama ya karena baru bisa datang lagi ke sini jenguk kamu, mama tidak enak badan dan Pak Dokter bilang mama harus beristirahat jadi ya terpaksa mama harus ikuti saran Dokter biar segera sehat dan bisa bertemu denganmu lagi.”
”Mama sekarang sudah sehat kan?”
Hana mengangguk, ”Tentu saja dan mama bawa kabar baik untukmu.”
”Apa itu Ma?” Emil seakan tidak sabar menunggu.
”InsyaAllah sebentar lagi kamu akan memiliki adik kecil.”
”Benarkah?” Emil menyunggingkan senyum bahagia mendengar kabar tersebut.
”Emil harus cepat sembuh ya, semangat karena sebentar lagi Emil akan bertemu dengannya.”
”Makasih ya Ma, udah jadi mama yang baik untuk Emil dan juga udah kasih adik buat teman Emil nanti.”
”Sama-sama Sayang, yang penting kamu seat dulu setelahnya kita akan jalan-jalan dan ingat seharusnya kamu sudah berangkat sekolah apa kamu gak kangen bertemu dengan teman-temanmu yang baru?”
Kedua mata Emil berbinar mendengarnya sudah lama dia ingin sekolah karena selama ini dia tidak memiliki teman hanya Malik lah yang selama ini selalu bersama dengannya.
”Mama benar, Emil ingin segera sekolah semoga Allah kasih Emil umur yang panjang biar bisa bertemu dengan mereka.”
”Aamiin,” sahut Hana.
”Bagaimana dengan Oma kemarin, bukankah kemarin Emil ditemani oleh duo Oma?”
”Mereka sangat asyik Ma, hanya Om Alvin dan Tante Sabrina yang berantem terus karena gak mau bareng-bareng.”
”Mereka memang begitu jadi jangan kaget, apalagi Om Alvin kerjaannya ngerjain orang.”
”Tapi dia baik banget kok Ma, gak ada tandingannya pokoknya,” puji Emil.
”Syukurlah jika demikian mama senang mendengarnya.” Hana meraih tangan Emil dan memegangnya erat.
”Kalau Emil sudah boleh keluar dari rumah sakit nanti, ajari Emil banyak hal ya Ma,” pinta Emil.
Hana mengangguk, ”Tentu saja Sayang, mama akan bantu kamu semampu mama nantinya kita belajar sama-sama ya.”
”Kau memang mamaku yang terbaik, aku mencintaimu.”
”Sayang, sudah selesai ngobrolnya kok papa gak diajak ngobrol?” ucap Malik dengan nada lesu.
”Ya, papa datangnya telat sih!” sahut Emil.
”Ya kan papa tadi habis ketemu sama Om Dokter,” ucap Malik
”Bagaimana perkembangannya, Bang?” tanya Hana.
”Jika dalam seminggu ada peningkatan bisa pulang kok, semoga dia bisa melawan rasa sakitnya,” tutur Malik.
__ADS_1
”Emil mau cepat sembuh kan?” tanya Malik.
Bocah cilik itupun hanya mengangguk, ”Semangat!” sambung Hana membuat Emil terkekeh mendengar perkataannya.
Hana kembali memeluk Emil, ”Jangan pernah menyerah mengerti!” bisik Hana.
Pintu terbuka suara langkah kaki terdengar begitu nyaring, ketiganya pun segera menoleh ke arah pintu.
”Papa?” panggil Malik.
”Opa,” panggil Emil keduanya bersamaan.
”Bagaimana keadaan Emil?” tanya Tony Abraham pebisnis tersohor di Paris mantan mertua Malik.
”Sudah lumayan membaik dan masih harus dipantau oleh Dokter.”
”Syukurlah, papa senang mendengarnya cepat sembuh ya Nak, Opa sangat merindukanmu maaf jika Opa jarang menjenguk kamu,” ucapnya seraya mengelus kepala Emil.
”Papa ke sini sendirian?” tanya Malik.
Abraham hanya mengangguk, lalu beralih ke arah Hana. Malik yang menyadari hal itupun langsung memperkenalkannya.
”Dia Hana istriku Pa,” ucap Malik.
”Sayang beliau adalah papanya Tiara, opanya Emil.”
Hana mengangguk dan tersenyum kecil pada pria paruh baya itu.
”InsyaAllah, saya akan melakukannya,” balas Hana.
”Yang lain kemana?” tanya Abraham.
”Mama sama Sabrina dan juga adik ipar sedang pulang ke apartemen kita bergantian karena tidak mungkin kami bersamaan di sini,” jelas Malik.
Abraham mengangguk singkat.
”Malik apa mama Lani tahu jika Emil masuk rumah sakit?” tanya Abraham.
”Saya rasa tahu Pa, ada apa?” tanya Malik merasa ada yang aneh dengan sikap mantan mertuanya tersebut.
Abraham menghela nafasnya.
”Duduklah Pa,” ajak Malik mengarahkannya ke sofa.
”Dia sengaja papa jebak.”
”Maksud papa?”
”Ceritanya panjang tapi intinya papa ingin dia sadar dengan membuat pengakuan palsu jika papa bangkrut dan meninggalkan banyak hutang,” terang Abraham.
”Papa tahu jika selama ini dia tidak pernah mencintaiku dengan tulus karena itu papa ingin membuatnya tersadar sebelum semuanya terlambat.”
__ADS_1
Malik mengangguk mendengar penjelasan mantan mertuanya itu. ”Tapi apakah itu tidak berlebihan Pa?”
Abraham menggeleng, ”Dia itu harus dikasih efek jera biar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.”
”Jika Emil sudah sembuh, saya akan membagi apa yang saya miliki untuknya tujuh puluh persen, dia berhak atas itu karena Tiara putriku sudah tidak ada dan saya akan mengalihkannya atas namanya,” sambungnya.
”Sudahlah Pa, jangan membahas soal itu yang penting dia sembuh dulu,” ucap Malik.
”Kau benar.”
***
”Pak Soleh,” panggil Ustadz Jaka.
”Eh kamu Nak, bagaimana kabarnya kok gak pernah main ke rumah?” tanya Soleh ada rasa bersalah pada pemuda yang ada di depannya ini tapi mau bagaimana lagi kenyataannya Hana tidak berjodoh dengannya.
”Pak Soleh tidak balik ke Jakarta lagi?” jawab Jaka.
Pak Soleh menautkan kedua alisnya, ”Ke Jakarta untuk apa?”
”Bukannya Bu Rita sedang ada di Jakarta dan lama beliau gak pulang ke Jogja?” ujar Ustadz Jaka.
”Tidak, mereka sedang berada di Singapura mengobati anaknya Hana.”
”Apa ke Singapura kok jauh sekali memangnya pengobatan di negara sendiri kurang baik ya?”
”Bukannya kurang baik tapi memang mereka ingin putranya cepat ditangani oleh ahlinya secara langsung. Kamu habis darimana kok rapi amat, amat aja gak serapi kamu?”
”Ah Pak Soleh bisa aja, saya mau ta'aruf sama tetangga baru yang rumahnya di ujung gang depan itu,” jawab Ustadz Jaka sumringah.
”Oh yang depan warungnya Bu Dewi itu, bukannya dia udah ada calonnya ya?” ucap Soleh mencoba menjelaskan pada Jaka karena dia tak ingin pemuda yang ada di depannya ini patah hati untuk yang kesekian kalinya.
”Gak mungkin Pak Soleh jangan becanda Pak, gak lucu tahu yang ada jantung saya jadi bekerja ekstra cepet nih!” Ustadz Jaka mulai panik dia yakin jika Pak Soleh tidak akan membohonginya.
”Kalau tidak percaya silakan saja dicek sendiri tadi ada mobil di depan rumahnya bilangnya sih acara lamaran gitu.”
”Kok Pak Soleh tahu?” Ustadz Jaka semakin penasaran dibuatnya.
”Ya tahulah saya kan habis lewat depan sana,” seru Soleh membuat Ustadz Jaka membulatkan matanya.
”Ini tidak mungkin!” lirihnya segera meninggalkan Pak Soleh yang masih terkekeh melihat ekspresi Jaka.
”Ya ampun anak muda jaman sekarang, cinta memang membutakan mata!” gumamnya.
Pak Soleh masuk ke rumah dia terkejut dengan kedatangan seseorang di masa lalunya.
”Aini, sedang apa kau di sini?”
"Mas Soleh, lama tidak berjumpa apa kabarnya?”
Soleh seakan dejavu dengan apa yang baru saja terjadi. ”Untuk apa kau datang ke sini?”
__ADS_1