Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
78. Belajar Pengertian


__ADS_3

”Emil kok dari tadi melamun terus,” tegur Miss Nina yang memang memberikan perhatian lebih pada Emil.


”Emil lagi kesel Miss,” sahut Emil kedua pipinya menggelembung meluapkan kekesalannya.


”Apa yang membuatmu kesal?” tanya Miss Nina.


”Belakangan ini perhatian mama seakan berkurang Miss,” balas Emil.


”Oh, iya kenapa? pasti ada alasannya kenapa mama begitu,” ujar Miss Nina.


”Emil sekarang punya adik kecil Miss dan mama lebih sering bareng adik kecil ketimbang sama Emil, kan Emil jadi sedih.”


”Hem begitu ya, jangan sedih dong. Emil punya adik kecil jadi sekarang apapun itu harus berbagi dengannya gak boleh egois kan adiknya masih kecil belum bisa sendiri.”


Emil mulai mendengarkan apa perkataan Miss Nina.


”Emil udah bisa bicara, udah bisa jalan, makan sendiri juga bisa, kalau adiknya memang udah bisa?”


Emil pun menggelengkan kepalanya, ”Tiap kali Emil lihat dia sedang minum ASI sama mama dan itu butuh waktu berjam-jam hal yang membuat Emil kesal karena tidak bisa lagi bermanja-manja dengan mama waktunya habis hanya bersama adik saja!”


Miss Nina tersenyum mendengar tanggapan bocah kecil itu. ”Lalu Emil maunya bagaimana?”


”Pengennya Emil juga diperhatikan Miss, tiap kali Emil mau makan disuapi sama mama eh mama sedang kasih ASI sama adik, mau main sama mama eh mama asyik sama adik di kamarnya.”


”Jadi Emil cemburu sama adik?”


Emil mengangguk, ”Emil maunya mama bagi waktu juga buat Emil.”


”Emil adiknya laki-laki atau perempuan?”


”Laki-laki Miss.”


”MasyaAllah, bisa buat teman Emil main bola besok kalau dia udah gede. Emil gak boleh cemburu dengan dia, saling menyayangi ya! Jangan khawatir pasti mamanya Emil juga gak mau jika Emil terabaikan tapi memang adiknya masih kecil jadi Emil juga harus berbagi ruang dulu buat adiknya.”


”Iya Miss.”


”Udah jangan sedih, kamu lihat kan Azizah teman kamu itu dia pengen punya adik tapi gak bisa karena mama sama papanya udah gak ada,” ucap Miss Nina.


”Banyak-banyak bersyukur ya,” lanjut Miss Nina.


Tepat jam dua belas siang Malik menjemput Emil anak itu terlihat lebih ceria dari sebelumnya membuat Malik bertanya-tanya dalam hati.


”Pa, kok ini bukan jalan pulang ya, memangnya kita mau kemana?” tanya Emil.

__ADS_1


”Kita ke kantor papa Sayang, kamu ikut papa dulu ya,” jawab Malik tanpa menoleh ke arah putranya.


”Kok ke sana Emil kan mau segera pulang dan beristirahat di rumah.”


”Istirahatnya kan bisa di kantor papa Sayang, di sana ada Om Alvin juga pasti seru.”


”Yah gak asyik padahal kan Emil mau main sama Aydan di rumah.”


”Maksudnya apa Sayang?”


”Ya mau bantuin mama jagain adik Aydan di rumah,” ucap Emil.


”Kami yakin?” Malik menautkan kedua alisnya tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh putranya.


”Iya yakinlah mana pernah Emil bohong!”


”Ya udah nanti aja pulangnya mainan sama adik bisa kan? Kita makan siang dulu yuk!” Malik memarkirkan mobilnya di halaman restoran siap saji dia ingin memesan beberapa makanan untuk Emil.


Basri saja kakinya akan melangkah masuk kembali ke mobil seseorang memanggilnya.


”Malik.”


Merasa dipanggil Malik pun menoleh ke belakang, ”Papa,” lirih Malik melihat papa mertuanya itu berjalan ke arahnya.


”Papa tidak jadi balik ke sana karena banyaknya pertimbangan. Oh iya bagaimana keadaan cucuku Emil?”


”Dia ada di mobil, aku baru saja menjemputnya dari sekolah. Sebaiknya kita ke kantor saja Pa, kita ngobrol disana bagaimana?” tawar Malik.


”Baiklah, ayo!”


"Emil Sayang, pindah ke belakang ya Opa mau duduk di depan.” Tanpa berkata apapun Emil sudah bergerak sendiri ke belakang.


Sepanjang perjalanan Emil hanya diam wajahnya ditekuk kesal tentu saja karena dia ingin sekali pulang ke rumah dan bermain-main dengan Aydan.


”Malik kenapa cucuku cemberut saja sejak tadi,” tanya Daniel.


”Oh itu, dia ingin segera pulang ke rumah Pa, tapi Malik justru membawanya ke kantor. Di rumah dia sedang ngambek terus karena cemburu dengan adiknya.”


”Maksudmu adik?”


”Hana sudah melahirkan Pa.”


”Alhamdulillah papa ikut senang mendengarnya, Emil kamu jadi seorang kakak ya? Jadi kakak yang baik ya Sayang,” ucap Daniel.

__ADS_1


”Dia masih cemburu Pa, karena dia pikir Hana lebih memperhatikan adiknya daripada dia. Sifat manjanya itu bikin aku kasihan sama Hana karena harus mengurus dua anak tanpa istirahat maka dari itu Malik berencana membawanya ke kantor agar Hana bisa fokus urus si kecil.”


”Papa paham Nak, karena dulu papa juga ngalamin apa yang dirasakan oleh Emil dan juga kamu,” sahut Daniel.


”Mainan sama Opa dulu bagaimana mau kan?”


"Gak asyik Opa ... Emil maunya main sama adik kecil tapi papa malah membawaku ke kantor, huh!” gerutu Emil setelah sampai di kantornya Malik.


”Astaga jadi kamu menolak diajak papa ke sini? Baiklah, kalau begitu papa selesaikan pekerjaan dulu lalu kita langsung balik ke rumah oke!” seru Malik tak ingin melihat wajah kesal pada putranya Emil.


”Oh iya Pa, makasih ya untuk yang udah papa berikan sama Emil bulan lalu,” ucap Malik kemudian.


”Sudahlah jangan dibahas lagi papa hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Emil karena bagaimanapun hanya dia satu-satunya harta papa juga setelah Tiara pergi hanya Emil yang bisa membuatku tersenyum.”


Ya, Daniel yang telah membayar semua pengobatan Emil selama di Singapura dan Malik tak keluar uang satu cent pun. Mengingat banyaknya uang yang telah dikeluarkan oleh Daniel membuat Malik tidak enak hati karena pengobatannya itu mengeluarkan banyak uang bahkan yang Malik dengar mertuanya mengorbankan salah satu perusahaannya yang ada di Paris hanya untuk pengobatan cucunya.


”Yang terpenting Emil sekarang sudah sehat dan bisa kembali bermain, tolong jaga dia dengan baik ya saya percaya sama kamu dan Hana.”


”Terima kasih Pa,” sahut Malik.


”Dan satu lagi jika mama mertuamu mencariku bertanya padamu tentang keberadaan papa, bilang saja kamu tidak tahu menahu karena papa sudah malas untuk bertemu dengannya.”


”Baik Pa.”


”Emil Sayang, ayo main sama Opa biarkan papamu bekerja nanti kita ke rumah sama-sama karena Opa juga pengin lihat adiknya Emil, boleh kan?” seru Daniel.


”Boleh kok Opa, tapi jangan ganggu dia kalau dia sedang tidur ya Opa, kasihan mama Hana pasti capek seharian urus dia di rumah.”


”Tumben anak papa pintar, biasanya gak mau kalah!”


”Tadi Miss Nina bilang sesama saudara harus saling menyayangi gak boleh egois!”


”Benarkah?” ucap Malik tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh putranya itu pantas saja tadi dia cemberut begitu mendengar dia tidak pulang ke rumah melainkan ke kantornya. Malik sudah salah tanggap terhadap sikap Emil.


Malik membiarkan keduanya ngobrol sedangkan dia sendiri fokus dengan kerjaannya di depan laptop.


”Bos ada tamu,” seru Faris.


”Siapa?”


Faris melirik sekilas pada Daniel dan Emil lalu berbisik pada Malik.


”Apa dia ada di sini?” kedua mata Malik membulat sempurna tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Faris asistennya.

__ADS_1


__ADS_2