
”Kenapa kau mau menikahi putriku?” tanya Soleh mulai menginterogasi Malik.
”Karena saya mencintai putri bapak di awal pertama kali bertemu dengannya.”
Soleh mengangguk mendengar penuturan Malik. ”Saya salut dengan keberanian Anda ke sini, jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk menyatakan perasaan Anda sekaligus melamarnya. Hana, apakah kau bersedia menikah dengannya?” tanya Soleh beralih ke wajah putrinya.
”Mm, Hana ... Hana mau Pa,” jawab Hana ragu.
”Alhamdulillah,” ucap Malik tanpa sadar membuat ketiganya menoleh ke arahnya.
”Memangnya kalian sudah membawa surat-suratnya untuk di daftarkan ke KUA?” tanya Soleh.
”Belum Pa, kami ke sini karena ingin meminta restu terlebih dulu,” jawab Hana.
”Mm, bagaimana kalau kita nikah siri dulu nanti begitu sampai di Jakarta kita langsung urus semuanya. Bagaimana menurut Pak Soleh?” tanya Malik.
Soleh menatap ke arah Malik intens mencoba meyakinkan hatinya jika Malik adalah jodoh terbaik untuk putrinya mengingat dia sudah terlanjur klop dengan Jaka anak sahabatnya di kampung ini.
”Sebenarnya Papa berat jika harus menikahkan kalian, sekarang apalagi itu hanya nikah siri kau tahu Nak, hidup di kampung dan di kota itu berbeda. Bagaimana jika Hana menjadi bahan gunjingan, apalagi nikahnya mendadak akan timbul banyak pertanyaan di masyarakat dan mereka mengira pasti putriku melakukan hal-hal yang tidak baik di kota, bagaimana menurut Mama?” tanya Soleh pada Rita istrinya.
”Ya jika itu lebih baik tidak masalah Pa, lagipula untuk menghindari fitnah juga apalagi mereka sudah kerap jalan berdua, namanya netizen baik atau buruk pasti akan dikomentari,” ucap Rita.
Malik merogoh kantong jasnya dan menyerahkan kotak beludru kecil berwarna navy. ”Saya hanya sempat membawa cincin saja, selebihnya akan saya urus setelah pulang dari sini.”
Soleh menarik nafasnya perlahan. ”Baiklah jika memang kalian berdua sudah berniat untuk menjalani semua ini, Papa hanya bisa kasih restu pada kalian berdua. Papa panggilkan Pak Amir dulu ya buat menikahkan kalian berdua dan beberapa saksi di sini.”
Soleh segera menyiapkan semuanya dia tak ingin mengecewakan anak gadisnya meskipun hati kecilnya sempat merasa ragu karena Malik orang kota dan dia berpikir sifatnya akan sama dengan Eric pria yang batal menjadi calon menantunya.
”Semua sudah siap Ma, Pak penghulu sudah datang,” ucap Hana.
”MasyaAllah kamu cantik sekali Nak,” puji Rita.
”Jangan terlalu memuji nanti aku jadi besar kepala,” sahut Hana.
”Sudah ayo keluar, tamu sudah menunggu di depan.”
Rita menggiring putrinya ke depan yang sudah banyak tamu yang merupakan tetangganya sendiri.
”Apakah kau sudah siap Nak?” tanya Pak Amir sebagai penghulu.
”Sudah Ustadz,” jawab Hana.
”Saya terima nikahnya Hana Puspita Sari binti Mahendra Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucap Malik.
”Bagaimana para saksi sah?”
”Sah!”
”Sah!”
”Alhamdulillah, Al Fatihah,” ucap Pak Amir melantunkan doa-doa untuk kedua mempelai dan diaminkan oleh para tamu undangan yang hadir.
”Kalian sudah sah menikah secara agama, papa harap kalian segera meresmikannya secara hukum. Malik tolong kau pegang ucapanmu setelah pulang dari sini tolong segera kau daftarkan pernikahan kalian ke KUA.”
__ADS_1
”Baik Pa, kalau begitu kami permisi dulu.” pamit Malik yang langsung mengajak Hana bertolak ke Jakarta malam itu juga.
”Hati-hati ya, jika sudah sampai tolong segera hubungi kami,” ucap Rita.
”Baik Ma, kami permisi dulu. Assalamualaikum,” pamit Hana dan Malik segera cek in ke masuk ke bandara.
”Waalaikumussalam.”
***
”Kita pulang ke rumahku ya,” tawar Malik.
”Tapi aku gak bawa baju ganti,” balas Hana.
”Gak perlu khawatir nanti biar Bik Surti yang menyiapkan semuanya,” ucap Malik segera memutar kemudinya menuju ke rumahnya.
Hana menggulir ponselnya dan mencari nama adiknya.
”Hallo Kak, astaghfirullah kenapa nikah aku gak dikabari sih!”
”Eh dengerin dulu, malam ini kakak gak pulang ke rumah ya.”
”Loh mau langsung tancap gas?”
”Astaghfirullah bicaramu itu, ini udah malam Vin, jadi besok pagi kakak baru pulang ini baru nyampai di rumahnya Pak Malik. Ya udah aku tutup dulu ya, Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Hana mematikan ponselnya dan ternyata Malik tengah menatapnya dengan tatapan yang suit dibaca.
”Ada apa, kenapa melihatku begitu?” tanya Hana.
”Mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan ’Pak’ bukankah saya sudah jadi suamimu,” ucap Malik.
”Eh, iya lalu saya harus panggil apa?” tanya Malik.
Bukannya menjawab Malik justru semakin mendekat ke arah Hana.
”Panggil dengan sebutan Abang bagaimana? Ganti kata sapaan kita jadi ’aku, kamu’ mengerti kan?” ucap Malik.
”Baik, adalagi?” tanya Hana.
”Sementara cukup itu dulu, ayo turun jika Emil tahu pasti dia akan sangat bahagia,” balas Malik.
”Memangnya dia sudah pulang?” tanya Hana.
”Belum, besok kita jemput dia sekalian urus surat-surat buat ke KUA. Kita istirahat saja dulu,” ucap Malik menggandeng tangan Hana masuk ke rumahnya.
”Assalamualaikum Bik Surti,” sapa Hana.
”Waalaikumussalam, eh Non Hana ke sini,” sahut Bik Surti.
”Bik tolong siapkan baju yang dulu pernah saya beli buat Sabrina ya, kasihkan ke Hana buat ganti,” ucap Malik.
__ADS_1
”Sayang aku ke kamar mandi dulu ya nanti tunggu Bik Surti kasih baju ganti nanti nyusul ke kamarku,” lanjut Malik.
Hana mengangguk membuat Bik Surti menjadi semakin penasaran dengan sikap bosnya tersebut.
”Non, ada apa?” tanya Bik Surti menyelidik.
”He ... he ... bajunya mana Bik?” balas Hana.
Bik Surti terpaksa menuju ke kamar tamu dimana baju-baju milik Sabrina ada di sana.
”Ini bajunya Non, tenang saja ini masih baru baju tidurnya Non Sabrina yang beliin Pak Malik tapi gak pernah dipakai sama sekali,” jelas Bik Surti.
”Makasih Bik, aku ke kamar dulu ya,” pamit Hana.
”Non,” panggil Bik Surti.
”Iya ada apa?” tanya Hana berbalik ke arah Bik Surti.
”Mm, itu apakah benar?” tanya Bik Surti tersenyum malu-malu.
”Jawab gak ya?” Hana mengurai senyumnya. ”Tanya dia saja ya Bik, biar dia yang jawab.”
Hana kembali melangkah ke kamar Malik. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
”Apa dia sedang mandi?” gumam Hana.
Dengan setia Hana menunggu di sofa netranya menelusuri setiap sudut ruangan, ”Kenapa meja kerja sekalian di sini?” gumam Hana.
Kelamaan menunggu Malik keluar, Hana pun tertidur di sofa.
”Sayang,” panggil Malik.
”Eugh, ngantuk sekali,” lirih Hana.
”Mandi dulu baru istirahat!” ucap Malik sedangkan Hana masih mengerjapkan kedua matanya.
”Aarrgh ...” teriak Hana menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Hana merasa malu apalagi yang ada di depannya adalah roti sobek yang ditumbuhi sedikit bulu halus membuat pikiran Hana langsung travelling seketika.
”Ada apa?” tanya Malik tetap tenang.
”Pakai bajunya Bang!” seru Hana.
Malik menarik nafasnya perlahan. ”Sayang, kau lupa kita sudah menikah jadi tak ada larangan jika aku seperti ini ’kan? Buka matamu!”
Jarak keduanya semakin dekat Hana menahan nafasnya detak jantungnya berdebar kencang, Malik seakan sengaja mengikis jarak dan menggoda Hana.
”Ya Allah, tolong aku,” gumam Hana.
Inilah kamarnya Malik 🤭
__ADS_1