Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
94. Malik Kembali


__ADS_3

”Alvin ngapain kamu ke sini?” Hana meletakkan Aydan ke box bayi begitu melihat Alvin datang ke rumah.


”Hm, gak boleh nih Om jenguk keponakan?” sahut Alvin mengajak bercanda baby Aydan.


”Modus! Kakak tahu pasti ada udang di balik batu.” Hana duduk melipat tangannya di dada.


Alvin mencoba santai tidak begitu menanggapi perkataan Hana dan tetap fokus bermain dengan keponakannya yang semakin hari semakin gemoy tapi mendengar Hana menanyakan perihal Untari, Alvin langsung balik badan melihat ke arah Hana.


"Kamu beneran ya gak mau mencoba dengan Untari?”


”Kenapa Kak Hana nanyain begitu?”


Hana teringat terakhir kalau bertemu dengan Untari, gadis itu memberitahukannya jika dia ada niatan balik ke Kairo. Hana pasti sangat menyayangkan sikap Alvin jika sampai itu terjadi, karena bagaimanapun dia ikut andil karena tempo hari telah membujuk gadis itu menemui adiknya. Jika sekarang gadis itu ternyata menyukai adiknya, bukankah kewajibannya untuk membantu.


”Ya siapa tahu, kan soal hati gak kelihatan.”


”Aku habis ketemuan sama dia,” seru Alvin kedua mata Hana membulat mendengar pengakuan adiknya.


”Aku habis dari kantornya Bang Malik lalu ke sini,” ucap Alvin nyengir gigi kuda.


Memang Alvin sengaja datang ke sana hanya untuk menemui gadis itu, belakangan dia tak melihat sosoknya membuatnya merasa rindu. Ya, belakangan ini Alvin berpikir keras dengan apa yang telah menimpanya dirinya tidak mungkin larut dalam cerita masa lalu berharap yang tidak mungkin untuknya dan membuka lembaran baru adalah solusinya.


Alvin tak mau bersusah payah mencari, cukup yang pasti dan mendapat dukungan dari orang di sekitarnya itu sudah merupakan hal yang membahagiakan untuknya.


"Jadi kau ... ”


"Iya hehehe ... ”


”Biasanya dia akan datang ke sini kalau sore, tapi gak tentu juga sih ini sudah dua hari dia gak kelihatan. Emil juga suka sama dia karena Untari suka ajarin dia mengaji.”


”Minta restunya Kak, semoga kita berjodoh aku mau berusaha mengejarnya.”


Hana menggelengkan kepalanya tapi juga bahagia karena Alvin sudah kembali menjadi laki-laki yang baik. ”Bagaimana dengan therapy kakimu, apakah ada perubahan? Cepatlah sembuh karena kamu harus segera balik ke kantor, aku udah gak kuat bolak-balik kesana-kemari apalagi ada baby Aydan gak mungkin aku tinggal.”

__ADS_1


”Doain saja ini aku juga udah berusaha semaksimal mungkin biar bisa segera sembuh berjalan dengan gagah tanpa bantuan alat lagi,” tutur Alvin.


”Bang Malik kapan pulang?”


Hana mengangkat wajahnya menatap Alvin. "Kenapa tanya dia?”


”Aku mau tanyain sesuatu sama dia, itu aja sih, aku boleh nginap sini ya Kak.”


Hana mengerutkan keningnya, ”Kalau kau tidur di sini siapa yang akan jagain mama di rumah.”


”Kan ada papa di sana, tadi jam sepuluh baru aja sampai makanya Alvin segera pergi ya abisnya mereka berdua mesra-mesraan aja bikin ngiri aja!”


Hana tergelak, ”Kalau iri ya segera nikah!”


Alvin hanya mengangguk dia memang sedang merencanakan masa depan yang lebih baik sejak ke sekian kali dirinya patah hati.


Jam dua pagi suara mobil terdengar masuk ke garasi, Pak Tejo yang ikutan berjaga di depan bersama sekuriti pun ikut terkejut karena bosnya pulang tanpa beri kabar lebih dulu. Malik segera ke atas dan membersihkan diri, dia tak ingin mengganggu istri dan anaknya yang sedang tertidur lelap.


Malik naik ke ranjang pelan tak ingin membangunkan Hana dipandanginya wajah cantik istrinya itu lalu ikut memejamkan matanya karena lelah seharian bekerja di lapangan, biarlah besok libur dan seharian di rumah dia memanjakan anak dan istrinya.


Hana menggeliat tubuhnya seakan remuk karena seharian menjaga kedua putranya sendiri. ”Bang,” lirih Hana terkejut melihat Malik ada di depannya.


”Kapan balik?” Hana masih menatap ke arah Malik.


”Tadi malam, kamu capek sekali ya mengurus duo jagoanku?” kemari Malik membelai rambut Hana.


”Mm, kenapa Abang gak kabar-kabar kalau mau pulang bilangnya malam ini tapi Hana ditungguin gak juga kasih kabar ya udah Hana ketiduran.”


”Maaf.” Malik kembali memeluk Hana. "Hari ini Abang gak ke kantor kok biar Faris yang urus sisanya kemarin, hari ini buat kalian bertiga.”


”Beneran?” ucap Hana meyakinkan suaminya itu.


”Iya Sayang, ayo bangun!”

__ADS_1


Hana merapikan kamarnya dan bergegas mengurus rumahnya setelah membereskan kewajiban diri. Hana ke dapur menyiapkan sarapan setelah memastikan kedua jagoannya sudah bangun dan meletakkannya di ruang tengah bersama dengan Malik.


”Kamu kok tambah gemoy boy,” ucap Malik pada Aydan dia semakin gemas ingin mencubit pipinya yang chubby. Baby Aydan hanya tersenyum mendengar perkataan papanya yang dia hari tidak dilihatnya.


”Siapa dulu yang merawat Bang,” ujar Alvin datang menghampiri.


Malik menoleh adik iparnya sedang meringis padanya. ”Sejak kapan kamu ada di sini?”


”Aku nginap di sini Bang semalam, lah gak ada yang jemput kok,” kilah Alvin.


Malik pun mencibir sikap adiknya itu, ”Kamu kan bisa naik taxi! Pasti ada sesuatu nih!” Malik tidak serta-merta percaya begitu saja pada Alvin, Malik beranggapan anak muda yang ada di depannya ini pasti hanya basa basi saja terhadapnya.


”Pa, papa gak bawa oleh-oleh nih buat Emil?” ucap Malik mengalihkan perhatian Malik.


”Ya ampun papa lupa Sayang.” Malik terkekeh melihat ekspresi Emil yang cemberut karena merasa dilupakan olehnya.


”Sarapan dulu yuk! Bik Surti udah bikinkan nasi goreng,” ajak Hana. Semuanya beralih ke meja makan begitu juga dengan Bik Surti, dia juga makan bersama dengan majikannya itupun karena perintah dari Hana dia ingin semakin dekat dengannya karena ingin menjadikannya sebagai bagian dari keluarga karena Bik Surti lah yang selama ini banyak membantu Malik dan Emil melewati semuanya.


Tepat jam sembilan ketika semuanya sedang bermain bel pintu rumah berbunyi. Hana segera bangkit untuk melihat siapa yang datang.


”Eh Mas Eric, ada apa ya Mas?”


”Gak disuruh duduk dulu?”


Hana nampak bersalah karena ada Malik di rumah dan lagi kenapa Eric nekad datang lagi ke rumah bukankah tempo hari dia sudah berpesan untuk datang saja ke kantor suaminya itu.


”Ada apa kamu ke sini Eric?” Suara berat Malik terdengar membuat keduanya terkejut.


Ketiganya pun duduk dan Hana mencoba menjelaskan dia tak ingin suaminya salah paham. ”Sebentar Bang aku ambilkan berkasnya kemarin.”


Hana masuk ke kamar mengambil berkas yang tempo hari dia letakkan di meja kerja suaminya.


”Untuk apa kamu datang ke sini, apa kamu mau berusaha mengambilnya dariku?” tanya Malik mengintimidasi Eric.

__ADS_1



ekspresi Malik kesal, cemburu pada Eric


__ADS_2