
”Na, kamu tahu tadi mama sama papa baru saja bertemu dengan Eric, penampilannya berbeda dari pertama kali dia datang ke rumah ini,” ucap Rita membuat Soleh menyenggol lengan istrinya itu.
”Apaan sih Pa, faktanya emang begitu kok.”
”Tapi jangan diberitahukan pada Hana kan bisa Ma,” tegur Soleh dia tak mau Rita menjadi tukang kompor yang mengompori hati orang lain.
”Hana sudah tahu kok Ma, Pa, sudah beberapa bulan sejak dia keluar dari kantor dia memang memilih usaha sendiri daripada ikut orang gitu.”
”Benarkah, jadi setelah dia membatalkan pernikahanmu itu dia jadi seperti itu?” tanya Rita tak percaya.
”Lebih tepatnya sebulan setelah Ma,” jawab Hana.
”Hana juga udah pernah nyobain baksonya dan itu bukan dia yang bikin tapi ibunya yang buat dan dia hanya menjualkannya dengan cara keliling komplek,” sambung Hana.
”Bagaimana rasanya enak gak?” tanya Rita.
”Lumayan buat ukuran bakso keliling gitu, kalau bikin kios sendiri mungkin akan lebih laris.”
”Roda itu berputar dulu dia begitu banyak gaya sekarang ... papa bersyukur kamu gak jadi sama dia,” ungkap Pak Soleh.
”Sudah jangan dibahas lagi, Hana pulang dulu ya Ma, Pa, Bang Malik udah nungguin di depan tuh!”
”Loh gak masuk dulu?” tanya Rita.
”Bang Malik lagi capek banget katanya Ma, mau langsung istirahat.”
”Hati-hati di jalan jangan ngebut ya!”
”Baik, Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Hana memperhatikan wajah Malik yang tampak berbeda dari biasanya, ”Abang kenapa, kelihatan bahagia sekali?"
”Iya memang Abang sedang bahagia kenapa gak boleh?”
”Boleh banget kok Bang, Hana malah senang kalau Abang bisa senyum terus tandanya tidak kurang apapun.”
”Hem, sepertinya ada udang di balik gorengan nih!"
”Tahu aja!”
”Kenapa Sayang, katakan!” titah Malik.
”Besok ke toko perlengkapan baby yuk! Aku pengen bikin kamar baby boleh ya?”
”Tumben istriku manja biasanya apapun dilakukan sendiri.”
__ADS_1
”Tuh kan tempo hari mau pergi bareng Indah tapi Bang Malik sendiri yang gak kasih ijin,” protes Hana.
”Astaghfirullah maaf Sayang, Abang lupa tapi Abang punya sesuatu untukmu.”
”Apa itu?”
”Tunggu aja di rumah ya,” jawab Malik mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah.
”Bang, itu apaan di depan rumah kok banyak banget?” tanya Hana keheranan.
Malik tersenyum karena barang pesanannya langsung tiba di rumah tidak sia-sia dia melotot di depan ponsel memilah barangnya dengan teliti.
”Kamu lihat saja sendiri ya, Abang mau gendong Emil dulu ke kamarnya.” Bocah itu tertidur karena kelelahan karena seharian bermain dengan oma dan opanya di taman.
”Non Hana sudah pulang?” sapa Bik Surti.
”Iya, Bik itu milik siapa ya kok banyak banget di depan,” tanya Hana.
”Loh memangnya Non Hana gak tahu kalau Den Malik yang beli itu semua?” balas Bik Surti.
”Bang Malik? Hana gak tahu sama sekali Bik.”
”Itu peralatan baby Non, sudah komplit kok dari ranjang baby baju dan semua peralatannya.”
”Bang kok beli begituan gak bilang sama Hana,” ucap Hana mencebikkan bibirnya.
”Suka sih tapi kapan belanjanya kok aku gak diajak?”
Malik pun merogoh ponselnya dan mengacungkannya pada Hana, ”Belinya di sini kok, Abang gak kemana-mana lagipula mana sempat Abang jalan-jalan di kantor aja banyak kerjaan. Kita buat kamar baby besok!” ucap Malik mantab.
”Bik tolong panggilkan Mang Tejo sama sekuriti satu buat bantuin bawa barangnya ke atas ya.”
”Baik bentar ya Non.” Bik Surti segera ke depan memanggil sekuriti dan Mang Tejo di belakang yang sedang beristirahat di kamarnya.
”Pak Malik ini semua mau dipindahin di mana?” tanya Mang Tejo.
”Kamar paling ujung Mang,” jawab Malik yang ikut mengangkat barang-barang tersebut ke lantai dua.
”Habis berapa duit itu semua, banyak sekali,” lirih Hana.
”Sudah jangan dipikirkan Non, Den Malik pasti sudah mempertimbangkannya kenapa dia beli begitu banyak barang tanpa ditemani bisa saja karena tidak mau Non Hana kelelahan, belanja begitu banyak juga capek loh Non jalan kesana-kemari,” papar Bik Surti.
”Iya Bik, makasih ya sudah bantuin kita selama ini.”
”Sekarang Non Hana makan dulu nanti istirahat, Den Emil juga sudah bangun mungkin suara berisik di sebelah kamarnya mengganggunya.”
”Baik, Hana ajak Emil sekalian ya Bik.”
__ADS_1
***
”Totalnya semua 915 ribu berarti bisa nabung 200 ribu, ini uangnya Bu silakan buat modal lagi besok Eric jualan lagi.”
”Kau semangat sekali, apa mau ditambah stok buat besok?” tanya Dewi melihat hasil jualan putranya laku membuatnya semakin semangat membantunya.
”Menurut ibu bagaimana? Kalau ditambah baksonya gak apa mungkin ya kalau misalnya gak laku bisa dimasukin kulkas dijual besoknya lagi,” usul Eric.
”Boleh kalau begitu nanti malam bikin baksonya ditambahi lagi ya, biar sekalian ibu belanja dagingnya.”
”Baiklah Bu, Eric nurut saja sudah dibantu membuatnya saja Eric sudah senangnya bukan main, terima kasih ya karena sudah sabar dalam membantu Eric.”
”Tidak masalah sebentar lagi adikmu Bayu akan jadi sarjana dan ibu berharap dia bisa menggantikan dirimu menjadi tulang punggung keluarga, jadi kamu tidak perlu memikirkan ibu kau cukup memikirkan keluargamu lebih tepatnya istri dan anakmu,” ungkap Dewi yang sangat berharap menantunya bisa berubah dan bisa menjadi ibu yang baik untuk cucunya.
”Ayu kemana Bu, kok sepi?” tanya Eric.
”Ada di tetangga sebelah lagi gendong anaknya.”
”Hah, kok ibu ijinkan dia pergi padahal di rumah banyak kerjaan.” Eric kembali kesal mendengar tingkah laku istrinya itu.
”Sudah jangan diambil hati dia memang sengaja membawanya ke tetangga karena tadi anakmu rewel,” ucap Dewi.
”Tapi tetap saja sih Bu, itu sangat menyebalkan kenapa dia pergi tanpa mau membantu ibu masak di dapur.”
”Mas Eric mau beli bakso apakah masih ada?” tanya Jamilah janda sexy depan rumah.
”Habis Mpok, besok lagi ya!” balas Eric.
”Yah, padahal dari kemarin mau beli gak sempat juga, begitu bisa pulang lebih awal malah udah kehabisan. Saya penasaran sih Mas, kata si Ucup anak kecil yang suka main depan rumah baksonya Mas Eric enak.” Jamilah mengacungkan jempol tangannya pada Eric.
”Alhamdulillah, kalau enak saya juga saya ikut senang Mpok, karena itu semua yang buat ibu saya jadi saya terima beres dan jual keliling gitu.”
Mpok Jamilah semakin mendekat dan menempel pada bahunya.
”Besok dibagi beneran yah lima mangkok juga gak apa nanti biar aku ajak teman-temannya ke tempat mangkalnya Mas Eric.”
”Aduh gak perlu segitunya Mpok, biar nanti Ayu yang antarkan bakso pesanannya ke rumah.”
”Duh Mas Eric kok gitu kan biar banyak yang beli juga kalau bawa teman lima satu orang pesan lima mangkok kali lima udah berapa duit itu, banyak kan?”
Eric mengangguk membenarkan perkataan Jamilah.
”Bagaimana Mas Eric boleh ya?” ucap Jamilah seraya mengusap paha Eric membuatnya meremang seketika diperlakukan seperti itu, sudah sejak lama Ayu terus saja menolaknya dengan alasan Eric gak memiliki uang dan hanya mengutamakan keinginan batinnya saja.
Beberapa kali Eric menjauhkan diri Jamilah tapi wanita itu terus saja mendesaknya hingga Eric terdesak dia sudut ruangan.
”Apa yang kalian lakukan? Gak tahu malu masih sore begitu dasar mesum kalian!”
__ADS_1
Eric dan Jamilah terkejut mendengar suara itu, apakah dia melihat semuanya?