Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
114. Kepergian Aisha


__ADS_3

”Sayang kamu baik-baik saja kan?” Malik tidak dapat menyembunyikan perasaan khawatirnya pada istrinya karena sejak menjemput Emil hingga jam empat sore dia baru pulang ke rumah.


”Maaf Bang, Hana pulang telat.”


”Abang tahu kok, Emil sudah cerita semuanya.” Malik memeluk Hana dengan erat lalu mengecup kening wanita itu.


”Segera bersihkan diri dulu sebelum memegang Aydan.”


”Iya Bang, oh iya tadi aku juga bertemu dengan Aisha di sana.”


”Aisha, mantan adik kamu itu?”


”Bukan mantan ya, mereka belum pernah berpacaran lebih tepatnya saling mencurahkan isi hati. Dia baru saja pendarahan dan akhirnya janinnya gak selamat.”


”Innalillahi, lalu apa dia bersama dengan suaminya?”


Hana menggeleng, ”Dia pergi sendiri ke rumah sakit karena keduanya sedang bertengkar dan kabar inipun Bima belum tahu, tadi aku sempat mau tanya tapi urung karena aku penginnya dia bicara sendiri bukan aku yang mencari tahu.”


”Kasihan juga sih lihatnya,” lanjut Hana.


”Kita doakan yang terbaik buat mereka, kamu sendiri loh yang bilang begitu,” ungkap Malik.


”Itu pasti Bang tanpa diminta pun Hana akan teta mendoakannya.”


Malik tersenyum dia bahagia entah karena apa yang jelas memiliki istri sebaik dan secantik Hana membuatnya tidak bisa untuk berpaling ke lain hati hanya dia yang selalu ada di hati Malik.


”Kenapa Abang tersenyum?”


”Kamu selalu cantik buatku, terima kasih karena sudah memilihku.”


”Mm, mulai lagi nih," ujar Hana.


"Gak apa yang penting kan sudah halal, gak akan ada yang melarangnya.” Keduanya pun masuk ke kamar dan menguncinya kemudian.


Sedangkan di ruang tengah Emil sedang merecoki Aydan dan juga Maryam keduanya tengah bermain bersama.


”Mama sama papa kalau mandi pasti lama banget!” protes Emil membuat Maryam tertawa mendengarnya.


"Jangan begitu gak boleh Sayang, mama kan baru pulang sedangkan papa udah mandi sejak tadi jam tiga dan sholat ashar berjamaah kan tadi. Kamu lupa ya?”


"Eh iya juga ya, Oma sejak tadi ikut bantuin jagain adik juga. Kasihan sih teman Emil harus dirawat di rumah sakit mana mamanya gak punya uang lagi.”


Maryam menyukai cara berpikir Emil, dirinya sangat peka dengan keadaan sekitarnya, ini berkat asuhan dari menantunya Hana karena tanpa dia Emil tidak mungkin menjadi anak sekuat seperti sekarang.


”Emil mau bantu?”


”Emang bisa?”


”Tentu saja bisa dengan mendoakan dan juga berbagi apa yang kita punya.”


”Kalau itu sih Emil udah lakuin Oma,” balas Emil.

__ADS_1


”Syukurlah jika begitu, Oma bangga punya cucu modelan kayak kamu.”


Malik tertawa mendengar perkataan mamanya, ”Mama bisa aja kalau anaknya modelan kayak Malik bagaimana Ma? Apa mama juga bangga?”


”Kau ini bisa saja kalau ngeles orang. Apa Hana sudah selesai?”


Malik mengangguk, ”Silakan mama istirahat, nanti makan malam di sini saja jangan pulang dulu.”


Malik pun mengajak Maryam ke ruang kerjanya dia ingin membicarakan sesuatu terkait Tante Lani.


”Memangnya penting sekali ya, sampai harus ke sini segala,” ujar Maryam.


”Iya ini urgent gak mungkin Malik bicara di depan Emil bagaimanapun aku juga harus menjaga perasaannya karena anak itu kritis sekali gak boleh mendengar kata-kata ekstrim nanti Hana bakal mendiamkan Malik.”


”Katakan saja apa itu!”


”Ini soal Tante Lani. Jika dia ada menghubungi mama dan meminta uang tolong jangan diberi sepeserpun dia itu penipu!” ucap Malik.


Maryam memicingkan matanya, ”Serius?”


”Iya, bahkan dia udah membawa uang Malik dan juga menjual rumah yang memang sengaja Malik kasih ke dia.”


”Astaghfirullah, kenapa ada orang seperti itu. Lalu bagaimana dengan Hana apakah dia tahu soal ini?”


Malik menggelengkan kepalanya, ”Untuk masalah uang dia tahu tapi rumah yang dijual itu dia belum tahu, Malik sendiri bingung bagaimana menyampaikannya karena ini hal sensitif. Tempo hari saja dia kesal sama Malik karena membelikan banyak barang buatnya.”


”Malik pikir dengan Malik memberikan modal padanya, dia tidak akan lagi mengganggu kehidupan Emil bagaimanapun dia Omanya tak mungkin jika aku memisahkan mereka meskipun aku tidak suka dengan wataknya sekalipun,” lanjut Malik.


”Sebaiknya kau memberitahukan mantan papa mertuamu di Paris biar beliau ikut bertindak!”


”Jangan Ma, aku gak tega jika beliau harus ke sini mengingat kesehatannya sedang tidak baik-baik saja karena penyakit jantungnya.”


”Baiklah, tapi sebaiknya kau bicara pada Hana, mama takut terjadi kesalahpahaman lagi nantinya.”


”Mm.”


***


”Cepat Sayang kita udah telat nih, nanti Bang Malik protes karena kita masuk kerja suka-suka!” teriak Alvin pada Untari.


”Iya bentar dikit lagi nih,” sahut Untari mengambil ponsel dan juga sepatunya.


”Assalamu’alaikum.”


”Waalaikumussalam,” jawab keduanya Alvin segera bangkit melihat siapa yang datang di pagi hari.


”Bima, ada apa ya pagi-pagi ke sini memangnya kamu gak kerja?” tanya Alvin.


Untari yang baru saja keluar pun akhirnya hanya diam melihat tamu tak diundang di pagi hari, kenapa bima tidak berpikir jika sekarang adalah jam sibuk waktunya orang bekerja mencari nafkah.


”Vin, aku mau pinjam uang sama kamu.”

__ADS_1


Alvin diam kenapa temannya itu sekarang jadi seperti ini padahal dulu saat kuliah dialah yang paling banyak memiliki uang, tapi sekarang. Alvin mendesah berat mendengar perkataan Bima.


”Memangnya buat apa uang tersebut? Kamu gak coba buat pinjam sama keluarga di rumah.”


”Aku gak berani.” Bima terdiam mana mungkin dia meminjam pada orang tuanya yang ada dia kena semprot mereka.


”Memangnya buat apa uang itu?” tanya Untari kali ini dia gak bisa diam saja dia sudah harus bekerja tapi di jam ini dia masih berada di rumah.


Alvin menggenggam erat tangan Untari di belakang punggungnya dia tak ingin Untari jadi kesal karena situasi yang sedang terjadi. Alvin tahu jika Untari tidak suka dengan Bima.


”Buat biaya operasi Aisha.”


"Apa yang terjadi?” Alvin langsung panik mendengar Aisha akan dioperasi dan hal itu membuat Untari cemburu.


”Dia keguguran dan harus segera dikuret aku mau pinjam lima juta saja, aku gak ada pilihan lain selain minta tolong sama kamu. Jika aku minta sama keluarga mereka pasti akan marah karena Hafsah masih kecil tapi sudah dikasih adik lagi sedangkan aku dalam posisi menganggur.”


Untari menggeleng kemudian, ”Apa Mas Bima tidak bisa kasih penjelasan dengan keluarganya jika anak itu adalah rezeki yang tidak semua orang bisa memilikinya. Kasihan Mbak Aisha, sebaiknya segera dilakukan operasinya.”


”Sayang, tapi kan ... ”


”Kasihan Vin, aku sebagai wanita gak tega sebaiknya segera ke rumah sakit dan urus administrasinya segera.”


”Sebenarnya dia masuk rumah sakit sejak kemarin kakakmu Hana juga tahu jika istriku pendarahan kemarin siang.”


”Apa dan selama itu kamu membiarkan dia kesakitan? Dasar brengsek!”


Alvin hendak menghajar Bima tapi Untari berusaha menghalanginya. ”Jangan Vin, sekarang waktunya kita ke rumah sakit dia pasti sudah tidak tahan lagi menahan sakit.”


Dengan cepat ketiganya segera menuju ke rumah sakit. Untari menghubungi Maya dan meminta ijin untuk datang terlambat karena ada urusan yang sangat penting yang tidak bisa ditinggal.


Alvin menggila dengan mengendarai mobilnya cepat dia tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya itu, ya meskipun cintanya tidak berbalas dia ikhlas jika Aisha bahagia bersama senang pilihannya.


Alvin mempercepat langkahnya mengikuti Bima yang sudah lebih dulu berada di depan. Begitu tiba di depan kamar seorang Dokter baru saja keluar dengan raut wajah yang sulit dibaca.


”Bagaimana keadaan istri saya Dok?” tanya Bima.


”Maafkan kami karena istri Anda tidak dapat kami tolong dia mengalami pendarahan hebat satu jam yang lalu.”


Alvin mundur tubuhnya menabrak dinding lemas seketika, Untari mencoba menguatkan suaminya. Sama halnya dengan Alvin, Bima pun lemas seketika.


”Ini semua gara-gara kamu, pria tidak bertanggung jawab! Dasar brengsek!”


Bugh!


Alvin tidak dapat menahan kemarahannya lagi dengan brutal dia menghajar Bima melampiaskan kekesalannya pada pria yang dia sebut sebagai sahabat itu.


”Aku tidak akan memaafkan dirimu, kau tidak bisa menjaganya dengan baik!”


Bugh!


Alvin tidak memperdulikan tatapan mata yang sedang melihatnya, dia benar-benar melampiaskan kekesalannya pada Bima hingga pria itu babak belur dihajar olehnya.

__ADS_1


__ADS_2