Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
40. Penyakit Emil


__ADS_3

”Hallo ada apa kau menghubungiku bukankah sudah aku katakan jika hari ini aku ingin fokus di rumah.”


”Hallo maaf Bang, aku hanya ingin kasih tahu jika tadi Bu Lani datang ke sini mencarimu.”


”Lalu?”


”Iya dia bicara panjang lebar sebaiknya Abang menghindarinya.”


”Kalau hal itu aku sudah tahu tadi Emil juga cerita jika kemarin dia bercerita panjang lebar pada Emil dan hal yang membuatku kesal dia menjelekkan Hana.”


”Maksud Abang?”


”Iya dia mengatakan jika nanti Hana punya baby, Emil gak akan disayang lagi oleh Hana bukankah itu sangat menyebalkan kenapa harus meracuni pikirannya. Jika memang tidak suka lebih baik terus terang kan bisa tanpa harus membawa anak kecil begitu.”


”Kok dia segitunya ya.”


”Sudahlah aku juga gak tahu, sekarang lebih baik fokus ke pekerjaan saja tak perlu memikirkannya buat mood semakin buruk.”


”Baik Bang, semangat kalau pergi honeymoon jangan lupa oleh-olehnya. Bye!”


Bip.


”Siapa Bang?” tanya Hana menghampiri suaminya membawa nampan berisikan teh hangat dan camilan.


”Ini Faris bilang kalau Bu Lani ada datang ke kantor mencariku,” jawab Malik.


”Lalu dia sudah tahu kalau Abang gak di kantor kan?”


Malik mengangguk, ”Bisa jadi sekarang dia sedang perjalanan ke sini.”


”Abang kok kelihatannya tidak suka sama dia, bagaimanapun dia itu neneknya Emil,” seloroh Hana.


”Dia bukan nenek yang baik untuk Emil karena sudah berusaha meracuni pikiran anak itu,” ucap Malik.


”Maksud Bang Malik?” Hana semakin tidak mengerti arah pembicaraan Malik.


”Tempo hari waktu acara syukuran pernikahan kita, dia mengompori Emil dengan bicara padanya jika kamu memiliki baby maka Emil akan diacuhkan bukankah itu meracuni pikirannya. Tahu apa dia soal cucunya itu bahkan dulu ketika Emil sakit dia sendiri jarang datang ke Jakarta.”


”Astaghfirullah kok bisa beliau ngomong begitu sama Emil, padahal Emil itu masih kecil belum faham apapun,” ucap Hana shock tentu saja dia bukanlah mama tiri yang kejam. seperti yang ada di film-film.


”Sudahlah semua sudah berlalu Bang, sebaiknya pikirkan masa depan saja daripada memikirkan hal yang tidak penting dan membuat sakit hati.”


”Kamu benar Sayang,” ucap Malik mengecup kening Hana membuatnya merona seketika.


”Bagaimana apakah kau sudah siap?” tanya Malik menatap lekat pada wanita yang baru saja dia nikahi beberapa hari yang lalu.


”Jangan Emil sedang nonton tv jika dia mencariku bagaimana?” tanya Hana.


”Oke fix berarti besok kita pergi hanya berdua saja karena aku gak mau disaat sedang turn on Emil datang mengacaukan segalanya,” papar Malik.

__ADS_1


”Astaghfirullah Abang kenapa bicara begitu,” ucap Hana.


”Lah faktanya begitu, kalau ada Emil aku dinomor duakan. Aku gak mau Sayang,” protes Malik.


”Terserah Abang aja deh, Hana gak faham soal itu!”


Malik tersenyum puas mendengar jawaban dari Hana.


”Tapi jangan lama-lama ya Bang di sana,” ucap Hana.


”Iya, paling juga seminggu cukup,” sahut Malik.


”Apa seminggu? Lama sekali Bang.”


”Baik ganti sebulan kalau gitu.” Malik tersenyum penuh kemenangan.


”Ma, Emil mau minum tolong dong ambilkan,” teriak Emil.


”Tunggu sebentar Sayang,” sahut Hana. Malik pun segera berlalu menghampiri putranya.


”Bagaimana Sayang, apa kepalanya masih sakit?” tanya Malik lalu memegang kening putranya.


”Sudah lebih baik Pa, tapi kok badan Emil rasanya lemes gitu ya?” ungkapnya membuat Malik sedikit khawatir penyakit lamanya akan kembali kambuh.


”Bagaimana kalau nanti sore kita ke rumah sakit?” ucap Malik.


”Gak mau Pa, kalau Emil disuntik lagi kayak dulu bagaimana? Sakit sekali Pa, Emil juga ga mau kalau harus nginap di sana bau obat!” ungkap Emil membuat Hana yang mendengarnya ikut khawatir.


”Leukimia, itulah sebabnya kenapa Abang gak pernah ke kantor sejak dua tahun yang lalu fokus pada penyembuhannya,” jelas Malik.


”Memenuhi keinginannya adalah impianku setelah dia sembuh, tapi aku juga khawatir jika penyakit itu belum sepenuhnya pergi dari tubuhnya,” sambung Malik.


”Memangnya apa keinginannya Bang?” tanya Hana.


”Memiliki seorang ibu, sederhana kan? Dia ingin kasih sayang seorang ibu itu saja dan kamulah orang yang tepat untuknya dan aku juga tidak bisa menolak keinginannya itu karena memang dia berhak bahagia.”


”Bagaimana kalau kita membawanya ke Dokter, kita cek up.”


”Anaknya gak mau, tanya aja sendiri.”


”Sayang, kamu mau kan kita ke Dokter?” tanya Hana Emil langsung menggelengkan kepalanya.


”Kenapa memangnya kamu gak mau cepat sembuh, sebentar lagi kan mau sekolah kalau sakit mana boleh sekolah pasti bu guru menyuruh Emil istirahat di rumah aja,” papar Hana.


”Rumah sakit bau obat Ma, Emil gak betah.”


”Mm, kalau begitu biar Mama yang panggilkan Dokternya ke sini bagaimana?” saran Hana.


Emil menatap ke arah Hana, ”Nanti Emil gak akan disuntik kan?”

__ADS_1


Hana menggelengkan kepalanya, ”Gak Emil paling hanya diperiksa saja sama Pak Dokter, mau ya?”


Emil mengangguk singkat membuat Hana tersenyum karena Emil mau menurut padanya.


”Tolong panggilkan Dokternya Bang, kan Abang yang punya nomornya,” ucap Hana.


”Baik, Abang akan panggilkan Dokternya ke rumah,” sahutnya segera menggulir ponselnya menghubungi Dokter keluarga.


***


”Vin, Mama mau tanya sama kamu,” seru Rita yang melihat putranya akan pergi ke kampus.


”Ada apa sih Ma, kok kelihatannya serius sekali,” sahut Alvin.


”Kamu serius sama Aisha?” tanya Rita membuat Alvin merona mendengar pertanyaan Rita.


”Maunya sih serius Ma, tapi ya bagaimana dia aja.”


”Loh kok bagaimana dia, kalau emang kamu suka ya berjuang dong!” seru Rita.


”Ya dia itu standarnya tinggi Ma, kayaknya Alvin gak bisa deh kalau harus bersaing dengan Aditya ataupun Taqi modelan cowok kayak gini mah Alvin jelas kalah.”


”Loh mereka juga suka sama Aisha?”


”Bukan mereka yang suka tapi Aisha yang suka Ma, dia mendambakan pasangan yang seperti mereka kayak Ustadz Jaka misalnya. Kalau udah begitu Alvin harus bagaimana coba Ma?” jelas Alvin.


”Hm, kan bisa kamu cari perhatiannya dengan sering antar jemput atau temani dia kemana gitu, kasih perhatian agar hatinya sedikit melunak,” usul Rita mencoba memberikan solusi pada putranya.


”Kalau soal itu Papa yakin Alvin jagonya Ma,” sela Soleh yang baru saja keluar dari kamarnya.


”Kayak Papa dulu rayu Mama begitukah?” goda Alvin.


Soleh tergelak mendengar perkataan Alvin, ”Ya begitulah akhirnya Mama juga takluk, atau mau Papa ajarin?”


”Ck! Anak sama papa sama aja!” seru Rita.


”Gak boleh begitu Ma, Alvin juga anak Mama bukan hanya anak Papa saja iya kan Pa,” ujar Alvin mengerlingkan sebelah matanya pada Soleh.


”Iya benar, mamamu ini yang terbaik selain cantik dia juga bisa mengatasi segala hal dan hal itu menurun ada Hana dan kamu,” jelas Soleh.


Tok ... tok ... tok ...


”Ada tamu Ma, biar Alvin yang buka.” Alvin segera pergi ke pintu utama.


”Apa mama sama papamu masih di sini?”


”Siapa yang datang Vin?” teriak Rita menghampiri Alvin ke pintu.


”Kamu, untuk apa datang ke sini?”

__ADS_1



Penampakan Alvin, cakep gak? 😍


__ADS_2