Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
112. Titik Temu


__ADS_3

”Kamu ngapain di sini?” Alvin justru menoleh ke arah Untari dia tak ingin istrinya salah paham mengingat jika istrinya tahu masa lalunya.


”Aku baru saja makan malam sama Mas Bima. Kalian udah nikah?” Aisha melihat kedua tangan pasangan yang ada di depannya saling bertautan.


”Iya kami baru saja menikah kemarin pagi. Aku juga mengundangmu tapi kata Bima kamu sedang marahan sama dia jadi ya ...”


”Oh benarkah? Lalu apakah kau percaya?” tanya Aisha.


”Aku kurang yakin karena aku sendiri faham dengan kehidupan pribadinya,” balas Alvin.


”Syukurlah, apa kalian mau pulang?”


Alvin mengangguk, ”Iya, besok kami masih harus bekerja. Btw, dimana Bima?”


”Masih ada di toilet, kalau begitu aku akan kembali ke mobilnya. Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam,” jawab keduanya bersamaan Alvin pun membukakan pintu untuk Untari lalu bergegas pulang ke rumahnya meskipun ada sesuatu yang mengganjal di hati Alvin dia tetap menyimpannya sendiri dia merasa ada yang aneh dengan percakapan tadi. Aira yang mengaku bersama Bima padahal Bima sendiri sedang berada di luar kota di rumah orang tuanya, temannya itu mengaku padanya tempo hari di hari pernikahannya. Lalu mana yang benar.


”Apa kau memikirkan sesuatu?” Untari tidak bisa untuk tidak bertanya sesuatu karena dia sendiri merasa aneh dengan sikap Aisha.


”Iya, kenapa?”


”Tentang sikapnya tadi, kamu yakin dia jujur?"


Alvin menggelengkan kepalanya, ”Jadi kamu juga merasakannya Sayang?”


”Iya jelas itu, apalagi sesama wanita feeling-nya langsung dapat.”


”Lalu bagaimana lagi dia itu udah ada keluarganya masa iya aku mau bantuin dia aku tidak yakin kamu akan kasih ijin yang ada kamu cemburu itu iya,” ujar Alvin.


”Hem pede sekali.”


Untari memalingkan wajahnya ke luar dilihatnya banyak sekali lalu lalang mobil pemadam kebakaran berseliweran lewat, pasti ada kecelakaan yang sedang terjadi. ”Ya ampun apalagi ini?” lirih Alvin jalanan seketika macet total.


***

__ADS_1


”Om, makasih ya udah bolehin Azizah tinggal di sini,” ucap Azizah.


”Mm, papa kamu udah gak ada kan?” Malik coba bertanya padanya pada gadis cilik seumuran putranya.


Azizah hanya menggeleng pelan namun wajahnya tidak nampak bersedih dan hal itu membuat Malik justru penasaran kenapa dia tidak merasakan kesedihan sama sekali.


”Kamu gak sedih?” selidik Malik.


”Tidak.”


Malik melirik ke arah Hana lalu meminta Hana menanyakannya lewat kode kepalanya, hal yang membuat Hana terkekeh karena Malik tidak mau bertanya langsung padanya.


”Apa yang terjadi? Bukankah kau mencintai keluargamu?” tanya Hana.


”Benar Tante tapi jika aku bersedih maka ayahku juga kan bersedih di atas sana. Kata mamaku cukup di doakan saja.”


”MasyaAllah anak solehah, Tante suka. Ayo lanjutkan makannya.”


Hana memberikan lauk lagi pada Azizah dan itu membuat Emil tersenyum padanya. ”Apakah kau juga mau lagi? Katakan pada mama nanti mama akan ambilkan.”


”Tidak perlu Ma, nanti saja jika yang di piring sudah habis,” sahut Emil.


”Bang, bagaimana kalau kita angkat dia jadi anak asuh kita?” tanya Hana.


”Boleh, silakan saja aku tidak akan melarangnya lagipula itu suatu hal yang positif,” sahut Malik. ”Tapi ingat nanti jangan sampai melupakan kewajibanmu yang sebenarnya,” lanjut Malik.


”Makasih Bang.”


Malik tidak mau membatasi gerak Hana apalagi melarangnya dia hanya ingin Hana memiliki kegiatan yang berarti meskipun hanya berada di rumah. Emil dan Azizah tidur lebih awal.


Malik ke kantor seraya mengantar dua anak sekaligus.


”Loh Pak Malik ajak Azizah juga ya?” sapa Miss Nina yang tidak tahu jika gadis kecil itu menginap di tempatnya Emil.


”Iya kemarin dia menginap di rumah saya jadi sekalian dia aku ajak antar kesini maaf dia masih memakai seragam kemarin tapi istri saya udah mencucinya,” jelas Malik. ”Saya permisi dulu Miss Nina, saya titipkan anak-anak.”

__ADS_1


Malik meninggalkan sekolah tersebut berlalu menuju kantor. Sekilas dia melihat Flo berjalan di trotoar bersama dengan pria bule bergandengan tangan, Malik segera mempercepat laju mobilnya dan berhenti di depan ruko yang masih tutup berharap Flo lewat dan benar saja. Dengan cepat Malik turun dan menarik lengan Flo.


”Bang Malik,” ucap Flo dengan raut wajah terkejut.


Malik tersenyum mengejek pada Flo karena kekesalannya belum hilang sepenuhnya mengingat perkataan Lani.


”Aku ingin bicara padamu, kau cukup diam karena kau tidak mengerti apapun di sini!” ucap malik menunjuk pada pria yang ada di samping Flo.


”Apa itu Bang, jangan buat ku penasaran!”


”Apa benar kau mengambil paksa uang Tante Lani?”


”Tidak, aku bahkan sama sekali tidak bertemu dengannya. Dimana dia tinggal aku sendiri tidak tahu, karena memang selama ini aku berada di Bali bersama dengannya. Astaga fitnah apalagi ini, kenapa dia tega sekali membuat cerita hanya untuk memberikan kesan baik dan kesan buruk untukku.”


”Benarkah? Apa kamu mau aku pertemukan dengannya? Bicarakan dengannya dan tanyakan sendiri padanya kenapa dia memfitnah dirimu.”


Malik menarik Flo ke dalam mobilnya sedangkan pria bule itu mengikutinya. Dengan cepat Malik menghubungi Faris memintanya menunda meeting pagi ini karena ada sesuatu yang harus dia selesaikan setelahnya Malik segera meluncur ke rumah Lani.


Begitu sampai rumah, tersebut terlihat sepi seakan tidak ada penghuninya. Beberapa kali Malik memencet bel pintunya namun tak ada orang yang keluar dari rumah itu dan hal ini membuat Malik semakin gusar.


”Kemana dia apakah dia sengaja menghindar?” gumam Malik. Beberapa kali dia mencoba menghubungi wanita itu namun tak ada jawaban darinya.


”Eh, pemiliknya sedang ke pasar Pak.” Seorang tetangga yang kebetulan lewat memberitahukan pada mereka bertiga.


”Ke pasar?”


”Iya, pemiliknya kan baru saja pindah kemarin sore mungkin tidak ada stok makanan makanya ke pasar,” jelasnya.


”Tunggu ibu, bukankah pemiliknya sudah lama tinggal di sini, kalau tidak salah namanya Bu Lani?” tanya Flo pada tetangga di sana.


”Oh, jadi yang kalian maksud Bu Lani? Dia sudah tidak tinggal di sini lagi, rumah ini sudah dijualnya dan yang ada pun pemilik baru seorang laki-laki muda penjual bakso.”


”Astaghfirullah, jadi aku dipermainkan olehnya,” ucap Malik semakin pusing dengan kenyataan yang harus dia terima. Haruskah dia marah tapi adakah manfaatnya.


Malik terduduk di kursi teras kesal tentu saja, bagaimana dia harus menjelaskan pada istrinya nanti jika dirinya kembali tertipu dengan tampilan mantan mertuanya yang selalu saja menjual air mata di depannya. Malik sangat yakin Hana pun pasti marah karena uang yang sudah dia gelontorkan untuk Lani cukup banyak.

__ADS_1


Bagi Malik tidak akan ada artinya uang yang dia berikan pada wanita itu asalkan Lani tidak lagi mengganggu keluarganya tapi setelah ini dia tidak yakin jika Lani akan berhenti mempermainkannya.


”Nah itu orangnya, kita tanyakan saja sama dia.”


__ADS_2