
”Sayang aku harus pergi ke Surabaya besok pagi.” Malik masih merapikan dasinya di depan kaca.
”Kenapa tidak meminta Faris saja yang pergi ke sana.” Hana bergelayut manja memeluk Malik dari belakang.
”Tidak bisa, kamu kan tahu Faris baru saja pulang dari luar negeri dan gak mungkin aku minta dia sedangkan Sabrina sedang hamil besar.”
”Benar juga sih, memangnya berapa lama Abang di sana?”
Malik berbalik sehingga bisa menatap langsung wajah Hana yang cantik. ”Abang disana mungkin dua atau tiga hari Sayang, gak ada kan?”
Malik mengecup kening Hana. ”Kamu keberatan?”
”Ya mau bagaimana lagi jika memang tidak ada yang bisa diandalkan untuk pergi ya sudah Abang pergi saja.”
Sebenarnya Hana tidak rela jika Malik pergi meninggalkannya meskipun hanya untuk pekerjaan sekalipun. Keduanya turun menuju meja makan tampak Emil sedang sarapan bersama Bik Surti.
”Ma, Pa, nanti malam jadi jalan-jalan gak ke rumahnya tante?”
Hana menoleh Malik, ”Jalan-jalannya diundur ya Sayang, soalnya papa besok pagi mau pergi ke luar kota jadi tidak bisa pergi karena sorenya harus menata barang yang harus dibawa sama papa.”
”Yah, padahal Emil sudah kangen sama tante dan om beberapa minggu mereka gak datang ke sini.”
”Kamu ini, mereka kan juga punya jadwal kesibukan sendiri-sendiri besok kalau papa sudah pulang papa janji kok akan ajak Emil ke sana.”
”Janji ya Pa,” seru Emil dia sedang kembali merasakan kesepian karena Hana mulai bekerja di kantor sedangkan waktunya bersama Hana menjadi berkurang dan itu membuatnya sedih, bocah itu belum mengatakan hal itu pada siapapun dan berharap Hana tahu dengan sendirinya itulah harapan Emil.
”Yuk kita berangkat ke sekolah!” ajak Hana.
Dengan malas Emil menarik tasnya dan menggendongnya di belakang. Hana tahu jika Emil sedang badmood namun dia tidak ingin menegurnya dan membiarkannya lebih dulu.
”Sayang apakah kau tahu kenapa Emil belakangan ini sedih?” tanya Malik begitu sampai di kantor.
”Ya, semenjak ku kerja Bang, dia lebih cenderung diam dan tidak banyak bicara.”
”Apa mungkin dia kecewa dengan keputusanmu kembali bekerja di sini?”
”Bisa jadi aku juga kurang faham, nanti akan aku tanyakan Bang, mungkin karena waktuku juga berkurang untuknya yang membuatnya jadi seperti itu.”
”Jika itu alasannya maka lebih baik kamu mengalah keluar saja biar Abang cari penggantinya nanti atau mungkin Alvin sudah bisa bekerja lagi bantuin Abang.”
”Yah sayang banget padahal ya, udah bikin ruangan baby juga di sini.” Hana terkekeh melihat ruangannya yang dipindahkan bersebelahan dengan Malik dan disulap seperti kamar bayi.
”Jangan gitu bikin Abang jadi merasa bersalah sama kamu,” ucap Malik.
”Ya udah Abang mulai kerja saja sana.” Hana mendorong tubuh Malik keluar ruangannya namun tak berhasil yang ada Hana justru menabrak tubuh Malik.
Cup!
__ADS_1
”Nanti malam Abang bakalan meminta lebih, kamu siapkan saja tenaganya,” ucap Malik menyerigai.
Malik bergegas ke ruangannya dan disambut oleh Pak Basuki dan Hasan ketiganya langsung membahas pekerjaan yang akan dilakukan di Surabaya selama tiga hari berturut-turut.
***
”Kenapa kamu cemberut begitu, ada yang salah di rumah?” Miss Nina mulai menanyakan perihal sikap Emil yang berubah belakangan ini dan itupun karena permintaan dari Hana tadi pagi.
”Miss, sebenarnya Emil lagi merasakan kesepian.”
”Maksudnya Emil bagaimana ya? Bisa dijelaskan biar nanti Miss bisa bantu Emil carikan solusinya?”
”Emil lagi gak punya teman Miss.”
Mendengar pengakuan anak didiknya tentu saja Nina terhenyak bukankah selama ini Emil termasuk anak yang berkecukupan.
”Kenapa kamu kesepian katakan pada Miss, bukankah Emil punya banyak teman di sekolah?” ujar Miss Nina yang selama ini memantau perkembangan Emil di sekolah.
”Iya benar Miss, bukan di sekolahan melainkan di rumah.”
Emil menarik nafasnya perlahan, ”Mama sekarang kembali bekerja karena posisinya kosong Om Alvin sedang sakit jadi tidak ada lagi yang menggantikannya sementara waktu mama yang ambil alih.”
”Miss faham sekarang, jadi mama gak ada waktu di rumah buat Emil bermain bersama begitulah?”
Emil mengangguk.
”Iya Miss kalau itu sudah pasti Emil lakukan, Emil sayang kok sama semuanya apalagi mereka udah kasih Emil banyak hal.”
”Semangat jangan berpikiran buruk segala sesuatunya pasti sudah mereka pikirkan dengan baik, Emil yang sabar ya.”
Miss Nina kembali mengajar anak-anak yang lain setelah memberikan sedikit pengertian pada Emil nanti jika waktunya sudah sedikit senggang dia berencana menyampaikan hal ini pada Hana karena dialah yang menyuruhnya untuk bertanya pada anak itu.
Hingga jam belajar berakhir Hana muncul untuk menjemput Emil pulang. ”Hallo Sayang, mama datang jemputmu.”
Emil tampak antusias sekali mendengar Hana datang. Hana sendiri memang sengaja menjemputnya setelah mendengar pengaduan dari Miss Nina.
”Mama cantik sekali hari ini, bikin Emil makin Sayang deh.”
”Memangnya kemarin-kemarin mama gak cantik?”
"Cantik dong mama tiap hari cantik tapi entah kenapa hari ini terlihat cantik sekali,” tambah Emil.
Hana tersenyum mendengar penuturan Emil dia pun sengaja membawa anak itu pulang ke rumahnya biar bisa bertemu dengan Alvin dan mamanya.
”Kak Hana, sama siapa Kak?” Alvin melakukan kursi rodanya menghampiri kakaknya itu.
"Kita bertiga, mama mana?”
__ADS_1
”Di dapur lagi nyiapin makan siang. Hai jagoan cilik, kalian gak kangen apa sama Om?” seru Alvin.
”Kangen Om, lah Om sendiri sakit gak bisa kemana-mana coba kalau Om sehat Emil pasti gak akan kesepian,” keluh Emil.
”Kenapa dia Kak?”
”Biasalah dia itu sedang badmood karena gak ada teman di rumah.”
”Sebaiknya Kak Hana memang harus berhenti kerja dan fokus dengan si kecil kasihan juga mereka kalau kak Hana gak ada waktu bermain. Mereka itu sedang aktif-aktifnya loh Kak,” saran Alvin.
”Iya kamu memang benar dan barusan aku juga baru dengar keluhannya lewat Miss Nina guru pembimbingnya di sekolah.”
”Nah loh, lalu bagaimana keputusan kakak?”
Hana terdiam dia memang sedang berpikir bagaimana mengatasi masalah ini jika keluar tentu saja harus ada penggantinya yang harus benar-benar bisa dipercaya.
”Kamu kapan therapy?”
”Tiap hari juga sedang therapy Kak,” ucap Alvin.
”Tuh lihat mereka lucu sekali Kak, kasihan jika mereka kurang kasih sayang.”
Hana memperhatikan keduanya dengan intens memang benar apa yang diucapkan oleh Alvin jika keduanya sangat lucu apalagi Emil sudah mulai menyayangi Aydan sebagai adiknya.
”Sebaiknya kamu kembali kerja gantiin kakak ya.”
”Katanya suamimu mau keluar kota,” tanya Rita dari dapur.
”Iya Ma, besok pagi berangkat.”
”Hati-hati loh.”
”Ada apa memangnya Ma?”
”Tetangga sebelah, mereka bertengkar karena ketahuan suaminya selingkuh!”
”Maksudnya Mbak Dian tetangga kiri kita?”
Rita mengangguk. ”Iya dan sekarang mereka nyaris bercerai.”
"Bang Malik gak mungkin begitu Ma,” sanggah Hana.
”Kita gak tahu Sayang, curiga itu boleh kan apalagi suami kamu banyak uang. Lelaki itu semakin banyak uang semakin nakal berbeda dengan wanita semakin banyak uang mereka gak akan butuh pendamping.”
Deg.
Rangkaian kata dari Rita membuat Hana terdiam dan tersadar apakah Malik suaminya tipe pria seperti itu.
__ADS_1
"Sebaiknya aku tanyakan langsung sama Bang Malik nanti waktu di rumah,” gumam Hana.