
”Bayu adiknya Eric yang membawa bakso ke kantor. Kemarin dia juga kasih ke Hana tapi gak Hana makan sendirian Bang. Kita makannya ramai-ramai bersama pegawai di rumah.”
”Apa, Abang gak salah dengar kan?” Terkejut, tentu saja ’makan ramai-ramai’ berarti bakso yang dibawa oleh Hana itu dalam porsi banyak.
Hana merasa bersalah karena tidak bilang dengan suaminya, lebih tepatnya belum karena mang mereka belum ketemu, koreksi Hana dalam hati. Tadi di rumah keduanya terburu-buru berangkat dan Hana pun tidak terpikirkan untuk bicara karena baginya itu masalah sepele dan tidak menyangka akan menjadi besar seperti ini.
”Maaf Bang,” sesal Hana.
”Sudahlah tak perlu minta maaf karena gak ada yang salah di sini yang Abang heran buat apa dia kasih kamu bakso sebanyak itu, apa dia mau menarik perhatianmu lagi?” tebak Malik.
Hana diam mencerna perkataan Malik jika pikir memang janggal sih untuk apa Eric memberinya bakso sebanyak kemarin bukankah lebih baik dijual dan dia dapat untung yang banyak dari bakso yang kemarin dia berikan.
”Panggil Bayu ke sini!” titah Malik pada Pak Hasan yang baru saja masuk ke ruangannya. Hanya butuh beberapa menit Bayu sudah ada di ruangan Malik.
Bayu merasa was-was khawatir dengan keadaannya saat ini karena bagaimanapun dia adalah karyawan baru di sini dan sekarang sudah membuat kesalahan yang cukup fatal, meskipun tidak merugikan pendapatan perusahaan tapi Bayu merasa malu karena nama baiknya dipertaruhkan di sini.
Malik menatap ke arah Bayu intens, dia tidak mengira jika karyawannya mampu berbuat seperti itu, dia tidak melarang pegawainya membawa bekal dari rumah jika memang tidak cocok dengan menu yang disediakan di kantornya tapi tetap saja s&k tetap berlaku.
”Kau tahu kesalahanmu apa?” tanya Malik.
”Maafkan saya Pak Malik, saya hanya melakukan perintah Mas Eric yang meminta saya untuk memberikan bakso tersebut pada Bu Hana. Tempo hari saya akan menitipkannya pada Malik tapi saya lupa,” akunya.
Malik kembali melihat kinerja Bayu yang cukup berpotensi dalam bidangnya tapi kenapa dia mau melakukan hal konyol dengan merugikan dirinya sendiri. Malik yakin bahwa Bayu tidak sepenuhnya salah dalam hal ini.
”Saya harap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari, saya lihat kinerjamu bagus. Jangan pernah merusak nama baikmu sendiri hanya karena obsesi orang lain.”
Bayu menatap ke arah Malik, pria yang ada di hadapannya ini memang sangat baik kenapa kakaknya Eric sangat membencinya apakah karena Hana menjadi istrinya.
”Saya memberikan maaf untukmu tapi tolong jangan merusak kepercayaan kepercayaan yang saya berikan padamu.”
”Terima kasih Pak Malik.”
Bayu pun kembali ke ruangannya dia bertekad akan melawan kakaknya jika dia kembali dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan karena sekarang Dewi mamanya yang menjadi prioritasnya, wanita yang melahirkannya sedang membutuhkan uang banyak untuk biaya berobat penyakitnya ke rumah sakit.
***
Ponsel Hana bergetar panggilan masuk dari adiknya Alvin.
__ADS_1
”Hallo Kak, apa kabarnya?”
”Hm, sok sibuk sekarang ya. Kemana saja kalian berdua kenapa baru memberi kabar sekarang!”
”Maaf Kak, kami sibuk jalan-jalan seharian ini. Bagaimana di kantor?”
”Masih tetap sama kayak biasanya, kamu sendiri kenapa masih keluyuran ini sudah malam kan?”
”Kita masih di dekat menara Eiffel Kak, sebentar lagi pulang ke hotel dan pesan dari Bang Malik untuk Mr. Tony sudah Alvin sampaikan tadi sore.”
”Terima kasih ya, maaf merepotkan dirimu di sana karena ini juga berita yang cukup mengejutkan kita di sini. Kamu hati-hati ya!”
”Siap Kak, btw mau oleh-oleh apa?” Untari menimpali dengan menampilkan layar utama ke arah wajahnya.
”MasyaAllah cantik sekali, sehat-sehat ya!”
”Makasih Kak.”
Bip.
Hana mematikan ponselnya melihat kedekatan mereka di negeri orang membuatnya ingin mengikuti jejak mereka berdua. Hana kembali melanjutkan pekerjaannya namun lagi-lagi panggilan telepon kembali menghentikannya.
”Maaf, Bu Hana saya mau mengabarkan jika Emil masuk rumah sakit. Dia jatuh dari pohon.”
”Apa? Rumah sakit mana Miss?”
”Klinik Pratama Bu Hana kita masih di sini.”
”Baik saya ke sana sekarang.”
Bip.
Hana segera keluar menuju ruangan Malik memberitahukan kepadanya soal kejadian yang menimpa putranya. Sayangnya Malik tidak sedang berada di tempatnya membuat Hana semakin panik.
”Duh dimana nih Bang Malik mana ponselnya gak bisa dihubungi lagi,” gumam Hana. Dia segera berlari keluar dan menghentikan taksi setelah sebelumnya mengirim pesan pada suaminya.
Hana terus berdoa semoga Emil baik-baik saja, Hana tidak bisa mengerti kenapa putranya bisa terjatuh dan tidak berada dalam pengawasan guru pembimbingnya. Taksi berhenti di klinik Pratama, Hana turun dengan tergesa-gesa dan langsung mencari Miss Nina di sana.
__ADS_1
”Assalamu’alaikum Miss, bagaimana keadaannya Miss?” tanya Hana begitu melihat Miss Nina sedang berada di depan ruang tindakan.
”Waalaikumussalam maaf Bu Hana, Emil pingsan mungkin karena ketinggian kakinya kanannya terkilir.”
”Ya Allah,” lirih Hana menutup bibirnya. ”Kenapa ini bisa terjadi Miss?”
”Kami juga tidak tahu jika dia sedang naik ke pohon, biasanya dia akan bermain bersama Azizah saat istirahat sedang berlangsung tapi berhubung dia tidak masuk jadi Emil bermain dengan yang lain dan menurut pengakuan temannya mereka main petak umpet dan Emil bersembunyi ke atas pohon. Maafkan saya Bu Hana karena sudah ceroboh dalam membimbingnya,” sesal Miss Nina.
”Ini bukan salahmu Miss Nina tapi ini sebuah kecelakaan dan tidak ada seorangpun yang menghendakinya bukan, saya gak menyalahkan Miss Nina di sini nanti biar Emil sadar bisa ditanyakan langsung dengannya.”
”Terima kasih Bu Hana karena bagaimanapun saya juga ada di pihak yang harus bertanggung jawab karena insiden ini.”
Hana kembali menghubungi Malik namun nomor suaminya kembali tidak aktif membuat Hana semakin tidak tenang kemana sebenarnya suaminya itu kenapa dia sulit sekali dihubungi bahkan ketika putranya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja seperti saat ini.
Hana mencoba menghubungi Faris selaku asisten suaminya, nomor tersebut pun gak aktif. Apa keduanya memang sengaja ingin mempermainkan dirinya seperti yang sering terjadi sebelumnya. Hana menepis segala pemikiran buruk tentang suaminya, dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak mau berpikir buruk sebelum mendengarnya sendiri.
”Bagaimana keadaan putra saya Dok?” Hana bertanya pada Dokter yang menangani Emil.
”Anda siapanya pasien?”
”Saya mamanya Dok, mama sambungnya.” koreksi Hana.
”Begini Bu, kaki Emil terkilir dan mungkin akan sedikit lama sembuhnya karena ada benturan juga terjadi di lututnya membuatnya akan sulit untuk berjalan dalam beberapa hari jadi tolong diawasi saat di rumah nanti jangan biarkan dia banyak bergerak dulu.”
”Baik Dok.”
Dokter pun pergi ke ruang pasien yang lain. di saat bersamaan Maryam datang menghampiri Hana.
”Bagaimana keadaanya Sayang, dimana Malik?”
”Bang Malik tidak dapat dihubungi Ma, sejak dua jam yang lalu.”
”Ya ampun kemana dia pergi tidak biasanya dia begini apalagi ini menyangkut putranya sendiri,” jelas Maryam.
”Ma, apa Faris juga gak bisa dihubungi?” tanya Hana.
”Faris?”
__ADS_1
”Dia ada di rumah bermain dengan Lala.”
”Apa, lalu diman Bang Malik?” Hana kebingungan karena Malik tidak dapat dihubungi, Hana semakin khawatir karenanya.