Calon Istri Pengganti

Calon Istri Pengganti
72. Hana Melahirkan


__ADS_3

”Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Alvin.


”Dengan penampilan seperti ini aku yakin bukan teman biasa tapi partner kerja apakah benar? Bukankah kau diterima kerja di Perusahaan ternama di kota ini dan kau mendapatkan tawaran gaji yang menggiurkan?” tebak Bima.


”Kau bahkan tahu semuanya?" ucap Aisha.


”Iya aku dengar juga dari Aryo dia yang kasih tahu aku semuanya dari A hingga Z jadi apapun itu aku sudah tau pasti.”


”Ya ampun benarkah, kenapa kau tidak pernah cerita padaku sama sekali,” ucap Aisha dia seakan ingin tahu lebih tentang Alvin.


”Sudahlah kau tidak perlu tahu soal dia karena itu tidak penting buatku yang terpenting buatmu sekarang adalah bagaimana keseharian suami kamu bukan dia,” tukas Bima.


”Hai Vin, maaf ya aku terlambat,” sapa Angela memeluk Alvin dan cipika-cipiki membuat Aisha terbelalak karena dia tahu Alvin bukan lah pria yang suka dengan kehidupan bebas.


"Tidak masalah aku juga baru lima atau sepuluh menit datang ke sini dan kebetulan teman kuliahku dulu juga sedang berbulan madu di sini. Bukankah begitu Bima?”


”Benar kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu,” balas Bima.


”Wow, congratulation! semoga langgeng hingga maut memisahkan. Aamiin.”


”Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, takutnya mengganggu acara kalian berdua. Have fun ya Vin, semoga kalian bisa segera menyusul kami berdua," ucap Bima.


”Thanks,” sahut Angela.


Aisha dan Bima pun berlalu tinggal Angela dan Alvin mereka duduk menikmati makan malamnya berdua.


”Apa kau memiliki keluarga di sini?” tanya Alvin.


”Tidak ada tapi papaku memiliki satu apartemen yang sekarang aku tinggalin, lumayan buat berteduh daripada selalu kebingungan kemana akan tinggal karena biasanya aku tidak bisa tinggal lama di suatu tempat.”


”Jadi selama ini kau berpindah-pindah tempat?” selidik Alvin.


Angela mengangguk, ”Aku gak pernah betah tinggal di rumah selalu saja pergi tapi ini pertama kalinya untukku tinggal di jauh dari ortu dan sendiri pula.”


”Kau benar-benar pemberani sekali, jika aku melakukannya entah apa yang akan terjadi padaku ortuku pasti akan marah-marah.”


”Iya aku percaya soal itu karena awalnya ortuku juga menolak permintaanku sekarang aku bebas melakukan karena aku berhasil meyakinkan mereka berdua.”


”Benarkah, soal apa itu?”


”Virginitas!”


Alvin melongo mendengar pengakuan Angela, dia merasa tidak percaya dengan penuturan wanita yang ada di depannya ini secara dia bebas di luar negeri apakah itu bisa menjamin pergaulannya.


”Aku tahu kau tidak akan percaya sepenuhnya dan aku juga tidak akan memaksamu untuk percaya padaku, tapi bagiku itu hal yang paling utama dan bagiku hanya suamiku yang berhak mendapatkannya.”


Alvin hanya dapat mengedikkan bahunya mendengar pengakuan Angela, ”Apapun itu aku akan mendukungmu, semoga kau temukan jodoh yang sesuai dengan kriteriamu itu.”


”Habis ini kau mau kemana?” tanya Angela.


”Pulang, mama sama papaku sedang di rumah karena nunggu kakakku lahiran sebentar lagi jadi ya harus tidur di rumah mungkin hanya beberapa hari setelahnya balik ke Jogjakarta.”


”Asyik dong bisa bebas,”


”Tidak juga karena aku juga harus lapor sama kakakku apapun itu karena dia sangat cerewet tapi meskipun begitu dia sangat baik sekali padaku,” ucap Alvin.


”Kau beruntung memiliki saudara aku sama sekali tidak memiliki saudara jadi tidak ada orang yang skan mengingatkan diriku,” ucap Angela sedih.


”Jangan begitu yakinlah suatu saat kau akan menemukan pasanganmu yang tidak hanya sebagai pasangan biasa tapi juga menjadi saudara.”

__ADS_1


***


”Bang,” panggil Hana.


”Apa Sayang, apa kau merasa sakit lagi?" tanya Malik segera bangun dari tidurnya dilihatnya jam yang tergeletak di atas nakas.


”Jam satu,” gumam Malik.


”Rasanya ingin ke toilet terus, bagaimana ini?” tanya Hana.


”Abang juga gak tahu kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang saja ya, mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,” ucap Malik menyibakkan selimutnya dan berganti pakaian. Malik memanggil Bik Surti berpamitan padanya khawatir besok pagi Emil bangun mencarinya dan Hana.


Malik memapah Hana ke mobil karena Hana enggan digendong dia khawatir berat dan Malik tidak kuat menahan beban tubuhnya.


Malik mempercepat laju mobilnya jalanan sepi dan tidak butuh waktu lama tiba di rumah sakit.


”Sabar ya Bu Hana, sebentar lagi debay-nya akan launching, banyak-banyak berdoa semoga semua berjalan lancar,” ucap Dokter Septian.


”Pak Malik bisa kok menemani Bu Hana, kasih support biar Bu Hana semangat mengejan dan adik bayi bisa segera keluar.”


”Baik Dok,” jawab Malik.


Suasana di ruang bersalin nampak tegang karena suara ibu yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya demi kehidupan bayinya.


”Ayo Bu Hana dikit lagi Bu, semangat!” ucap Dokter Septian memberikan support pada Hana.


Hana meringis menahan sakit yang datang dan pergi perlahan-lahan. ”Ayo Sayang, kamu pasti bisa! Pegang erat tangan Abang ya,” bisik Malik yang tidak tega melihat Hana menitikkan air mata keringat dingin keluar begitu banyak, Hana bertaruh nyawa demi anaknya.


Tepat pukul 2.30 suara tangisan bayi terdengar di pendengaran.


”Alhamdulillah, bayinya laki-laki Pak Malik, Bu Hana, selamat ya,” ucap Dokter.


Beberapa perawat pun sibuk membagi tugas, Hana tampak meringis manakala mendapatkan beberapa jahitan di bagian tubuhnya.


”Tolong putranya diadzankan Pak Malik!” titah Dokter.


Malik pun mengangguk dan mengumandangkan adzan untuk putra keduanya.


”Lihat Sayang, dia tampan sekali sepertiku,” ucap Malik percaya diri.


”Alhamdulillah yang penting dia sehat dan sempurna Bang,” ucap Hana dia bahagia karena bisa melahirkan putranya dengan selamat.


”Mama sama papa apa sudah dikabari?” tanya Hana.


”Belum, Abang pikir nanti saja kalau bayinya udah keluar dan kamu bisa istirahat dulu.”


”Kabarin mereka Bang, mereka pasti bahagia,” pinta Hana.


”Kamu ini, nanti pasti Abang hubungi mereka udah sekarang kamu istirahat dulu lagian nanggung juga bentar lagi adzan subuh lebih baik ditunda hingga nanti oke!”


Mau tidak mau Hana hanya bisa menurut dengan perkataan suaminya yang memang ada benarnya dan dia memilih untuk beristirahat lebih dulu rasanya lelah sekali setelah berjuang mengeluarkan putranya.


Malik tidak bosan-bosannya memandang baby-nya yang ada di box bayi sedang terlelap tidur seakan sudah berhari-hari tidak dapat beristirahat.


”Kamu tampan sekali Sayang, papa sayang sekali sama kamu. Emil kakakmu pasti senang karena kau sudah keluar dari rahim mama, nanti main bola sama Kak Emil ya di lapangan nanti paa buatkan lapangan buat kalian main bola biar gak usah jauh-jauh pergi ke taman,” lirih Malik suaranya membangunkan Hana yang sedang terlelap dalam tidurnya.


”Sudah pagi ya Bang?” tanya Hana mencoba membuka matanya yang terasa mengganjal dan belum ingin membukanya namun suara kegaduhan yang dibuat Malik dengan bayinya sukses membuat Hana bangun.


”Iya Sayang, bagaimana tidurnya nyenyak?” tanya Malik membuat Hana memutar bola matanya mendengar kalimat tersebut.

__ADS_1


”Bang, aku baru tidur jam empat dan ini belum ada jam enam gak ada dua jam aku tidur. Hana masih ngantuk!”


”Astaghfirullah maafkan Abang ya Sayang, kalau begitu buruan tidur lagi biar baby aku yang jagain.”


Hana merutuki dirinya sendiri kenapa dia jadi berani dengan suaminya. ”Maafin Hana yang Bang,” ucap Hana.


”Iya Abang tahu kok kamu masih lelah barusan berjuang untuk baby kita, udah buruan istirahat Abang udah kabarin orang di rumah mama sama papa juga mau diantar Alvin nanti sekalian ke kantor.”


”Makasih ya Bang,” ucap Hana.


Tak butuh waktu lama Rita, Soleh dan Alvin datang menjenguk Hana dan bayinya.


”Selamat ya Kak, udah jadi mama semoga jadi mama yang baik gak galak sama anaknya,” goda Alvin.


”Ya ampun kakakmu sedang seperti ini kau masih saja menggodanya,” tegur Rita.


”Maaf Ma, iseng aja kok dan lagi keponakanku mirip sekali denganku mama lihat kan,” aku Alvin.


”Memangnya kamu papanya, yang benar saja dia tetap mirip denganku aku kan papanya,” ucap Malik tidak terima.


”Mamanya siapa Bang, Kak Hana dan dia adalah kakakku gen anak itu 75% ada pada ibunya sedangkan papanya hanya 25% jadi menang Kak Hana dong jadi dia itu mirip denganku!" ujar Alvin mengejek Malik.


”Astaghfirullah jangan kayak anak kecil, kalau mau berantem di luar saja sana!” usir Hana pada dua pria yang sedang bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.


”Siapa yang taruh benihnya, Abang loh Vin. Kalau bukan dari benih Abang mana mungkin kakakmu hamil.”


”Ma, tolong usir mereka berdua dong Hana mau istirahat!” ucap Hana.


”Ya ampun kamu tega sama Abang Sayang, nanti gak Abang temenin begadang kalau kamu galak begitu.”


Hana mengibaskan tangannya meminta keduanya keluar karena ruangan tersebut.


”Semua ini gara-gara kamu Vin.”


”Ya Abang lah masa aku, yang mulai saja Abang duluan bukan Alvin,” balas Alvin sengit.


”Dah lah Alvin mau ke kantor saja, Alvin ke kantor ya Bang jika mereka nanyain nanti tolong kasih tahu,” pamit Alvin bersalaman dengan Malik.


”Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam, semua karena kamu Vin,” teriak Malik mengeram kesal pada Alvin sekarang dia di luar sendirian.


***


”Bik, mama sama papa kok gak ada?” tanya Emil.


”Mama sama papa di rumah sakit Den, semalam mama kontraksi dan dibawa ke rumah sakit. Den Emil tunggu kabar saja ya dari papa,” jawab Bik Surti.


”Tapi Bik, Emil mau nyusul ke rumah sakit sekarang.”


"Gak boleh Den, anak kecil di bawah dua belas tahun dilarang masuk ke rumah sakit,” ucap Bik Surti dengan sabar memberikan penjelasan pada Emil.


"Ditunggu saja ya nanti siang mama pasti pulang,” lanjutnya.


”Lalu adiknya Emil perempuan atau laki-laki Bik?”


Bik Surti terdiam dia tidak tahu harus jawab apa karena bosnya Malik sendiri belum memberikan kabar padanya.


"Bik, kok bengong?"

__ADS_1


__ADS_2